
"Saya beli saja, ya Pak?"
"Tapi saya tidak jadi menjual, Pak. Kalau mau dikontrak, silahkan."
Seorang lelaki berpenampilan rapi dengan stelan blazer mendatangi bapak- bapak pemilik tanah yang awalnya hendak menjual tanah beserta bangunannya ini. Namun ternyata hari ini dia berubah pikiran.
"Kemarin saya mendapat info jika dijual. Saya ingin membantu saudara saya yang membutuhkan. Rencananya mau dibuat tempat usaha, Pak."
"Maaf dengan sangat, Pak. Kebetulan adik saya ahli warisnya. Beliau berubah pikiran dan tidak ingin menjualnya."
"Baiklah, kalau begitu saya kontrak langsung 5 tahun saja. Jika suatu saat adik bapak berubah pikiran, hubungi saya di nomor ini ya, Pak," ucap lelaki yang ingin membeli tanah itu menyodorkan kartu namanya.
Bapak- bapak berpeci itu kaget, dia pikir lelaki didepannya ini hanya akan mengontrak satu sampai dua tahun. "Tidak terlalu lama, Pak?"
"Tidak, sekalian saja. Bapak hubungi no orang itu untuk harganya. Nanti uangnya saya transfer," ucap lelaki yang akan mengontrak rumah itu. Kemudian dia pamit
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Rumahnya yang mana, Kak?" tanya Sinta memelankan laju motornya. Hari ini Ara meminta Sinta mengantarkannya melihat rumah yang akan di kontraknya.
Pagi tadi Ori sudah memberikan alamat lengkapnya. Ternyata lokasinya memang tidak jauh dari panti asuhan. Memudahkannya sering berkunjung ketempat itu sesuai janjinya pada ibu kepala.
"Jl. Rindang no 5 A. Kata Dokter Ori kanan jalan." Bibir Ara nampak komat kamit menghitung sambil melihat nomor di setiap rumah. "Stop Sin! sepertinya ini," tunjuk Ara pada sebuah rumah dengan posisi sangat strategis. Rumah itu memiliki kebun kosong yang luas disamping bangunan rumahnya.
"Betul Kak yang ini, lihat saja nomornya," tunjuk Sinta pada plakat besi bertulis 5 A. "Dokter ori memang pintar ya, Kak. Bahkan mencari rumah sesuai yang Kakak maupun dia mendapatkannya dengan cepat dan tepat," puji Sinta pada lelaki idolanya itu.
"Iya, lihatlah kebun kosong disebelah itu. Cukup luas bukan, untuk menanam bermacam bunga ataupun tanaman buah yang akan aku jual," ucap Ara membayangkan keinginannya untuk mandiri segera menjadi kenyataan.
"Tapi Kakak hanya sendiri disini dengan Merra. Siapa yang akan membantu Kakak?" Wajah Sinta mendadak sendu memikirkannya.
"Kamu boleh main kesini, atau sesekali menginap. Yang penting tanggung jawabmu di panti tidak terganggu Sin." Ara menepuk punggung gadis itu menenangkan.
"Benarkah? Asyikkkk!" Sinta melonjak senang hingga hampir limbung.
Tidak lama kemudian, Ara menghubungi Ori untuk memastikan harganya. Dan semuanya diurus oleh Ori, Ara hanya tinggal mengganti uangnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa tahun berlalu.
Bayi kecil chubby itu tumbuh menjadi anak yang cantik dan ceria. Hari- hari Ara indah karenanya, melihatnya seakan melihat Adrian. Sehingga rindunya pada lelaki itu, sedikit terobati. Saat ini usia Merra sudah 6 tahun. Dia sekolah di salah satu TK swasta di kota Bandung.
Merra memiliki gen yang lebih banyak menurun dari ayahnya. Postur yang tinggi, kulit putih, dan wajah cantik yang sangat mirip dengan sang kakak. Sekilas gadis itu seperti versi perempuan dari Dani.
