
Hari sudah malam. Dan disini, di St. Moritz udara semakin dingin, salju turun dihampir seluruh kota itu. Membekukan siapa saja yang keluar rumah, atau beraktifitas diluar ruangan. Membuat sepasang suami istri itu saling menempel tanpa ada sela. Pauline yang menyetir sendiri mobilnya mengantar sepupu dari sahabatnya yang sudah meninggal itu tersenyum geli. Dia bagaikan sopir yang mengantar pelanggannya.
"Ehem, sudah sampai."
"Oh maaf, kami ketiduran. Padahal tidak jauh," ucap Adrian yang menggoyangkan lengannya untuk membangunkan sang istri. Namun ternyata wanita itu masih tetap memejamkan matanya. Bahkan hampir saja Ara ambruk saat Adrian menarik tubuhnya kedepan. "Dia ketiduran,"
"Tidak apa-apa. Kalian pasti lelah karena belum istirahat sama sekali. resortmu dekat dari rumah ini kan?"
"iya, kau pasti sudah tahu tempatnya,"
"He em. menginap lah disini malam ini. Tapi maaf aku tidak bisa menemani. aku harus kembali ke rumah dibelakang makam Akio, karena setiap hari aku tinggal disana," Pauline menawarkan Adrian karena melihat lelaki itu nampak lelah.
"Besok saja baru ke resortmu, titipkan kunci rumah pada wanita yang membersihkan tempat ini besok,"
"Ok! Terima kasih ya Pal."
"You are welcome Adrian. Biar aku bantu membuka pintunya," Pauline mengurungkan niatnya menyerahkan kunci pada Adrian, ia yang akan membantu membuka pintu rumahnya karena Adrian harus menggendong istrinya.
setelah turun dan menunggu Adrian hingga masuk ke dalam, Pauline pamit. Ia mengendarai mobilnya seorang diri kembali menuju makan Akio.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sssssss," desisan Ara tetdengar lirih. wanita itu baru saja hendak membuka jendela seperti kebiasaannya di rumahnya sendiri. Namun melihat salju diluar, ia baru mengingat jika ia berada di negara lain. Pantas saja semalam sangat dingin meski menggunakan selimut yang tebal. Ia hampir saja mengomel pada suaminya untuk mematikan AC, lalu mengurungkan niatnya dan bangun dengan sendirinya. Ya, dua kata untuk Ara. Belum terbiasa.
Saat ini, Ara melipat diri dan bergumul dengan selimutnya di sofa. Matanya menatap sang suami yang tidur dengan nyenyak sambil memeluk guling. Itu perbuatannya, yang mengganti dirinya yang berada dalam dekapan suaminya dengan guling. Aneh, biasanya lelaki itu tahu, tapi tidak kali ini. Mungkin udara dingin membuatnya nyaman, karena dirumah Adrian memang lebih tahan AC daripada sang istri.
"Bangun Mas, kita liburan bukan untuk tidur,"
"Auwwwww," dengan satu tarikan, Adrian berhasil membuat sang istri yang duduk di sebelahnya untuk membangunkannya, kini berada penuh dalam kekuasaannya. Menggantikan guling yang dilemparkan Adrian ke sembarang arah.
"Beraninya kau menipuku! Hemm." suara khas bangun tidur milik Adrian yang sedikit seksi terdengar tepat di belakang telinga sang istri.
"Bukan aku! Mas sendiri yang ingin memeluknya. Aku malah di cueki tadi." protes Ara tidak mau kalah.
"Mana mungkin?" Adrian memicingkan matanya. Mendekap sang istri semakin erat dan menciumi tengkuk lembut yang terasa sedingin salju itu. "Aku bahkan hapal setiap inchi lekuk tubuhmu, hem...."
Suaranya mengancam menggoda.
"Mass...." Wanita itu berontak ingin lepas. Namun percuma bukan. Selain kalah tenaga ia juga kalah besar. Mana mungkin tubuh kecilnya bisa melawan kekarnya tubuh Adrian yang ada dibelakangnya.
"Nanti saja bangunnya. Temani aku disini dulu," Adrian kembali memejamkan matanya.
"Lihatlah ini sudah siang, lagipula ini bukan milik Pauline. Bagaimana jika orang yang bertugas membersihkan rumah ini sudah datang?" ucap ara mengkopi ucapan Pauline kemarin malam.
"Aku lupa jika kita tidak berada di resort kita. Ba_"
tok
tok
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya. Sarapan pagi telah siap."
"Iya terima kasih, Mam," teriak Adrian. "Baiklah, dengan sangat terpaksa kita harus bangun Sayang, ganti bajumu dan kita sarapan." Adrian membuka selimutnya, kemudian ke kamar mandi hanya untuk gosok gigi dan mencuci wajahnya. Setelahnya lelaki itu merapikan diri di depan cermin.
