
Jam berganti hari, dan hari pun berganti bulan. Adrian terpekur di tempat yang sama, menanti sesuatu yang tidak pasti dalam kesendirian. Berharap dua orang yang dicintainya mampu hidup berdampingan, tanpa kehilangan salah satunya. Kenyataannya, malah tidak ada satupun yang berdiri disampingnya. Yang satu menyakiti dan yang lainnya tersakiti. Sungguh ironis.
"Selamat pagi, Tuan," sambut bibi Yulia ketika melihat Adrian turun dari tangga.
"Pagi, Bi. Saya kopi saja." Adrian melangkahkan kakinya menuju ruang makan, kemudian menggeser salah satu kursinya dan memghempaskan bokongnya di tempat duduk dari kayu yang diukir warna emas itu.
"Seperti biasa?"
"Iya, jangan terlalu pahit."
Setiap pagi menanyakan hal yang sama, bubi Yulia berharap mendapatkan jawaban yang berbeda setiap harinya. Namun faktanya, sang majikan selalu menginginkan hal yang sama.
Helaan napas bibi Yulia terdengar. Wanita yang separuh hidupnya mengabdi di keluarga Ilyasa ini, menatap nanar sang majikan yang bagai kehilangan gairah hidupnya dan juga separuh nyawanya.
Sudah berbulan bulan lamanya, Adrian mengganti sarapan paginya hanya dengan secangkir kopi hitam yang di campur sejumput gula. Tentu itu berpengaruh bagi lambungnya. Namun sepertinya Adrian tidak jera tetap mengkonsumsinya.
Sang majikan yang sekalipun tidak pernah menyukai minuman hitam pekat dengan aroma menenangkan itu dulunya, kini menggilai kenikmatan yang dijanjikan pada setiap cangkirnya. Bagai menjadi candu, mungkin saat ini hanya secangkir kopi hitam itu yang dapat membantu melegakan hatinya.
Terkadang ia juga menyantap setangkup sandwich yang ia buat sendiri. Berisi telur dan tomat, sama seperti yang dibuatkan oleh sang istri dulu. Itu pun dapat dihitung frekuensinya, tidak setiap pagi ia melahapnya.
Dulu, Ara selalu saja mengomel tiap kali
Adrian minum kopi. Padahal lelaki itu hanya meminum kopi susu dan itupun bisa dihitung dengan jari. Sekarang meski ia minum kopi hitam yang pahit setiap pagi pun tidak ada yang memarahinya. Tidak ada yang mengingatkannya, hanya sesekali ia mendapat protes dari bibi Yulia
Sungguh, ia rindu suara wanitanya itu.
"Tuan tidak sarapan? Saya buatkan sandwich kesukaan Tuan." Bibi Yulia menyodorkan setangkup sandwich diatas piring kepada Adrian.
"Boleh. Bibi masih orang yang paling pantang menyerah meski hampir setiap hari aku menolaknya." Senyum Adrian masam. Wanita paruh baya yang sudah ia anggap ibunya itu memang gigih memberi perhatian padanya.
"Dihabiskan ya, Tuan. Meski rasanya tak seenak buatan Nyonya," selorohnya lirih.
Wanita paruh baya itu berdiri tidak jauh dari Adrian. Menunggu majikannya menghabiskan setangkup sandwich yang mungkin akan menjadi satu-satunya yang mengganjal perutnya hingga siang.
Bibi Yulia tentu masih ingat seminggu sebelum kepergian Ara. Wanita itu mendadak manja kepadanya. Menitipkan segala hal termasuk Adrian pada kepala pelayan di rumahnya itu. Dan bodohnya, bibi Yulia tidak menyadari tingkah absurd sang nyonya yang ia pikir hanya bercanda.
"Tuan nampak sedikit kurus. Apa yang harus saya jawab, jika Nyonya bertanya saat beliau kembali nanti?"
Suara lirih bibi Yulia mencipta senyum samar di bibir Adrian.
Berbulan-bulan selalu itu yang diucapkan bibi Yulia kepadanya. Mungkin, wanita paruh baya itu hanya ingin menghiburnya atau entah apa yang dipikirkannya ia tidak tahu. Namun kenyataannya, Ara tidak pernah menghubungi kepala pelayan itu sama sekali. Apalagi dirinya.
