Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 214 Malaikat kecil


__ADS_3

Apa pekerjaan yang bisa didapatkan dari seorang lulusan SMA? Ara berpikir keras dalam istirahatnya. Matanya memang terpejam, tubuhnya juga terasa lelah namun otaknya tidak mau diajak kompromi.


Zaman seperti sekarang ini lulusan SMA dipandang sebelah mata. Meski mempunyai pengalaman pernah menjadi asisten dari Adrian, tentu karena tidak adanya bukti tertulis dari perusahaan suaminya itu, akan semakin mempersulit dirinya.


Ara mengingat jika ia masih mempunyai tabungan. Beberapa dari uang nafkah Adrian dulu sering ia tabung karena lelaki itu memberinya secara berlebihan. Belum lagi kartu kredit dan beberapa uang cash untuk keperluan yang lain. Namun saat ia pergi, semua fasilitas itu ia tinggalkan. Ara merasa itu bukan haknya lagi. Dan jika dia tidak segera mencari pekerjaan, sudah pasti tabungannya semakin lama semakin habis.


Tok


Tok


"Nak, kau belum makan dari pagi. Keluarlah!" panggil bu Fatimah lembut.


"Iya bu. Sebentar." Ara bangun kemudian duduk sejenak di ranjangnya. Wanita itu merasa kepalanya berat, pasti efek dari lamanya ia menangis dari kemarin hingga hari ini.


"Wajahmu masih pucat, apa kau sakit?" Bu Fatimah seketika khawatir melihat keadaan Ara. Pucat diwajah cantik anak asuhnya itu masih belum menghilang, padahal Ara sudah cukup lama beristirahat di kamar.


"Mungkin aku kelelahan, Bu. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing juga." jawab Ara memasang senyumnya.


"Makanlah dan minum obat ini, setelah itu istirahat lagi. Besok jika belum juga baik kita harus ke dokter," nasihat bu Fatimah terasa hangat ditelinganya. Wanita sepuh ini tak pernah hilang perhatiannya. Tiba-tiba Ara merindukan mami Esther dan juga mommy Lina yang sudah tiada. Orang-orang yang menyayanginya dengan kasih.


"Ibu jangan khawatir, aku hanya lelah saja. Besok pasti sudah kuat lagi," ucap Ara menenangkan ibu panti yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Bangun pagi-pagi sekali, Ara ikut terjun ke dapur membantu menyiapkan sarapan pagi untuk semua penghuninya.


Tidak tanggung-tanggung, penghuni panti yang mencapai ratusan itu tentu membutuhkan makanan yang tidak sedikit pula. Di tambah lagi dengan para pengurusnya. Jika pengurus yang dulu hanya berjumlah belasan sekarang sudah puluhan orang.


Sebenarnya bu Sri melarang Ara ikut ke dapur, karena kondisi wanita itu belum pulih benar. Wajahnya masih pucat meski beberapa kali wanita itu menampakkan senyum bahagianya untuk menutupi.


Melihat semua anak-anak penghuni panti menyambutnya dengan baik membuat Ara bersemangat. Tawa canda dari makhluk kecil yang hampir kesemuanya sudah tidak memiliki orang tua itu sedikit mengobati hatinya yang sesak. Hingga ia bisa melupakan sejenak masalah yang membelitnya, juga wajah Adrian yang semalaman membayanginya.


"Bu, setelah ini aku ingin mencari pekerjaan. Aku tidak ingin menjadi beban kalian," ucap Ara pada bu Fatimah saat mereka tengah menikmati sarapan paginya.


"Kamu memang keras kepala, Nak. Ingat, kamu tidak pernah merepotkan kami. Ini juga rumahmu. Tapi, jika itu sudah menjadi keputusanmu, terserah padamu saja. Ibu harap kamu hati-hati dan jangan asal menerima pekerjaan," ucap bu Fatimah dengan raut wajah khawatir. Wanita sepuh itu kembali melanjutkan makan paginya.


Hari ini, Ara berkeliling mencari pekerjaan. Tentu bukan pekerjaan mentereng di kantor seperti yang pernah ia dapatkan dulu, karena itu adalah hal yang tidak mungkin. Sudah bisa dipastikan, jika ia akan kalah dengan para lulusan sarjana.


Tapi ia bisa mengerjakan apapun asalkan halal untuk bertahan hidup bukan. Ia bisa menjadi office girl ataupun penjaga toko dengan ijazah yang dimilikinya. Atau pekerjaan apapun yang mungkin malah tidak membutuhkan surat-surat itu.


Sekian lama berjalan, berganti ojek dan taxi hampir kesemuanya tempat yang ia datangi, hanya menyarankan untuk meninggalkan berkas lamaran saja. Tidak ada lowongan pekerjaan di tempat mereka namun jika ingin menitip lamaran, tentu tetap mereka terima.


