
Dengkuran halus terdengar sangat dekat dengan telinga. Bahkan rasanya seperti ditiup-tiup di bagian leher.
Ara mengerjap, menyadari keadaan kamar mereka yang masih gelap. Situasi seperti itu membuatnya ingin memejamkan mata kembali, melanjutkan mimpi yang sempat tertunda. Tapi ... Tidak! Tidak untuk kali ini!
Siapa yang mau mengulangi mimpi dikejar Angsa. Sudah capek karena berlari, sakit juga terasa di kaki akibat kena paruh angsa yang menjadi senjata andalan hewan itu jika diganggu.
Hampir semua anggota badan terasa sakit, serasa bukan mimpi.
Ara menggeliat, melemaskan otot-otot tubuhnya. Tanpa disadari, kepala Adrian bergeser hampir jatuh. Untung saja wanita itu menangkapnya dengan cepat. Pantas saja rasanya seperti ditiup. Rupanya lelaki itu menyusupkan kepalanya dileher sang istri, belum lagi beban tubuh Adrian yang menindih tubuh Ara, meskipun tidak seluruhnya namun cukup membuat kaki dan sebelah tangannya kesemutan.
Beberapa lama dalam diam, Ara tersenyum melihat nyenyakya tidur sang suami sehabis menggila semalam. Jangan ditanya lelahnya, Ara hanya pasrah saat sang suami memintanya lagi.
Mendadak rasa bahagia membuncah di dadanya. Entahlah, rasanya bahagia melihat lelaki itu puas. Bahkan aroma percintaan yang kental masih tercium dari tubuh mereka pagi ini.
Lengan yang wanita itu regangkan kesamping, tanpa sengaja menyenggol ponsel diatas nakas.
"Hah!" Wanita itu memekik saat melihat penunjuk waktu di layar ponselnya. "Ini ... Ini ... Mas bangun! Kita terlambat!" bersuara sedikit lantang, Ara berharap bisa segera membangunkan sang suami.
"Hemm ... Ayo tidur lagi, Sayang," sahut Adrian yang hanya berpindah tempat. Lelaki itu malah berganti membelakangi ara sambil memeluk guling.
"Masss ... Ini sudah siang. Kita bisa terlambat ke tempat Dani," ocehan Ara terdengar sangat nyaring di telinga Adrian. Istrinya itu sudah seperti emak-emak yang memarahi anaknya.
"Memang sekarang jam berapa, Sayang?"
"Jam 11 siang!" Ara menjawab ketus. Ia kesal karena penyebab semuanya tetap saja lelaki yang disampingnya itu. Coba saja kalau Adrian tidak seganas itu semalam, saat ini mereka sudah pasti ada di Lausanne bertemu Dani.
"Ohh, ya sudah mandi sana. Atau mau mandi bersama denganku untuk mempersingkat waktu?"
Puk! Ara menepuk dahinya sendiri mendengar komentar sang suami. Lelaki itu bukannya panik atau memberikan solusi namun justru menanggapinya dengan santai dan bercanda pula.
"Lalu Mas meneruskan kembali yang semalam dan akhirnya kita pulangnya mundur satu hari begitu? Enak saja!" sengit Ara.
"Aku rela mundur bebrapa hari jika kau menyetujuinya, Sayang." Lelaki itu menaikturunkan alisnya. Lihat saja senyum usilnya yang menggoda itu. Ingin sekali Ara mengacak-acak rambutnya.
"Aku hanya mengatakan satu hari, mengapa Mas malah menambahnya?" Ara melotot, mengeraskan rahangnya kemudian menggigit giginya hingga bergemeletuk menunjukkan kemarahannya.
Namun apa daya. Memang Ara bisa marah? Adrian malah tertawa terbahak mengejek wajah sang istri yang sengaja dilipat berkali lipat namun malah tampak menggemaskan baginya.
"Aku ulangi, Sayang. Kesempatanmu untuk berpikir hanya 10 detik. Mandi sendiri atau bersamaku? 10...9...." Dan Adrian menghitung dengan sangat cepat, membuat sang istri panik.
"Sebentar, Mas curang kenapa cepat sekali menghitungnya," protes Ara. Dimana ucapannya sama sekali tidak didengarkan oleh sang suami.
