
"Awww ... Lola ... Aduh ... Aduh ...." Laila terduduk memegangi kakinya. Rupanya jari kakinya tersandung bed rumah sakit yang mereka lewati.
"Mama, kenapa tidak hati-hati?" Lola melepas tangannya yang menuntun sang ibu, kemudian ikut berjongkok melihat jari kaki Laila yang sakit.
"Kamu yang menarik mama. Mama hanya mengikutimu." Sambil terus mengaduh, Laila tidak terima disalahkan.
"Sudah ... Ayo, nanti wanita itu mencari kita," ucap Lola yang kembali menuntun sang ibu.
Di luar UGD, polisi wanita itu sudah menunggu. Raut wajahnya sama sekali tidak bersahabat, apalagi tadi ia telah mendengar penjelasan dokter bahwa sesungguhnya Laila baik-baik saja. Tidak sedang sakit, ataupun menderita penyakit tertentu.
Jadi semua yang terjadi, mulai dari sesak napas dan akhirnya pingsan adalah sandiwara. Ya, Laila pantas dianugerahi penghargaan sebagai drama queen terbaik karena aksinya itu.
Untung saja ia tidak bersikap terlalu baik pada calon tahanan itu. Hah! Tertipu dia.
"Sayang, coba hubungi Adrian lagi," titah Laila pada putrinya. Di sela-sela mereka mengikuti langkah polisi wanita itu menuju kantornya yang tepat berada di sebelah rumah sakit.
"Aku malas Mam. Dia tidak mengangkatnya. Mungkin dia sudah tidak perduli dengan kita."
Ucapan Lola benar, sangat benar. Namun di dalam benak Laila, siapa yang akan menolong mereka kalau bukan Adrian. Tidak seorangpun.
"Mungkin dia sibuk. Pakai ponsel mama saja, siapa yang akan menolong kita kalau bukan dia," bujuk sang ibu.
Lola tidak mendebat lagi. Sungguh, jika tidak mengingat lelaki itu adalah saudara satu-satunya yang ia miliki, ia pasti menolak mentah-mentah permintaan ibunya.
\=\=\=\=\=\=\=
"Sayang? Kau tahu dasiku yang motif garis-garis?" tanya Adrian setengah berteriak. Ia sedang berada di depan cermin saat ini dan merasa jika dasi yang istrinya siapkan tidak cocok.
"Tunggu, Mas."
Sedang apa istrinya itu. Ia membutuhkan bantuan wanita itu sekarang. Berulang kali dipanggil hanya jawaban 'sebentar' kemudian ' tunggu, Mas' itu saja yang ia dengar. Hingga membuat lelaki itu kesal.
"Apa yang bisa kubantu mas?" tergopoh Ara mendatangi sang suami yang bahkan sudah tertekuk berkali lipat wajahnya. Dan yang benar saja, Ara masih sempatnya senyum-senyum menggoda sang suami.
"Kenapa lama sekali? Apa ada yang lebih penting dari suami tampanmu ini? Aku butuh bantuan sejak tadi."
"Iya.Aku sudah disini. Mas perlu apa?" Menaikkan sebelah alisnya, wanita yang bermaksud mencairkan suasana itu ditanggapi dingin oleh sang suami.
"Dimana dasiku yang motif garis-garis, Sayang?"
"Memang kenapa dengan dasi yang kusiapkan? Ini bagus, Mas. Dan juga seperti kesukaanmu, motif garis." Ara mengambil aksesoris leher yang masih tergeletak rapi tidak tersentuh oleh tangan suaminya itu.
"Bukan yang itu. Warnanya aku tidak suka, Sayang. Lagipula, apa benar itu milikku? Seingatku tak pernah memilikinya." Ingatan Adrian memang tajam.
__ADS_1
Ara membelai dasi yang sebenarnya adalah hadiahnya untuk sang suami, dasi motif garis perpaduan hitam dan gold yang dominan. Namun mendengar komentar Adrian baru saja, menciutkan nyalinya untuk mengatakan jika itu adalah pemberiannya.
"Ini milikmu. Benarkah kau tidak mengingat jika memilikinya?"
"Yang motif garis hitam putih, Sayang. Ada kan?" Bukannya menjawab, Adrian malah langsung mengatakan warna apa yang ia mau. Kemudian lelaki itu menoleh pada sang istri yang masih terpaku tidak jauh darinya. "Sayang? Hei kau melamun?" Lelaki itu mengibaskan tangan di depan sang istri.
"Iya. Sepertinya ada. Aku carikan dulu," Ara meremas dasi yang ada di genggamannya itu. Sambil berjalan diusapnya bening yang mendadak terkumpul di bola matanya yang jernih. Tanpa memikirkan apa yang sedang dirasakannya, wanita itu bergegas menuju lemari mencari benda yang diminta Adrian.
"Ini, Mas?"
"Ya. Ini favoritku. Terimakasih, Sayang."
