
Tuk.. tuk.. tuk suara langkah sepatu Aimi menggema di koridor Rumah Sakit. Napasnya memburu disertai rasa khawatir yang menelusup didada selepas mendapat telepon dari Dokter Harada. Salah satu dokter yang merawat Akio di Rumah Sakit Universitas di Tokyo.
Hari itu juga, ia terbang ke ibukota negara sakura itu menggunakan penerbangan pertama. Dan begitu sampai di sana langsung menuju Rumah sakit sambil menenteng kopernya.
Ia segera menuju kamar VVIP yang ditunjukkan oleh dokter Harada, yang menyambutnya saat datang tadi. Tanpa menjelaskan atau berkata banyak hal, sang dokter hanya mengatakan pada Aimi untuk menuju ke ruangan Akio sekarang juga.
Suasana yang hening malam itu karena memang bangunan untuk ruang VVIP terpisah dari yang lain, membuat perasaan wanita cantik itu semakin kalut. Pikirannya menebak-nebak sakit apa yang diderita Akio, hingga bukan anak lelakinya itu sendiri yang mengabari, tapi malah dokter Rumah Sakit tempat ia dirawat.
Saat jarak ke kamar Akio hanya beberapa meter, Aimi yang sudah tidak sabar bertemu anaknya memanggil-manggil, "Sayang, Ki...," diketuknya sebuah pintu yang tertutup sebelum ia memutar handelnya perlahan.
Ceklek.
Dan ibu dari seorang lelaki yang tengah terduduk di ranjang Rumah Sakit itu terpaku, mulutnya terkunci dan airmatanya tak berhenti berderai mendapati sang anak yang menatapnya dengan senyum yang dipaksakan.
Akio, begitu kurus. Lebih kurus dari sebulan yang lalu saat ia pulang ke Sapporo. Dan yang paling terlihat adalah wajah lelah dan bibir pucatnya yang membuat binar di mata Aimi memudar perlahan.
Aimi tidak bisa berpikir dengan baik. Rasa khawatir yang meluap-luap mendadak memenuhi dadanya. Hingga wanita itu sampai menarik napas berkali kali hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Membawa kakinya dengan langkah yang begitu lunglai, wanita yang masih terlihat cantik di usia hampir setengah abadnya itu menghampiri sang anak.
"Sayang, mama rindu sekali," dan hampir saja Aimi terjatuh, jika Akio tidak segera menariknya. Dimana ketika belum sampai di ranjang sang anak, wanita itu sudah menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk. "Kau tampak. ... " menelan salivanya yang kelat Aimi tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Dan ia malah memeluk sekali lagi sang anak yang nampak kuat.
"Maafkan aku ya Ma. Rencananya minggu depan kalau keadaanku sudah membaik, aku pulang. Tapi mama malah sudah kesini lebih dulu," ucap Akio setelah melerai pelukan sang ibu.
Di genggamnya tangan yang nampak sedikit keriput itu, kemudian memberikan pengertian lewat tatapan matanya, jika ia baik-baik saja.
"Ki.. kamu.. Kamu sakit apa sebenarnya?" ragu dan sedih menggelayut di mata Aimi. Sungguh, hanya untuk menanyakan sang anak sakit apa saja, lidahnya seakan kelu berucap.
__ADS_1
"I'm fine Mom. Mama tidak usah khawatir. Sebentar lagi aku pulang," ucap Akio tanpa menunjukkan kesedihan dan kesakitannya sama sekali. "Aku baik-baik saja kan Paman? Tanya paman kalau mama tidak percaya. Oh iya, Mama tidak menyapa Paman yang berdiri di sana sejak tadi," ucap Akio mengalihkan pertanyaan sang mama yang masih terasa berat untuk dijawabnya.
"Iya Nyonya. Tuan muda baik-baik saja. Dan akan segera sembuh. Lebih baik saya menunggu di luar, barangkali ada hal penting yang ingin Tuan Muda sampaikan," Hiroaki segera keluar setelah mengangguk hormat pada sang majika. Ia sudah tidak sanggup menahan sedihnya jika berlama-lama disana. Dan ia hanya mengkode pada sang majikan lewat ucapannya. Bahwa Tuan Mudanya harus mengatakan sekarang, kondisi yang sebenarnya.
"Ki..." Aimi mengurai surai hitam yang nampak sedikit panjang tidak terurus milik Akio. "Kamu akan sangat menyakiti Mama, jika kamu menyimpannya sendiri,"
Menunduk dengan hati bingung dan belum rela karena harus mengambil keputusan saat itu juga. Akio hanya terdiam, dan yang bisa dilakukan sang ibu pun hanya menunggu.
"Ma... aku.. Aku terkena kanker getah bening stadium akhir," ucap Akio lirih. Bagaikan tersambar petir, dada Aimi sesak mendengar kenyataan tentang keadaan sebenarnya sang putra. "Tapi aku baik-baik saja. Lihat aku Ma, aku sehat dan akan segera sembuh,"
Akio menggenggam kembali kedua tangan sang ibu, kemudian menghapus air mata yang tak berhenti mengalir meski ia tidak mendengar isakan sang ibu. "Stadium akhir?" dan anggukan sang anak menjawab pasti bahwa ia tidak salah dengar. Bukankah stadium akhir itu level terparah dari perjalanan kanker. Dan apakah masih ada kesempatan untuk putra kesayangannya itu?
