
"Mel, kemana Elang?" tanya Adrian selepas keluar kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Semalam aku menyuruhnya pulang, Tuan?" sahut Mela sambil tetap mengunyah sarapan paginya.
"Kenapa tidak pamit padaku!?"
"Kalian sudah tidur nyenyak dan tidak memikirkan kita berdua," sengit Mela.
"Kenapa aku harus repot memikirkan kalian?"
"Ya ampun, Tuan," Mela menepuk jidatnya. Kemudian gadis itu berhenti menyendokkan makanan ke mulutnya. "Tuan tidak mungkin tidak tahu kan, jika kami menunggu Tuan diluar? Kami kira Tuan membutuhkan private time dengan Ara, itulah juga kenapa aku tidak masuk dan memilih di luar bersama Elang. Tapi Tuan malah tertidur dan asyik berpelukan tanpa memberitahu kami," protes Mela.
"Sudah Mas, kita yang salah. Harusnya Mas menyuruh Elang pulang saja begitu sampai disini," sela Ara menengahi.
"Kami tidak bawa mobil, Sayang. Mobilnya dipakai untuk mengantar Tony ke rumah sakit," jelas Adrian.
"Lalu Elang pulang naik apa, Mel?"
"Hemmm ... Entahlah aku tidak tahu. Lagipula banyak taxi online kan, Ra. Tidak perlu khawatir," ucap Mela menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Tapi, bukankah sudah larut, bagaimana kalau Elang kenapa-kenapa?" Ara nampak mengkhawatirkan asisten suaminya itu.
"Ara!"
"Sayang!"
Adrian dan Mela berteriak bersamaan.
"Yang seharusnya kau khawatirkan adalah aku, bukan asistenku. Lagipula siapa yang akan menculik Elang. Sekali pukul orang, sudah pasti langsung pingsan." Adrian kesal pada istrinya.
"Oh iya, Ra. Boleh aku minta nomor Elang?" Mela berucap lirih karena takut Adrian mendengar. Lelaki itu nampak menyibukkan diri.
Ara menggeleng, kemudian wanita itu berbisik menjawab permintaan Mela, "Nanti ... nanti ya,"
"Aku pulang larut, malam ini. Aku mau ke kantor polisi, setelah itu ke rumah sakit. Aku juga lembur. Jika dokter mengizinkanmu pulang, Zen yang akan menjemputmu." Adrian nampak serius dengan ponselnya.
"Tidak bisakah Mas saja yang mengantarku pulang?" mohon Ara. Wanita itu bergelayut manja di bahu sang suami. Namun sepertinya Adrian masih marah memendam kesal.
__ADS_1
"Tidak bisa, Sayang. Hari ini sibuk sekali." Lelaki itu membelai puncak kepala sang istri. Meskipun ia marah, tapi ia tidak bisa mengacuhkan begitu saja wanita yang dicintainya itu.
"Elang belum datang, Mas?" Ara yang masih ingin bersama suaminya lebih lama, menggunakan asisten Adrian itu sebagai alasan.
"Dia sudah menunggu dibawah. Aku juga masih harus pulang ke rumah dulu Sayang. Mengambil beberapa berkas yang diperlukan," Adrian menutup ponselnya, kemudian memasukkan benda pipih itu kedalam saku jasnya.
Ada perasaan tidak rela dalam hati Ara. Tapi mau bagaimana lagi, suaminya itu milik orang banyak dengan tanggung jawab yang besar pula.
"Mel, temani sampai Ardi dan Zen kesini. Baru kau boleh berangkat kerja," titah Adrian pada sahabat istrinya itu.
"Mana bisa, Tuan. Saya harus berangkat jam setengah tujuh supaya tidak terlambat," protes Mela, karena jika ia naik taxi online, jalannya harus memutar dulu baru sampai di tempat kerjanya.
"Nanti biar salah satu dari mereka yang mengantarmu. Sebentar lagi mereka datang, aku sudah menghubunginya tadi. Aku pergi ya, Sayang," Adrian mengecup pipi sang istri kemudian memeluknya sejenak.
"Hati-hati ya, Mas," ucap Ara melepas kepergian sang suami.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=
"Langsung ke kantor polisi Lang, kita diminta menjadi saksi," titah Adrian pada sang asisten, yang pada pagi itu mereka hanya berangkat berdua tanpa sopir.
"Baik, Tuan."
"Sudah kedalam?"sapa Adrian pada pelayan tony itu.
"Belum, Tuan. Saya baru saja tiba, karena Tuan Tony tidak ada yang mengurusi. Saya tidak tega meninggalkan beliau sendiri. Namun mengingat jika beliau tidak memiliki saudara disini, akhirnya dengan berat hati, saya menitipkan pada perawat," ucap mbok Darmi yang pada pagi hari itu dijemput polisi karena Tony yang khawatir dengan keselamatannya.
"Pengawal Tony?"