"Sebentar, Mas. Aku belum mandi," ucap Ara tidak mau ditinggalkan.
"Sedingin ini kamu mau mandi? Tidak mandi tidak apa-apa Sayang." Adrian yang sudah rapi mengernyit heran melihat tingkah sang istri.
"Mana mungkin tidak mandi. Aku bau, bukankah ada air hangat disini?"
"Iya, memang ada. Tapi biasanya jika musim dingin seperti ini, mandi sehari sekalipun tidak apa-apa. Karena kita tidak berkeringat Sayang, jadi kita jauh dari bau," jelas Adrian yang menjadi geli dengan istrinya. Wanita itu pasti membawa kebiasaan di Indonesia yang hanya memiliki dua musim, jadi wajib mandi karena keringat akan keluar terus menerus ketika kita beraktifitas. Apalagi untuk orang-orang yang memiliki aktifitas tinggi.
"Cuci muka dan sikat gigi saja. Aku tunggu."
Aa langsung kabur ke kamar mandi. Dia melakukan seperti yang suaminya katakan. Sekedar cuci muka dan sikat gigi. Benarkah ketika berada di musim dingin apalagi salju, tubuh menjadi tidak bau karena tidak berkeringat? Jiwa isengnya muncul. Di depan cermin, wanita itu mencium ketiaknya sendiri untuk membuktikannya. Dan ... ternyata benar kata sang suami. Wahh, bagaimana kalau tidak mandi berhari-hari? Tapi itu jorok sekali.
Mereka sarapan pagi sebentar, kemudian meninggalkan rumah Pauline setelah menitipkan kuncinya pada wanita yang bertugas membersihkan rumah gadis cantik itu. Tidak lupa melalui pesan Adrian mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang gadis itu berikan.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Are you ready?" tanya seorang lelaki berkebangsaan Swiss yang menantang Adrian untuk bermain ski bersama. Padahal mereka baru kenal disana, namun sudah akrab karena ini sudah ketiga kalinya bereka bertanding.
Adrian mengangguk, kemudian Adrian memacu papan ski-nya dengan beberapa kali menjejakkan tongkat yang ada didua tangannya.
Adrian sangat lihai. Terlihat memang jika ini bukan untuk kali pertama lelaki itu melakukan olahraga yang termasuk susah-susah gampang itu. Ia berlenggak lenggok tanpa jatuh sedikitpun. Bahkan bisa berhenti dengan tepat, tanpa jatuh dari atas papan ski-nya.
"Ayo Sayang, kau harus coba!" teriak Adrian samar-samar terdengar. Ia menyemangati sang istri yang semenjak datang ke area itu hanya diam memperhatikan setiap gerakan sang suami. Tangannya melambai meminta Ara mendekat. Namun Ara hanya diam saja menunggu suaminya itu kembali ke tempat awal lelaki itu meluncur.
"Ayo cobalah, ini asyik sekali Sayang. Apalagi jika kau jatuh di salju," ucap Adrian berusaha menarik perhatian sang istri.
"Mas menemaniku kan, kalau aku mau melakukannya? Sepertinya mudah, hanya tinggal mengikuti gerakan papan ski kita, kemudian sebagai kemudi dua tongkat yang ada di tangan bukan? "
"Hemm." Adrian mengangguk. Kemudian lelaki itu segera memasangkan kacamata yang berada diatas kepala Ara. Dan memastikan semua perlengkapan telah dikenakan dengan lengkap.
"Ayo Sayang, jangan takut. Aku akan mengawasimu, juga ada guide yang siap sedia membantu, Ok! Tadi sudah dilatih cara melakukannya kan juga teknik-tekniknya. Teori tidak akan ada gunanya tanpa praktek sayang!" lelaki itu kembali membakar semangat sang istri untuk bisa.
Ara mengangguk. Meskipun takut, namun melihat Adrian begitu mudah melakukannya ia menjadi penasaran.
Adrian membawa sang istri ke jalur pemula. Jalur yang ditandai dengan lingkaran hijau itu, memang digunakan untuk para pemula. Tentu saja dengan klasifikasi area yaitu, sedikit penghalang, tidak terlalu panjang juga bukan merupakan jalur cepat.
"Siap!!"
Ara menunjukkan ibu jarinya untuk menjawab sang suami. Kemudian sang suami memberikan aba-aba untuknya hingga siap meluncur.
"Aaaaaaaa...." teriakan keras Ara terdengar oleh Adrian ketika baru beberapa meter di depan start. Wanita itu jatuh terpeleset oleh papan ski-nya sendiri.
"Tidak apa-apa, kita ulang lagi! ok!"
Beberapa saat kemudian terdengar kembali teriakan istrinya itu. Kali ini wanita itu jatuh menyamping. Di area yang sama belum jauh dari titik start.
__ADS_1
Namun yang menjadi perhatian Adrian, saat ia jatuh untuk kedua kalinya, Ara tertawa terbahak. Tampak bahagia dan malah ingin mencobanya lagi dan lagi sampai ia bisa.
