
"Untung kita cepat ya, Ra," ucap Mela sambil berjalan menyusuri lorong menuju lift di kantor Adrian.
Sepulang dari mendaftarkan Mela di Universitas yang sama dengan tempat elang mengambil S2, Ara sengaja mengajak Mela langsung ke kantor Adrian untuk sekalian memberi tahu suaminya.
"Sepertinya ada tamu," tunjuk Mela ke ruangan Adrian. Karena ada dua orang yang tengah duduk di ruang tunggu di depan ruangan Vina.
"Nyonya cantik, Hai...." Vina langsung melambaikan tangannya. Kemudian berdiri dan menghambur memeluk temannya yang menjadi istri Bos nya di kantor itu. "Sombong ya, sekarang sudah tidak mau ngantor lagi. Sibuk jadi IRT (Ibu Rumah Tangga? sepertinya. Atau sibuk dikerjain oleh suamimu itu," tebaknya.
"Mbak Vina, aku kangen sekali. Tambah seksi sekarang ya. Tahu saja kalau suamiku itu suka iseng sampai sekarang," jawab Ara pada gadis seksi sekretaris suaminya itu.
"Seksi tapi dianggurin."
"Hah? Iyakah? Minta dihalalin lah Mbak. Apakabar dengan si itu?" Ara tentu tidak lupa ada sebuah hubungan antara Vina dan Ardi. Namun karena lama tidak berjumpa dengan gadis itu, Ara tidak tahu sejauh mana hubungan mereka kini.
"Bos sedang meeting sebentar." Vina nampak melirik arlojinya. "Mungkin lima belas menit lagi selesai. Kita cerita-cerita saja dulu sambil menunggu."
Vina mengajak Ara dan Mela masuk ke kubikel kecil yang merupakan ruangannya itu. Mengambilkan mereka kursi dan beberapa minuman.
Ara mengenalkan Mela pada Vina. Mereka berdua nampak klop meski baru kenal, sama-sama ceplas ceplos. Dan mereka bertiga segera terlibat obrolan yang santai, membicarakan banyak hal mulai topik umum hingga pribadi.
"Beritahu suamimu jika kamu disini, Ra."
"Nanti dia juga tahu sendiri mbak, masuk ke ruangannya juga lewat sini kan. Kecuali jika ada jalan lain," jawab Ara tidak menganggap serius ucapan Vina.
"Ada...." Vina mengangkat kedua jarinya diatas kepala, seperti seseorang yang memiliki tanduk.
"Apa itu Mbak?" Gadis seksi itu malah tertawa.
"Nanti kau juga akan melihatnya," jawabnya sambil memberi kode kedatangan seseorang.
Tidak lama kemudian muncullah Adrian bersama Elang keluar dari ruangan meeting. Dan tiba-tiba ada seorang wanita yang ia kenal menghampiri suaminya itu, bersikap sok dekat dan sedikit manja. Menjengkelkan bukan?
__ADS_1
Dulu ia hanya akan menatap pemandangan seperti ini biasa saja. Tapi kali ini jangan harap. Hormon kehamilannya sepertinya juga sudah membuat Ara memasang tanduk merah di kepalanya. Ia melihat wanita yang merupakan mantan kekasih suaminya itu beraksi di kantor, saat banyak karyawan lalu lalang menatap hormat pada suaminya dan selanjutnya menatap aneh pada wanita di sampingnya itu.
"Ra, kalau aku pasti sudah aku jambak," ucap Mela yang tidak sabaran.
"Iya, Ra. Kemarin saja aku sampai hampir berkelahi dengannya. Ia terus menghinamu di belakang, padahal jika didepan Pak Adrian ia pasti tidak akan berani." Vina malah seperti mengompori Ara.
Untung saja, suaminya itu terkesan tidak menanggapi dan bahkan sangat acuh. Lelaki itu memperlambat langkahnya agar bisa bersejajar dengan Elang hingga mengikis jarak dengan wanita yang tubuhnya seperti mengandung lem itu. Menempel kesana kemari tanpa tahu tempat.
"Sayang?" Adrian kaget saat hampir masuk ia melihat sang istri keluar dari kubikel ruangan Vina. Ia terlalu fokus menghindari berdekatan dengan Laura hingga tidak memperhatikan sekelilingnya.
Lelaki itu sontak menarik pinggang snag istri, mengecup pipinya dan membawanya masuk kedalam. Meninggalkan beberapa wanita yang menganga dengan ulah Adrian, termasuk Laura. Sepertinya hanya dia yang bereaksi jengkel saat ini. Karena Mela dan Vina malah tersenyum geli melihat reaksi Laura meski mereka sama-sama kaget.
"Add, tidak bisakah kita bicara empat mata," pinta Laura begitu mereka berempat berada di dalam ruangan Adrian. Karena Laura sudah menebak dalam hati, akan sulit berbicara empat mata dengan Adrian saat ada istrinya.
"Bicaralah, istriku tahu sedikit banyak tentang pekerjaan ini karena ia pernah menjadi asistenku. Dan aku tidak akan pernah pergi hanya berdua saja dengan klien tanpa Elang." Jawaban yang telak bukan? Tapi hanya khusus dimengerti oleh orang yang tahu malu, kecuali Laura.