"Ma, hari Minggu nanti ada kegiatan di sekolah. Ada Bu Guru dan juga beberapa kakak relawan yang akan berbagi ilmu cara bertahan hidup di hutan. Merra boleh ikut ya, Ma?" ucap gadis kecil itu memeluk sang mama dari belakang.
"Merra tertarik? Kalau Merra suka, tentu boleh saja ikut. Hanya satu hari kan?" tanya Ara pada gadis kecilnya.
"Iya. Tapi menginap, Ma. Jadi Merra tidur di tenda," jelas Merra, gadis kecil ini pasti belum bisa membayangkan rasanya tidur di tenda. Namun perlu juga untuk mengajarkan kemandirian padanya.
"Berarti camping juga dong. Wah apa benar anak mama ini bisa tidur disana?Karena biasanya nanti Merra tidur dibawah tidak pakai kasur. Merra mau?"
"Mau, Ma. Merra suka lihat-lihat di TV yang kayak petualangan gitu kan, Ma. Makan apa adanya, tidur apa adanya terus...."
"Tidak boleh bawa boneka lo, ya. Bantal guling juga tidak boleh. Merra bawa sleeping bag punya mama saja," ucap Ara yang kini akhirnya duduk dan gadis kecilnya itu berada di pangkuannya.
"Iya Merra tahu. Kemarin Bu Guru sudah memberi pesan begitu. Bener, Ma. Merra disuruh bawa itu, tapi lupa mau menyampaikan pada Mama, Soalnya susah diejanya." Gadis kecil itu tertawa kecil menatap takjub sang mama yang bisa mengetahui apa yang dibutuhkannya. "Tapi ... kamar mandi masih ada kan, Ma?"
Ara menahan tawanya mendengar Merra yang bertanya hal itu. Ini pertama kalinya gadis kecil itu mengikuti kemah di sekolahnya. Dia tidak khawatir jika tidak boleh membawa barang kesayangannya disana. Yang gadis kecil itu khawatirkan, malah kamar mandi.
"Kalau kemahnya di sekolah, tentu masih ada, Mer. Ada kamar mandi sekolah bukan? Tapi kalau benar-benar petualang yang menyusuri gunung atau hutan, ya kamar mandinya alam," ucap Ara sambil memangkas pucuk- pucuk daun agar mempercepat proses berbuah.
Wanita cantik ini sekarang berjualan bunga. Ada berbagai macam jenis bunga yang ia miliki. Dan dia hanya dibantu dua orang pekerja yang juga ikut tinggal di rumahnya. Sepasang suami istri yang sudah lanjut usia, tapi masih ingin tetap berkarya dan menyibukkan diri.
"Sembarangan dong, Ma?" Tiba-tiba wajah Merra menunjukkan kekhawatiran.
__ADS_1
"Keadaannya memang mengharuskan begitu, Sayang. Bukan sembarangan. Katanya kamu menyukai alam, kalau sudah besar ingin masuk anggota Mapala, kok wajahnya begitu," ejek Ara yang menggoda gadis kecilnya itu.
"Ahh ... Itu masih lama, Ma. Merra sekarang baru 6 tahun, itu dipikirkan nanti saja. Ma, kok Tante Sinta belum kesini ya? Padahal sudah janji mau mengantar Merra ke supermarket beli jajan, buat bekal hari minggu nanti."
"Tunggu saja, mungkin Tante masih repot di panti." Gadis kecil itu menurut, ia masuk ke kamarnya.
Tidak berapa lama terdengar suara klakson mobil. Ara langsung berdiri mengenali pemilik dari mobil yang langsung masuk ke halamannya itu.
"Om Ori....!" teriak Merra yang langsung keluar begitu mengetahui jika Oryza datang.
"Hallo cantik! Kok sudah rapi, mau kemana?"
"Menunggu tante Sinta datang, Om. Katanya mau mengantar ke supermarket, tapi sampai sekarang belum sampai." Merra meruncingkan bibirnya, memasang wajah cemberut itu di depan Om nya. Lelaki yang ia kenal sejak kecil, dan sangat menyayanginya. Begitu cerita sang mama.
