Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 116 Penyerangan (2)


__ADS_3

"Lima? Laura?"


Tony menatap kembali wajah sang tangan kanan meminta kepastian. Dan Fadli langsung mengangguk dengan senyum samarnya. Ia terharu melihat wajah sang majikan yang mendadak berbinar dan tampak bersemangat.


"Fad, lindungi aku," setelah Fadli mengangguk Tony langsung berlari menuju tempat yang sudah di tunjukkan oleh Fadli. Dia harus menyerang beberapa orang yang menghalangi, dan mengindar dari beberapa tembakan yang diarahkan padanya.


Pada akhirnya, ia sampai di depan sebuah pintu kokoh dari besi yang sudah tua yang nampak tidak terkunci. Samar terdengar suara wanita berbicara. Dan terdengar juga suara wanita lainnya yang menangis.


Tunggu! Tidak salah lagi. Suara wanita yang menangis itu terdengar tidak asing ditelinganya. Perlahan dengan mengendap-endap dibukanya pintu besi yang untungnya tidak menimbulkan suara sama sekali.


Di dalam ruangan itu terang benderang, berbeda dengan di luar yang begitu gelap, hingga apapun yang berada di sana terlihat jelas.


Begitu pintu terbuka, tatapan Tony jatuh pada seorang wanita yang berada di dalam sebuah kotak besi berteralis yang nampak berkarat. Senyumnya sekali lagi mengembang meski dengan mata berkaca dan dada yang bergemuruh hebat. Wanita yang berada di sana adalah Laura, sang istri.


Memang sepintas sangat sulit dikenali, namun getaran hati lelaki itu tidak dapat dibohongi meski ia hanya menatap sekilas saja. Pakaiannya sudah sangat lusuh dengan wajah yang sudah tidak dapat dikenali akibat kotor dan beberapa luka sayatan. Wanita yang ia rindukan itu tengah bersimpuh dengan rantai yang mengikat di kaki dan tangannya.


"Apa kau tahu suamimu sekarang berada disini?" ucap Magda dengan senyum seringainya. Segala dugaan Tony memang terbukti, karena ternyata memang Magda yang menyebabkan hilangnya sang istri.


Wanita dalam penjara itu hanya diam, ia menatap kosong wajah Magda seakan-akan tidak ada apapun disana. Dengan tangan memegang teralis besi yang memenjarakannya, sesekali wanita ini menarik-nariknya hingga suara gesekan yang terdengar memekakkan telinga.


"Dan apa kau tahu kalau dia sudah melupakanmu? Sebentar lagi dia akan menikah denganku, karena sekarang kau sangat.... " Magda memasang wajah jijik pada wanita itu. "Dan setelah aku menikah, aku akan membuangmu kelaut, wuzzzz hilang jejak dan dilupakan," wanita mantan tunangan Tony itu terbahak membayangkan kehidupannya yang sebentar lagi akan berubah.


Lelaki yang begitu melihat sang istri bersama mantan tunangannya itu langsung berlindung di balik lemari sembari menahan emosinya. Ia masih menunggu, apalagi yang akan diucapkan wanita licik itu pada istrinya.


"Laura. Kau masuk pada kehidupan lelaki yang salah. Seharusnya dulu aku mencelakaimu saja supaya kau tak merepotkanku seperti ini," ucap Magda yang tiba-tiba tangannya menarik sesuatu seperti tali.


Byurrr!


Satu ember penuh air kotor yang berada di atas penjara besi tumpah mengguyur seluruh tubuh Laura yang langsung menggigil.


"Sadarlah, mengapa kau tidak mau menandatangi kesepakatan yang kutawarkan padamu dari awal untuk meninggalkan Tony? Kau terlalu naif, kau pikir cinta Tony sekuat itu?"


Brakkk! Tangan Magda menggebrak meja yang ia sandari. "Kalau kau mengikuti apa mauku kau tak akan semenyedihkan ini, sekarang."


Tarrr! Suara gelas yang Magda lemparkan serampangan mengenai tembok hingga pecah berhamburan ke lantai. "Kau akan seperti itu nanti, wanita ******. Atau... sekarang saja kau kuhabisi sebelum terlambat," emosi Magda berada pada puncaknya. Rasa bencinya pada Laura yang merebut seluruh perhatian Tony tanpa menganggap sama sekali keberadaannya membuat wanita itu menjadi jahat dan liar sekarang.


