
"Langit jangan tinggalin Mama Nak."racau Lana dalam tidurnya.
Kenzo yang mendengar istrinya mengigau dalam tidurnya, langsung memanggil istrinya agar terbangun dari mimpi buruk yang di alami Lana.
"Sayang bangun, sayang."panggil Kenzo.
"Hufftt..hufftt."nafas Lana memburu setelah mengalami mimpi buruk.
"Kamu mimpi apa sayang hmm, kok manggil-manggil putra kita segala."tanya Kenzo dengan lembut.
"Aku mau liat Langit Mas."ujar Lana.
"Tapi ini udah malem sayang."
"Aku mau liat Langit Mas."ujar Lana yang kekeh dengan pendiriannya.
"Ya udah iya, ayo kita liat Langit."ujar Kenzo yang akhirnya menyerah.
Lana dan Kenzo langsung pergi menuju ke kamar rawat putranya untuk memastikan mimpinya tadi benar atau tidak.
"Loh Mas kok di kamar Langit ada Mike, Lexa, Fuji sama Lintang sih Mas."ujar Lana heran kenapa anak-anak mereka bisa ada di kamar Langit selarut ini.
"Kita liat aja dulu, siapa tau mereka juga mau liat kondisi Langit."
"Hmm baiklah."
Kenzo dan Lana pun masuk ke dalam dan betapa terkejutnya Lana saat melihat Putranya sudah sadar.
Deg
"Langit." panggil Lana yang tak percaya kalau Langit sudah sadar.
"Ma-ma."ujar Langit terbata-bata.
Lana langsung menghampiri Putranya itu dan menciumi setiap inci wajah Putranya.
"Mama rindu sama kamu Nak."ujar Lana dengan linangan air mata karna merasa bersyukur Putranya sudah sadar.
"La-langit ju-ga Mah."ujar Langit terbata-bata.
"Nak." panggil Kenzo pada Langit dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, mata merah menahan tangis bukan seperti Kenzo yang biasanya.
"Pah."
"Maafin Papa Nak, Papa gagal jagain kamu sesuai janji Papa. Karna kelalaian Papa kamu harus menahan sakit selama ini, Papa memang nggak becus jagain anak-anak Papa."
__ADS_1
Semua orang yang ada di sama terkejut dengan permintaan maaf Kenzo, karna selama Langit masih terbaring Kenzo masih merasa bersalah atas kejadian ini semua.
"Pah, Papa nggak salah ini salah Fuji yang nggak mau dengerin kata-kata Bang Langit. Fuji nakal Pah karna ego Fuji yang ingin ikut kerja kelompok sama teman-teman Fuji, maafin Fuji Pah."
"Mas ini takdir buat kita agar menjadi orang tua yang lebih baik lagi ke depannya. Jadi jangan salahin diri kamu sendiri Mas."ujar Lana menenangkan suaminya.
"Dan untuk Fuji, Mama mohon dengerin kata-kata Abang kamu ya Nak, ini semua demi kebaikan kamu. Kamu adik perempuan satu-satunya Bang Langit dan Bang Lintang, jadi apapun yang di katakan Bang L ( Langit dan Lintang ) kamu harus dengerin ya sayang."ujar Lana yang juga menasehati Putrinya.
"Baik Mah, Fuji janji."ujar Fuji.
Sedangkan Mike hanya melihat interaksi keluarga kecil di depannya, ada rasa iri di hati Mike saat melihat Kenzo memiliki istri secantik dan sebaik Lana, serta di karunia putra-putri yang tampan dan cantik.
*Ya Tuhan kapan jodohku datang, aku juga mau seperti kucukupret ini hidup bahagia sama istri dan anak.*batin Mike.
"Tidak usah mengumpat Papa dalam hati Om Mike."ujar Lintang.
"Haa, siapa juga yang mengumpat Papa kamu boy."
"Om."
"Tidak."
"Jangan mengelak lagi Om, kalau orang jelek itu sangat mudah melihat mereka mengumpat atau tidak."
"Hey boy Om ini tampan ya bahkan lebih tampan dari Papa kamu lo."
"Tidak, gantengan Papa dari Om Mike kok."ujar Fuji.
