Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 140 Mencari Perhatian


__ADS_3

"Maaf, Pak. Dani memukul temannya lagi. Orang yang sama, tapi ini lebih parah," wali kelas Dani menyampaikan alasan dipanggilnya Adrian ke sekolah.


"Lagi? Bukannya ini yang pertama Bu?"


"Ini sudah ketiga kalinya dalam dia bulan ini, Pak. Kami menitipkan surat untuk bapak, kepada Dani. Tapi kata Dani, Bapak sedang ada di luar negeri. Maka peringatan yang ketiga kalinya ini kami langsung mengirim pesan pada Bapak. Karena ini tidak dapat ditolerir lagi," cerita ibu wali kelas Dani tentu saja membuat Adrian maupun Ara kaget. Tidak ada surat pemanggilan disampaikan oleh sang anak padanya selama ini. Memang rentang waktu yang dikatakan ibu wali kelas itu adalah sesaat setelah berita viral itu muncul di berbagai sosial media.


"Jadi kami harus bagaimana, Bu?" tanya Ara yang ikut ada disana.


"Dani harus meminta maaf kepada temannya jika masih ingin bertahan di sekolah ini, Pak, Bu. Kalau tidak, sepertinya dengan berat hati kami harus mengeluarkan Dani. Ini sudah SP 3 dan terjadi pada korban yang sama. Sebenarnya saya juga berat, sebagai wali kelas saya juga tidak percaya Dani seperti ini. Tapi bukti CCTV tidak dapat dielak," ibu wali kelas nampak tidak rela kehilangan anak didiknya.


Adrian terdiam. Ia tahu Dani keras kepala seperti dirinya. Meskipun ia tak tahu apa alasannya, namun yang ada diotak Adrian, pasti ada hal yang sangat pribadi yang menyinggung anaknya itu.


Melihat sang suami belum merespon ucapan ibu wali kelas, Ara pun mewakilinya. "Kami minta waktu beberapa hari untuk berbicara dengan anak kami ya, Bu. Saya janji akan mengabari ibu jika sudah mendapatkan keputusan," ucap Ara menengahi.


Setelahnya mereka berdua pamit. Dalam perjalanan pulang Adrian berkata, "Apa kita langsung mampir ke apartemen saja, Sayang?"


"Besok saja, Mas. Sambil kita mencari cara untuk mengobrol santai dengan Dani. Kalau sekarang, yang ada bisa-bisa kita terbawa emosi," usul Ara. Jika dipaksakan sudah pasti bukan solusi yang didapatkan. Adrian mengangguk menurut pada istrinya.


\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=


Aroma berbagai masakan menguar di seluruh dapur dan ruang makan. Ya, baik Ara maupun bibi Yulia tengah masak masakan Indonesia dan Jepang yang tentunya hanya ramen karena itu favorit suaminya serta dorayaki, kue khas Jepang yang berbentuk seperti pancake.


Kenapa dorayaki? Karena akhir-akhir ini Ara terobsesi membuatnya saat ia ingat masa kecilnya yang penggemar doraemon. Dorayaki itu sebenarnya kue sederhana, namun karena Ara yang membuatnya jadi sedikit ribet karena ia ingin membuat adonan dengan warna pelangi. Merepotkan bukan?


"Semua sudah siap, Bi?" tanya Ara pada bibi Yulia yang memutari meja makan memeriksa semua makanan yang terhidang.


"Iya Nyonya, tinggal sate ayam saja yang masih dibakar oleh chef,"


"Coba ada Mommy. Pasti lebih rame ya, Bi?" ucap Ara menghapus butiran bening yang tanpa terasa menetes. Ingatannya kembali pada ibu mertuanya yang rasanya bahkan tidak bisa dipercaya, wanita paruh baya yang bijak itu telah pergi untuk selamanya.


Menghampiri Ara, bibi Yulia mengusap lembut punggung sang nyonya. "Beliau sudah bahagia, tidak pantas kita menyesali kepergiannya, Nyonya,"


Ara menarik sudut bibirnya, membalas ucapan wanita kepercayaan sang ibu mertua itu. Ia bagaikan pengganti Lina disini, mengajarinya banyak hal. Istri Adrian itu mengangguk. Kadang, memang hanya kita yang masih tidak rela dan menangis akan sebuah kehilangan. Sementara orang yang meninggalkan kita sudah bahagia.

__ADS_1


Ara naik ke kamarnya untuk mempersiapkan diri. Dicarinya sang suami, yang tadi saat ia tinggalkan tengah berada di kamar Lina.


Ceklek!


Dibukanya pintu kamar ibu mertuanya dengan perlahan. Ternyata lelaki yang ia cintai itu masih disana, duduk terdiam memandang foto sang ibu yang nampak cantik dengan kebaya peach saat pernikahan mereka.


"Mas... Ayo bersiap. Tante dan Kak Akio keburu datang," ucapnya seraya mendekati Adrian.


Lelaki itu menoleh, kemudian mengangguk dan berdiri sebelum sang istri sampai disana.


"Aku hanya rindu, Sayang," ucapnya sebelum Ara bertanya padanya.


