Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 122 Terlalu Bahagia


__ADS_3

Hujan membasahi bumi pagi itu. Selepas diguyur air yang begitu deras, hijaunya pohon-pohon memanjakan setiap mata yang memandang. Lalu lalang orang-orang yang beraktivitas awal waktu, belum begitu terlihat. Membuat jalanan serasa milik sendiri dengan akses pribadi. Lancar dan lengang.


Dalam sebuah mobil sedan hitam mewah yang meluncur pelan membelah jalanan. Didalamnya ada dua sosok manusia yang tengah terdiam. Menikmati pikiran masing-masing yang entah apa isinya. Namun, mereka nampak senyum-senyum sendiri dan sesekali saling mencuri pandang. Lebih pun sebenarnya tidak mengapa ,karena sudah ada label halal dalam agama maupun KUA.


Romantisme itu bumbu wajib dalam setiap hubungan. Meski terkadang terkesan kaku dan akhirnya menjadi wagu (bahasa jawa- tidak luwes). Namun sebenarnya, hal-hal kecil sepele yang kita lakukan itu bisa menjadi sesuatu yang romantis tanpa kita sadari. Seperti dua orang yang saling berpegangan tangan di dalam mobil saat ini. Meski mereka tidak saling bicara, namun energi yang terkoneksi antara keduanya membuat momen seperti itu terasa istimewa.


"Ehem.." berpura-pura berdehem, lelaki yang fokusnya terbagi antara sang istri dan jalanan didepannya itu, mencoba mengawali obrolan bersama wanita yang sedang asyik menggambarkan jari telunjuknya pada embun yang memburamkan kaca mobil disebelahnya.


"Jangan eham ehem, nanti batuk beneran, Mas," ucap Ara yang menghentikan aktivitasnya dan menoleh menatap Adrian.


"Kau asyik sekali,"


"Pasti mau mengatakan masa kecil kurang bahagia," tebak sang Ara.


Adrian tertawa, menertawakan tebakan sang istri yang ternyata sangat benar. "Bagaimana kau tahu aku ingin mengucapkannya?"


"Setiap melihat sinetron atau membaca novel, selalu ucapan itu yang digunakan untuk melabeli tingkah absurd yang dilakukan seseorang bukan?" wanita itu menyipitkan matanya. "Apa yang kulakukan juga termasuk?"


"Sepertinya begitu,"


"Masa kecilku bahagia mas. Tapi jujur, aku memang tidak pernah bermain seperti ini. Karena ibu panti hanya memiliki mobil operasional yang muat banyak orang itu. Terkadang, kami yang lebih dewasa harus mengalah hingga... lebih seringnya kami dibonceng motor dan itupun harus bergantian," ucap Ara sendu, namun ia tidak sedih, ia justru bahagia. Mendadak airmatanya menetes, ia rindu semua yang ada disana.


Seandainya jarak tidak memisahkan mereka terlalu jauh, wanita itu pasti akan sering mengunjungi tempat yang menampungnya setelah orangtua kandungnya tiada itu. Ya, sebagian hidupnya tertinggal disana.


"Hei.. apa aku menyakitimu?"


"Tidak, Mas," Ara menghapus air matanya yang hampir jatuh kembali. "Mendadak aku merindukan mereka. Mereka mengajarkanku banyak hal dalam hidup ini," ucap Ara yang mengerjapkan bola mata, mengingat kisahnya.


Adrian mengeratkan genggaman tangannya. Meski jemarinya ingin menyeka, namun ia memilih membiarkan sang istri tenggelam dalam rindunya.


"Suatu saat entah kapan, jika pekerjaan di kantor sedikit longgar, kita pergi kesana," ucap Adrian dengan berbisik.

__ADS_1


"Benarkah? Mas mau kesana denganku?"


"Apa kau berharap aku membiarkanmu kesana sendirian?"


Ara tersenyum, wanita itu sudah menangkap kembali tanda cemburu dan menjadi posesif dari lelaki tampan yang menjadi suaminya itu. "Kalau mas sibuk terus, ya... aku kesana sendiri tidak apa-apa," ucap Ara menggoda.


"TiDAK BOLEH!" teriak Adrian tiba-tiba. "Maksudku bukan begitu sayang, tunggulah sebulan dua bulan ini," lelaki itu berucap pelan setelah membentak sang istri.


"Dengan Ardi juga tidak apa-apa, kalau mas khawatir,"


"Baiklah, kuberhentikan saja Ardi jadi bodyguardmu!"