"Jika ia menghubungimu, katakan padanya. Aku hampir mati merindukannya," sahut Adrian santai. Dia bahkan hanya memupuk rindunya setiap hari dengan harapan yang sama. Bertemu separuh nyawanya itu sebelum ajal memanggilnya.
"Apa Tuan juga tidak bisa menemukannya dimanapun? Saya juga merindukannya. Kalau saya ... tidak mau mati sebelum bertemu dengan Nyonya Ara, Tuan. Saya takut dimarahi Nyonya Besar, karena tidak bisa menjaga amanahnya jika bertemu beliau nanti."
Pemikiran yang sangat konyol bukan? Namun, justru kembali bisa membuat Adrian melengkungkan bibirnya. "Apa Tuan tidak bisa menemukannya?" Kata-kata itu seperti sindiran yang sangat halus, akan ketidakmampuannya. "Aku harus menemukannya, meski sepanjang usiaku taruhannya!" ucap Adrian dalam hati.
__ADS_1
"Aku akan menemukannya, Bi. Pasti!" Adrian menutup sarapannya dengan air putih hangat yang tak pernah ia lupakan. slSetelahnya lelaki itu berjalan gontai menghampiri Elang yang sudah siap di mobilnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aduh Kak, Fatma menghubungiku. Katanya tadi ia membawa anak-anak jalan-jalan di taman bersama bu Sri. Namun bu Sri sakit perut, hingga izin pulang duluan. Dan sekarang Fatma sendiri."
Sinta kebingungan mendapat panggilan dari Fatma yang meminta gadis itu menyusulnya di taman yang tidak jauh dari panti asuhan. Pengurus panti yang lain sedang sibuk dengan urusannya masing- masing hingga tidak bisa dimintai tolong. Satu-satunya yang bisa diharapkan hanya Sinta.
"Kalau begitu kamu pulang duluan saja Sin. Bantu Fatma, aku bisa pulang sendiri." Ara mengambil keputusan sepihak, agar semua bisa terbantu.
"Tidak, tidak! Kakak pulang denganku sekarang saja. Aku khawatir dengan dirimu jika pulang sendiri. Kehamilanmu sudah memasuki sembilan bulan, Kak. Aku tidak bisa meninggalkanmu." Sinta gigih bertahan. Karena gadis itu tidak tega melihat Ara yang berjalan membawa beban yang nampak berat diperutnya.
"Tapi aku belum mendapatkan apa-apa, baru dua kaus kaki kecil ini. Pakaian, perlak dan perlengkapan yang lain belum, Sin. Sudah kamu pulang saja. Aku tidak apa- apa sendiri. Nanti pulangnya biar aku naik mobil saja, kalau kamu khawatir."
"Serius?" Ara mengangguk. "Tapi janji kakak harus memberi kabar kalau ada apa-apa, ya. Dan kakak juga harus hati-hati. Duduk dan istirahat dulu jika lelah, jangan dipaksakan berjalan terus." Sinta mengucapkan syaratnya sebelum beranjak pergi.
Ara menunjukkan jempolnya mengiyakan pesan Sinta sebelum meninggalkannya.
Wanita itu kembali masuk ke dalam toko pakaian baby, setelah mengantar Sinta yang pergi dengan motornya.
Mana mungkin Ara mau mengiyakan ajakan Sinta untuk pulang. Kehamilannya memasuki masa-masa mendekati melahirkan. Sementara ia belum memiliki persiapan apapun termasuk segala perlengkapan untuknya dan juga bayinya.
Ara nampak berjalan menuju box pakaian bayi yang berada di sudut ruangan. Kemudian wanita itu duduk disana, dan memilahnya satu-persatu.
Kali ini, dia merasa berada di tempat yang tepat. Di toko ini, segala rupa keperluan bayi ada. Hingga ia tidak perlu mencarinya di tempat lain lagi. Setiap kali memilih, penjaga toko selalu bertanya apa jenis kelamin dari bayinya. Dan Ara hanya tersenyum dan menjawab tidak tahu karena memang ia tidak pernah bertanya pada dokter kandungannya. Wanita itu ingin mengejutkan dirinya sendiri. Sehingga ia memilih warna netral untuk bayinya.
Saat sedang sibuk dengan memilih ini itu yang akan ia beli, Ara tidak menyadari ada sesosok yang memperhatikannya. Seseorang yang masuk tepat dibelakangnya, setelah ia dari luar mengantar Sinta tadi.
