
Ini hari yang membahagiakan. Tidak boleh ada air mata. Puncak dari segala rasa sedih, kecewa, dan bahagia diwaktu- waktu yang telah berlalu adalah hari ini. Selalu ada pelangi sehabis hujan bukan?
Tidak ada acara resmi seperti perayaan ulang tahun pada umumnya. Hanya menyambut kedatangan Adrian dan Ara kemudian beramah- tamah. Dani mengedepankan konsep seperti ini, karena menurutnya hal seperti ini tidak kaku.
Hal itu juga yang mendasari ia hanya mengundang 150 orang terpilih yang tentunya hampir seratus persen ia kenal.
Pemuda tampan ini merasa aneh ketika ia datang ke acara seseorang namun hanya sebagai formalitas saja. Berjabat tangan, basa basi, makan, kemudian pulang. Tidak ada kedekatan atau jalinan sama sekali dalam berkomunikasi. Semuanya lebih banyak atas dasar sebuah kepentingan. Dia tidak ingin acara yang ia adakan hari ini berakhir seperti itu.
"Usap air matamu, Sayang," bisik Adrian yang kini memeluk sang istri dari belakang. Jemari lelaki itu bergerak lembut membantu sang istri menghapus jejak yang tertinggal di pipi sehalus porselen itu.
Tanpa canggung, lelaki itu bergelayut mesra di bahu Ara. Menuntun wanita yang dicintainya itu menyalami setiap tamu untuk mengucap terima kasih atas kehadiran mereka.
"Banyak sekali yang datang, Mas," ucap Ara ketika dilihatnya masih banyak orang mengantri untuk menjabat tangannya dan sang suami.
"Tidak, ini hanya sedikit Sayang. Sepertinya Dani hanya mengundang orang- orang yang kita kenal saja." Mata Adrian meneliti dengan seksama. Ya, sebagian besar dari mereka sangat dikenalnya.
"Oma Esther datang terlambat, Ma. Bersama Sinta dan bu Sri, karena di panti asuhan sedang ada acara juga. Sedangkan kakek dan nenek tidak bisa hadir karena aku mengabarinya mendadak. Ada banyak pesanan yang harus diselesaikan hari ini." Dani mengusap rambutnya pelan.
Sungguh, ia harus pelan- pelan mengeja kata 'mama'. Pemuda itu mencoba membiasakan diri dengan panggilan barunya untuk Ara.
Padahal sebenarnya, Dani ingin semua orang yang berhubungan dengan sang ibu bisa hadir. Namun ia malah kelupaan menyampaikan lebih awal pada Oma Esther, akibat semua hal ingin diurusnya sendiri.
Pak Santo dan bu Santo mencoba sebisa mungkin profesional terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka mengedepankan loyalitas mereka pada pelanggan.
"Baiklah. Lalu yang lainnya?"
"Tante Mela juga terlambat. Dia masih ke salon." Dani nampak kesal menyampaikannya. Karena pemuda itu tahu, bahwa Mela sengaja mempercantik dirinya karena nanti disini pasti akan bertemu Elang.
"Biarkan saja, Dan. Namanya juga sedang berjuang mendapatkan hati seseorang. Bantu mama dan daddy menemui mereka ya, mama banyak yang tidak kenal dekat," pinta Ara yang mengedikkan dagunya pada beberapa orang yang merupakan petinggi di perusahaan. "Kamu yang lebih dekat dengan mereka sekarang."
Dani hanya mengangguk paham. Berikutnya ia menuruti amanah sang ibu dengan menyapa beberapa orang yang nampak berbincang santai.
"Sayang, kenapa Oma tidak dipanggil kalau mama dan daddymu sudah datang," sapa Aimi pada Merra yang mendadak masuk dari luar sehabis sejenak beristirahat.
"Merra lupa Oma. Maaf," cicit Merra yang sedang asyik melahap puding di piringnya.
"Ya ampun ... Tante juga datang," pekik Ara yang tidak menyangka jika Dani mengundang mereka jauh-jauh dari Jepang. Dan yang lebih mengesankan tentu kedatangannya pada perayaan kecil yang bahkan tidak begitu penting ini.
"Tentu saja. Aku kangen dengan kalian." Aimi langsung memeluk Ara menumpahkan rasa rindunya pada wanita itu. "Kalian lama sekali tidak ada kabar, tiba-tiba aku memiliki cucu si cantik itu," tunjuknya pada Merra yang tengah duduk dengan yang lain.
"Kejutan bukan Tante. Aku juga terkejut saat menemukannya," liriknya pada sang istri. Aimi sudah mendengar sendiri kisah perginya Ara dari Adrian langsung. "Aku kehilangan satu, namun Tuhan mengembalikannya menjadi dua." Senyum bahagia Adrian mengembang sempurna.
"Jagalah dia baik-baik, Add." Aimi menonjok lengan sang keponakan yang tersenyum usil pada sang istri. "Sayang sebelah sini." Aimi tiba- tiba berteriak kecil sambil melambaikan tangannya pada seseorang.
