
Puk.. puk, Adrian menepuk sambil mengelus perutnya yang kekenyangan. Bukan karena ia rakus dengan banyaknya makanan yang dikirimkan oleh Tony tadi sore, tapi ini semua perbuatan sang istri.
Ya, wanita pemilik hati Adrian itu mengerjainya malam ini. Mencicip hampir semua menu yang ada, namun kemudian memaksa sang suami menghabiskan sisa makanan yang ia ambil. Dan Adrian tentu saja menurut, jika tidak ingin menginap di ruang kerja nanti malam.
"Sayang, sudah. Perutku sudah sakit menampung semuanya," ucap Adrian pada sang istri ketika wanita itu hendak menyicip makanan selanjutnya.
"Tapi ini masih banyak, Mas. Sayang kalau tidak dimakan. Lagipula aku belum kenyang,"
"Kau memang tidak memakannya sayang, karena aku yang kau suruh menghabiskannya," ucap Adrian meringis menahan perutnya yang sudah terasa begah. "Sudah ya,"
"Baiklah. Biar yang lain yang memakannya," ucap Ara kemudian, yang membuat sang suami menarik napas lega.
Menghabiskan begitu banyak menu tentu tidak dapat dilakukan oleh dua orang itu. Padahal mereka sudah menyisihkan untuk mommy Lina, Dani. Dan yang ada didepan mereka ini hanya sebagian kecil dari berbagai menu yang dikirimkan Tony. Karena Ara pun juga sudah membagikannya ke pelayan tadi.
"Tante," tiba-tiba anak lelaki Adrian mendekat, setelah baru saja sampai di rumah besar itu dari belajar kelompoknya.
"Iya." Ara menoleh. Anak laki-laki itu menyodorkan selembar kertas kepada ibu sambungnya itu.
"Ini?"
"Besok ada pertemuan Wali murid. Dan Daddy selalu tidak bisa hadir," ucap Dani melirik sang ayah.
Kemudian pasangan suami istri itu saling menatap setelah sang anak berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
"Benar begitu, Mas?" tanya sang istri memastikan.
"Iya. Aku kan harus kerja, sayang. Biasanya kalau bukan Mommy ya bibi Yulia yang hadir menggantikan," ucap Adrian santai tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Ya ampun, Mas ! Dia anak kamu bukan Mommy atau bibi Yulia," wanita itu memukul paha sang suami sebagai bentuk protesnya. Pantas saja, hubungan ayah dan anak itu kadang terlihat dekat kadang juga tidak. Rupanya ada momen-momen tertentu yang mungkin penting bagi sang anak, namun dianggap sepele oleh sang ayah.
"Aku tahu, sayang. Tapi sama saja kan. Disana mereka hanya duduk mendengarkan kemudian pulang. Bisa dilakukan oleh semua orang,"
"Tapi tidak oleh kamu, Mas." sang istri menggeleng menatap tidak percaya pemikiran sang suami. "Dia anak kamu. Seharusnya dialah prioritas kamu bukan yang lain. Meskipun perusahaan juga butuh kamu, namun berbeda porsinya Mas," Ara langsung beranjak pergi meninggalkan adrian yang dibuat mengaanga oleh ucapan sang istri. Tidak menyangka akan perhatian Ara yang sebesar itu untuk hubungannya dengan sang anak.
"Sayang," Adrian mengejar sang istri yang naik ke lantai atas. Namun sang istri tidak memperdulikannya. Ara marah karena Adrian menyepelekan kepentingan anaknya. Dani sudah kehilangan kasih sayang ibunya, apakah sebagai ayah, suaminya itu tidak mengerti selama ini. Dani berbeda dengan anak-anak lain.
"Sayang, sayang? Maafkan aku ya," ketika hampir bisa diraihnya lengan sang istri, wanita itu malah masuk ke dalam kamar. Kemudian pintu membuka setelah sebelumnya ditutup oleh Ara.
Ceklek! ceklek!
Suara pintu dikunci dari dalam menghiazi kisah tragis sang duda tampan. Baru saja kemarin ia mereguk indahnya menyempurnakan cinta bersama sang istri setelah hampir satu tahun hubungan mereka, namun hari ini semua hilang akibat keegoisan dirinya.