Ternyata mencari pekerjaan sesulit ini. Mengapa Adrian malah menjadikannya sebagai asisten pribadinya dengan mudahnya dulu, padahal lelaki itu tahu jika Ara adalah gadis dengan nol pengalaman saat itu. Apalagi statusnya yang merupakan seorang tawanan merangkap asisten pribadi. Sangat mengesankan.

__ADS_1


Ara menendang-nendang sepatunya asal. Saat ini ia berada di taman untuk sejenak beristirahat dari langkah panjangnya seharian ini. Ia memikirkan sebuah cara agar mendapat pekerjaan lebih cepat. Tentunya agar ia bisa segera pindah dari panti asuhan yang membesarkannya itu.


Ara takut jika suaminya itu tiba-tiba sampai di panti dan mencarinya. Wanita itu tidak berpikir sejauh itu kemarin. Mengingat kembali apa yang sudah diberikan suaminya itu pada panti tempat dia dibesarkan, cepat atau lambat pasti Adrian pasti akan berkunjung kesana meskipun tanpa dirinya.


Setelah Ara keluar dari tempat selanjutnya ia mencari pekerjaan dan mendapat tawaran yang sama untuk meninggalkan lamaran, ia mengurungkan niat meninggalkan berkas itu disana. Jika dipikir-pikir sudah hampir 15 lamaran ia tinggalkan dengan alasan yang sama. Dan semuanya seperti hanya janji kosong daripada menolak secara langsung.


Ara pulang ke panti dengan tangan kosong. Meski begitu, wanita itu berjanji pada dirinya sendiri untuk berjuang kembali mendapatkan sebuah pekerjaan besok.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah suasana hatinya mulai tenang, Adrian menghubungi Mela. Sahabat istrinya yang kini juga berkarir di sebuah perusahaan di luar pulau itu malah kaget mendengar Ara pergi meninggalkan Adrian karena Mela berpikir itu tidak akan pernah terjadi melihat dalamnya cinta Ara untuk suaminya itu.


Gadis itu malah sempat memarahi Adrian dengan mengatakan jika lelaki itu tidak becus menjaga sahabatnya hingga bisa kecolongan dan pergi.


2 bulan berlalu,


Adrian tenggelam dalam kesibukannya dan pencarian terhadap sang istri. Lelaki itu bagai robot yang hanya melakukan hal yang sama setiap hari. Tidak ada gairah atau kebahagiaan mewarnai hidupnya. Apalagi tatapan matanya yang dingin, seakan membuat siapapun membeku dibuatnya. Adrian seperti kembali menjadi pribadi seperti dulu lagi, dingin dan tanpa empati.


Lelaki itu sudah mengusahakan banyak hal. Menghubungi panti tempat sang istri berasal, menanyakannya pada Mela dan menyewa jasa detektif swasta untuk mencarinya ke seluruh pelosok Jakarta. Namun nihil, ia kehilangan jejak wanita yang ia cintai itu.


Apalagi pesan terakhir Ara yang selalu melekat di ingatannya. Dia tidak ingin Adrian mencarinya. Sehingga kemungkinan jika wanita itu ditemukan, ia akan tetap menolak kembali. Itu akan lebih menyakitkan bagi Adrian daripada, ditinggalkan tanpa kabar seperti ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tidak bisa, Bu. Besok aku masuk pagi, akan terlambat kalau berangkat dari sini. Aku tidak apa-apa, ibu jangan khawatir berlebihan," Ara mengusap lembut punggung tangan yang membelai rambutnya dengan sayang. Tangan keriput inilah yang berjasa membuatnya sekuat sekarang.


"Tapi lihatlah wajahmu pucat. Sepertinya kau memang benar-benar sakit. Apa kau sudah pergi memeriksakan dirimu?" Bu Fatimah kembali menempelkan punggung tangannya ke leher Ara. Padahal ia sudah melakukannya tadi. Wanita sepuh itu seakan tidak mempercayai dirinya sendiri.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Tinggal minum obat, istirahat sebentar pasti sudah segar kembali," tolak Ara. Ia memang merasa cepat lelah akhir-akhir ini. Namun dengan meminum obat dan istirahat dia sudah segar kembali, meski esok akan akan terulang lagi. Sepertinya ia tidak terbiasa bekerja setelah sekian lama dimanjakan sang suami dengan hanya berada di rumah. Itulah yang ada dipikiran Ara.


"Baiklah hati-hati, apalagi ini sudah malam," ucap bu Fatimah yang mengantar Ara sampai ke pintu gerbang.


Setelah mencium punggung tangan bu Fatimah, Ara berjalan ke depan menunggu ojek yang ia pesan. Sedangkan bu Fatimah berbalik untuk masuk ke dalam panti karena angin malam yang dingin mulai menyiksa tubuhnya.


Brukk!!