__ADS_1
Rupanya sang suami baru saja tiba disana. Setiyo membalas lambaian sang istri. Lelaki itu nampak berjalan beriringan dengan seorang gadis muda yang tidak asing dimata ara maupun Adrian.
"Selamat ulang tahun pernikahan, ya. Maaf Om terlambat, ada beberapa urusan yang tidak bisa ditunda." Setiyo memeluk Adrian sambil menepuk bahunya kemudian bergantian memeluk Ara.
"Ini ... Kalian pasti sudah kenal," ucap Setiyo menarik maju gadis cantik blasteran Swiss- Indonesia yang menampakkan senyumnya sedari awal datang.
"Selamat ya. Semoga pernikahan kalian sejati. Aku senang sekali mengenal kalian. Cerita cinta kalian benar-benar mengharukan," ucap Pauline. Gadis yang mereka berdua kenal saat mengunjungi makam Akio di Swiss. Pauline juga merupakan teman Akio di bangku kuliah.
"Kamu, tahu cerita kami darimana?" tanya Adrian menelisik. Tidak mungkin tantenya itu menceritakan hal pribadi keluarga pada orang lain.
"Emm ... aku...." Pauline nampak gugup menjawab.
"Aku yang menceritakannya. Bukankah kisah cinta kalian memang benar-benar mengharukan? Bahkan aku rela mundur, padahal sebenarnya aku masih berhak berjuang," ucap Akio yang tiba-tiba keluar dari kerumunan para tamu yang ada disana.
Lelaki blasteran Jepang itu berjalan mendekat kemudian berhenti tidak jauh dari tempat Pauline berdiri.
Semuanya masih sama tidak ada yang berubah. Sosoknya yang tegap, masih setampan Hideaki Takizawa. Lelaki itu seakan memiliki bahan pengawet pada tubuhnya hingga ia sama sekali tidak kelihatan menua. Apalagi sisa- sisa sakitnya terakhir kali. Sama sekali tidak terlihat.
Bukan hanya Adrian yang kaget tapi juga Ara, Dani dan juga semua orang yang mengenal Akio dan mengetahui kabarnya yang terakhir kali.
Sakit.
Dan meninggal.
"Kau...." Adrian sampai mendekap sang istri yang sama kagetnya dengannya.
Adrian menatap Setiyo dan Aimi yang pasti menunjukkan raut wajah bersalah pada keponakannya itu.
"Om dan Tante tahu semua ini?" tanya Adrian menatap tajam keduanya. Tangannya merengkuh sang istri yang perlahan ia geser di balik punggungnya.
"Jangan salahkan mereka. Akulah yang meminta menyembunyikan kesembuhanku. Karena mereka juga baru tahu setelah jasad palsu itu dikuburkan beberapa lama. Ternyata, merelakan cinta pertama sesakit itu."
Mata Pauline basah. Tanpa disadari siapapun, gadis itu menunduk. Begitu menyedihkan menjadi dirinya saat ini. Kehadirannya bagaikan makhluk tak kasat mata disini, bahkan perasaannya pun tidak lagi dihargai.
Sepertinya, keputusan yang ia ambil untuk menerima ajakan Akio ke rumah ini adalah salah. Gadis itu pikir, Akio benar-benar ikhlas melepaskan Ara setelah banyak drama kehidupan menimpanya. Namun ternyata..
"Kio!" Mata Aimi menatap tajam sang anak. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Pauline saat ini. Meski Aimi tidak tahu hubungan Akio dan gadis itu sejauh apa, namun keterkejutan dan diamnya Pauline hingga menunduk seolah mengatakan segalanya.
"Sebentar, Ma. Biar aku yang bicara," ucap Akio tenang. "Aku memang sakit Add, itu bukan tipuan. Dan aku sembuh total seperti sedia kala, juga bukan tipuan. Aku hanya memalsukan kematianku sendiri, yang mungkin menyakitkan bagi kalian semua."
Pauline yang sudah tidak ingin mendengar kata-kata Akio lebih jauh karena ia takut sakit hati, segera mundur perlahan. Gadis itu hendak melarikan dirinya sendiri dari semua hal yang mungkin akan menyakitinya.
Namun tanpa ia sadari, lengan kekar Akio dengan sigap menangkap tubuhnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Ki. Biarkan aku pergi," pinta Pauline yang tidak sanggup menatap lelaki yang ia cintai dengan nyawanya ini. Bahkan sampai tadi di depan gedung, semua masih baik-baik saja. Entah apa yang terjadi dengan Akio.
"Kamu harus tetap disini!" Akio merengkuh erat tubuh Pauline tanpa membiarkannya mendapat celah sedikitpun. Gadis itu pun terlihat rapuh, dan berurai air mata. Dan sayangnya Akio tidak melihatnya.
"Apa maumu, Ki?" tanya Adrian yang sudah sangat kesal atas semua kebohongan yang sudah dilakukan sepupunya itu.
"Kalau aku menantangmu untuk bersaing dengan cara laki-laki, apakah kamu mau melepaskan istrimu jika kamu kalah?" tantang Akio yang membuat kedua orang tuanya dan juga Adrian semakin naik pitam.
