
Selepas dari rumah sakit, Adrian kembali ke kantornya. Mengerjakan banyak hal hingga ia lupa waktu. Bahkan, lelaki itu tidak menyentuh sama sekali ponselnya yang ia setel mode diam.
Saat jam menunjuk di angka 9 malam, penat menyusup dalam otaknya. Meski setiap beberapa jam lelaki itu menyempatkan dirinya untuk peregangan, nyatanya tetap saja beberapa bagian tubuhnya menjadi kaku dan kesemutan hingga susah untuk digerakkan.
Akhirnya, lelaki itu mencoba berdiri lagi sambil melakukannya lagi. Lelah memang jika kita terlalu fokus pada pekerjaan kita. Inginnya cepat selesai, tapi malah semakin lama karena dilanda kebosanan.
Sejenak, Adrian yang sekarang jarang berada di ruangannya ini sampai malam, berjalan memutar menuju jendela yang menghubungkan langsung dengan luar ruangan.
Ternyata indah sekali jika malam hari berada disana. Langit begitu cerah dengan beberapa benda langit yang nampak menghiasinya.
Adrian mendesah pelan. Ia baru ingat, jika membuat ponselnya berada pada mode diam. Pantas saja tidak ada satupun pesan atau panggilan masuk yang membuat benda pipih canggih itu bergetar.
"Hah?" Matanya menatap kaget layar ponsel yang dihiasi beberapa panggilan tidak terjawab dan juga pesan masuk.
Ternyata sang istri, Mela dan juga Zen memanggilnya beberapa kali. Sedangkan pesan yang masuk berasal dari Zen dan sahabat istrinya itu.
Tuan, waktunya pulang. Jangan lupa menjemput istrimu, bunyi pesan pertama sekitar jam 11 siang.
Tuan, Anda dimana? Istri anda menunggu Anda. Dia tidak mau pulang dengan pengawal Anda. Sudah ku bujuk, tetap saja tidak mau. Aku malah diusir untuk pulang, bunyi pesan kedua.
Maaf, Tuan. Nyonya menunggu Anda. Beliau menolak pulang bersama kami, pesan ketiga.
"Ya ampun! Ucapanku tadi pagi. Jadi dia benar menungguku," gumam Adrian merasa bersalah.
Lelaki itu segera menghubungi pengawalnya yang ia tugaskan disana. Dari Zen, Adrian tahu jika saat ini istrinya yang sebenarnya bisa pulang dari jam 10 siang, malah masih menunggunya di kamar itu.
"Tidak diangkat!" Adrian beberapa kali menghubungi Ara, dan panggilan itu terabaikan tanpa jawaban sama sekali.
"Apa dia marah?"
"Kita pulang sekarang!" titah Adrian saat Elang baru saja memasuki ruangannya membawa beberapa file yang akan mereka periksa kembali.
"Ini, Tuan," tunjuk Elang pada berkas yang ada ditangannya.
"Bawa pulang saja! Akan kuperiksa di rumah. Istriku sudah menunggu. Kita harus ke rumah sakit sekarang!" titahnya.
Adrian segera mengenakan blazer yang tadi sempat ia copot, kemudian keluar ruangan dan diikuti oleh Elang dibelakangnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Selamat malam, Tuan," sambut Zen dan Ardi yang langsung keluar dari mobilnya begitu melihat mobil Adrian datang.
"Dimana istriku?"
"Masih di kamarnya Tuan. Saya tidak berani masuk karena beberapa kali saya ketuk pintunya, tidak ada sahutan dari dalam. Namun 2 jam yang lalu saya sempat meminta tolong pada perawat untuk masuk, katanya Nyonya sedang tidur, Tuan."
__ADS_1
"Mela?"
"Nyonya mengusirnya pulang. Nyonya mengatakan beliau tidak apa-apa sendiri disini. Karena beliau akan menunggu Tuan, sampai datang menjemput."
Adrian menyugar rambutnya kasar. Bagaimana ia bisa lupa jika istrinya itu memang keras kepala jika sudah menyangkut dirinya.
