Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 218 Perpisahan


__ADS_3

"Air putih ini?"


"Oh maaf. Kami kehabisan minuman berwarna. Emm maksud saya kopi ataupun teh. Baru pagi ini akan belanja ke pasar." Sinta meringis, rupanya merangkai kata untuk mengelabui seseorang tidak semudah ketika kita memikirkannya. Jantungnya sampai berdetak kuat memperhatikan setiap kerut yang wajah Adrian ciptakan.


Gadis berperawakan kurus itu nampak beberapa kali menelan salivanya. Tenggorokannya sudah pasti kering kerontang hanya karena menunggu respon suami kakak asuhnya itu.


"Hangat?"


"Cuaca dingin melanda akhir-akhir ini, Pak. Kami sengaja mencampurkannya dengan air hangat, mengurangi sakit tenggorokan." Sungguh suatu alasan yang setengah benar, dan setengahnya adalah asal.


Jangan bertanya lagi, aku sudah bingung mencari alasan, Pak, ucap Sinta dalam hati.


Adrian hanya terlihat menghela napasnya berat. "Terima kasih, kau boleh pergi," usirnya tanpa sengaja.


Sinta langsung berbalik dan mempercepat langkahnya, dalam hatinya bersorak sorai karena baru saja lepas dari ujian kehidupan yang lebih berat dari ujian sekolah dulu.


"Tunggu!"


Oh, Tuhan. Apalagi ini? Gadis itu berbalik perlahan. "I-iya, Pak." Kemudian Sinta menunjukkan senyum terpaksanya yang dibuat sealami mungkin.


"Nasi gorengnya enak. Sampaikan ucapan terima kasihku pada mereka yang memasak." Adrian bahkan tak menyangka akan mengucapkan hal yang tidak penting seperti itu.


"Ohhh ... iya Pak, pasti." Sinta memutar tubuhnya kembali dan segera menghilang, sebelum banyak pertanyaan dan pernyataan yang membuatnya kebingungan.


Adrian baru mencobanya satu sendok tadi, karena tertarik dengan penampilannya. Nasi goreng ini tentu mengingatkannya pada sosok sang istri, yang memaksanya makan makanan berat dan berminyak dulu.


Adrian tidak pernah suka jenis makanan seperti itu. Namun semenjak menikah, Ara sering membuat nasi goreng untuk sarapan. Nasi goreng sehat kata wanita itu. Tanpa pewarna apapun dengan rasa pedas level rendah dan tanpa penyedap rasa.


Luar biasa, bahkan rasanya sama enaknya. Tentu saja sedikit mengobati rindunya pada pemilik mata bulat dan cerewet itu. Demi apa, Adrian sampai tersenyum saat menikmatinya. Ditambah lagi, air putih hangat sebagai minumnya. Sungguh perpaduan dan suatu kebetulan yang pas. Ah ... mungkin ia saja yang baper. Kebiasaan seperti ini tentu bukan hanya miliknya. Banyak orang yang juga memiliki kebiasaan serupa. Mungkin saja.


Sementara itu di dapur, Sinta tengah diinterogasi Ara. Wanita itu penasaran dengan respon suaminya.


"Mas Adrian mengatakan apa, Sin?" Ara terus membuntuti Sinta yang sedang menghabiskan sarapannya. Sinta duduk Ara berdiri di sebelahnya. Bahkan ketika Sinta berpindah tempat, Ara pun mengikuti di belakangnya.


"Ya ampun, Kak. kakak seperti ekorku saja. Ikut terus kesana kemari. Biarkan aku makan dulu, lapar..." gadis itu menepuk perutnya yang cekung.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mendengar reaksinya Sin," mohon Ara seperti anak kecil.


"Dia sempat curiga, Kak. Bertanya ini itu padaku. Untung saja aku cerdik. Dan sepertinya dia percaya." Sinta menyendok nasi gorengnya dengan lahap.


