
"Dani anak yang pintar, Sir. Namun dia juga ambisius. Saya malah takut dia tidak bisa mengontrol sifatnya itu. Apa saya bisa bertemu ibunya?" Mr. Albert, lelaki seusia Adrian yang merupakan dosen dari sang anak berkebangsaan Swiss bertemu dengannya sore ini.
Adrian mengira jika Mr. Albert adalah lelaki yang mungkin sudah berusia setengah abad lebih. Namun nyatanya lelaki yang pandai membawa diri ini sepantaran dengannya.
"Maaf, ibunya sudah meninggal, Mr." Dani pasti hanya bercerita tentang dirinya kepada orang-orang yang dianggapnya dekat. Bahkan Mr. Albert yang mengaku mengenal Dani sejak semester awal pun tidak tahu bahwa mantan istrinya sudah meninggal.
"Oh, maaf Sir saya tidak tahu." Mr. Albert menangkupkan kedua tangannya meniru budaya timur saat mereka meminta maaf. "Saya berbohong padanya ingin bertemu Anda, karena saya penasaran dengan sosok Anda. Dani mengatakan Anda adalah sosok inspirasi nomor satu untuknya memulai usaha."
Adrian tersenyum masam. Anak itu ada-ada saja bercerita pada dosennya tentang dirinya. Padahal jika dirumah tidak sedikitpun ucapan bangga pada sang ayah diucapkannya. "Tidak apa- apa Mr. It is okay. Dani memang besar tanpa didampingi wanita yang melahirkannya. Selama ini sosok yang berjasa mendidiknya adalah ibu saya, oma anak itu,"
Adrian menerawang. Masa kecil Dani memang sangat kurang perhatian darinya. Sebisa mungkin setiap hari libur di tebus oleh Adrian dengan mengunjunginya di rumah sang ibu, tetap saja tidak membuat anak lelakinya itu dekat dengannya.
"Dani sosok yang mandiri. Ia bahkan percaya diri dengan apa yang dibuatnya. Anak itu mampu melakukan apapun sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun saya melihat hubungannya dengan para gadis tidak berjalan lancar. Ia cenderung menolak ataupun menjauhi."
Apa yang diucapkan Mr. Albert tidak membuat Adrian kaget. Namun lelaki itu tidak menyangka jika hal itu akan mempengaruhi pergaulannya.
"Apa ia tidak memiliki teman wanita disana Mr.?" tanya Adrian penasaran.
"Setahu saya tidak. Bahkan sejak awal perkenalan kami, dia memang tidak terlihat dekat dengan siapapun," Mr. Albert mengingat kenangannya bertemu remaja tampan yang menarik perhatiannya itu. Hingga hari ini Dani menjadi siswa kesayangan Mr. Albert, dan bahkan diminta untuk menjadi asistennya.
"Setiap kali menghubungi saya, dia hanya menceritakan kesehariannya. Dimana kadang sibuk belajar, mengelola coffe shop nya ataupun menggantikan anda di kelas."
Mr. Albert menghela napas panjang. Sudah ia duga ada sesuatu yang disembunyikan anak didiknya itu. Sepertinya, Dani memiiki trauma mendalam pada sang ibu yang mengikatnya hingga hari ini. Hal ini sudah pasti sangat mengganggu, karena mempengaruhi kehidupannya saat ini dan mungkin di masa depan jika tidak segera diatasi.
"Apa Anda tidak menyadari pada sikapnya selama ini, Sir?"
"Saya tahu Mr, namun saya pikir hanya trauma biasa. Saya tidak tahu akan sedalam itu mempengaruhi kehidupannya." Adrian merasa bodoh, padahal penolakan Dani pada Ara seharusnya sudah ia sadari akibat dari trauma itu. Namun ia menganggapnya enteng, hingga akhirnya dia sendiri yang menjadi korban dengan perginya sang istri.
"Maaf, Sir. Bukan maksud saya mencampuri urusan pribadi dari keluarga anak didik saya. Namun sungguh saya menjadi khawatir melihat hal ini pada Dani. Semoga apa yang saya sampaikan bisa membantu Anda," ucap Mr. Albert tulus, lelaki bule itu menyeruput kopinya setelah mengangkat cangkir yang dibarengi anggukan Adrian.
"Terima kasih Mr. atas waktu yang Anda luangkan untuk menemui saya. Juga informasi penting ini. Sungguh saya tidak menyangka perhatian besar yang Anda berikan pada anak didik anda. Saya kira anda ingin berbicara tentang bisnis, seperti yang disampaikan anak saya."
"Sama- sama, Sir. Seperti yang saya sampaikan di awal, saya perlu alasan untuk menemui anda meski sebenarnya kita bisa bertemu diam-diam. Namun sejujurnya saya juga penasaran dengan sosok Anda. Dani selalu tertarik setiap saya bertanya padanya tentang Anda. Daddy seorang yang sukses dalam karirnya, Sir. Daddy orang yang hebat. Begitu katanya. Tapi begitu saya membahas keluarganya, anak itu pasti langsung mengalihkan ke yang lain."