"Aku tahu. Aku juga merindukan Mommy. Rasanya ia masih disini. Ia hanya pergi sebentar dan akan kembali," ucap Ara yang menghapus jejak air mata di pipinya.


"Hemmm.. Ayo kita bersiap, tak elok jika mereka sampai menunggu," Adrian menggandeng tangan Ara keluar dari kamar Lina, kembali ke kamarnya sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ini sudah hampir satu jam, aku khawatir mereka kenapa-kenapa, Mas," Ara melirik kembali jam tangannya, entah sudah untuk keberapa kali.


"Semoga saja, Mas. Sebenarnya kita bisa menghubungi tante Aimi. tapi aku takut malah mengganggunya,"


"Jangan. Sebentar lagi pasti sampai," ucap Adrian yang kemudian berdiri meminta izin sebentar pada istrinya untuk berbicara dengan Elang. Asistennya itu datang dan ingin menemuinya.


Adrian berjalan menjauh dari ruang makan menuju taman belakang. Disana sudah ada Elang yang menunggu.


"Tuan," Elang membungkuk hormat setelah berdiri dari duduknya.


"Ada apa, Lang?"


"Tuan, maaf saya perlu menyampaikan sesuatu. Tentang orang yang membuat onar dengan mengunggah isi perjanjian yang tersimpan rapi dinfile perusahaan. Sebenarnya, Tuan mengenal dekat siapa otak dari pengunggah berita viral tentang Tuan dan Nyonya itu,"


"Hemm? Jadi alasannya bukan karena dia rival kita?" tanya Adrian menyelidik.

__ADS_1


Elang menggeleng, "Bukan, Tuan. Lebih tepatnya dendam pribadi. Orang itu sudah terlalu lama kami sekap. Dia hari ini ia mogok makan karena ingin segera bertemu Tuan. Sebenarnya kami sudah mengantisipasi dengan membawa dokter kesana dan memberikan infus makanan. Tapi, ia kembali berulah, Tuan. Ia menyakiti dirinya sendiri," ungkap Elang.


"Siapa dia Lang?"


"Ibu dari anak Anda. Nyonya Andina dan temannya, Tuan."


"Apa??" Adrian sontak memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan asistennya itu. "Kau tak salah, Lang?"


"Tidak Tuan. Hacker suruhannya sudah mengaku, dan bahkan memberikan bukti otentik yang tidak dapat lagi Nyonya Andina sanggah. Sedangkan temannya mengatakan tidak ikut serta. Dia hanya orang yang mengenalkan Nyonya Andina dengan hacker itu,"


'****' Adrian mengumpat dalam hati. Wanita yang bahkan sudah meninggalkan dirinya hanya demi kehidupan glamour itu berbuat diluar batas. Belum cukup rupanya dia menyakiti keluarganya.


"Tetap kurung dia, Lang. Lakukan apapun untuk tetap membuatnya bertahan dan sadar. Aku perlu membuat perhitungan dengannya. Tidak lama lagi,"


"Baik, Tuan." Elang membungkuk hormat kemudian pamit meninggalkan Adrian.


Lelaki itu bergegas pergi dari sana setelah melihat mobil yang membawa tante bersama sepupunya nampak baru saja memasuki gerbang. Ia menuju ruang makan kembali untuk menyambut kedatangan ibu dan anak itu.


Disana nampak sang istri yang sudah menunggunya. "Tante sudah datang, Sayang," mengulurlan tangannya untuk menggandeng tangan Ara yang juga menyambutnya. Kemudian mereka bersama menuju pintu depan dengan bibi Yulia dibelakangnya.


Ketka pintu terbuka, nampaklah tante Aimi yang cantik berjalan sendirian. Tidak ada tanda-tanda orang yang akan masuk dibelakangnya.


"Maaf, kami terlambat," ucap Aimi sungkan. Sungguh, wajahnya tak nampak setenang biasanya.


"Kak Akio, mana Tan?" tanya Ara yang sama sekali tidak melihat sepupu suaminya itu. Bersamaan dengan Adrian yang mengernyit heran dengan kedatangan tantenya yang hanya seorang diri.


"Ada, sebentar." Aimi berbalik, kembali berjalan keluar menuju pintu. Kemudian wanita paruh baya itu nampak memanggil seseorang.


Sedikit memundurkan tubuhnya, Aimi memberi jalan untuk seseorang masuk. Muncullah seorang asing yang tengah mendorong seseorang yang wajahnya mirip dengan Akio namun nampak kurus dengan wajah cekung. Mengenakan sweater navy dan syal putih gading yang melilit dilehernya serta penutup kepala.


Secara bersamaan, mata Ara dan Adrian saling menumbuk ketika mereka menoleh satu sama lain. Menciptakan pertanyaan yang sama diotak mereka, kedua orang itu hanya terdiam tak bisa berkata-kata.


Masih keheranan, Ara kembali melempar tanya pada sang tante lewat matanya. Dan dengan berat wanita Jepang itu mengangguk.

__ADS_1


"Kak....?"


__ADS_2