"Syukurlah." Ara bernapas lega. "Akhirnya aku bisa membuatkan makanan untuknya." Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke dinding, mengerjap pelan dan matanya pun basah.


"Sabar...." ucap bu Sri menanggapi. Entah apa maksud dari wanita paruh baya itu, berucap demikian.


"Kenapa tidak kembali saja ka_"


"Tidak! Sudah ayo kita lanjutkan menata lauknya." Ara berlalu begitu saja mengambil beberapa tempat makan yang akan mereka isi dengan lauk.


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tuan, Mr. Albert sudah tiba di Jakarta,"


Mr. Albert adalah dosen Dani di Swiss. Ia sedang liburan di beberapa negara Asia, dan menyempatkan diri untuk bertemu dengan Adrian.


"Bukankah pertemuan kita masih besok?" tanya Adrian. Ia tidak mungkin lupa dengan janji yang ia buat.


Adrian mengeluarkan ponselnya. Pantas saja, ternyata benda canggih itu mati. Siapa sangka berada di tempat ini belum lama membuatnya melupakan segalanya, termasuk benda penting itu.


Dani belum memahami benar kesibukan sang ayah. Anak itu sesuka hati mengganti jadwal pertemuan dengan Mr. Albert, yang kebetulan tengah berlibur ke Singapura dan ingin bertemu sang ayah. Dan itu berarti Adrian harus kembali ke Jakarta sekarang juga, padahal ia masih ingin di tempat ini sehari lagi sebelum jadwalnya kembali penuh. Sekedar menenangkan pikiran dan mengurai rindu pada istrinya. Yang juga menjadi mood booster untuk lelaki itu.


Jika ia memiliki perusahaan di Bandung, sudah pasti Adrian akan sering ke tempat ini. Sayang sekali semua usahanya berada di ibukota negara itu. Jadi ia harus benar-benar meluangkan waktu jika ingin berkunjung ke panti asuhan ini.


Jarak tempuh Jakarta- Bandung tidak jauh, apalagi mereka menggunakan kendaraan pribadi. Tapi tetap saja akan melelahkan jika ditempuh dengan pulang pergi dalam satu hari.


"Tunggu di depan. Aku berkemas dulu," titah Adrian.


Elang meninggalkan sang majikan sendiri, kemudian menuju mobilnya dan menunggu disana.


Adrian memutar tubuhnya, mengamati dengan teliti setiap benda disana. Dia pasti akan merindukan tempat ini. Tempat sederhana yang malah membuat hatinya damai, berbeda dengan di Jakarta. Kamar ini serasa dirawat dengan baik dan nyaman. Ia seperti merasakan kehadiran sang istri disini.


Lelaki itu berhenti di depan jendela. Melihat berbagai tanaman hias yang tumbuh subur diluar sana. Mirip kebun kecil istrinya di balkon rumah. Hanya saja, bunga-bunga itu nampak bahagia sedangkan milik Ara di rumah, suram tanpa nyawa.

__ADS_1


Kemudian langkah kakinya tertuju pada lemari kayu jati model lama. Bukan lemari yang mewah dengan ukiran etnik yang menarik. Namun hanya permukaan polos dengan sedikit polesan supaya mengkilap. Satu-satunya yang membuat lemari itu berharga adalah nilai dari bahannya. Dan tentu saja orang yang memakainya, Ara.


Adrian ingin mengintip sedikit saja bagian dalamnya. Pasti tidak ada yang istimewa dari sebuah lemari kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Namun mendadak dahinya mengernyit dan matanya pun menyipit saat melihat sehelai baju hangat berwarna abu-abu muda tergantung di dalam lemari.


Seingatnya, sang istri tidak pernah memiliki baju hangat seperti itu. Hah ... Adrian tersenyum simpul, bahkan pakaian sang istri apa saja ia hapal. Karena memang wanita itu tidak pernah membeli pakaian jika Adrian tidak memaksanya.