__ADS_1
Wanita itu bergegas turun sambil menarik selimutnya. Namun Adrian menahannya. Hitungan waktu yang terus berjalan, membuat Ara pasrah kemudian kabur ke kamar mandi tanpa mengenakan apapun.
Lelaki itu terpana. Dia baru menyadari setelah sekian lama bersama, istrinya yang menggemaskan itu memang di luar dugaan tingkahnya.
Mereka sudah menikah setahun lebih. Tidur bersama sudah tidak terhitung bukan jumlahnya. Berganti pakaian bersama di kamar juga sudah biasa. Intinya yang namanya suami istri sudah pasti tahu seluk beluk apapun yang dimiliki pasangannya.
Namun wanita itu masih malu-malu jika secara langsung terlihat Adrian tanpa mengenakan apapun. Ironis bukan? Tapi begitulah kenyataannya.
Dan tanpa disadarinya, hal itulah selalu membuatnya rindu saat mereka jauh. Tingkah laku Ara yang membuat lelaki itu menggeleng berkali-kali.
Setelah bergantian membersihkan diri. Ara merapikan seluruh pakaiannya dan sang suami ke dalam koper. Hari ini juga, mereka check out hotel dan langsung menuju Lausanne menaiki kereta.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hai Carla, dimana Dani?" Adrian yang merasa sudah dekat dengan wanita itu langsung menyapanya begitu masuk rumah.
"Hai, kalian baru datang? Dani ada kegiatan sore ini. Dia masih keluar mencari beberapa hal sebelum masuk asrama. Kalian ingat kan? Dia harus masuk asrama sore ini. Aku sudah menunggu kalian dari pagi. Kukira kalian akan kesini pagi tadi untuk menghabiskan waktu bersamanya," jawab Carla yang sedang memasak kue di dapurnya ketika mereka datang.
Ara dan Adrian saling berpandangan. Drama pagi tadi tidak mungkin mereka ceritakan pada Carla bukan?
"Maafkan kami. Semalam kami kelelahan karena liburan bersambung ini. Kami terlalu bahagia hingga berkeliling kota tua tanpa menggunakan tram. Kaki kami pegal dan jadinya kami kesiangan," ucap Ara mengungkap alasan paling aman.
"Tidak apa-apa. Kalian juga pasti belum terbiasa disini. Apalagi musim dingin seperti ini," ucap Carla sambil menghidangkan kue buatannya yang masih hangat. "Silahkan."
"Mana mungkin? Bukankah Daddy sudah janji mau pamit padamu." Adrian berdiri, kemudian mengikuti sang anak yang masuk ke sebuah ruangan untuk mengemas beberapa barangnya.
Ara memilih berbincang dengan Carla. Selain karena alasan seperti biasanya, ia juga tidak ingin mengganggu dua orang yang sebentar lagi akan terpisah lama itu.
Melepas rindu adalah hal yang membahagiakan namun sebenarnya yang paling berat bukanlah tidak bertemu, tapi bertemu yang akhirnya berpisah lagi.
"Hati-hati Dad. Sayang sekali aku tidak mengantar ke Zurich. Liburku telah usai, aku harus kembali ke asrama." Setelah selesai berkemas, anak lelaki itu duduk disebelah ayahnya.
"Kamu yang harus hati-hati. Jaga diri dengan baik. Tidak ada siapapun yang bisa Daddy titipi disini." Adrian mengacak rambut sang anak. Mengungkapkan sayang lewat aksi itu. Lelaki itu rindu bermain basket dan juga berdebat dengan anak satu-satunya itu.
"Apa Daddy lupa aku sudah besar? Berhenti menganggapku anak kecil, Dad! Daddy bisa menghubungi Carla jika tidak bisa terhubung denganku. Nanti aku kirim nomornya. Penggunaan ponsel sangat dibatasi disini. Saking terbiasa malah aku sampai lupa jika memiliki benda itu."
"Baiklah ... Daddy antar sampai kedepan gedung. Pamitlah, dengan mereka ... Juga ... tantemu." Adrian ragu mengucapkannya. meski begitu ia memiliki harapan pada setiap ucapannya jika suatu saat anaknya itu bisa menerima istrinya sebagai bagian dari keluarga mereka. Itulah mengapa lelaki itu berulang kali mengingatkan meski Dani jarang melakukannya.
