
"Kau mau kemana? Ini masih gelap," Adrian menarik pergelangan tangan sang istri yang tanpa disadarinya telah bangun lebih dulu dan bahkan sudah rapi dan wangi.
"Gelap? Buka dulu gordennya, Mas. Ini sudah jam 6." Ara mendelik protes dengan ucapan sang suami. "Tidak apa-apa kalau mau tidur lagi. Jam istirahatmu kacau sekali akhir-akhir ini, Mas." Wanita cantik berkucir kuda itu membungkuk demi menyamai arah mata sang suami yang masih berbaring.
Mengangguk mengiyakan ucapan sang istri. "Kau mau kemana? Belum kau jawab apa yang kutanyakan," ucap Adrian yang malah memeluk kaki sang istri yang berdiri di dekatnya.
Ara melerai lengan sang suami kemudian duduk di sebelah lelaki itu. "Aku mau membersihkan tubuh Mommy. Entah mengapa aku rindu sekali dengannya. Padahal baru kemarin, rasanya... aku seperti..sudah lama tidak ngobrol dengannya, Mas." m
Mata wanita itu berkaca. Dan tanpa terasa, tetes bening yang sudah memenuhi kelopak bulat nanti indah itu jatuh.
Adrian langsung bangkit dari tempatnya berbaring, kemudian menyeka jejak airmata di pipi lembut istrinya. "Aku juga merindukannya,"
"Ini baru sehari loh, Mas."
"Ssttttt... Berprasangkalah yang baik. Ini tidak akan lama. Mommy wanita kuat, sepertimu," berharap menghibur sang istri, ternyata ucapan Adrian malah membuat Ara semakin sedih. Wanita itu langsung memeluk suaminya.
"Lekas kesana. Mommy pasti menunggumu," lelaki itu mengusap lembut punggung sang istri yang berada di pelukannya. "Nanti kususul." Cup! kecupan singkat penuh cinta jatuh di kening sang istri. Bagai mood booster, sentuhan ringan dari benda kenyal itu mengisi kembali semangat wanita itu.
Ara mengangguk, kemudian segera keluar menuju ICU, meninggalkan sang suami yang sudah tidak bisa lagi memejamkan matanya. Meski rasanya lelah luar biasa, namun seperti ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin lagi kembali tidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mom, ini aku," Ara menarik panjang napasnya. "Mommy lekas bangun ya, aku rindu cerewetnya Mommy," wanita itu mulai membersihkan wajah hingga kaki sang mertua dengan waslap.
Tubuh Lina yang dingin oleh AC sedikit menghangat akibat usapan itu.
Tut... Tut... Tut.. Bunyi khas alat-alat medis nampak mengganggu telinga wanita itu. Membuat hati siapapun berdesir, termasuk Ara yang belum terbiasa mendengarnya.
__ADS_1
Sungguh, berdua bersama sang mertua yang dalam keadaan koma, di tempat paling ditakuti dari seluruh ruangan di rumah sakit ini membuat pikiran Ara tidak bisa fokus. Otaknya melayang kemana-mana, membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi.
Padahal, sang suami sudah berpesan padanya tadi, melarangnya berprasangka buruk dan selalu menanamkan harapan baik untuk kesembuhan sang mertua.
Fuhhhhh.... Ara melepas desahannya asal. Aroma khas lisol yang pekat yang menandai ruangan ICU itu terasa menyesakkan. Wanita itu bahkan sampai menangis terisak tanpa sebab.
Kemudian ia memilih duduk, jemarinya menyentuh jemari sang ibu dan menyadari kuku yang mulai memanjang tidak rapi. Untung saja ia sudah mempersiapkan segalanya tadi. Handuk, waslap, sisir dan potongan kuku.
Tik.. Tut.. Tik.. Tut.. Suara pemotong kuku bersahut-sahutan dengan alat medis. Karena mata Ara terfokus pada jemari Lina, samar ia melihat dan merasakan gerakan pelan dari jemari wanita paruh baya itu.
Kaget dengan kejadian barusan, Ara menegakkan punggungnya, mengucek matanya, dan tidak ada yang berubah. Barangkali, itu hanya pengaruh dari gerakan tangannya yang terlalu lelah karena tegang.