"Ken lihat lah anak-anak kamu, masa aku ganteng gini nggak di akuin sih."ujar Mike mengadu pada Kenzo.
"Kalian memang pandai menilai mana yang tampan mana tidak Nak."ujar Kenzo yang malah membela anak-anak nya dan mengabaikan Mike begitu saja.
"Bapak sama anak sama saja, nyeselin."
"Hahahahah."pecah sudah gelak tawa di ruang rawat Langit karna ulah Mike yang meladeni bocah kecil Lintang dan Fuji.
****
9 Bulan Kemudian...
"Mas, kamu dimana sih aku lagi sakit perut juga masih aja kelayapan kayak gitu."ujar Lana yang menahan sakit di perut nya.
"Aduh sayang aku harus apa dong."ujar Kenzo yang dengan otak ceteknya malah bertanya hal yang tidak penting.
"KITA KE RUMAH SAKIT MAS, masa nggak paham juga sih. Aku mau melahirkan Lo Mas."ujar Lana.
__ADS_1
"Aah iya sayang kita kerumah sakit sekarang."ujar Kenzo yang langsung menetang tas dan berlalu begitu saja meninggalkan istrinya sendirian.
"MAS KOK AKU DI TINGGAL SIH, EMANG YANG MAU NGELAHIRIN ITU AKU APA TAS SIH."teriak Lana.
*Ohh astaga Kenzo kok otak Lo nggak berfungsi sama sekali sih.*batin Kenzo.
"Ehh iya sayang maaf maaf, ya udah kita ke rumah sakit sekarang ya."
"Ya emang harus Mas, emang mau kemana lagi haa."bentak Lana.
Akhirnya Lana dan Kenzo langsung menuju ke rumah sakit milik keluarga Alexander.
"Woi kalian lelet amat sih, ini istri gue mau ngelahirin kalian malah diam kayak patung di situ."teriak Kenzo.
"Jangan berteriak Mas bisa nggak sih."ujar Lana sambil menjambak keras rambut suaminya sampai Kenzo menggaduh kesakitan.
"Aww sakit sayang, bisa rontok rambut aku nanti kalau di tarik keras kayak gini."
"Makanya jangan teriak."
"Iya sayang iya, Mas nggak akan teriak lagi tapi lepasin dulu tangan kamu dari kepala Mas, sakit tau."
"Enak banget kamu ya Mas ngomong gitu, coba kamu rasain gimana sakitnya melahirkan jangan bisa nya buat aja."racau Lana tanpa malu sedikit pun.
"Sayang malu tau ngomong di gitu di depan banyak orang."
"Biarin."
Lana akhirnya di bawa ke ruangan persalinan agar bisa segera di tangani.
Sedangkan di sekolah menengah atas, triplets meracau karna tidak mengetahui kalau hari ini Mama mereka melahirkan.
"Om kok nggak bilang dari tadi sih, kalau tau Mama mau lahiran aku nggak mau sekolah tadi."ujar Fuji.
"Tau nih, udah jelas itu info penting buat kami."ujar Lintang.
"Makanya Om kalau nggak mau kami omelin seperti ini, Om harus infoin semua berita penting hati ini mengenai Mama pada kami."ujar Langit.
Ketiga bocah tengil itu menceramahi Mike karna ulah Mike mereka harus terlambat untuk datang ke rumah sakit.
"Ohh astaga Om juga nggak tau kali, lagian Papa kalian juga baru kasih tau Om tadi kok. Terus tadi siapa yang mintak berhenti di minimarket dulu, terus siapa tadi yang potong-potong ucapan Om, bilangnya nggak penting. Sekarang kok Om yang malah kena omel sih, seharusnya kalian yang kena karna nggak mau dengerin kata-kata Om tau, dasar bocah."ujar Mike yang mengeluarkan semua unek-unek nya kepada triplets.
"Kaki nggak pernah salah Om."ujar Fuji.
"Terserah kalian saja."
__ADS_1
Mike terus mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dengan diam, karna tak ingin berdebat lagi dengan triplets karna bisa di pastikan dia yang akan tersudutkan dan kalah.