
"Kamu siapa? Keluar!! Kamu... " Lina panik, melihat seseorang yang tidak dikenalnya berani masuk ke dalam kamar.
"Mommyyyyy..tenang," ucap wanita berpakaian hitam yang perlahan hendak mendekat.
"Kamu? Mau apa kamu?" meski belum yakin, Lina tentu mengenali suara wanita yang bersembunyi dibalik kerudung hitam itu.
Andina membuka kacamatanya, pun kerudung hitam yang menutup kepala hingga wajahnya. "Rupanya mommy masih mengingatku. Tapi sayang, Mommy dan aku sekarang menjadi...mantan," wanita cantik yang wajahnya selalu penuh riasan itu mengucap getir.
"KELUAR !! Aku tidak ingin berbicara denganmu," bentak Lina sambil menekan dadanya. Napasnya terasa sesak akibat emosi, melihat mantan menantunya yang seharusnya tidak berada disana.
Plok... Plok.. Plok...
Andina bertepuk tangan sambil mengitari bed Lina. "Mommy sakit apa? Sepertinya tidak ada yang parah,"
"Bukan urusanmu? Ada perlu apa kamu kesini?" Lina berbicara tanpa melihat Andina, kesal yang menumpuk dari dulu membuatnya selalu membelakangi mantan istri Adrian itu.
"Ha.. Ha.. Ha.. Pasti mommy sakit karena kaget akan kelakuan anak mommy kan?" tebak Andina, yang sayangnya benar. "Adrian membuat perjanjian pra nikah yang wow.. Dan mengambil keuntungan dari gadis polos itu,"
"Tahukah mommy kalau mereka pandai bersandiwara di depanmu? Dan gadis itu adalah korban Adrian. Menyedihkan," Andina menarik napas panjang, seringai nampak jelas di wajah cantiknya.
Lina nampak gelisah, keringat dingin mulai nampak di pelipisnya. "Aku hanya percaya Adrian dan menantuku. Meskipun mereka berbuat salah ketika mengawali hubungan itu, tapi mereka saling mencintai pada akhirnya. Apa yang harus ku khawatirkan lagi?" menekan emosinya serta perasaan kalut yang mendadak muncul akibat ucapan sang mantan menantu, Lina mencoba mengatur napasnya untuk tetap stabil.
"Mommy... ayolah. Apakah orang berbohong serumit itu? Satu-satunya alasan, tentu saja untuk kepentingannya sendiri." Andina mendekat, menopang tubuhnya dengan kedua tangannya bertumpu pada sisi bed yang kosong.
"Rupanya mommy sudah jatuh hati pada menantu mommy yang baru itu?" Andina mengangguk-angguk, mengalihkan tangannya ke pinggang kemudian nampak berpikir.
__ADS_1
"Keluarlah! Kau hanya ingin mengacaukan pikiranku bukan, dan sayangnya tidak berhasil. Apa perlu kutunjukkan pintu keluarnya? Atau aku panggil perawat sekarang juga," bentak Lina yang tidak lagi ingin berbasa basi. Meskipun diluar nampak tenang, namun sebenarnya ia sedang benar-benar butuh pertolongan. Kepalanya berdenyut dan terasa sedikit berat dengan pandangan mata agak mengabur.
Andina berjalan menjauh seperti akan pergi, seringai tajam nampak menghiasi bibir tipisnya. "Menantumu sedang keluar, bukan?" wanita itu segera mengambil ponsel dalam tasnya, kemudian seperti menekan tombol untuk menghubungi seseorang.
"Halo. Kau sudah menemukan wanita bernama Ara? Bagus, bunuh dia! Jangan sampai lolos,"
ucap Andina seraya berjalan maju mendekat kembali ke bed Lina dengan masih meletakkan ponsel didekat telinganya. Ibu kandung Dani itu sengaja mengeraskan suaranya, supaya sang mantan mertua mendengarnya dengan jelas.
"Apa yang kau lakukan? Kau jahat sekali. Ara.. oh Tuhan, Sayang. Mereka hanya pergi berdua," Lina panik setengah mati. Ia khawatir dengan keadaan sang menantu, apalagi kepergian dua orang yang ia suruh membeli bubur ayam itu sudah cukup lama dan belum nampak tanda-tanda akan kembali.
Mendadak kepala Lina terasa semakin berat, wanita itu memegangi kepalanya yang rasanya seperti mau lepas dari lehernya. Matanya mulai mengerjap pelan mencari kesadaran. Tatapan matanya mengabur dan napasnya tersengal-sengal karena sesak.
"An.. Andina... kamu...," kemudian gelap menyelimuti.
Brukkk! Suara benturan terdengar keras hingga sudut ruangan. Lina ambruk dan jatuh dari bed setelah tubuhnya mengejang beberapa kali hingga selang infus yang menancap di punggung tangannya pun lepas dan mengalirlah darah segar dari sana.
