Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 211 Hari Istimewa


__ADS_3

"Lang, bagaimana dengan Vina?" tanya Adrian disela perjalanannya menuju ke kantor.


"Iya, Tuan?" Elang yang tidak fokus mendengarkan pertanyaan sang majikan, malah hanya menjawab sekenanya.


"Vina?"


"Ada apa dengan Vina, Tuan?"


"Ya ... ampun, Lang. Memang kamu masih betah sendiri terus. Teman-temanmu sudah banyak yang menikah dan keluar."


"Apa Tuan sudah bosan dengan saya?" Pertanyaan yang bodoh. Elang merutuki mulutnya yang lancang.


"Apa kita sepasang kekasih, hingga kau bertanya seperti itu?"


Elang tersenyum sambil meringis, majikannya menanggapi ucapannya yang salah. Dan malah menanyakan sesuatu yang absurd.


"Apa kau menunggu aku bosan denganmu, baru kau akan menikah?"


"Maaf. Bukan begitu maksud saya, Tuan. Saya belum berpikir kesana. Tapi jika Tuan sudah tidak membutuhkan jasa saya lagi, dengan berat hati saya akan berhenti."


"Hah? Kau seperti orang yang patah hati saja, Lang. Aku membutuhkan jasamu sampai kapanpun. Tapi kalau kau mau menikah dan berhenti dari pekerjaanmu, aku bisa apa? Dan jika kamu menikah namun masih tetap ingin bekerja denganku, aku justru berterima kasih," ucapan Adrian melegakan.


"Saya akan mengabdi terus pada Tuan," jawab Elang singkat.


"Vina pantas dipertimbangkan. Dia juga sendiri cukup lama, mungkin saja menunggumu," pancing Adrian.


"Tidak, Tuan. Vina bukan tipe saya."


"Lalu tipemu yang seperti apa? Mela? Dulu bukankah sahabat istriku itu mengejarmu? Bahkan kalian satu kampus bukan?" Adrian mengingat gadis hitam manis yang beberapa kali membantunya menjaga sang istri.


Elang nampak memalingkan wajahnya sejenak "Saya juga pasti bukan tipenya, Tuan. Dia sudah memiliki kekasih sekarang yang lebih bisa menjaganya," ungkap Elang sambil terus menatap ke depan.


"Oh, ya. Padahal sepertinya dia cinta mati sama kamu, Lang. Bahkan dia berani meminta nomormu ke istriku. Kami sempat mau menjodohkan kalian. Tapi istriku mengurungkan niat saat suatu hari Mela menghubunginya sambil menangis. Katanya kamu hanya menganggapnya teman, tidak lebih."


"Iya. Seperti itulah, Tuan,"


"Apa kau masih tidak bisa melupakan kejadian itu?"


"Saya sudah tidak pernah mengingatnya, Tuan."


Dan membuat Adrian tidak lagi ingin mengolok asistennya itu. Elang memang nampak tidak tertarik memulai suatu hubungan. Mungkin lelaki itu trauma.


Hari itu berlalu dengan cepat. Hari dimana Ara mendengar pengakuan Dani tentang keberadaannya di keluarga mereka.


Selama itu, Ara mencoba memikirkan bermacam langkah dan solusi untuk membantu suaminya itu. Meski Adrian tidak meminta dan bahkan lelaki itu tidak mengatakan apapun tentang malam itu, namun Ara seperti ikut menanggung beban berat Adrian.


Seminggu sekali, Ara sengaja mengajak suaminya itu berlibur. Kemana saja asalkan mereka bahagia dan berbagi cerita sehari-hari, saat-saat yang mereka lalui jika sendiri.

__ADS_1


Enam bulan berlalu,


Mereka masih selalu melakukan hal yang sama. Berlibur saling bercerita menikmati kebersamaan. Dan Adrian masih tetap bungkam dengan permintaan sang anak. Memilih bungkam dan tidak menceritakannya pada sang istri.


Namun, Ara menyadari sesuatu. Hubungan Adrian dan anak lelakinya tidak sedekat dulu. Lelaki itu jarang sekali nampak menghubungi atau sekedar mengobrol, begitu pula dengan Dani.