Oryza keluar dari mobilnya. Lelaki yang selalu mengunjungi Ara hampir setiap hari ini, hanya tersenyum simpul melihat Merra yang berdiri di depannya.
"Mau diantar sama Om?" Oryza berjongkok di depan gadis kecil itu agar tingginya menyamai.
"Biar sama Sinta aja, Ri. Kamu pasti lelah baru pulang praktek. Mungkin sebentar lagi dia datang," teriak Ara dari kebun.
"Tidak apa-apa. Aku cuma lelah duduk, tidak sepertimu yang harus angkat pot dan tanah kesana kemari," lirik Ori yang pasti membuat ara jengkel. Ori ingin melihat reaksi Ara. Karena lelaki ini tidak habis pikir, banyaknya profesi mengapa Ara malah memilih menjual bunga yang merepotkan menurutnya.
"Tiap manusia punya passion berbeda Oryza Sativa alias padi. Kalau kamu passionnya bersama anak-anak, aku passionnya di bunga. Jadi tidak boleh membandingkan. Kalau semua jadi dokter siapa yang sakit? Sama seperti aku, kalau semua jadi tukang bunga ya tidak ada yang beli," ucap Ara sambil memberikan pupuk pada anggrek nya.
"Iya ... Iya.. kalah lagi aku. Eh, tapi ngomong-ngomong namaku oryza satrio bukan oryza sativa!" Nah, malah jadi Ori yang terpancing emosi. Padahal tadi sedianya dia yang menggoda Ara.
"Sudah, pergi sama Om saja. Nanti kita menghampiri tante Sinta. Siapa tahu tante Sinta tidak ada motor buat kesini atau repot apa gitu," tawar Ori pada gadis kecil yang bergelayut di pangkuannya. Dia sudah tidak marah lagi.
"Mau, Merra mau Om, tapi izin mama dulu."
"Pasti boleh, kan perginya sama Om. Boleh ya, ma? Merra Om culik?" Ori mendongak, kemudian menatap Ara dari kejauhan meminta jawaban.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. Bukannya tidak boleh, tapi ia sudah pasti tidak bisa menolaknya. Karena Oryza menemani perkembangan Merra dari bayi. Bahkan membantu banyak hal untuknya.
"Ibu kenapa tidak menikah saja dengan Dokter Oryza, dia baik dan juga sangat sayang pada Merra," ucapnya, pandangan teduh lelaki itu seperti seorang bapak yang memberi nasihat pada anaknya.
"Ada banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan, Pak. Saya menganggap Ori sudah seperti adik saya, karena selamanya ayah Merra tidak akan terganti oleh siapapun."
"Maaf, Bu. Apa ayah Merra sudah meninggal?"
Ara menggeleng. "Saya yakin ayah
Merra masih sehat sampai saat ini. Tapi untuk mempertemukan Merra dengan ayahnya, saya membutuhkan keajaiban dan belas kasih Tuhan. Jadi saya menyerahkan semua padaNya. Ini sudah sore, bapak dan ibu lekas istirahat. Jangan terlalu capek. Saya mau mempekerjakan bapak dan ibu disini untuk menemani saya, bukan melulu ikut mengurus semuanya ini," ucap Ara pada pak Santo yang ada di depannya.
"Terima kasih, Nak. Bahkan anak kami tak pernah mengkhawatirkan kami seperti yang kamu lakukan." Pak Santo menunduk, menghapus air mata di pipinya. Orang tua itu merindukan anak-anaknya. Andai saja Ara mengetahui keberadaan kedua orang tua angkatnya, dia akan bahagia menjadi seorang anak yang dirindukan.
Mami, papi, kalian dimana? Perjalanan hidupku sudah sejauh ini, namun mengapa takdir kita belum mendekat sama sekali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Dad! Daddy?" Dani memasukkan kepalanya pada celah sempit yang ia buat sendiri dengan membuka pintu kamar sang ayah.
