
"Emmpph... Masss," baru sebentar Adrian melepaskan ciumannya, lelaki itu sudah menarik tengkuk istrinya kembali.
Entah siapa yang memulai lebih dulu. Namun Adrian yang sudah panas dingin dari sejak sang istri membaringkan tubuh disampingnya, langsung melancarkan serangan mendadak tanpa terkendali.
Lelaki itu mengangkat tubuh dingin sang istri keatas pangkuannya, dengan bibir masih saling berpagut. Tangannya memeluk erat pinggang Ara, memberikan keyakinan pada gadis itu atas perlakuannya.
Dan Ara, sungguh cinta membuatnya terhipnotis. Ia hanya menurut dan mengikuti nalurinya. Membalas pagutan Adrian, dan membiarkan lelaki itu membawanya lebih dekat.
"Kau ingat janjimu kan?" Ara mengangguk, lidahnya kelu hanya untuk menjawab iya. Memandang Adrian dari dekat dan dengan tempo yang lama membuat jantungnya tidak baik-baik saja.
Sungguh, Ara hanya seperti orang bodoh yang terpaku menatap ketampanan Adrian. Diam-diam gadis itu tak henti memuja suaminya. C
"Ciumlah aku," titah Adrian. Ara meneguk salivanya cepat. Selama ini selalu Adrian lah yang memulai, jika ia berani lebih dulu pun pasti hanya mengecup saja. "Ayo.. tanganku sudah kuat menopang tubuhku, apalagi tubuhmu. Kau sudah membuktikannya kan? " Adrian berbisik mesra dengan senyum smirk yang tidak dapat dilihat sang istri.
Gadis itu beringsut maju. Dengan jantung yang seakan lupa berdetak ia memberanikan diri. Kemudian dihelanya napas dalam-dalam, demi menetralkannya. Dan tanpa aba-aba ia segera menabrakkan bibirnya pada bibir suaminya.
Adrian langsung merespom ketika merasakan benda kenyal nan hangat itu menyerahkan diri. Digigitnya bibir atas kemudian bawah dan lidah lelaki itu lincah menari di dalam mulut sang istri.
Ara sampai terengah, namun ia hanya pasrah. Jiwa dan raganya adalah milik Adrian yang tertunda. Setidaknya, lelaki itu sudah sabar menanti selama ini.
Melihat sang istri kehabisan napas, lelaki itu melepaskan pagutannya. Ia mengalihkan bibirnya di telinga sang istri, memutar lidahnya disana kemudian menyusuri leher jenjangnya. Mengendus, mencium, dan meninggalkan jejak kepemilikan disana hingga membuat sang istri menggeliat.
Dengan satu tangan, dilepasnya tali kecil yang berada di bahu istrinya itu. Hingga kain hitam itu melorot dan menampakkan bukit kembar nan indah milik istrinya.
Adrian terpana. Tubuh polos atas sang istri membuatnya kagum akan keindahannya. gadis itu tidak bisa dikatakan biasa, dia istimewa.
"Angkat wajahmu, kau kenapa sayang?" Adrian menarik dagu sang istri kehadapannya, kemudian mengecupnya lagi dan lagi seakan tiada bosannya.
"Aku malu, Mas," ucap Ara jujur. Lelaki itu perlahan mendorong wajahnya mengecup leher hingga pundak sang istri dengan bergairah. Hingga Ara meringis geli.
"Mas, jangan,"
__ADS_1
"Sstttt, kamu milikku," mata sayu dan berkabut milik Adrian mengerjap penuh dengan hasrat. Dengan sekali hentakan, kain yang tadinya masih menutupi tubuh bagian bawah sang istri terlepas. Dan kini telah polos seluruhnya.
Kemudian ia baringkan sang istri pelan-pelan. Berada di bawah Adrian dengan posisi seperti ini membuat Ara gelisah. Ini yang pertama kali baginya, sedangkan suaminya itu sudah berpengalaman. semoga ia tidak memalukn
Mata Ara membola menyadari bahwa kini suaminya itu juga dalam keadaan polos tanpa busana. Entah kapan lelaki itu melucuti pakaiannya, sampai ia tidak menyadarinya. Gadis itu memutar wajahnya ke kanan, ia jadi panas dan malu sendiri dengan keadaan ini.
"Hei, aku milikmu sayang, tidak boleh berpaling seperti itu," ucap Adrian yang langsung meraih dagu sang istri untuk kembali ke hadapannya.
Satu tangannya meremas benda bulat yang sudah berhasil merebut perhatiannya sejak tadi hingga membuat sang istri memekik geli, dan malah melingkarkan tangannya ke leher sang suami. Rangsangan demi rangsangan yang diberikan oleh Adrian terasa seperti aliran listrik yang sontak menyebar ke sekujur tubuh Ara, hingga tubuhnya bergerak gelisah dan makin mengeratkan rengkuhannya.
Oh Tuhan, Ara seperti berada di ruangan kedap udara, sesak.