Tentu saja sang istri tahu dan menyadari betul berubahnya sikap sang suami. Lelaki itu nampak bahagia saat bersamanya namun di sisi lain, dia akan murung saat sendiri seperti seseorang dengan beban masalah yang sangat besar.


Hari ini, adalah keputusan terakhir dari apa yang akan dilakukan Ara agar Dani bersedia kembali ke Indonesia.


Sungguh, melihat Adrian memiliki kebahagiaan yang tidak utuh, membuat hati Ara sakit. Andai waktu dapat diputar, ia akan memohon pada Tuhan agar ia tetap di panti saja. Tidak ada yang mengambil sebagai anak angkat hingga dewasa pun tidak mengapa. Dia bisa membantu ibu panti untuk mengasuh adik-adiknya yang masih kecil atau bekerja apa saja untuk mencukupi hidup.


"Hei, kau masak apa?" Pelukan hangat sang suami mengagetkannya. "Baunya harum. Aku jadi lapar," bisik lelaki itu terdengar jelas karena tepat di telinga Ara.


"Ini jam berapa, Mas belum mandi?" Ara masih mengaduk sop daging buatannya. Sama sekali tidak berani melihat sang suami yang sudah bergelayut di bahunya. Matanya yang sempat basah tadi pun belum sempat dihapusnya.


"Belum ... Tapi masih wangi kan?" ucap Adrian sambil mengendus tubuhnya sendiri. Kemudian lelaki itu mendekatkan bibirnya pada lengan atas sang istri yang terbuka, dan menggigitnya.


Wanita itu sontak menjerit dan akhirnya tanpa sadar menoleh karena ingin membalas ulah suaminya itu.


"Matamu basah, Sayang?"


"Ini?" Ara tidak melanjutkan, ia malah menggunakan lengannya untuk segera menghapus basah yang menggenang di pelupuk matanya. "Tadi kena merica, Mas." Dan lagi, wanita itu memiliki alasan yang tepat. Memasak sop tentu memakai merica kan? Nah anggap saja merica nya terbang dan hinggap di mata Ara.


"Kok bisa, Sayang? Tunggu dulu," Adrian segera mengambil tisu kemudian menghapus basah yang masih tersisa di kelopak mata sang istri. "Lain kali hati-hati, Sayang." Adrian mendekatkan bibir pada mata sang istri kemudian meniupnya pelan dan setelah itu mencium kedua mata bulat yang menggemaskan itu.


"Hei ... Harusnya semalam kamu seperti ini," ucap sang suami sambil tersenyum melihat sang istri yang mendadak cemberut mendengar kelakarnya. "Itu lihat, masakanmu bisa gosong kalau kamu memelukku terus."


"Ya ampun...." Ara yang mengingat masakannya menjadi kaget dan langsung melepaskan tubuh Adrian. "Ini gara-gara, Mas. Kenapa sih ke dapur sepagi ini?"


Ara kembali fokus dengan masakannya. Untung saja tidak gosong meskipun kuahnya berkurang karena dibiarkan mendidih terlalu lama.


"Salah sendiri pagi-pagi menghilang. Biasanya kau akan membangunkanku. Mengapa hari ini kau meninggalkanku begitu saja? "


"Maaf aku lupa, Mas. Saking bersemangatnya aku pengen masakin kamu sop, pagi ini."


"Baiklah, karena sop sudah matang. aku ingin makan dulu sebelum mandi," ucap Adrian yang langsung duduk di meja dapur. Ara sampai tersenyum sendiri melihat sang suami yang mau makan di tempat itu.


"Tumben? Biasanya tidak mau sarapan jika belum ke kamar mandi," celetuk Ara sambil menghidangkan semangkuk sop daging panas dengan air putih hangat dan 2 lembar roti tawar.


"Hari ini kan istimewa. Aku mau sarapan sop buatan istriku," tatapan matanya tak beralih sama sekali dari wajah sang istri yang tetap cantik baginya meskipun wanita itu bergelut di dapur.