"Maaf, Pak. Ibu itu tidak tahu jenis kelamin dari anaknya sendiri. Katanya kejutan," jawab penjaga toko yang ternyata disuruh oleh lelaki itu. Dan Ara sama sekali tidak nampak curiga, karena memang itu pertanyaan biasa yang dilemparkan penjaga toko kepada pelanggannya.
"Kalau begitu, kamu siapkan segala perlengkapan baby yang ia tidak beli. Pilih warna netral saja, atau samakan dengan pilihan warna dari barang lain yang ia beli. Pilihkan yang terbaik. Dan tagihannya saya yang menyelesaikan," titah lelaki itu yang dijawab anggukan oleh penjaga toko.
Disudut lainnya, Ara tengah menimang-nimang untuk membeli stroller baby yang menarik perhatiannya. Namun, bandrol harga yang cukup tinggi membuatnya urung. Pikirnya, belum begitu perlu membelinya, atau nanti sajalah kalau ia sudah melahirkan. Karena biaya melahirkan tidak mungkin sedikit. Ia benar- benar harus cermat mengatur keuangannya.
Sebenarnya ia bukan kekurangan biaya, tapi bukankah ia harus berhemat. Kehidupan masih panjang, apalagi sekarang dia akan berdua dengan anaknya. Dan tentu saja kebutuhan akan lebih membengkak dari sebelumnya.
"Ini bagus, Bu. Ibu suka warna apa?Sekalian saya totalkan. Tenang saja, toko kami memberika layanan antar gratis seluruh perlengkapan yang ibu beli sampai di depan rumah," jelas penjaga toko itu dengan ramah. Dia seperti bisa membaca kegundahan Ara, yang mmbayangkan kerepotan membawanya.
"Beneran, Mbak?" Ara terkejut, namun bahagia, paling tidak ia bisa berhemat naik ojek online, tanpa kerepotan membawa barang-barang yang dibelinya. Apalagi ia tidak mungkin memanggil Sinta kembali, karena gadis itu juga pasti repot menjaga anak-anak. "Tapi ... lain kali saja stroller nya. Maaf uang saya belum cukup, Mbak."
"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Apa ini ada tambahan lagi?" tanya penjaga toko memastikan.
"Saya rasa cukup, Mbak. Itu saja." Ara segera berjalan ke kasir untuk membayar. "Ini beneran ya Mbak, diantar sampai tujuan?" Wanita itu memastikan karena jarak panti asuhan dengan toko perlengkapan bayi ini, lumayan jauh.
"Iya, Bu. Gratis dan seberapapun jauhnya." Mungkin penjaga tokonya bercanda, ucap Ara dalam hati. Mana mungkin sejauh apapun, bisa rugi tokonya. Padahal yang Ara tidak tahu, layanan antar gratis harus memenuhi syarat minimal pembelian. Sedangkan Ara belum memenuhinya. Semuanya hanya akal seseorang untuk memuluskan bantuannya kepada wanita itu.
"Ah ... maaf!" Tanpa sengaja, Ara menginjak kaki seseorang ketika mereka sama-sama berdiri di depan kasir. Sosok yang tidak lain adalah lelaki misterius itu hanya mengangguk menerima permintaan maafnya, tanpa melihatnya lagi.
__ADS_1
Entah mengapa, Ara merasa mengenal sosoknya. Terdiam sejenak sambil memikirkannya kemudian malah membuatnya yakin. Tapi tidak mungkin itu adalah dia. Bisa jadi hanya mirip saja ... Bukankah orang itu? Ah ... Ara menggeleng sendiri, apa yang ia pikirkan. Di dunia ini tentu banyak sosok lelaki yang mirip. Jadi tidak mungkin lelaki itu ada disini.
Orang itu nampak mengeluarkan kartu kreditnya. Tanpa mengucap sepatah katapun, bagian kasir seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian setelah transaksi selesai, sosoknya segera keluar tanpa membawa apapun. Aneh! melakukan transaksi tapi tidak membeli apapun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kak barangmu datang!" teriak Sinta yang melonjak senang karena melihat mobil box dengan nama toko yang ia datangi tadi berhenti di halaman depan panti asuhan.
Sejak awal, memang gadis itu sangat antusias mengantar Ara belanja. Sinta senang dengan segala aksesoris dan pernak pernik bayi.