Laura yang hanya mendengar tanpa mengeluarkan sepatah katapun suaranya, terisak. Bagaimanapun siksaan demi siksaan yang dilakukan Magda padanya sangat membekas hingga ia hanya bisa menangis saat Magda menyebut nama Tony. Seseorang yang berarti dalam hidupnya.


Magda membuka tasnya, mencari-cari sesuatu. "Nahh... ini sepertinya menyenangkan untuk bermain-main denganmu," diambilnya sebuah pisau kecil dari dalam tas kulit berwarna merah itu. "Sebelum kau merasakan sakitnya di makan hiu, ha ha ha," tawa Magda menggelegar.


"Itu tidak akan pernah terjadi!"


"Tony," Magda memekik kaget saat ia mendengar suara yang dikenalnya keluar dari balik lemari yang berada di belakangnya.


"Dugaanku selalu benar. Namun sungguh aku masih tidak percaya," Tony melangkah mendekati Magda.

__ADS_1


Srepp, wanita licik itu sudah beralih di dekat Laura. "Jangan mendekat, atau pisau ini akan mengenai nadinya," merasa diatas angin karena tangan Laura terikat kuat di penjara besi dan pisau Magda berada tepat didekatnya.


Teng... Teng.. "Haahhh...pergi...pergii..." teriak Laura yang histeris melihat pisau didekatnya. Suara gesekan besi yang dipukul-pukul Laura terdengar keras hingga ke sudut-sudut ruangan.


"Sayang, tenanglah. Aku akan menyelamatkanmu" ucap Tony pada istrinya. "Lepaskan dia Magda. Urusanmu denganku,"


Wanita itu memainkan pisaunya, menggaris abstrak nadi Laura perlahan dan berulang-ulang. "Menikahlah denganku dan ceraikan dia. Maka dia akan kulepaskan," wanita licik itu mengajukan penawaran.


"Gila, sampai matipun aku tidak akan menceraikan istriku. Apalagi menikahimu," Tony membuang muka, melirik jijik pada Magda yang geram mendengar ucapan lelaki yang dicintainya.


Tanpa berpikir panjang, Magda langsung menusukkan pisaunya yang ujungnya menyentuh pipi Laura.


"Awas!" Brukkk secepat kilat tangan Tony mengambil belati yang ia simpan di kakinya kemudian menargetkannya ke tangan magda hingga membuatnya terjengkang ke belakang dengan lengan terluka.


"Kau!"


Dor.. Dor suara tembakan membabi buta di luar yang semakin lama semakin dekat membuat mereka beringsut dan mencari perlindungan. Tony sampai mendorong kotak besi Laura hingga terlempar ke pojok ruangan.


"Kau pikir bisa mengalahkanku dengan mudah," lelaki tambun yang napasnya terengah dan bahunya berdarah tampak membawa senjata laras panjang ditangannya. Danang yang sudah terluka nampak garang menghampiri musuhnya.


Dalam kekacauan yang dibuat oleh Danang, hingga meja dan semua benda yang ada disana berantakan dan membuat jarak pandang mengabur.


Anak buah Danang merangsek maju, kemudian mengacungkan senjatanya pada Laura hingga wanita itu menangis histeris.


Tony keluar mendengar teriakan sang istri, namun tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu menyentuh bagian belakang kepalanya.


Klek? Senjata milik Tony jatuh ke lantai dan langsung digeser dengan kaki oleh anak buah Danang.


"Danang! apa-apaan ini," teriak Magda yang kalut atas todongan pistol Danang pada Tony.


"Jangan ikut campur. Dasar wanita lemah! Cinta membuatmu bodoh," umpat Danang yang tidak lagi bersikap manis pada kekasihnya itu.


"Kau bertindak diluar rencana, jangan sakiti Tony," ucap Magda yang menyadari perasaan terdalamnya, bahwa ia butuh lebih dari sekedar harta dan tahta namun cinta diatas segalanya.


"Ck. Kau ini bodoh atau apa? Kau lihat sendiri dia lebih memilih istrinya. Kita bunuh saja mereka berdua, dan dendam kita selesai!" ucap Danang yang langsung mengokang senjatanya.


Dengan gerakan cepat, dor dor "Arrghhhhhhh" Brukkk!!


"Magda?"


"Aa.... ma-af," tubuh Magda ambruk bersama Danang yang ternganga. Dengan napas lambat dan sesak Magda meregang nyawa. Namun setidaknya ia sempat meminta maaf yang entah ditunukan untuk siapa.