"Selamat ulang tahun, my lovely husband. I love you forever," bisiknya tepat di telinga Adrian. Saat lelaki itu mengambil suapan pertamanya.


Adrian terhenyak. Kemudian mencekal tangan sang istri yang hendak pergi setelah mengucapkannya. Lelaki itu melengkungkan bibirnya, hingga gurat bahagia tercetak jelas pada wajah tampannya.


"Jadi ini kejutan untukku?" Ara mengangguk. "Dan aku benar-benar terkejut, Sayang. Biasanya kita merayakannya berdua sambil makan malam. Tapi tahun ini, aku merasa benar-benar menjadi lelaki yang sangat istimewa, apalagi mendapatkan wanita yang juga istimewa sepertimu."

__ADS_1


Adrian bangkit, kemudian melingkarkan kedua lengannya di pinggang sang istri. Dia tidak perduli berada dimana mereka sekarang. Lelaki itu langsung mendekap sang istri sambil mencium wanita itu penuh cinta.


Para pelayan saling berbisik mengintip aksi majikannya. Mereka yang sedianya mau ke dapur, malah mengurungkan niatnya karena takut mengganggu. Jadilah tiga orang yaitu bibi Yulia, cheff, dan asisten bibi Yulia saling berebut menempati posisi paling depan untuk melihat adegan dewasa yang membuat mereka mabuk kepayang.


"Auwww!"


"Aduh ... Aaaaa!"


"Aaaaa ... Punggungku!"


Suara gaduh benda jatuh dan rintihan ketiganya mengagetkan sang majikan. Mereka jatuh menunpuk di lantai akibat cheff yang berada paling bawah, tidak kuat menopang beban tubuh bibi Yulia dan asistennya.


"Sedang apa kalian disitu!?" hardik Ardian karena kaget.


"Tuan, maaf. Kami ... kami...."


Ketiganya saling pandang satu sama lain. Saling melempar kesalahan akan siapa yang bertanggungjawab pada kejadian memalukan itu. Namun yang terjadi setelahnya, ketiganya malah diam menunduk.


"Kalian mengintip?" Tidak ada jawaban. "Sudah lanjutkan kerja kalian!" titah Adrian memasang wajah garangnya.


"Sudah, Mas,"


Sebenarnya Adrian bukan tipe orang yang suka membentak meskipun mereka bersalah. Namun, ia kepalang malu karena ketahuan para pelayannya sedang bermesraan dengan sang istri. Ditambah lagi, para pelayan itu malah mengintip. Malunya setengah mati bukan?


"Ayo sana kerja! Malah diam saja tidak jelas!"


"Tapi ... Tempat kerja kami kan disini, Tuan. Berhubung tadi ada Tuan dengan Nyonya sedang nium-nium, ya kami menunggu dilua." Cheff menunjukkan isyarat orang sedang berciuman dengan kedua tangannya.


"Hassss!" Adrian malu dua kali. Apalagi ini di dapur, yang merupakan daerah kekuasaan bibi Yulia. Bukan di kamarnya, atau ruangan lain.


"Kita yang salah, Mas. Ayo teruskan sarapanmu dan bersiap." Ara mengusap lembut punggung Adrian yang kini sudah duduk kembali di kursinya.


"Selamat ulang tahun, Tuan."


"Selamat ulang tahun, Tuan. Semoga selalu bahagia dan panjang umur."


Mereka bertiga bergantian mengucapkannya.


"Terima kasih. Teruskan pekerjaan kalian." Adrian meneruskan makan paginya ditemani sang istri yang hanya duduk melihatnya.


Ara tersenyum dalam kepedihan. Hari ini memang istimewa, Mas. Sangat istimewa, andai kamu tahu.


Selepas sarapan hingga suaminya itu siap untuk berangkat ke kantor, ara menemani dan menyiapkan segala sesuatu keperluan lelaki itu.


"Hati-hati ya, Mas," ucap Ara melepas kepergian sang suami.


Belum... Ini masih beberapa saat lagi.

__ADS_1


❤️makasih masih mengikuti, jangan lupa like, komen dan bunganya ya😍


__ADS_2