"Apapun, yang jelas aku tidak akan mengalah! Dan aku tidak akan pernah menyerahkan istriku dengan mudah. Dia milikku, yang akan kujaga dengan nyawaku," Adrian berucap lantang dan tegas.
"Aku bukan barang yang bisa kalian perebutkan! Aku adalah milik diriku sendiri. Dan dengar, Kak! Kita memang pernah dekat, tapi sejak aku menjadi istri mas Adrian maka aku adalah miliknya dan aku hanya mencintainya. Kemarin, saat ini ataupun selamanya. Jadi jangan buang waktumu untuk melakukan hal yang tidak ada gunanya. Hargailah aku dan perasaanku." Ara berucap keras untuk menyadarkan Akio tentang obsesinya yang tidak benar itu.
"Apa kau bahagia dengannya?" Pertanyaan yang diajukan Akio tertuju pada Ara.
"Kenapa kau masih bertanya? Aku yakin kau tetap mencari informasi tentangku meski kau berada di belahan bumi yang lain. Lihatlah, bahkan ketika aku sudah meninggalkannya, aku tidak dengan benar-benar bisa melupakannya begitu saja. Begitupun mas Adrian. Kami sama- sama hancur saat harus berpisah." Ara dengan segenap hatinya berusaha menyadarkan Akio, bahwa perasaan lelaki itu yang tertuju pada orang yang tidak tepat.
"Jadi, tidak ada kesempatan untukku?"
"Ada. Kesempatan untuk membuka lembaran baru. Bukankah kita seringkali mencintai orang yang salah sebelum dipertemukan dengan orang yang tepat?" nasihat Ara dengan bijak.
"Kau dengar kan Pau apa yang Ara katakan. Seribu langkah dan carapun yang akan aku lakukan untuk mendapatkannya, dia tidak akan pernah bisa mencintaiku karena dia hanya menganggap aku kakaknya. Dan sampai saat ini, kau masih meragukan perasaanku padamu. Aku tidak mau hanya menjadi temanmu Pau."
"Apa maksudmu, Ki?" Mata Pauline sudah merah menahan isakan yang akhirnya ia keluarkan.
"Bukankah kau yang mengajukan syarat untuk menikah denganmu jika ayahmu berhasil membuatku sembuh? Meskipun katamu, aku belum memiliki perasaan padamu. Bahkan kau mengatakan akan berjuang untuk mendapatkan hatiku seumur hidupmu. Lalu mengapa kau berubah setelah kedatangan Ara ke Swiss dulu?" ucap Akio lirih. Dia tidak lagi berbicara selantang tadi.
Pauline terperangah. Ia memang berubah sejak kepulangan Ara dan Adrian saat itu. Pauline tidak ingin memaksakan perasaanya. Ia sadar, cinta adalah antara dua orang. Jika hanya satu orang, pasti akan berakhir menyakitkan.
Sungguh berat membiarkan hatinya ikhlas hanya sebagai teman untuk lelaki tampan teman kuliahnya itu. Namun memaksanya pun akan semakin menyakiti dirinya sendiri.
"Pau Pau, aku sudah membuat drama ini untuk meyakinkanmu. Terlepas dari Ara yang hanya mencintai sepupuku. Aku pun telah berusaha melupakannya. Dan kau masih ragu padaku?"
"Tapi, kata-katamu itu nampak dari hati dan ... itu menyakitkan Ki." Pauline menautkan kedua tangannya, ia masih tidak percaya kalau Akio hanya bermain drama.
Kio memijat pelipisnya, pening rasanya memikirkan cara apa lagi untuk meyakinkan gadis yang beberapa tahun terakhir menjadi dunianya ini. Namun sama sekali tidak ingin terlibat secara perasaan lagi.
"Add! Tolong bantu aku jangan diam saja."
"Kau gila! Mempermainkan perasaan orang dan membuat istriku menangis," Adrian yang geram masih bisa menahan diri pada akhirnya. Lelaki itu memeluk sang istri yang menangis sesenggukan di dadanya. Karena ucapan Akio benar- benar mengaduk hatinya.
"Kio, kamu keterlaluan! Kamu merusak acara sepupumu sendiri hanya untuk kepentinganmu," kesal Aimi pada anak lelakinya itu.
"Maaf." Akio masih merengkuh tubuh Pauline erat. Lelaki itu menunduk putus asa. Kakinya melangkah keluar ruangan menggandeng Pauline yang hanya terdiam.
__ADS_1
"Maafkan Kio ya, Sayang. Maafkan kami juga." Aimi mendekat pada pasangan suami istri yang menjadi pusat perhatian itu.
"Sudah, Tante. Ini hari bahagia, mungkin Kakak hanya bingung memperjuangkan cintanya. Biarkan saja mereka menyelesaikan urusan mereka di luar." Ara cepat- cepat menghapus air matanya, ada banyak tamu disini. Paling tidak jangan berlarut- larut karena harus menghargai para tamu juga.