Magda tewas, setelah berlari menjadi tameng dari peluru yang dimuntahkan senjata Danang mengenai jantungnya. Wanita itu menjadi korban yang menyelamatkan nyawa Tony, seseorang hatinya tidak pernah bisa ia miliki.


Tony berlari menghampiri Magda yang sudah tidak bernyawa, kemudian membantu menutup mata wanita itu dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Cuihh... so sweet sekali," tatapan mengejek dilayangkan Danang pada Tony. "Kalian selalu lemah dengan wanita,"


Srekk! Gerakan cepat Tony menarik kaki Danang yang berdiri tidak jauh darinya membuat lelaki tambun itu terjengkang. Merasa di atas angin, Tony hendak merebut senjata yang ada ditangan Danang.


"Kau mau istrimu mati? Tuan Lewis," ucap salah seorang anak buah Danang. Lelaki berjambang itu menghela napasnya, ia sampai lupa jika istrinya berada di bawah tekanan senjata anak buah lelaki licik itu.


"Kau atau istrimu lebih dulu?" Danang yang sudah bangkit, merasa tidak perlu memberi kesempatan lagi pada dua orang itu.


"Lepaskan istriku. Kau mau aku kan?"


"Ha ha ha. Aku mau kalian mati," dan Tony hanya menunduk memikirkan cara bagaimana ia akan menyelamatkan sang istri sedangkan keselamatannya sendiri terancam.


Danang sudah bersiap menghabisi nyawa kedua orang yang dibencinya itu. Ketika tiba tiba suara gaduh dan berondongan peluru membuat orang-orang di dalam ruangan itu kalang kabut menyelamatkan diri.


"Adrian," ternyata lelaki itu datang disaat yang tepat. Di bawah ia melumpuhkan semua anak buah danang dan polisi yang datang setelahnya sudah meringkus mereka.


"Ya, Tuan Danang," Adrian telah meletakkan ujung pistolnya dileher Danang. "Aku akan menembak dua kali disini, satu untukku dan satu untuk Tony."


Berada dibawah ancaman senjata Adrian tidak membuat lelaki tambun itu takut. "Laura pun akan mati bersamaku kalau kau membunuhku," ucap Danang seakan membuat penawaran.


"Baiklah tidak apa-apa. Yang penting kau juga mati," ucap Adrian menyeringai. Namun lelaki tambun yang licik itu malah bergerak kabur dengan menangkis pistol Adrian.


Dor...dor..secepat kilat Adrian menembak kedua kaki Danang hingga lelaki tambun itu jatuh tersungkur mengaduh sakit. Tony tidak membuang kesempatan dengan merebut senjata Danang kemudian karena sang bos tumbang anak buahnya pun lari tunggang langgang.


Tony langsung menembakkan pistol yang ia rebut pada gembok penjara yang berisi sang istri.


"Bawa ke bawah segera Tony, aku juga sudah menelpon ambulan, cepat," titah Adrian yang setelah itu mendekati Magda yang tewas dengan luka mengenaskan tepat di jantungnya. 'Cinta boleh membelenggumu dalam hal apapun, kecuali menghilangkan logikamu dan bertindak bodoh'.


Dor!


"Arrghhhh" Tony memekik hingga akhirnya jatuh sambil tetap memeluk Laura yang pingsan karena dipukul kepalanya oleh anak buah Danang.


Dor... Dorr!


"Arrgghhhhhh" teriakan melengking terdengar menyayat hati.


Adrian yang terhenyak akan tembakan Danang yang tepat mengenai kaki kiri Tony langsung melakukan balasan dengan menembak kedua tangan lelaki licik itu.


"Fuhhh.. Harusnya sudah ku tembak saja jantungmu dari tadi. Kau merepotkan saja," kesal Adrian yang berjongkok di dekat Danang. tembakan pada kedua tangan Danang pada jarak dekat membuat luka cukup lebar hingga tangan itu bersimbah darah.


Fadli yang baru tiba langsung mendekati sangg majikan untuk membantunya berdiri.


"Bawa Laura ke ambulan Fad, aku baik-baik saja," titah Tony pada sang tangan kanan. Fadli mengangguk seraya menggendong sang nyonya ke bawah.


"Ayo. Semuanya sudah selesai." Uluran tangan Adrian digenggam Tony hingga mantan rivalnya dan juga sahabatnya itu memapahnya turun.

__ADS_1


"Terima kasih Add," Adrian mengangguk dan terus berjalan menyusuri tangga hingga ke lantai bawah.


__ADS_2