Suara bedebum yang keras mengagetkan wanita sepuh yang belum jauh berjalan dari tempat terakhirnya berpisah dengan Ara.


Berbalik dengan hati yang diselimuti kecemasan, bu Fatimah sedikit mempercepat langkahnya. Satpam yang duduk di posnya sampai berdiri karena heran dengan langkah tergesa kepala panti itu.


"Nakkkk ... Ya ampun ... Sapto ... Sapto tolong ibu!" Yang dikhawatirkan bu Fatimah terjadi, Ara ambruk terkulai lemas di depan gerbang. Wanita sepuh itu memanggil satpam untuk membantunya.


Sebulan lebih tidak bertemu membuat kepala panti itu menyadari perubahan tubuh Ara. Tubuh Ara lebih kecil dan wajahnya nampak lesu tidak bersemangat.

__ADS_1


"Cepat keluarkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!" titah bu fatimah yang sudah memberikan pangkuannya untuk tempat Ara bersandar. Kepala panti itu nampak panik melihat keadaan Ara.


"Ada apa, Bu? Ya ampun ... Mbak!" b


Bu Sri yang datang karena mendengar teriakan bu Fatimah ikut kaget.


"Ambilkan sweater ibu untuk Ara, Sri. Cuaca sedingin ini, dan ia tidak memakai jaket kesini." omelnya keras meski ia tahu Ara tidak mendengarnya.


"Ayo cepat!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kapan ibu terakhir haid?" tanya dokter pada Ara yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Wanita itu masih merasa pusing hingga memutuskan untuk tetap berbaring meski telah diperiksa.


"Saya lupa, Dok kapan persisnya." Ara memijat pelipisnya pelan. Wanita itu menjawab tanpa membuka matanya. "Sepertinya saya terlambat, tapi itu sudah biasa karena siklus saya panjang Dok." Wanita itu memperkuat pernyataannya.


Karena banyak hal yang mengganggu pikirkannya akhir-akhir ini, Ara sampai tidak sadar ia belum haid dua bulan ini. Kemarin perutnya memang terasa sakit saat ia gunakan untuk mengangkat beban berat, ia pikir mungkin ia hampir datang bulan dan rupanya tidak. Mungkin perutnya hanya protes karena terlambat makan.


"Kita USG saja ya?" ucap dokter wanita itu menatap Ara meminta izin.


Ara membuka matanya. "Kenapa di USG Dok? Dokter mencurigai saya menderita penyakit ganas? Tapi perut saya sudah tidak sakit, Dok. Ini lihat tidak apa-apa." Ara yang mendadak panik memijat perutnya untuk memastikan dan memberi bukti pada dokter yang memeriksanya itu. Meski tadi saat datang ia mengeluh sakit.


Dokter itu hanya tersenyum. Kemudian mengoleskan sedikit gel pada perut pasiennya itu.


"Hanya keperluan pemeriksaan, Bu. Tidak usah khawatir," ucap dokter menenangkan.


"Anda sudah menikah?"


"Su- tentu saja sudah, Dok," jawab Ara gugup. Wanita ini tiba-tiba mengingat kembali suaminya itu. Entah apa status mereka saat ini, suami istri tapi tidak bersama. Bagaimanapun ia harus kuat.


"Bu, lihat ada bulatan kecil di monitor itu?" Dokter mengarahkan kursor ke arah bulatan kecil sedikit transparan.


"iya Dok,"


"Itu adalah calon bayi Ibu. Usianya 14 minggu,"


"Apa, Dok?" Mata Ara membulat sempurna mendengarnya. Bayi? Ada bayi dalam perutnya. Bukankah itu yang dirinya dan Adrian tunggu selama ini.


Mengusap pelan perutnya yang belum begitu kentara, Ara berucap dalam hati. "Sungguh malang nasibmu, Nak. Kau hadir saat mama meninggalkan Daddymu,"


Namun sedetik kemudian, Ara menyesali ucapannya. Tidak! Dia akan bertekad membesarkan bayinya sendirian, dan tetap menghidupkan sosok Adrian yang terekam dalam memorinya selama ini.


Bagaimana mungkin dia tidak menyadari kehadiran malaikat kecil. itu. Bahkan sudah 14 minggu, dan itu berarti sudah dua bulan lebih. Pantas saja ia begitu sulit menelan makanannya. Juga sering pusing dan pucat, rupanya ini ulah makhluk kecil yang ia rindukan kehadirannya itu.

__ADS_1


Aku hamil, Mas. Ada dia yang kita tunggu selama ini. Aku berjanji mengurusnya dengan baik. Semoga masih ada jodoh diantara kita, meskipun sebentar dan meskipun entah berapa lama waktu itu akan datang. Ara mengusap air matanya yang mengalir dan menahan isakan yang terasa sakit dihidungnya. Dia harus kuat. Dia tidak mau terlihat lemah di depan keluarganya, semua penghuni panti itu.


__ADS_2