Ini sudah jam 7 pagi, tapi Adrian belum nampak turun dari kamarnya. Di meja makan pun tak ia dapati sosoknya. Hingga pemuda yang kini lebih sering menggantikan sang ayah dalam mengelola bisnis keluarga ini terpaksa naik kembali.
Dani terpaksa masuk, tempat tidur sang ayah bahkan sudah rapi, padahal bibi Yulia mengatakan belum masuk sama sekali ke kamar ini, lalu siapa yang merapikan?
"Rupanya Daddy disini," ucap Dani begitu menemukan sang ayah tengah duduk menghadap ke arah jalan.
"Hei, kamu sudah siap? Daddy bahkan belum mandi," Adrian berbasa-basi dengan anak lelakinya itu.
Dani mendekat, melihat ada secangkir kopi di depan ayahnya. Pemuda itu mengambil kemudian mengamati isinya yang hanya tinggal separuh. "Daddy membuatnya sendiri?" Tatapan tidak percaya ia tunjukkan pada sang ayah.
Adrian mengangguk, lelaki itu paham jika tidak ada yang percaya padanya melakukan hal sekecil itu. "Bahkan ayah sudah merapikan tempat tidur ayah sendiri, apa kau lihat tadi?"
"Tidak mungkin!" Pemuda itu meletakkan cangkir kembali ke tempatnya, kemudian duduk disamping sang ayah sambil menempelkan tubuhnya.
__ADS_1
"Itu karena kau tidak pernah masuk ke kamar Daddy, baru akhir-akhir ini kan? Tanya pada bibi Yulia, sudah sebulan ini ia hanya bertugas mengecek jika ada yang sudah harus diganti. Jika tidak, ia tidak pernah masuk kamar Daddy,"
"Daddy aneh! Syndrom menjelang pengangguran sepertinya," sahut Dani asal. Namun pemuda itu malah meminum kopi sang ayah bahkan menghabiskannya. "Enak juga, Daddy seharusnya menjadi barista di coffe shop ku di Swiss,"
"Dasar anak tidak tahu diri!" Adrian menggetok dahi sang anak. "Daddy biar pengangguran pun sukses, Daddy tetap akan jadi komisaris bukan setelah ini," cibirnya pada sang anak. "Tunggu! tawaranmu menarik juga. Akan Daddy pikirkan dulu, mungkin menghabiskan masa pensiun Daddy disana boleh juga Boy."
"NO! Aku masih butuh Daddy disini. Daddy tidak boleh kemana-mana, harus disini sama aku, titik!"
"Emm...."
"STOP! Aku mau berangkat dan Daddy harus segera menyusul. Jangan mentang-mentang ada aku, Daddy bisa terlambat. Aku pangkas habis gaji Daddy nanti. Aku pergi!" Pemuda itu bahkan melambaikan tangannya sembari berjalan meninggalkan sang ayah.
"Ck! Dasar keras kepala. Kenapa tidak mau mengaku kalau kamu tetap ingin tinggal dengan Daddy. Melihatmu seperti melihat masa muda Daddy, Boy! Atau jangan-jangan ini juga yang menjadi alasan dia menunda-nunda serah terima semua perusahaan ini? Bahkan sudah hampir 6 tahun dia disini, tapi tetap kekeh dengan jabatanya," gumam Adrian lirih.
"Tuan baik-baik saja?"
"Tentu saja, memang aku terlihat sakit, Bi? Bibi datang darimana, kenapa tiba-tiba ada disini?"
"Tuan sibuk berbicara sendiri hingga tidak menyadari kedatangan saya." Bibi Yulia datang membawa nampan berisi sarapan pagi Adrian. "Saya mendapat mandat dari Tuan Muda, bahwa saya harus melihat dengan mata kepala saya sendiri jika Tuan menghabiskan sarapan ini sebelum Tuan berangkat."
"Dani?" Bibi Yulia mengangguk. Sepiring nasi goreng dan jus strawberry sudah siap di depan Adrian, dan siap pindah kedalam perut lelaki itu.
"Anak itu ada-ada saja tingkahnya." Meski biasanya ia cukup hanya meminum secangkir kopi sebagai pengganjal perutnya jika pagi, namun kali ini Adrian menurut.