Adrian tidak pernah menyangka jika istrinya se perhatian itu terhadap anaknya. Yang bahkan tidak pernah dilakukan oleh ibu kandungnya. Tersenyum samar, lelaki itu menuju ruang kerja yang menjadi temannya malam ini. Sungguh, ia tidak pernah kecewa atau marah pada keputusan sang istri. Hustru hal ini membuatnya semakin cinta. Ahh biarkan malam ini ia memeluk istrinya dalam mimpi saja. Asal jangan diperpanjang sampai besok saja acara tidur sendiri-sendiri seperti ini.
Jarum jam menunjuk di angka 1 dinihari. Wanita yang malam ini tidur di dalam kamar tanpa suaminya itu hanya membolak balik badannya tanpa bisa memejamkan matanya dengan tenang.
Pikirannya tertuju pada sang suami yang ia usir untuk tidur diruang kerja tanpa bantal ataupun selimut yang ia berikan. Ini sudah terlalu malam untuk mengantarkan perlengkapan itu, namun rasa khawatir tak juga mau pergi apalagi mengingat sore tadi hujan, hingga udara terasa dingin menusuk meski tanpa menyalakan AC.
__ADS_1
Perlahan ia bangkit, diminumnya segelas air yang biasa ia siapkan untuk sang suami di atas nakas. Matanya mengerjap memindai sekitar. Mencari keyakinan akan apa yang akan dilakukannya. Hingga akhirnya ia putuskan untuk untuk menyusul sang suami.
Ceklek!
Meski pelan, namun suara pintu dibuka tetap menjadi ciri khas tersendiri yang tidak bisa diredam. Mata Ara awas mencari sosok sang suami yang ternyata tengah berbaring di sofa dan kepalanya berada di sandaran tangan.
Wanita itu segera mendekat. Tidur dengan posisi seperti ini pasti akan membuat tengkuk Adrian sakit. Diangkatnya kepala sang suami untuk diberi bantal. Kemudian ia lebarkan selimut untuk menutup tubuhnya. Dbelainya puncak kepala sang suami dengan sayang. Namun, ketika tangannya menyentuh lengan sang suami yang terasa dingin, mendadak muncullah rasa bersalahnya. Lelaki itu pasti kedinginan disini.
"Maafkan aku ya Mas," cup! Dicurinya kecupan dari pipi Adrian. Namun ketika ia hendak beranjak, tangan besar nan kuat sontak menariknya masuk ke dalam pelukan.
"Aku tidak bisa tidur. Peluklah aku sayang," dengan mata terpejam Adrian mengucapkannya. Entah ia sedang mengigau atau sadar Ara tidak tahu. Namun yang jelas sang istri tidak melawan. Toh, dia juga tidak bisa tidur sendirian di kamar. Bukankan lebih baik disini, karena obat tidurnya sudah ia temukan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hei hati-hati. Meski ia sudah buruk seperti itu, tapi ia masih berharga untukku," senyum seringai nampak jelas di wajah Magda, saat ia turun dari jet pribadi yang membawanya dari luar negeri ke negara kelahirannya, Indonesia.
Dari bagasi belakang nampak sebuah kotak besi besar tertutup kain hitam tengah ditarik oleh anak buah Magda. Kotak besi yang mirip kerangkeng itu ternyata berisi manusia. Seorang perempuan yang masih nampak cantik meski pakaiannya lusuh dan wajahnya kusam tak terurus. Wanita di dalam kerangkeng itu berteriak-teriak memaki, namun sebentar kemudian ia menangis, dan selanjutnya tertawa terbahak-bahak. Ia seperti kehilangan kesadarannya, karena penampakan seperti itu terus berulang seperti pola.
"Buat dia tidur. Bisa berbahaya jika ada yang dengar teriakannya," perintah Magda pada seseorang yang memakai jas putih seperti Dokter. Dan lelaki yang mendapat perintah itu segera maju. Dengan bantuan anak buah yang lain, dia menarik tangan wanita itu dan menyuntikkan suatu cairan yang langsung membuatnya terkulai lemas dan tenang.
"Ayo. Kita harus bergerak cepat. Kita hanya punya waktu 15 menit disini," ucap Magda dengan mata berkilat. Karena sang kekasih hanya memberinya waktu sebentar untuk pergi dengan aman dari tempat itu.
Datang kembali ke negara ini membuat luka lamanya menganga kembali. Luka karena ditolak oleh lelaki tampan yang ia cintai yang membuat pribadinya menjadi jahat seperti sekarang. Ahhh masihkah lelaki itu merindukan wanitanya? Diliriknya kotak besi yang tengah didorong menuju truk kontainer yang sudah parkir di depannya.
__ADS_1
"Lihat saja, kau akan menangis darah melihatnya!"