"Ya, saya memang sukses di bisnis yang saya geluti. Tapi saya mengaku kalah jika semua tentang anak saya Mr."
"Belum terlambat Sir. Ungkapkan saja apa yang mengganjal dan membahagiakan Anda padanya. Agar ia juga bisa jujur pada Anda tentang apa yang dirasakannya. Semoga kejujuran yang kalian bagi nanti membuatnya mengerti tindakan-tindakan yang mungkin pernah membuat ia kecewa dulunya untuk diperbaiki."
Mr. Albert memberikan nasihat bijak kepada Adrian. Meski lelaki bule itu bukan ahli psikologi, namun menjadi dosen dari ia berusia muda membuatnya memiliki pengalaman lebih menangani berbagai permasalahan anak didiknya.
"Ya, Mr. akan saya coba," ucap Adrian menanggapi.
"Sepertinya waktu kita sudah habis." lelaki bule itu beberapa kali menatap jam tangannya. "Sebenarnya saya masih ingin lama disini, berbincang dengan Anda juga menikmati suasana Indonesia. Namun tugas saya di Swiss sudah menunggu. Maafkan saya pertemuan ini hanya seperti sekedarnya saja."
__ADS_1
Mr. Albert berdiri diikuti oleh Adrian. Kemudian mereka saling berjabat tangan perpisahan.
"Senang berkenalan dengan Anda Mr. Dan semoga penerbangan anda ke Swiss lancar sampai tujuan," ucap Adrian mengantar Mr. Albert sampai di depan mobil yang akan membawanya ke bandara. Lelaki bule itu bahkan sempat memeluk Adrian beberapa lama. Mereka bagaikan dua sahabat yang baru dipertemukan. Malam ini juga Mr. Albert terbang ke Swiss untuk pulang.
Sepeninggal dosen sang anak, Adrian pulang. Beban yang ia kira ringan, rupanya bertambah berat kini. Disatu pundaknya, ada Dani dengan segala traumanya, dan di pundak yang lain ada rasa rindu yang mengakar dan harus ia tahan entah sampai kapan.
Ini berat, sungguh berat. Adrian bahkan tidak tahu mana yang harus ia selesaikan lebih dulu.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Dilain hari,
"Bagaimana Mr. Albert, Dad? Beliau pribadi yang menarik bukan? Beliau dosen paling smart disini." Dani begitu tertarik apa yang dibicarakan sang ayah dengan dosennya itu. Mr. Albert memang pribadi yang menarik, ialah selama ini yang membimbing Dani selama kuliah di Swiss. Bahkan anak lelaki Adrian itu sangat nyaman hingga menganggap Mr. Albert seperti pamannya.
"Ya, begitulah," jawab Adrian menampakkan senyum tipisnya.
"Apa dia banyak bertanya ini itu pada Daddy? Dia adalah penasehatku disini Dad. Kami semua menyukainya." Lengkung bibir Dani terus keatas saat menceritakannya.
"Ya, kami berbagi banyak ilmu kemarin meski waktu tidak memungkinkan. Daddy akui dia dosen yang terbaik. Apa dia sering berkeliling menemui para orang tua dari siswanya, Boy?" tanya Adrian mencari tahu.
"Tidak sering juga. Namun beliau selalu memanfaatkan liburannya dengan baik. Beliau selalu senang mengenal keluarga siswanya yang sudah sangat dekat dengannya. Mr. Albert orang yang paling perhatian dengan kami, Dad."
Anak itu nampak bahagia disana. Sangat kontras dengan apa yang dipendamnya selama ini. Sekilas pasti tidak ada yang menyangka jika Dani memiliki trauma yang dalam pada sosok wanita, seperti ibunya.
Suasana menjadi canggung, dan Dani menjadi diam. Remaja laki-laki itu meraup wajahnya dan melakukan sesuatu yang absurd seperti melempar pertanyaan pada temannya. Padahal jelas sang teman berada jauh darinya. Dia tetap pada pendiriannya, tanpa keringanan sama sekali.
"Daddy tahu ... yang aku inginkan, bukan?" Dengan hati- hati Dani kembali menegaskan keinginannya.
"Daddy sendiri disini, pulanglah. Kamu harus belajar banyak hal sebelum semua ini dilimpahkan secara sah padamu," ucapan Adrian sangat lirih. Ada nada kekhawatiran juga kesedihan yang nampak dari sorot matanya.
"Wanita itu__"
"Namanya Tante Ara, Dan. Dia tidak ada disini." Adrian menahan emosinya yang mendadak memuncak. "Sudah jangan dibahas lagi. Usahamu yang disana biar diteruskan temanmu yang lain, kamu hanya tinggal mengawasinya dari sini. Pulanglah! Daddy menunggumu."