"Mereka semua sudah dipecat oleh Nyonya Laura, Tuan. Tidak ada yang bersisa." mmMbok Darmi menunduk, hatinya ikut sedih mengingat kemalangan yang menimpa majikannya. Apalagi Tuan-nya itu tidak memiliki siapapun lagi di Indonesia.
"Seingatku dia punya adik?"
"Tuan Tony melarang saya menghubunginya, Tuan. Dia tidak ingin merepotkan."
Adrian menghela napasnya, sepertinya Tony memang tidak terlalu dekat dengan adik perempuannya itu.
"Baiklah, ayo kita masuk, Bi," ajak Adrian yang diikuti Elang dari belakang.
__ADS_1
Setelah melewati beberapa interogasi dengan hasil yang akan dicocokkan dengan barang bukti, akhirnya selesailah urusan mereka di kantor polisi.
Dan disinilah mereka saat ini. Mbok Darmi yang diajak satu mobil bersama ke rumah sakit oleh Adrian, malah meminta izin lelaki itu untuk menemui sang nyonya.
Bagaimanapun, ia pernah bersama wanita itu selama menjadi istri Tony. Dan mbok Darmi tahu betul jika awalnya Laura baik. Mungkin trauma mendalam atas apa yang menimpanya lah yang membuatnya seperti sekarang ini.
Adrian hanya menunggu diluar, lelaki itu tidak ingin ikut menemui mantan kekasihnya itu bersama mbok Darmi. Ia masih tidak menyangka dan kecewa akan Laura yang sanggup melakukan hal seperti ini. Dan terutama pada istrinya, yang dari awal berkata kasar saja tidak pernah pada wanita itu.
Pertemuan yang mengharukan antara majikan dan sang pelayan. Sepanjang mereka duduk berdua hanya mbok Darmi yang nampak banyak memberi nasihat dan mengungkapkan perasaannya. Sementara Laura hanya diam, pandangannya kosong dan sama sekali tidak merespon ucapan pelayannya itu.
Hanya saja, ketika waktu kunjungan hampir habis, mbok Darmi mengucapkan sesuatu. Wanita paruh baya itu mengatakan jika sang tuan menitip salam. Kemudian lelaki itu mengatakan akan selalu mencintai Laura, sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun.
Tiba- tiba wanita yang kini nampak murung dengan rambut yang di kuncir seadanya itu, meneteskan air matanya.
Mbok Darmi kaget. Sekian lama ia berbicara dan tidak direspon, justru ketika ia mengatakan tentang sang tuan malah mendapat reaksi seperti itu dari sang nyonya. Namun wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat banyak karena ia harus segera pergi meninggalkan ruangan itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Terima kasih Add. Kalau tidak ada kamu, mungkin, ahh ... entahlah." Senyum Tony memudar. Awalnya ia bahagia karena bisa selamat dan akhirnya dirawat di rumah sakit. Tapi mengingat perbuatan sang istri yang selama ini ia jaga dengan nyawanya, lelaki itu merasa kecewa. Sangat kecewa.
Keadaan Tony sudah lebih baik saat ini. Lelaki itu ditangani dan diobati oleh dokter yang tepat. Ternyata selama ini Tony tidak sakit apapun. Dia memang sempat jatuh di kamar mandi akibat terpeleset. Namun ia tidak pernah tahu jika ketidaksengajaan akan kecelakannya itu akan dimanfaatkan oleh sang istri dan membuatnya lebih sakit.
Ya, obat yang diberikan dokter diganti semuanya oleh sang istri. Hingga bukan sembuh yang didapatnya namun malah kelumpuhan. Untung saja obat itu hanya berefek lumpuh tidak permanen. Namun jika obatnya dikonsumsi terus menerus akan membuat lumpuh permanen.
Dan Adrian datang tepat waktu, sehingga Tony masih bisa terselamatkan.
"Apa kau yakin tidak menuntut istrimu untuk perbuatannya karena membuatmu lumpuh seperti ini?" Adrian memastikan keputusan temannya itu.
Tony mengatakan seperti itu tadi, ia tidak ingin menambah hukuman sang istri yang sudah pasti dijerat oleh pasal berlapis.
"Tidak, Add. Tidak aku tuntut saja, hukumannya sudah pasti berat. Biarlah semua berjalan seperti adanya saja," ucap Tony mengurai rasa kecewa dan sedihnya.
"Baiklah. Semua asetmu akan kembali lagi padamu. Setelah kau sembuh kau bisa mengelolanya kembali. Apa kau tak berniat pergi dari negara ini setelah semua yang terjadi?"
Tony menggeleng. Dia memutuskan untuk menunggu sang istri hingga habis masa hukumannya. Cintanya tidak akan pupus hanya karena perbuatan Laura. Karena yang Tony tahu, Laura memang trauma akan kejadian yang menimpanya.
Siapa yang harus disalahkan? Atau bisakah ia menghindar? Tidak! Semua memang sudah menjadi takdir yang harus dijalani.
__ADS_1
🍒Terima kasih banyak masih mengikuti. Karya receh dan perdana ini semoga bisa ikut menghibur kalian. Terus komen dan like karyaku ya.. ❤️❤️❤️