"mengapa ia yang jadi korban cemburumu, Mas?"


"Aku tidak cem_" ucapan Adrian terhenti saat lelaki itu menyadari, kalau sang istri hanya mempermainkannya.


Masih dengan fokusnya yang terbagi, Adrian melanjutkan ucapannya dengan senyum menyeringai, "Sepertinya ada yang mau dihukum seharian di kamar hari ini,"


Gluk! Ancaman yang menyenangkan. Namun, apakah mereka harus mengisi hari liburnya berdua hari ini? Tentu tidak bisa. Karena Ara baru saja mengingat bahwa ia telah berjanji untuk menghabiskan kepingan cd film yang kemarin ia beli dengan menontonnya bertiga.


Mata Adrian melirik sang istri jengah. Setelah gagalnya pertempuran tadi malam karena ada penghuni apartemen yang mabuk dan hampir jatuh dari lantai 25. Sepagi ini malah disodori dengan acara nonton bertiga.


"Setelah nonton berarti,"


"Tiga Film lo mas,"


"Kita ikut yang satu saja, biar dua lainnya di tonton Dani sendiri,"


"Dua," Ara mengacungkan kedua jarinya. Mengajukan penawaran pada suaminya itu.


"Satu!"

__ADS_1


"Dua, Mas. Aku tidak enak jika hanya menonton satu,"


"Satu,"


"Baiklah iya," akhirnya wanita itu mengalah dengan sang suami. Sepertinya ia harus membujuk Dani agar anak lelaki itu membantunya kali ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dani menggeram, meremas tangannya yang terkepal. Pagi ini saat ia bangun, dan malas untuk beranjak dari ranjangnya, remaja lelaki itu menyempatkan diri membuka media sosialnya.


Kaget dengan kolom komentar yang berjumlah puluhan padahal biasanya tidak lebih dari sepuluh komentar. Dia yang penasaran hingga membaca satu persatu ucapan orang yang mengomentari apa yang diunggahnya kemarin.


Deg! Berbagai macam tuduhan dan hujatan dilayangkan padanya dan terutama sang ayah. Mereka rata-rata mengatakan jika sang ayah hanya menikah kontrak dengan ibu tirinya. Itulah mengapa pernikahan eksekutif muda sekelas Adrian dilakukan secara rahasia. Padahal Dani tahu kalau itu adalah permintaannya, bukan karena tuduhan menikah kontrak.


Semakin kebawah semakin komentar memanas dan membuat emosinya bergejolak. Tuduhan dan fitnahan dilayangkan pada keluarganya bahkan oleh teman-teman disekolahnya.


Ada sebuah komentar yang disertai sebuah tautan, hingga Dani mau tidak mau membukanya. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat apa yang ditampilkan disana.


Gambar sebuah kertas yang berjumlah tiga lembar itu menarik perhatiannya. Setelah ia membaca di bagian paling bawah dari lembar terakhir, terdapat bubuhan tanda tangan sang ayah dengan ibu tirinya diatas materai.


Kemudian Dani menarik kembali matanya keatas, anak lelaki itu membaca satu persatu poin yang tertera disana.


Semakin ke bawah semakin matanya perih. Ia tidak menyangka sang ayah hanya berpura-pura menikah demi menuruti kemauan sang oma.


Padahal selama ini, apa yang terlihat diantara mereka berdua terlihat alami. Mereka benar-benar seperti orang yang tengah jatuh cinta meski awalnya hubungan itu nampak janggal.


Dan sebenarnya, Dani telah hampir ingin membuka hatinya untuk wanita yang ia panggil tante itu. Namun dengan ini semua, ia jadi ragu karena ternyata sang ayah dan ibu tirinya itu tengah menjalankan sandiwara.


Mendadak terpikir apa jadinya jika omanya mengetahui ini semua. Ia langsung menghubungi temannya yang mempunyai kakak seorang IT. Berharap semua berita pagi ini bisa langsung di take down agar tidak meresahkan keluarganya.


Bukannya membela sang ayah, ia ingin membuat perhitungan secara pribadi dengan ayahnya itu nanti. Yang terpenting adalah menghilangkan dahulu semua berita tentang sang ayah yang sudah naik pagi ini.

__ADS_1


"Nyonya.... " suara teriakan yang terdengar dari lantai bawah membuat Dani terhenyak. Baru saja ingin mengatakan masalahnya pada sang teman, mendadak Dani mengurungkan niatnya ketika terlintas wajah sang oma.


"Oma?"


__ADS_2