"Kapan km? kapan semuanya ini dimulai?"
"Beberapa bulan yang lalu, Ma. Dan aku.. maafkan aku tidak ingin membuat Mama kepikiran tentang aku," Kepikiran? Aimi merutuk dirinya sendiri. Ibu macam apa ia, yang sama sekali tidak menyadari berubahnya fisik Akio yang menurun drastis.
"Selepas kemoterapi terakhir ini, aku tetap harus operasi. Karena sel kankerku..kebal terhadap obat kemo, Ma," Aimi melirik sweater coklat yang tengah dipakai sang anak saat ini. Itu adalah hasil rajutan tangannya yang ia berikan sebagai hadiah disaat Akio berulang tahun yang ke 15.
mendadak Bahu Aimi melorot, tubuhnya terasa lemas dan tulang-tulang ditubuhnya terasa lepas. Sulit sekali menghimpun kekuatan saat ia dihadapkan pada keadaan yang sama dengan beberapa puluh tahun yang lalu.
Flashback
"Mama, Nenek kenapa berada di dalam sana?" tanya Akio yang saat itu baru berusia 5 tahun dan adiknya masih dalam gendongan sang ibu.
Nenek yang merupakan ibu dari Aimi tengah berjuang hidup dengan selang-selang yang berada di tubuhnya.
"Nenek sedang beristirahat sayang, doakan nenek cepat sembuh ya," ucap Aimi yang menyembunyikan tangisnya dengan menghapus jejak-jejak yang mengalir begitu saja di pipinya.
__ADS_1
"Banyak sekali selangnya, Ma. Kasihan nenek sendirian disana. Kio boleh masuk menemani nenek?" ucap polos anak berusia lima tahun itu pada sang ibu yanga akhirnya malah membuat air mata dan isakan sang ibu tumpah bersamaan.
Dan satu jam kemudian dari saat itu, sang ibu dinyatakan meninggal dunia setelah kondisinya menurun drastis akibat operasi pengangkatan rahim dan hanya beberapa jam bertahan di ICU.
Aimi kehilangan tanpa pernah bisa membantu banyak hal untuk sang ibu. Sang ibu yang mandiri dan tidak pernah mengeluh membuatnya lengah saat ia sendiri disibukkan dengan dua anaknya yang masih kecil dan suami yang sedang berjuang di Tokyo.
off
Jantung Aimi bagai diremas. Ingatan akan saat-saat ia ditelpon Rumah Sakit yang memberitahukan bahwa orang yang dikasihinya itu sedang dirawat membayang lagi.
Kemudian rasa ketakutan akan kehilangan itu mengusik kembali pikirannya. Saat melihat sang anak yang hanya dalam beberapa bulan saja kondisi kesehatannya menurun cepat.
"Maa.. semangatku yang terkuat hanya Mama. Doakan aku berumur panjang, meski... kemungkinannya hanya kecil. Sungguh aku tidak pernah takut kehilangan hidupku, aku hanya takut membuat kalian sedih. Kalian orang-orang yang mencintaiku, dan... " menahan sesak didadanya. Akio nampak menarik napas beberapa kali, " Ara..," gumamnya lirih namun masih terdengar oleh sang mama. Hingga wanita paruh baya itu terperanjat.
"Jangan pernah berbicara seperti itu Ki! Kamu pasti sembuh." Aimi menatap nanar sang anak. "Kita akan berjuang bersama. Dan Ara, Mama kira kau sudah mengikhlaskannya?"
"Tentu saja sudah, Ma. Untuk kebahagiaannya apa saja akan kulakukan. Tapi bolehkah aku sedikit egois kali ini saja?" Akio melihat sang mama dengan tatapan memohon.
"Aku tidak akan pernah tenang kalau belum melihatnya," lanjut Akio mengurai senyuman di bibirnya yang pucat.
"Sekarang mama telpon dia," Akio menahan tangan sang mama yang hendak mengambil ponsel di tasnya.
"Tidak sekarang. Aku ingin melihatnya kalau aku bisa sembuh nanti,"
"Kamu pasti bisa sembuh! Harus, Ki," suara sang mama sampai bergetar menatap pilu Akio yang bahkan mungkin sudah siap jika ajal menjemputnya. Namun tentu saja tidak untuk sang ibu. Sungguh, ia sangat belum siap.
"Kalau tidak, aku ingin mama mewakiliku mengatakan padanya. Aku selalu mencintainya sampai kapanpun," lelaki itu mengerjap, dalam relung hatinya nama gadis yang menjadi bunga dalam setiap tidurnya itu selalu dia ingat bahkan disetiap ia kesakitan.
__ADS_1
"Mama telpon Adrian sekarang,"