Melihat sang istri sudah terbuai dengan sentuhannya. Tanpa menunggu waktu lama, Adrian melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Menuntaskan segala hasrat dan cinta yang berpadu jadi satu. Gadis itu hanya pasrah ketika suaminya itu membawanya hingga ke puncak nirwana.
Peluh keringat mereka yang menyatu membawa aroma percintaan yang kental. Dan deru napas yang memburu membawa gelombang panas yang mengelilingi.
Ara mengerjap, kemudian ia menjatuhkan kepalanya pada dada suaminya yang berbaring dengan mata terpejam. Senyum samar menghiasi bibir gadis itu, cintanya telah sempurna kepada lelaki yang berstatus suaminya itu. Juga kewajiban lahir batin yang menjadi hak sang suami.
Gadis itu terkejut, saat merasakan tangan hangat Adrian membelai puncak kepalanya. Hingga akhirnya mengangkat tubuh Ara menjadi sejajar dengan dirinya. Ternyata lelaki itu tidak sedang tidur.
"Kita sayang, bukan hanya aku," hembusan napas Adrian beserta ucapannya mampu menghipnotis sang istri hingga terpaku di depan wajahnya. "Terima kasih, benar kata Mommy. Kamu memang istimewa," diciumnya kembali bibir yang selalu menggodanya itu.
"Besok istirahat saja, ada Bibi Yulia di dapur yang menyiapkan semuanya. Dan satu lagi, dirumah saja, ok," lanjut Adrian memberi ultimatum sang istri.
"Aku tidak apa apa, Mas. Lagipula aku melakukannya tanpa terpaksa. Barkan aku seperti biasanya," jawab Ara dengan jemari yang lincah mengukir gambar abstrak di dada suaminya.
"Terserah padamu, lakukan apapun yang kamu sukai," ucap Adrian sambil memejamkan mata. Ia hanya tersenyum samar mendengar jawaban sang istri. Kita lihat saja besok pagi, ucapnya dalam hati. 😂
Dan pasangan suami istri itu kemudian terlelap menuju pulau mimpi. Saling tersenyum lega, berpelukan penuh cinta.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jarum jam menunjuk di angka 6. Adrian yang sudah rapi dengan jas abu-abunya hanya mencetak senyum tipis dibibirnya. Ketika dilihatnya sang istri masih berada di dalam selimut yang bergulung macam kepompong di atas ranjangnya.
Lelaki itu mendekat ke cermin, merapikan kembali dasinya. Dari cermin terlihat gulungan itu bergerak-gerak hingga wajah khas bangun tidur sang istri nampak disana.
"Mas, jam berapa sekarang? Kenapa kau sudah rapi begini?" tanya sang istri masih menggeliat malas di dalam selimut yang membungkusnya.
"Enam, sayang," tanpa rasa bersalah lelaki itu menjawab dengan lantang. Dan kemudian terdengar suara gedebug yang begitu keras dan tiba-tiba di belakangnya.
Sontak lelaki itu memutar tubuhnya dan segera berlari menghampiri sang istri yang terjatuh dari ranjang dengan masih mengenakan selimut.
"Kenapa Mas tak membangunkanku, ini sudah sangat siang. Aku malu dengan mommy," ucap sang istri dengan bibir mengerucut.
"Bukankah kemarin sudah kukatakan untuk beristirahat saja," tatap sang suami yang membuat Ara perlahan menunduk. Tiba-tiba kilatan kejadian semalam hadir kembali dalam pikirannya. Tentang pelukan, ciuman dan penyatuan antara mereka berdua. Hingga mencipta rona merah dipipi lembut gadis itu.
Sungguh, baru sekali ini ia berada dalam gulungan selimut tanpa selembar kainpun menutupi tubuhnya. Mendadak Ara meringis, menahan sesuatu yang sakit di bawah sana.
"Mau kubantu, sayang, " ucap Adrian lirih. Lelaki itu mendekatkan wajahnya kedepan sang istri.
"Tidak. Aku bisa sendiri, Mas. Lagipula kau sudah rapi." ucap Ara cepat. Seketika wanita itu mencoba untuk berdiri di atas kakinya, namun yang terjadi ia tersungkur kembali.
Tanpa menunggu lagi, Adrian mengangkat tubuh wanitanya itu ke kamar mandi.
"Mas tidak akan macam-macam kan,?" tangan wanita itu menggenggam erat selimut yang menutup tubuhnya yang masih dalam gendongan sang suami. Membuat sang suami mendengkus mendengar pertanyaan aneh semacam itu.
"Tidak. Untuk sekarang," diturunkannya perlahan tubuh sang istri, kemudian sebelum menutup pintu lelaki itu berucap, "Mandilah, aku tunggu di bawah, ya." Ara mengangguk dan segera melerai selimutnya.
Ceklek!
Belum lama menutup, pintu itu terbuka kembali. "Lain kali, aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Adrian dengan seringai samar di wajah tampannya. Membuat mata Ara membola, bahkan sentuhan semalam seperti meninggalkan jejak di tubuh wanita itu. Hingga aroma tubuh Adrian tercium ketika ia iseng mengendusnya.
"Ya ampun, Mas,"
__ADS_1