Mendadak wanita itu panik, mendekati tubuh kaku Lina kemudian hampir saja ia menekan tombol nurse call yang ada disana. Namun ketika dia ingat bahwa jika kehadirannya di tempat itu ada yang mengetahui, maka akan menjadi bumerang bagi dirinya. Pada akhirnya wanita itu mengurungkan niatnya. Menanggalkan sisi kemanusiaan yang sebenarnya masih ada diantara ketakutan akan akibat perbuatannya, mengantakannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Ya, wanita itu kabur tanpa memberikan sedikitpun pertolongan pada seseorang yang pernah menjadikan ia keluarganya belasan tahun yang lalu itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Masss...., " Ara bangkit kemudian menghambur kepelukan Adrian begitu melihat sang suami datang.
"Kenapa? Ada apa dengan mommy?" tanya Adrian dengan napas memburu, ia berlari di sepanjang lorong tadi bahkan lelaki itu datang sendiri tanpa sang asisten karena lima belas menit lagi akan ada rapat penting yang terpaksa ia tinggalkan.
__ADS_1
"Mommy jatuh saat aku keluar dengan Ardi. Mommy tidak mau makan sarapan paginya dan memintaku untuk membelikan bubur ayam. Padahal aku sudah mengatakan biar Ardi saja yang membelikan, tapi mommy tidak mau," menjeda ucapannya untuk mengambil oksigen Ara semakin erat memeluk Adrian. "Mom- mommy hanya mau aku yang membelikan, kemudian aku juga yang menyuapinya," Ara menangis pilu membayangkan kejadian saat ia tidak ada bersama sang mertua. Wanita yang sudah ia anggap ibu kandungnya itu pasti kesakitan tanpa ada yang membantunya.
"Sayang," Adrian membelai lembut punggung rapuh milik sang istri yang berada di pelukannya.
"Aku yang salah, Mas. Aku..yang salah. Harusnya aku tidak mau pergi, harusnya aku membantah saja," ucap Ara menyalahkan dirinya sendiri membuat sang suami semakin sedih mendengarnya.
"Sstttt... Kamu sudah melakukan yang terbaik, kita doakan mommy ya," ucap Adrian mencoba menenangkan.
Dari jauh, terlihatlah seorang Dokter berjalan menuju mereka bedua. "Pak," Dokter itu mengangguk kemudian mendekati suami istri itu.
Gurat cemas terlihat, meski lelaki tampan itu mengemasnya dengan setenang mungkin. Apalagi dia harus menenangkan sang istri yang tangisnya belum mereda sama sekali.
"Nyonya Lina mengalami lonjakan tensi yang sangat tinggi, hingga beliau kejang-kejang sehingga menyebabkan pembuluh darahnya pecah, Pak. Beliau koma, dan kami harus merawatnya di ICU,"
"Sayang!" Adrian berteriak memanggil sang istri. Dengan sigap tubuhnya menjadi tumpuan Ara yang mendadak lemas dan tidak sadarkan diri mendengar kata koma yang diucapkan Dokter yang menangani sang mertua.
"Dibawa ke kamar Nyonya Lina saja, Pak," ucap Dokter pada Adrian yang menggendong sang istri menuju kamar yang sebelumnya ditempati oleh sang ibu.
Setelah membaringkan Ara disana, lelaki itu bercakap-cakap dengan sang dokter tentang penanganan ibunya. Dokter hanya mengatakan bahwa besok akan ada lagi hasil pemeriksaan lanjutan yang akan di berikan pada pihak keluarga. Dan sebelum pergi, Adrian menanyakan tentang naiknya tekanan darah sang ibu yang melonjak tajam padahal tidak ada pemicu yang ditengarai.
"Menurut saya, ini juga janggal. Namun terkadang, kita manusia hanya bisa pasrah karena memang ada hal-hal di luar nalar yang terjadi tanpa bisa kita prediksi" ucapan dokter yang ini sangat membekas di kepala Adrian.
Adrian duduk di sofa, di raupnya berulang kali wajah kalutnya yang menyisakan kecemasan luar biasa. Ia bingung bagaimana menyampaikan berita ini pada sang putra. Kejadian sang ibu dirumah saja belum meredakan kemarahan anak lelaki satu-satunya itu. Baik pada Ara, maupun dirinya sendiri.
Saat ini, malah kejadian yang lebih parah berulang dengan kesalahan yang pasti akan Dani lihat sebagai kelalaian yang dilakukan oleh ibu sambungnya itu, lagi.
__ADS_1
Ya, Dani akan semakin benci pada wanita yang ia cintai itu. Apapun kebenaran yang akan ia katakan.