Namun sungguh, itu terlihat sangat nyata. Apa salahnya memberi kesempatan 2 kali lagi pada dirinya untuk membuktikan bahwa apa yang ia lihat bukan semu atau dejavu. Dan Ara tidak mau melepas harapan tanpa memberi kesempatan.
Ia menghentikan aktivitas potong kukunya. Kemudian menautkan jemarinya dengan jemari sang mertua. Wanita itu diam mengawasi dan menunggu dengan sabar... sudah 5menit berlalu namun tidak ada tanda-tanda akan terjadi gerakan yang sama.
Kami rindu sekali dengnmu. Mommy harus lekas sehat. Aku ingin...jika aku hamil nanti, Mommy selalu menemaniku," Ara membisikkan kata ajaibnya tepat di sebelah telinga Lina. Namun, setelah beberapa menit tetap tanpa reaksi, malah Ara yang terisak dan tergugu hingga airmatanya tanpa sengaja menetes membasahi rambut Lina.
Samar, terasa ada yang bergerak-gerak di telapak tangan Ara. Wanita itu langsung memicingkan matanya, berfokus pada telapak tangannya yang menggenggam jemari mertuanya itu.
Dan, ternyata memang benar. Jemari lembut yang tadinya diam itu mengetuk pelan meski ritmenya tidak beraturan. Namun, cukup membuat sang menantu olahraga jantung. Menunggu dengan harap-harap cemas, Ara memastikan jika itu memang gerakan dari jari tangan sang mertua, bukan karena pengaruh tangannya yang gemetaran.
Memekik tertahan, Ara membungkam mulut dengan kedua tangannya. Sontak ia berdiri, mengambil jarak dengan sang mertua, dan gerakan itu terulang kembali.
Wanita itu langsung berlari keluar dengan perasaan harus menuju ruang perawat yang dinas.
"Mbak, Mama saya Mam-ma saya tangannya bergerak-gerak," ucap Ara dengan lantang dan bersemangat. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya sehingga membuat hampir semua perawat yang tengah berada di sana menoleh.
__ADS_1
"Iya, Bu? Nyonya Lina ya?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, mbak benar,"
"Sebentar kami hubungi Dokter bu,"
Ara mengangguk kemudian ia kembali ke kamar sang mertua. Rasanya tidak sabar menunggu dokter datang memeriksa sang mertua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan, saya sudah menemukan siapa penyebar berita tentang Tuan dan Nyonya. Juga otak dari pelakunya. Dan semua berita yang sudah terlanjur diunggah sudah kami take down," Elang datang tidak lama setelah Ara meninggalkan kamar.
"Aku serahkan padamu untuk sementara ini, Lang. Akan kuurus penjahat itu nanti setelah kondisi mamaku stabil. Bagaimana hasil rapat kemarin?"
"Baik, Tuan. Kami sudah menangkapnya dan mengamankannya. Kapanpun Tuan ingin menemuinya, kami siap. Rapat kemarin lancar, sejauh ini semuanya masih bisa dikondisikan Tuan,"
"Bagus. Aku percaya padamu. Sementara ini, semua kuserahkan padamu,"
"Siap, Tuan," lelaki lajang asisten Adrian itu datang untuk melapor dan meminta tanda tangan berkas-berkas penting. Setelah semua selesai, Elang masih berdiri disana menatap sang majikan. Sebenarnya ia ingin menyampaikan bahwa yang ia tawan adalah mantan istri sang majikan. Namun ia ragu, apakah ini waktu yang tepat atau tidak untuk membicarakannya.
"Ada lagi, Lang?"
"Emm.. tidak Tuan. Saya rasa sudah semuanya," Elang mengangguk, mendadak presentase keraguannya semakin membesar. Ia takut sang majikan akan emosi, karena hal ini bukan hanya menyangkut dirinya namun juga kesehatan ibunya, sang pemilik hati di urutan pertama dalam hidup lelaki yang menjadi tuannya itu.
Tatapan Adrian mengintimidasi Elang yang malah menjadi salah tingkah.
"Saya mohon diri, Tuan," membungkuk hormat lelaki itu buru-buru keluar. Dalam hati Elang berdoa, semoga tuannya itu tidak kembali memanggilnya.
__ADS_1