Ia kira pagi tadi sudah selesai ketika Ara diam saja mendengar dirinya yang mengatakan tidak bisa menjemput dan dia bisa pulang dengan Zen. Rupanya wanita itu malah menunggunya.
Setengah berlari Adrian menuju kamar yang ditempati sang istri selama dirawat. Padahal dokter sudah mengizinkan wanita itu pulang dari sejak siang tadi. Tapi ternyata dia malah tidur disini sampai malam.
Ceklek!
"Ya ampun, Sayang," ucap Adrian lirih, mendapati sang istri yang tertidur di ranjang dengan memeluk tas yang berisi beberapa perlengkapan dan pakaian ganti selama ia dirawat.
Adrian mendekatkan dadanya ke wajah sang istri kemudian memeluknya. "Maaf, ya...." Meski Ara tidak mendengar karena tidur, namun perlakuan Adrian sungguh membuat iri siapapun yang melihatnya. Termasuk dua anak buah yang ikut dibelakangnya tadi, Elang dan Zen yang mendadak saling menatap canggung.
Elang tidak pernah mempunyai kekasih, jadi dia tidak pernah berlaku hal romantis seperti itu. Namun melihat sang majikan yang begitu sayang kepada istrinya membuatnya sejenak berpikir, apa iya lelaki seperti dirinya bisa seromantis itu nantinya kepada sang istri?
Pun tidak berbeda dengan Zen. Anak lelaki satu-satinya dalam keluarganya itu cenderung disayang daripada menyayangi. Apalagi ia paling bontot, jadi semua kasih sayang kakaknya berjumlah ruah padanya. Mendadak rasa bersalah menyusup dalam dadanya, karena belum pernah bertindak romantis kepada kekasih yang sudah setia menemaninya beberapa tahun terakhir ini.
Kedua lelaki itu maju untuk membantu membawa tas sang nyonya. Sedangkan Adrian, lelaki itu melepas blazernya untuk menutupi tubuh sang istri kemudian dengan cepat membopong tubuh kecil dalam pelukannya itu.
\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=
"Ini, kapan kita sampai di rumah, Mas?"
"Kamu ketiduran tadi saat aku menjemputmu. Maaf ya, sudah membuatmu menunggu. Aku tidak tahu kau menolak pulang bersama Zen." Adrian membungkuk kemudian duduk disamping Ara yang tengah berbaring sambil mengeringkan rambutnya.
Lelaki yang hanya memakai handuknya pada setengah saja bagian tubuhnya itu, membelai lembut surai hitam sangat istri.
Ara menarik tubuhnya setengah duduk. Dibantu sang suami yang menata bantal dibelakang punggung, untuknya.
"Apa kabar mereka?"
"Mereka baik-baik saja, Sayang. Sudah jangan dipikirkan. Jangan terlalu stress, ya," pinta Adrian yang kemudian mengecup punggung tangan istrinya.
"Au hanya ingin tahu, Mas."
"Yang penting jangan meminta untuk mengunjungi mereka lagi, karena aku tidak akan pernah izinkan kali ini!" Ara mengangguk menurut.
"Tony sudah ditangani oleh ahlinya, dan Laura siap menerima hukuman yang pantas untuknya. Oke?" Ara mengangguk lagi, ia lega semua sudah mendapat ganjarannya masing-masing.
"Masih berniat pergi ke Swiss?"
"Tentu saja, Mas. Kita jadi kesana, kan?" Senyum Ara merekah mendengar kata Swiss, karena yang terlintas sekarang adalah liburan di salah satu negara yang mendapat sebutan surga dunia itu.
__ADS_1
Adrian mengangguk. "Aku juga sudah rindu dengan Dani. Sekalian kita honeymoon yang kedua. Semoga kita lekas diberi kepercayaan lagi." Adrian mengusap perut sang istri, ia berharap semoga bulan madunya kali ini mengalihkan rasa sedih akan kehilangan sang calon buah hati dari sang istri.
"Iya, Mas. Amin." Ara meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan Adrian yang mengusap perutnya. Kemudiam wanita itu menatap penuh cinta pada sang suami yang semakin mendekatkan tubuh padanya.