Dani memasang tas punggungnya, juga jaket tebal yang membungkus tubuhnya. Adrian sengaja tidak mengikuti anaknya berpamitan. Dia memilih menunggu di depan.
"Sudah?"
__ADS_1
Dani mengangguk. "Ayo, Dad!" Anak itu berjalan mendahului sang ayah. Seperti remaja biasa lainnya, ada rasa senang dan bangga saat sang ayah mengantarkannya sampai di depan gedung sekolahnya.
Ayah dan anak itu berpelukan. Sedikit nasihat Adrian selipkan kembali pada anak lelakinya itu. Kemudian Dani pamit untuk masuk dan Adrian menatap punggungnya hingga hilang di balik pintu gerbang.
Lelaki itu berjalan gontai kembali ke rumah Carla. Ternyata, mengantar putranya bersekolah membuatnya sebangga ini menjadi seorang ayah. Hal yang tidak pernah ia lakukan dulu, karena sibuk bekerja dengan alasan kebahagiaan bagi sang putra. Dan ritual seperti ini selalu Dani habiskan dengan sang sopir dan terkadang sang oma. Bahkan pertemuan wali murid saja bukan ayahnya yang hadir namun wanita paruh baya itu. Mungkin hal itu jugalah yang membuat rasa sayang yang dimiliki Dani, berkali lipat pada neneknya daripada ayahnya sendiri.
Jarak antara gedung sekolah dengan rumah Carla tidak jauh. Hanya lima menit berjalan, Adrian sudah sampai kembali di halaman rumah wanita yang menjadi semacam ibu asuh bagi para pelajar pendatang seperti Dani.
Ara menyambut disana. Wanita itu berdiri sambil memeluk erat jaketnya.
"Kenapa menunggu di sini. Suhu mulai menurun," ucap Adrian merangkul tubuh sang istri dan membawanya masuk.
"Sayang, apa ... Dani tadi pamit padamu?"
"Hah? Oh ... Iya Mas," Ara kaget mendapat pertanyaan itu dari sang suami. Untung ia dapat mengatasinya.
"Kau tidak berbohong, kan?" Mata Adrian menatap lekat wajah sang istri. Mencari kebohongan disana namun tidak ia temukan. Wanita itu penuh senyum tulus menatapnya.
"Kita langsung ke bandara dan pulang?" tanya Ara.
"Oke ... Sepertinya kau sudah rindu dengan Indonesia? Home syndrome?" tebak Adrian pada istrinya.
"Aku rindu dengan ranjang kita, Mas. Ingin sekali berguling-guling disana seharian," ucap Ara membayangkan ranjang empuknya di rumah. Mau semewah apapun tempat lain. Rumah tetap menjadi yang ternyaman.
"Kalau aku merindukan hal lain yang berhubungan dengan ranjang, Sayang" ucap Adrian berbisik sambil menggoda.
"Mas ... Stop! Sepertinya aku harus menghapus file kejadian semalam. Kau terus saja mengingatnya!" kesal Ara sambil mendorong suaminya masuk. Akan lebih lama jika ia tidak segera menemui Carla.
"Car, kami pamit ya."
"Kalian pulang malam ini? Kenapa tidak besok saja Ara. Menginaplah disini dahulu, ada banyak kamar, " ucap Carla memohon. "Lihatlah udara dingin menusuk tulang, semakin malam semakin dingin."
"Tidak apa-apa, Car. O iya kami sangat berterima kasih atas segalanya," ucap Ara sembari merangkul wanita itu.
"Ah... Ini bukan apa-apa. Aku menyayangi mereka semua. Dani dan juga kawan-kawannya."
"Kami titip anak kami, selama disini ya, Car."
"Tenang saja. Kadang aku juga cerewet jika mereka melakukan sesuatu yang tidak baik," ucap Carla yang sudah menganggap para anak muda itu seperti anaknya sendiri.
Mobil yang akan menjemput sudah datang. Mereka saling peluk tanda perpisahan kemudian mobil yang membawa Ara dan Adrian meluncur menembus jalanan yang dipenuhi salju.
__ADS_1
😁Terima kasih yang masih setia
like dan komennya aku tunggu ya😚