Namun, wangi yang menguar begitu lemari terbuka tentu dihapalnya. Dan itu milik Ara, pantas saja ia menciumnya sejak tadi. Rupanya dari dalam lemari ini wangi itu berasal.


Adrian memasukkan pakaian hangat yang ia temukan ke dalam koper kecilnya. Kemudian setelah berganti pakaian ia segera keluar dari kamar itu menuju ruangan kepala panti yang ada di gedung paling depan. Disana Elang sudah menunggu untuk membantu membawa koper sang majikan.


"Kenapa tidak nanti sore saja, Nak," sambut bu Fatimah ketika Adrian memasuki ruangannya. Elang sudah menceritakan kepulangan Adrian pagi ini, saat ia berbincang dengan kepala panti itu.


"Maaf, Bu. Ada urusan mendadak yang tidak bisa saya tolak. Oh iya, Bu ... Saya menemukan ini di lemari." Adrian mengeluarkan pakaian hangat yang ia temukan tadi. Meletakkannya diatas meja menuntut jawab pada bu Fatimah melalui sorot matanya.


"Ini ... Oh ... mungkin milik Ara. Ibu juga tidak tahu kalau ada pakaian hangatnya yang tertinggal. Padahal lama sekali ia tidak kesini." Bu Fatimah sedikit bingung menjawabnya. Tentu saja itu milik Ara, dan memang ketinggalan. Sinta pasti tidak teliti saat mengemasi barang-barang wanita hamil itu kemarin.


"Saya yakin ini miliknya. Entah kapan ia meninggalkannya tanpa sengaja. Padahal seingat saya ia tidak memilikinya. Biar sama saya ya, Bu. Saya saja yang simpan." Adrian meminta tanpa menunggu bu Fatimah mengiyakan. Wanita sepuh itu hanya menatap sambil mengangguk canggung. Dipaksakan.


"Kapanpun Nak Adrian mau, bebas sekedar main ataupun menginap disini. Anggap saja ini rumah sendiri. Sejauh ini Nak Adrian donatur terbesar dan aktif untuk panti asuhan ini. Apalagi perluasan gedung dan semua renovasi ini. Ibu benar-benar mengucapkan terima kasih, seperti mendapat anugerah dari langit melalui dirimu."


"Jangan begitu, Bu. Saya bukan orang sebaik itu. Saya melakukannya untuk istri saya. Belum atas kesadaran saya sendiri."


Itu benar. Adrian memang melakukannya untuk Ara. Semuanya adalah kejutan untuk istrinya itu. Meski pada akhirnya malah ia yang dibuat terkejut.


"Awalnya seperti itu, Nak. Itu hanya perpanjangan tangan Tuhan untuk mengetuk pintu hatimu. Selanjutnya kau sendiri yang akan menginginkannya. Ibu hanya bisa mengamini doamu. Semoga jodoh kalian masih tetap terikat seperti harapanmu semalam, sampai kapanpun," ucap bu Fatimah bijak. "Dan Tuhan mengetuk pintu hati anakmu untuk berbesar hati menerima pernikahan kalian dengan ikhlas," lanjutnya dalam hati.


"Terima kasih, Bu."


Selanjutnya Adrian pamit. Ia segera masuk ke mobil, kemudian memerintahkan Elang memacu mobilnya setelah mengangguk untuk menjawab lambaian tangan bu Fatimah, bersama para penghuni yang lain yang melepasnya pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sepasang mata bulat yang basah oleh cairan bening mengerjap. Bukan perpisahan yang menyakitkan namun pertemuan semu dimana mereka berada di atmosfer yang sama bahkan menghirup udara yang sama pula. Namun tidak dapat bertemu karena terhalang oleh dinding ego seseorang, yang menjulang tinggi tanpa sanggup dipatahkan.


Ara mengalah. Dia hanya orang lain yang masuk dalam keluarga suaminya. Bukankah sangat egois jika ia memilih bertahan.

__ADS_1


❤️terimakasih masih mengikuti 💗💗


__ADS_2