Amazing! Di percobaan yang kelima belas, Ara dapat meluncur meskipun pelan dan sering berhenti. Namun wanita itu sudah mampu menjaga keseimbangan tubuhnya hingga tidak kaku lagi seperti pada awal tadi. Kegigihan membuahkan hasil.
"Ayo Sayang, aku ada dibelakangmu," teriak Adrian yang memacu papan ski-nya pelan demi mengikuti gerak lambat sang istri yang tentu saja masih harus banyak belajar.
Lalu saat Ara berhenti tiba-tiba karena ingin beristirahat sebentar. Adrian meluncur dari belakang kemudian sedikit membungkuk dan melewati kaki sang istri.
"Aaaaaaaaaaa ... Massss...." Ara berteriak histeris namun setelahnya ia malah tertawa menikmati ulah suaminya.
Ya, Adrian meluncur dibawah kaki sang istri kemudian menggendong Ara di atas kepalanya sambil memacu papan ski-nya dan meluncur cepat ke bawah.
Euphoria dan ketakutan luar biasa menjadi satu pada diri Ara. Namun karena yang melakukannya adalah sang suami yang merupakan tempatnya berserah diri untuk dijaga dan dicintai, Ara percaya diri berada disana.
Sungguh mendebarkan. Rasanya seperti naik roller coaster tanpa pengaman. Ara bagai mempercayakan kehidupannya pada Adrian. Dan menurut apa saja yang dilakukan oleh lelaki itu.
Kemudian perlahan, papan ski itu melambat dan berhenti. Adrian dengan cepat menangkap tubuh sang istri yang sengaja ia jatuhkan dari atas, hingga berada dalam dekapannya.
"Mau lagi?" tanya Adrian menggoda. Ara mengangguk. Kemudian tidak berapa lama, terdengar lagi teriakan Ara dengan tawa yang begitu renyah.
"Sudah Mas. Bisa sakit perutku karena terus tertawa?" Ara yang kini berada dalam pelukan sang suami mendekap erat dada bidang itu.
"Kamu bahagia, Sayang?" tanya Adrian membuat jarak antar tubuh mereka, namun wajahnya mendekat ke wajah sang istri.
"Saat ini?" Adrian mengangguk. "Pertanyaan macam apa itu, Mas? Apa aku pernah mengatakan tidak bahagia saat bersamamu?" jawab Ara dengan mata basah. Mendadak sesak menyusup ketika pertanyaan itu dilontarkan. Ini seperti....
"Bukan begitu Sayang, aku hanya memastikan." Adrian menarik maju dagu sang istri hingga hampir bersentuhan dengan wajahnya.
"Di tempat dan situasi terburuk pun aku sanggup bertahan asal bersamamu Mas," ucap wanita yang tidak dapat lagi menahan air matanya itu. Adrian seperti meragukannya.
"Emmmphhh...." Bibir Adrian bergerak maju, melahap dan ******* bibir ranum sang istri yang bergetar menahan isakan. Tidak akan ia biarkan sang istri menangis.
Perlawanan yang awalnya kuat akhirnya melemah. Ara pasrah Adrian mendekap dan mencumbunya di area ski di depan banyak orang. Sebenarnya malu, tapi bagaimana lagi. Bukankah di luar negeri itu hal biasa? Apalagi mereka adalah pasangan halal, hanya kalau menurut budaya Indonesia memang tidak begitu pantas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seorang lelaki yang tampan nampak berdiri di dekat jendela. Memandang ke arah luar.
"Apa kau menunggunya kesini lagi?" tanya seorang gadis cantik yang baru saja datang dari tempat praktek ayahnya.
"Tidak. Bagaimana kabar papamu?" tanya lelaki tampan yang akhirnya beranjak dari dekat jendela, menghampiri gadis cantik yang selalu membelikan makanan yang sama setiap kali ia keluar rumah.
"Papa baik-baik saja. Makanlah," ritah gadis itu.
"Kau tidak pernah lupa membawakannya. Besok-besok tidak usah ya," ucap lelaki itu. Namun ia tetap membuka makanan itu dan memakannya berdua.
"Aku tidak tahu bagaimana membuatmu betah disini." Gadis cantik itu menunduk. "Hanya itu yang bisa kulakukan."
"Hei ... kau bicara apa? Tanpa makanan ini atau apapun aku betah disini. Aku menyukai tempat ini. Apalagi ada kamu." Sang lelaki menyuapkan kembali makanan favoritnya kedalam mulut sang gadis. Hingga membuatnya tersipu.
__ADS_1
"Semoga itu benar. Bukan terpaksa atau hanya sekedar balas budi," ucap gadis itu dalam hati. ia selalu mencintai lelaki itu apapun keadaannya.
Thank you❤️❤️❤️❤️❤️