Adrian meminta Ara untuk duduk dikursinya, tanpa berbicara namun menunjukkan dengan gestur tubuhnya.
"Bukankah kita sudah bersepakat kemarin saat di rumah sakit? Kau lupa?" Suara Laura sedikit meninggi, tidak santai seperti awalnya. Sepertinya ia sudah memendam kekesalan ini dari lama.
"Kau pasti mengambil keputusan tanpa memikirkannya, Add? Apa karena ada istrimu? Seharusnya tidak membawa masalah pribadi disini. Padahal keuntungannya lumayan besar. Apalagi perusahaan kita merupakan kedua perusahaan raksasa di negara ini. Kredibilitasnya sudah tidak diragukan lagi bukan?" Laura seperti seorang marketing handal yang merayu Adrian.
Adrian berdecak. Laura masih saja tidak mengenalnya, padahal mereka bersama dalam waktu yang cukup lama dulunya. Lelaki yang penuh perhitungan dan teliti dalam setiap pekerjaannya itu tidak pernah sembarangan menerima sebuah kerjasama. Ia tentu memiliki alasan mengapa menolaknya.
Jika Tony yang mengajaknya bekerjasama mungkin Adrian masih mempertimbangkannya. Ini nyata status Laura adalah mantan kekasihnya, dan ia tentu mengenal sedikit banyak karakter tersembunyi wanita itu dulunya.
"Jangan membawa- bawa nama istriku, Lau! Dia tidak ada urusannya dengan ini. Jika tidak ada hal lain, silahkan keluar! Aku masih banyak pekerjaan."
"Kau mengusirku, Add? Padahal aku sengaja menunggumu dari tadi." Dada Laura kembang kempis menahan emosi. Menatap benci pada wanita di samping Adrian yang bahkan lelaki itu tidak melepas genggamannya sama sekali sedari masuk ruangan ini.
Tangan Laura mengepal. Adrian masih orang yang sama yang dikenalnya dulu dengan karakter yang juga tidak berubah. Namun yang menjengkelkan adalah ia posesif dan terlihat begitu mencintai istrinya. Perasaan yang seharusnya Laura lah yang mendapatkannya dari lelaki yang pernah dipujanya itu.
__ADS_1
Wanita seksi itu berbalik, setelah sempat memdengkus kasar hingga terdengar oleh semua orang yang ada diruangan itu. Ia berjalan dengan cepat dan hati yang geram akibat ulah Adrian padanya.
"Laura nampak sangat membenciku ya, Mas." Adrian mempererat genggamannya mendengar keluhan sang istri.
"Tidak usah dipikirkan, Sayang. Kau tahu dia seperti apa, kan? Tidak usah dimasukkan hati. Ok!"
Ara mengangguk. Mencoba mengalihkan pikirannya dari ucapan buruk Laura yang bisa mempengaruhi moodnya.
"Oh iya, Lang. Tolong suruh Mela masuk ya," titah Ara. "Mela sudah memilih dimana ia akan kuliah, Mas. Aku juga sudah mendaftarkannya."
"Dimana, Sayang?"
"Universitas Unggul Daya. Sepertinya memang bagus kualitasnya. Hampir semua dosennya adalah dosen tamu, tapi mereka rata- rata dosen senior dari Universitas Negeri yang ternama. Dia ambil kelas karyawan tadi."
"Kenapa tidak reguler, Sayang. Apa efektif jika mengambil kelas karyawan sedangkan jurusan yang ia ambil sama sekali awam untuknya?"
"Tidak apa-apa. Sepertinya nyambung dengan jabatannya sekarang. Dia ingin tetap bekerja, Mas. Katanya tidak mau terlalu menggantungkan hidupnya padamu." Cerita Ara membuat Adrian sedikit harus. Gadis ceplas ceplos yang tidak bisa akur dengannya itu, rupanya sosok mandiri seperti istrinya. Mereka pasti di didik orang yang tepat di panti asuhan dulu.
"Bagus kalau dia berpikir seperti itu, Sayang."
"Masss...." Ara mencubit tangan suaminya hingga mengaduh kesakitan namun setelahnya lelaki itu malah tertawa mengejek.
Mela masuk, dan dibelakangnya ada Elang menyusul.
"Kuliahmu selesai kapan, Lang?" tanya Adrian begitu melihat asistennya datang.
"Beberapa bulan lagi, Tuan. Tinggal menunggu jadwal sidang." Setelahnya Elang kembali ke mejanya dan menghadap benda canggih yang menemaninya mengerjakan segala tugas dari Adrian.
"Perkenalkan adik tingkat barumu, Lang. Mela Lameila," ucap Ara menggoda.
Sontak kedua orang berbeda jenis itu berpandangan. Elang kaget sedangkan Mela malah merona bak kepiting rebus yang matang, jangan lupakan juga senyum malu-malu gadis hitam manis ini.
__ADS_1
"Maksudnya Nyonya? Mela....?"
"Iya. Dia akan kuliah di tempat yang sama denganmu. Baik-baiklah menjadi kakak tingkatnya. Kalau perlu nanti pas orientasi isengin aja habis-habisan." Ara menahan tawanya, merasa puas membuat Mela panas dingin di depan Elang.