Telapak tangan Adrian yang berada di perutnya kini sudah beralih di balik pinggangnya. Merapatkan siluet jam pasir kecil itu masuk kedalam pelukannya. Sementara, tangan satunya meremas hangat benda kenyal yang hanya tertutup blouse tanpa lengan itu.
Ulah Adrian, membuat Ara terbakar gairah. Wanita itu meremas bahu suaminya, saat merasakan bibir Adrian melahap habis bibirnya tanpa aba- aba.
Suhu ruangan mendadak panas. Tangan Adrian lincah melepas blouse sang istri, meskipun dengan sedikit susah payah karena tidak adanya kancing bagian depan. Kemudian dengan satu sentakan kecil, lelaki itu mampu melepas satu-satunya pengaman dua bukit kembar milik sang istri, hingga terjuntai dan membuat lelaki itu gemas.
Ara melenguh, remasan dan ciuman sang suami yang semakin liar benar-benar membangkitkan gairahnya tanpa bisa ditahan.
Hingga akhirnya ia mendorong dengan paksa dada Adrian yang membuat ciuman mereka terlepas. Wanita itu kehabisan oksigen, napasnya terengah. Namun baru saja ia meraup oksigen untuk menetralkan deru napasnya sebentar, bibirnya sudah disambar lagi oleh adrian. Bahkan kali ini ciuman lelaki itu lebih liar dari sebelumnya.
Tangan Adrian bergerilya, berjalan bagai laba-laba membelai setiap jengkal kulit mulus dari paha sang istri yang saat ini sudah berada diatas pangkuannya.
Namun, saat hendak melepas pengaman satu-satinya yang menutup tubuh bagian bawah istrinya itu, jemari lembut sang istri mencengkeram kuat pergelangan tangannya.
Awalnya, ia pikir sang istri hanya bercanda. Namun ketika merasakan dorongan didada dan suara sang istri yang sepertinya panik, Adrian mulai menghentikan aksinya dengan sangat terpaksa.
"Maaf, Sayang. Apa aku menyakitimu?" tanya Adrian menatap sang istri yang terengah mengatur napasnya.
"Tidak, Mas."
"Lalu? Kau pasti menggodaku? Membuatku semakin dan semakin menginginkanmu dan_"
"Aku tidak bercanda, Mas." Panik masih menghiasi raut wajah Ara.
"Sayang?" Adrian mendelik tajam, meminta sang istri untuk tidak iseng padanya disaat seperti ini. Ya, saat gairahnya ada pada puncaknya.
"Maaf, Mas. Aku lupa mengatakan, kalau dokter belum memperbolehkan kita berhubungan dulu." Ara menjepit bibirnya, merasa bersalah karena baru ingat saat sang suami benar benar sudah terbakar gairah. Apalagi dirinya ikut bertanggungjawab untuk hal yang satu ini.
"Apa??? Ya ampun, Sayang ... Ini menyiksaku." Adrian meringis pilu. Menatap sang junior yang tidak mau layu padahal sudah jelas ditolak. "Berapa lama, kata dokter?"
"Kira-kira dua minggu sampai satu bulan kedepan, Mas."
"Oh no!" pekik Adrian kecewa. Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya ke belakang sambil terpejam. Benar- benar harus puasa, rutuknya dalam hati. Apes kan.
"Maaf Mas, aku lupa. Aku juga tidak sengaja memancingmu tadi," ucap Ara menyesali. Andai saja tadi dirinya tidak lupa, pasti suaminya itu tidak akan tersiksa seperti ini.
"Sebentar Sayang, kamu pindah dulu," Adrian mengangkat tubuh sang istri ke sebelahnya, kemudian bergegas lari ke kamar mandi.
Ayo lohh.. yang sudah terpancing memang harus di segera dituntaskan ya.. Karena mereka memang berbeda dengan kita yang sanggup menahan☺
💜Terima kasih masih setia, maafkan daku yang receh ini😘 vote ya😍
__ADS_1