Dani terdiam tanpa bisa berpikir lagi. Sedikit banyak, aura yang keluar dari bahasa tubuh ayahnya telah mengatakan segalanya dan juga mempengaruhinya.
Sorot mata penuh harap serta kesedihan menyatu dalam mata Adrian. Dani merasakannya, dadanya ikut sesak melihat pemandangan seperti itu. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi dibalik kepergian dari istri sang ayah, yang dibencinya itu. Namun dari kata-kata yang ia dengar, tentu tidak dengan baik-baik wanita itu meninggalkan sang ayah.
Lebih baik seperti itu bukan? Rasa cinta ayahnya pada wanita itu pasti akan memudar seiring waktu. Bukankah tidak ada yang abadi? Seperti sebuah perasaan yang dimiliki oleh seorang manusia pada sesamanya.
Tiba-tiba Dani bernapas lega. Itu lebih baik, karena mereka hanya akan berdua seterusnya. Dan ia akan memastikan ayahnya akan tetap bahagia bersamanya meski tanpa wanita yang ia panggil tante itu.
Anak lelaki Adrian itu hanya mengangguk pada sang ayah. Kemudian mengakhiri panggilan dengan segera, karena suasana menjadi lebih canggung saat mereka bingung akan membahas apa.
__ADS_1
\=\=\=≠\=\=\=≠
"Sssssss..... "
"Sin ... Sinta tolong aku," teriak Ara memanggil gadis yang beberapa hari terakhir ini selalu menempel padanya. Perutnya terasa sakit saat ini, dan ia ketakutan terjadi sesuatu dengan kehamilannya.
"Iya kak ... kakak kenapa?" Sinta yang tergopoh sambil berlari mendatangi Ara. smSaat sayup-sayup ia mendengar Ara memanggilnya dengan kencang.
"Perutku sakit. Tolong katakan pada ibu, aku mau ke rumah sakit sekarang, Sin." Suara Ara terbata akibat gugup dan menahan nyeri pada perutnya.
"Ya, ampun. Iya, kak. Kakak berbaring dulu saja." Sinta yang ikut panik segera membantu Ara berbaring. Kemudian mengambilkan jaketnya dan membantu mengenakannya.
Gadis berperawakan kurus itu kemudian berlari ke depan mencari ibu kepala di ruangannya. Setelah itu meminta pak Sapto menyiapkan mobil untuk mereka ke rumah sakit.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ibu pasti stress berlebih dan kelelahan," ucap dokter yang memeriksa Ara.
Wanita itu menunduk, ia memang menyibukkan diri selama di panti. Sungguh, saat-saat merindukan sang suami adalah saat dimana ia benar-benar berada pada situasi yang menyedihkan. Ara berharap dengan menyibukkan diri bisa sedikit melupakan sosok yang ia cintai itu.
Apalagi kemarin, ketika Adrian sempat berada di panti. Kedaan seperti itu sungguh membuat hatinya teremas. Semua terasa lebih sakit dari sebelumnya hingga Ara benar-benar tidak memperdulikan kesehatannya sendiri.
"Iya dok, Kak Ara memang sibuk sekali. Sudah saya katakan untuk istirahat saja. Tapi dia memiliki seribu alasan untuk tetap diizinkan membantu kami." Sinta langsung terdiam ketika Ara mencubit lengan gadis itu.
"Vitaminnya masih diminum? Minum susu juga kan, Bu?"
"Vitamin sering lupa,
Dok," ucap Ara sambil meringis. Ia memang sering lupa meminum vitaminnya, terkadang sehari tiga kali menjadi sehari dua kali atau bahkan hanya sekali saja.
"Minum susu juga sepertinya juga lupa, Dok. Awww...." pekik Sinta ketika tangan kecil Ara mencubitnya kembali.
"Bu, Ibu harus mematuhi nasihat saya jika Ibu dan bayi ingin sehat. Dan juga Ibu tidak boleh kelelahan, kandungan Ibu semakin besar. Ada beban berat disini meski Ibu merasa kuat." Dokter menepuk bahu dan kaki Ara, menunjukkan jika perutnya yang tengah hamil bisa mempengaruhi dua bagian tubuhnya itu.
"Iya, Dok. Saya sering merasa capek disini dan juga kaki," keluhnya mengusap pelan punggung atasnya.
"Mintalah bantuan suami jika diperlukan. Tidak apa-apa, Bu. Bapak harus belajar menjadi suami siaga, lo."
Ara tersenyum masam. Itu berlaku bagi mereka yang dekat dengan suaminya. Sedangkan dirinya, jarak mereka hanya Jakarta- Bandung, namun dinding yang membatasi mereka berdua bagaikan sejauh bulan dan bumi.
❤️terimakasih masih mengikuti💗
love u..
__ADS_1