
Suara ponsel Adrian berbunyi. Lelaki itu segera meletakkannya di dekat telinga begitu membaca siapa yang menghubungi.
"Ha ... Apa? Sejak kapan, sayang?" Suara Adrian terdengar kaget mendengarkan berita yang tentunya dari sang istri, karena lelaki itu menyebutnya dengan sayang.
"Kau sudah coba menghubunginya?" lanjut lelaki itu.
"Sudah, Mas. Tapi di luar jangkauan." Suara sang istri terdengar lesu dan khawatir.
"Baiklah. tenang Sayang. Tunggu aku pulang, ya." Lelaki itu menutup panggilan diponselnya setelah menenangkan sang istri.
Pagi ini Ara ke hotel, hendak menjemput Aimi untuk diajak bersama melihat rumah baru yang disewakan Adrian untuk mereka. Namun ia malah disuguhkan kenyataan, jika ketiga orang yang menjadi tujuannya tidak ada di kamarnya.
Adrian tahu betul kondisi Akio yang sering sekali drop akhir-akhir ini. Jika mereka pergi tidak mungkin akan jauh, tapi mengapa mereka pergi, dan ada masalah apa itu yang menjadi pertanyaannya. Apalagi mereka tidak pamit atau mengatakan apapun sebelumnya.
"Kita ke restoran terdekat, Zen. Kita bicara saja disana," titah Adrian pada anak buahnya yang memegang kemudi.
Tanpa banyak bertanya, Zen melajukan mobilnya untuk mencari rumah makan terdekat sesuai permintaan sang majikan.
"Oke ... Apa yang kau dapat Kim? Aneh juga menyebut namamu langsung seperti ini," ucap Adrian membuka rapat singkat yang tidak resmi ini sambil menyeruput cappucino yang ia pesan tadi.
"Panggil Daniel saja. Itu nama baptisku, Add. Jadi aku menemukan fakta, bahwa Nyonya Laila bukan pasien dari rumah sakit itu."
"Aku juga mengetahuinya, Dok," sahut Elang menyela.
"Kamu diam dulu Lang!" tegas Adrian yang membuat asistennya itu langsung mengunci mulutnya.
"Mereka, dua orang analis yang bekerja di laboratorium hanya menjalankan perintah dari direktur utama sekaligus pemilik rumah sakit Victoria. Mereka diminta untuk menyalin hasil diagnosa kanker otak tanpa nama dan memberikan nama Laila pada kertas itu. Sedangkan lembaran bagian belakang ini bukan mereka yang membuat. Aku curiga ada salah satu dokter yang diajak kerjasama oleh mereka untuk merinci semua tindakan tidak masuk akal ini. Semua yang tercantum disini memang tindakan medis Add. Tapi ini masih sebatas uji klinik."
"Apa mereka tidak berpikir jika kamu bisa saja menyewa dokter untuk menyelidiki?" Daniel menjelaskan apa yang ia temukan dan menganalisanya sesuai ilmunya.
__ADS_1
Adrian tersenyum miring menanggapinya. "Keluarga jauh tidak pernah benar-benar tahu siapa aku. Mereka hanya tahu aku kaya, lurus dan pekerja keras. Dunia seperti ini ibuku pun tidak pernah tahu," ucap Adrian santai.
"Nyonya Laila tidak pernah dirawat ataupun menjalani rawat jalan di rumah sakit itu, Tuan." Elang menyampaikan temuannya di ruang rekam medis tadi.
"Nah, poin itu saja sudah bisa menjadikan direktur utama rumah sakit itu sebagai tersangka pemalsuan hasil diagnosa, Add." Daniel langsung menyela mendengar fakta yang diucapkan Elang.
"Bukti apa yang mendukung ucapanmu?" tanya Adrian. Matanya menatap sang asisten meminta sesuatu.
"Saya mengambil gambar setiap detail yang saya klik di komputer rekam medis beserta video, Tuan." Elang mengeluarkan ponselnya kemudian ia menggeser beberapa kali dan menunjukkannya pada sang majikan.
"Ini? Seperti ini berarti tidak ada pasien bernama Laila pernah berobat kesana?" Ponsel Elang yang dibawa Adrian ditunjukkan pada Daniel.
"Ya, bagus Lang. Apalagi kamu mengaktifkan tanggal kapan diambil gambar ini. Jadi jika mereka mengelak bahwa ini bohong, pasti mereka baru memasukkan datanya setelah gambar ini diambil. Padahal surat yang dikirimkan ke tangan Adrian telah tertanggal 3 hari sebelumnya." Daniel mengungkap analisanya.