"Setiap memasak nasi goreng, saya ingat Nyonya, Tuan," ucap bibi Yulia tiba-tiba.
Adrian tertegun, ia mengurungkan suapan nasi ke mulutnya. Matanya ikut memanas mendengar nama sang istri disebut.
"Maaf, maaf Tuan. Saya tidak bermaksud menyinggung Anda. Saya_"
"Tidak apa-apa. Aku juga sangat merindukannya, Bi. Semoga Tuhan masih berbaik hati padaku ya, Bi." Lelaki itu melanjutkan sarapan pagi dalam hening. Karena bibi Yulia yang merasa bersalah, hanya menunggui Adrian hingga selesai sarapan. Sementara Adrian, sudah bisa diduga apa yang dirasakannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hari Sabtu kosong, kan?" tanya Dani pada asistennya. Rupanya sang ayah tidak mau meminjamkan asistennya pada Dani. Jadi sekarang, Dani memiliki asisten sendiri, yaitu Leo. Lelaki yang tidak kalah tampan dengan sang majikan, namun Leo lebih tua beberapa tahun di atas Dani.
"Iya Tuan. Semua pekerjaan akan kita selesaikan hari ini. Elang juga mengatakan tidak ada pertemuan penting besok. Jadi Tuan bisa free dua hari," jelas Leo sambil menggeser benda canggih yang ada di genggamannya.
"Oke! Kita meluncur ke Bandung, Sabtu sore. Minggu pagi, kegiatan sudah dimulai. Aku tidak ingin terlambat datang kesana."
Leo mengangguk, kemudian menyerahkan beberapa berkas penting kepada Dani.
Sekarang Dani memiliki ruangan sendiri, di sebelah ruangan sang ayah. Sebenarnya Adrian mengizinkan mereka satu ruangan, toh nantinya jabatan CEO hanya dipegang oleh satu orang.
Namun kembali lagi, Dani beralasan jika dia masih membutuhkan sang ayah untuk menjadi pemimpin perusahaan besar ini. Sehingga jadilah ada dua CEO sekarang. Nama yang tertera tetap Adrian, tapi operasional hampir sepenuhnya di pegang oleh sang anak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kamu mau kemana, rapi seperti ini. Kencan?" Adrian turun dari kamarnya dan mendapati sang anak sudah rapi sedang duduk di ruang tamu.
"Apa setiap malam Minggu dan aku keluar, Daddy selalu berpikir aku kencan? Aku mau ke Bandung, Daddy mau ikut?" Dani sedikit kesal menjawabnya.
"Daddy bulan depan saja, kamu kesana dalam rangka apa, Dan? Seingat Daddy tidak ada perjalanan dinas ke Bandung" tanya Adrian yang melihat ada tas yang sepertinya berisi beberapa pakaian anak lelakinya itu.
"Hanya main, Dad. Aku akan membagi sedikit pengalamanku di sekolah anak-anak."
"Pengalaman apa? Sejak kapan kau suka anak-anak?" Adrian kaget mendengar pengakuan Dani. Ilmu apa coba yang akan pemuda itu bagi ke anak-anak?
"Senin saja ceritanya. Leo sudah datang. Bye Daddy." Dani memeluk sang ayah sejenak. Tidak perduli dengan wajah Adrian yang masih heran dengan ucapannya barusan, pemuda itu langsung lari ke depan.
Mereka berdua memang seperti sahabat jika diluar jam kantor. Namun Leo tetap memanggilnya Tuan, meski berulang kali Dani tidak ingin dipanggil seperti itu.
"Mencurigakan!" Tanpa menunggu lagi, Adrian langsung menghubungi Elang untuk mengikuti anak laki-lakinya itu.
๐Ciao! Terima kasih semuanya! maaf saya belum bisa bersapa dengan kalian semua. apalagi komen-komen yang masuk belum sempat membalas. inshaallah jika nanti sudah longgar, saya usahakan membalas satu persatu ya... ๐
__ADS_1