Adrian menerimanya, kemudian lekas memasangkan di lehernya. Biasanya sang istri sudah otomatis mendekat untuk memasangkannya. Namun entah mengapa kali ini Ara hanya diam saja.
"Ee ... A-ku sebentar ya, Mas. Tinggal sedikit lagi. Kasihan jika tidak disiram, bunganya sudah mekar dan cantik-cantik," ucap Ara sambil berlalu menuju balkon lagi.
"Mengapa ia malah perduli dengan bunga-bunga itu? Tidak biasanya ia begini," gumam Adrian melihat sang istri yang melewatinya hingga hilang dari pandangannya.
Selesai dengan persiapannya di kamar, lelaki itu memanggil sang istri untuk turun bersama sarapan pagi, namun ditolak oleh sang istri dengan alasan yang sama.
Wanita itu mengatakan padanya akan menyusul sebentar lagi.
Karena Adrian buru-buru ada meeting pagi ini, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menuju meja makan tanpa sang istri.
Dan kejadian sama berulang. Sang istri tidak lekas turun sampai sarapan dipiring Adrian habis. Namun ketika lelaki itu akan berangkat, istrinya itu sudah menunggunya di ruang tamu untuk mengantar.
"Hemm." Ara mengangguk. "Hati-hati," ucapnya kemudian.
"Jangan pergi kemanapun tanpa seizinku!"
"Iya."
"Jangan pergi sendirian! Panggil Zen atau Ardi."
"Iya, Mas." Ara jengah dengan sang suami. Moodnya memburuk gara-gara dasi, ditambah keposesifan Adrian yang menjadi-jadi sejak peristiwa hilangnya dia yang mengantar anak kecil pulang ke rumahnya waktu itu.
Lelaki yang perlahan bergerak menjauh dari Ara itu tiba-tiba berbalik dan menyunggingkan senyumnya.
"Apalagi? Ada yang ketinggalan?" Ara menaikkan alisnya melihat kelakuan sang suami.
"Ada!" Cup! Setelah menarik pinggang kecil itu dengan paksa hingga membuat sang istri kaget, Adrian mendaratkan ciumannya dibibir sang istri.
"Ya ampun!" pekik Ara yang hendak melawan. Namun sejenak kemudian, sangg suami telah melepaskannya dan kembali meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Lelaki itu tidak perduli ada beberapa pasang mata yang menatap canggung padanya.
Dalam perjalanan,
"Lang."
"Iya, Tuan."
"Kemarin kalian kemana saja?"
"Maksudnya, nyonya Tuan?"
"Ck ... Siapa lagi yang kutanyakam kalau bukan istriku. Kau ini!"
"Maaf, Tuan. Saya kira Tuan menanyakan tentang kencan saya." Demi apa seorang Elang bisa tersipu malu gara-gara wanita. Dia yang ketahuan tengah mendekati anak gadis bibi Yulia tengah menyeka peluh yang ada di kening dan pelipisnya sekarang.
"Untuk apa aku ingin tahu. Itu urusanmu! Jadi pergi kemana kalian?"
"Kemarin, nyonya minta ditemani ke Mall untuk membeli beberapa keperluannya dan juga keperluan Tuan."
"Kenapa istriku mengajakmu?"
"Kata nyonya. Hanya saya yang memiliki tinggi hampir sepadan dengan Tuan. Nyonya menjadikan saya manekin," jawab elang yang diiringi tawa mengejek sangat majikan.
"Membeli keperluanku tapi yang diajak bodyguard ku," gumam Adrian sambil berdecih lirih.
"Iya Tuan?" Elang yang mendengar gumaman sang tuan meski tidak jelas mencoba menanggapi.
"Tidak! Apa keperluanku yang dibelinya?" Adrian mengernyit dalam. Perhatiannya pada ponsel beralih pada asisten sekaligus bodyguard nya itu. perasaan tidak ada barang baru yang diberikan sang istri padanya.
"Dasi, Tuan."
"Dasi?" Adrian menaikkan kedua alisnya karena kaget. Jangan-jangan? "Dasi apa Lang? Ah maksudku, dasi yang seperti apa? Bentuknya? Warnanya?" Adrian sampai meletakkan ponselnya demi mendengarkan keterangan Elang.
"Ya bentuknya dasi, Tuan. Maksud saya dasi biasa bukan kupu-kupu." Elang sampai bingung menjawab pertanyaan sang majikan.
"Warnanya, Lang. Warnanya, maksudku?" Dalam hati Adrian mengumpat kebodohannya yang tidak menyadari perubahan raut wajah dan sikap sang istri saat di rumah tadi.
"Gold hitam. Gold nya dominan, Tuan?" sepertinya mirip dasi yang disiapkan Ara.
"Garis-garis?" Elang mengangguk cepat.
Duarrr!!
__ADS_1
Bahaya mengancam! Bisa perang dunia ketiga atau bahkan yang keempat. Dengan dampak paling parah, Ara menginginkan gencatan senjata dan Adrian harus meninggalkan markas kemudian bermalam di ruang kerja.
🤣Poor Adrian.