"Aku juga merekam pengakuan bahwa pegawai laboratorium itu disuruh oleh pimpinan mereka Add. Mungkin jika diperlukan," lanjut Daniel.
"Simpan semua bukti dengan baik, Lang. Kita akan buat laporan ke polisi esok. Dan kita beri kejutan kepada mereka lusa. Namun, jangan semuanya langsung dikeluarkan. Biar mereka bersenang-senang dahulu," titah Adrian. Dia masih tidak habis pikir dengan Lola dan ibunya yang berani membohonginya.
"Waktu dua hari ini kamu harus menemukan tempat tinggal mereka. Kita kumpulkan juga bukti lain dari keseharian mereka," lanjut Adrian memberikan perintah pada asistennya.
"Baik, Tuan."
"Oke! Kita pulang sekarang," ucap Adrian mengakhiri pertemuan mereka.
Setelah mengantarkan Daniel ke rumahnya kemudian menurunkan Elang di perusahaan karena harus mengurus beberapa surat-surat penting. Adrian memacu Porsche-nya ke hotel tempat Akio menginap. Ia menyuruh istrinya menunggu disana tadi, karena akan memakan waktu lama jika ia harus pulang ke rumah.
Melihat wanitanya menunggu di lobby hotel dengan gelisah, Adrian segera menghampirinya.
"Mas, kenapa lama sekali?" Ara merajuk dan meruncingkan bibirnya melihat sang suami yang datang padanya.
__ADS_1
"Macet tadi Sayang. Bersamaan dengan anak sekolah pulang." Tentu saja Adrian hanya membuat alasan. Bagaimana tidak lama jika perjalanan saja memakan waktu hampir satu setengah jam. "Bagaimana? Kau tidak mendapat info apapun dari hotel? Atau mereka sudah ada yang bisa dihubungi?" Pertanyaan beruntun meluncur dari bibir lelaki itu.
"Belum, Mas. Ponsel ketiganya tidak aktif. Resepsionis hanya mengatakan mereka terburu-buru," ucap Ara dengan gelisah. Mereka orang dewasa, seharusnya tentu saja tidak ada yang harus dikhawatirkan. Namun kenyataan jika kondisi Akio yang tidak baik-baik saja itulah yang membuat Ara khawatir.
"Apa mungkin mereka diculik?"
"Husstt ...." Adrian mencubit hidung istrinya yang sering membayangkan berlebihan. "Untuk apa menculik mereka. Sudah bertiga ada orang sakit pula." Benar juga kata Adrian.
"Bisa saja itu perbuatan rival Om Setiyo, Mas." Opini dari sang istri yang kecanduan film action ya seperti ini.
"Kau terlalu berlebihan. Kita bukan sedang main film, Sayang." Bola mata Adrian memutar malas. "Sebentar," Adrian mengeluarkan ponselnya kemudian nampak menghubungi seseorang. Lelaki itu sedikit menjauh dari sang istri.
slSetelah mengakhiri panggilannya, Adrian kembali menghampiri sang istri. "Mungkin mereka benar-bemar kembali ke Jepang. Ada penerbangan pagi ini ke Tokyo, jam nya hanya selisih beberapa menit dengan jam check out mereka," tebak Adrian yang sayangnya tepat.
"Ini sudah dari tadi lo, Mas. Apa mereka belum sampai disana?" Masih dengan wajah menggemaskan nya, Ara bertanya.
"Sayang, Jakarta-Tokyo mengambil perjalanan hampir 8 jam. Nanti kita hubungi lagi, ya. Sekarang kamu kuantar kamu pulang atau ikut ke kantor?" Adrian memberi pilihan pada sang istri. Sebenarnya ia ingin wanita itu menemaninya di kantor, namun untuk memintanya ia ragu. Karena dia pasti tidak mengizinkan istrinya itu melakukan apapun hingga akan timbul kebosanan.
"Apa pekerjaan Mas sangat banyak?"
"Hemm ...." Lelaki itu mengangguk.
"Aku pasti akan mengganggumu kalau ikut kesana," ucap Ara lirih. Adrian menatap wanitanya. Tentu saja mengganggu, bahkan sangat mengganggu.
"Kau bisa tiduran sambil lihat TV di kamar pribadiku." Apa bisa Adrian bekerja sedangkan sang istri berada di kamar pribadinya sendirian. Pikiran lelaki itu sudah pasti ke mana-mana. namun sepertinya belum untuk saat ini.
"Benar juga, sambil menunggu waktu menghubungi Tante Aimi." Mata Ara berbinar mendengar ide cemerlang sang suami.
Tanpa banyak bicara lagi, Ara mengikuti sang suami untuk ikut ke kantornya.
__ADS_1