Ara masih di kamarnya. Istirahat sejenak setelah merasa lelah akibat belanja hari ini. Wanita itu bergegas bangkit, setelah mendengar panggilan dari Sinta.
"Wow ... Banyak sekali, dan bagus-bagus!" pekiknya kegirangan. Bu Fatimah yang ikut keluar dari ruangannya akibat teriakan senang Sinta, ikut terpana melihat banyaknya barang yang datang.
"Eh, Fatma itu punya siapa?" Ara kaget karena barang yang datang melebihi apa yang ia beli. Ia tentu hapal, barang apa saja yang dipilihnya tadi.
"Punya dedek bayi kan? Cantik-cantik, Kak." Gadis seusia Sinta itu, ikut menciumi boneka-boneka lucu yang jumlahnya lumayan banyak.
"Pak ... Sebentar!" panggil Ara pada kurir yang hampir selesai dengan tugasnya.
"Ini kenapa banyak sekali? Barang yang saya beli tidak sebanyak ini, Pak. Stroller, boneka dan pernak pernik sebanyak ini bukan punya saya. Box bayinya, seingat saya tidak memilih yang ini. Mungkin yang saya sebutkan tadi, bapak salah kirim." Ara menunjuk barang- barang asing yang bukan miliknya.
"Ini benar milik Anda, Bu. Dengan ibu Ara yang alamatnya panti asuhan ini bukan?" Ara mengangguk. "Berarti benar, semua barangg ini milik Ibu. Karena pengiriman kami hari ini hanya ke alamat ini saja," ucap kurir menjelaskan. Ia sampai memperlihatkan nota pembelian untuk mengecek kembali barang-barang yang harus diturunkan tanpa kurang satupun.
"Tapi sungguh, Pak. Saya hanya membeli yang disana, sedangkan yang ini bukan milik saya." Ara kukuh menolak barang yang tidak dibelinya.
Kurir itu meminta waktu sebentar untuk menghubungi supervisornya di toko. Karena ia hanya bagian pengiriman yang tugasnya tinggal mengirim saja, tidak pernah tahu hal yang lain.
Lelaki itu nampak mendekat kembali setelah beberapa lama berbicara dengan atasannya melalui ponselnya.
"Bu, maaf jika kami membuat kaget. Kebetulan toko kami sedang merayakan ulang tahun hari ini. Dan kami membuat undian berhadiah untuk pelanggan kami. Contohnya seperti kejutan ini. Dan diantara banyaknya pengunjung hari ini, ibu lah yang terpilih. Jadi kami tidak salah kirim ya." Sesuai arahan atas nanya, kurir menjelaskan panjang lebar agar barang- barang itu tidak ditolak.
"Ulang tahun? Berhadiah?" Kurir mengangguk mengiyakan, kemudian pamit pergi begitu saja, meninggalkan Ara yang masih tidak percaya dengan kejadian barusan.
"Wahh ... Dedek bayi sangat beruntung. Belum juga nongol sudah dapat hadiah," ucap Sinta yang ikut senang dengan banyaknya barang yang diberikan toko perlengkapan bayi itu. Apalagi sangat terlihat hadiah- hadiah itu bukan barang murahan. Semuanya berkualitas terbaik.
"Ini tidak mungkin," gumam Ara lirih.
"Mungkin saja, Nak. Namanya juga rezeki. Tidak tahu kapan datangnya. d
Diminta pun tidak bisa, ditolak juga tidak boleh. Bersyukurlah," ucap bu Fatimah seraya menepuk punggung Ara dan masuk kembali ke dalam ruangannya.
Jika ulang tahun kenapa tidak ada hiasan apapun didepan toko? Tidak ada ucapan selamat karena menang. Semua serba membingungkan. Sebanyak ini pasti tidak muat jika dimasukan kedalam kamar. Barang- barang ini jumlahnya lebih banyak dari yang ia beli.
Belum lagi hilang keheranan Ara. Mendadak angin berhembus tenang, membawa sebuah kertas kecil yang mirip seperti kartu ucapan, yang terbang hingga jatuh menimpa kaki Ara.
"Selamat menjadi Ibu, berbahagialah. Pengorbanan dan perbuatan baik akan selalu berbuah manis, pada akhirnya.."
__ADS_1
_sebuah pesan tanpa nama_
💙readers tercinta, terimakasih untuk like dan komen nya, sayang kalian❤️❤️❤️