Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 102 Pertengkaran


__ADS_3

"Apa kau bisa meretas sistem keamanan sebuah perusahaan?" tanya Andina kepada seorang lelaki yang kini ada di depannya bersama dengan sang sahabat, Abe.


Karena dari awal pertemuan mereka, penampilan lelaki yang katanya ahli IT itu tampak tidak meyakinkan. Rambut kriwul macam Iwan Fals jaman muda, kacamata dengan bingkai warna ungu. Yang paling membuat Andina mengernyitkan dahi adalah setidaknya setiap 5 detik sekali, ia memegang bingkai kacamatanya seperti hendak memperbaiki letaknya. Namun sungguh, jika dilihat tidak ada yang salah dengan letak kacamata itu.


"Tentu saya bisa bu," jawaban diplomatis macam anak sekolah yang ditanya gurunya. Namun Andina malah menatap Abe, meminta penjelasannya.


"Dia berpengalaman, Din. Namanya silo," Abe memperkenalkan ahli IT temannya yang bernama Silo itu. Lengkapnya Susilo, kenapa dipanggil Silo? karena tidak mungkin untuk memanggilnya Susi bukan. 😁


"Pokoknya aku mau dia meretas perusahaan Adrian. Jangan yang pusat. Kau bilang dia punya anak cabang di kota lain bukan? Lebih mudah mengganggu yang kecil dahulu untuk mendapatkan yang besar," Andina menyeringai licik, membayangkan ia bisa mengetahui rahasia perusahaan Adrian nanti yang bisa ia gunakan untuk mengancam mantan suaminya itu.


"Iya setahuku begitu. Apa kau yakin, Din? Kalau ketahuan, kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk mendekati anakmu lagi." Abe mengingatkan resiko besar dibalik perbuatan nekat yang akan dilakukan sahabatnya itu.


"Tidak usah kau tanyakan lagi. Aku tahu apa yang akan kulakukan. Dan kau Silo, harus mulai kerja dari sekarang. Laporkan setiap kau menemukan sesuatu," titah Andina.


"Baik nyonya,"


"Kita berpisah disini Be, aku harus cepat pulang karena tadi aku tidak pamit."


Tanpa menunggu jawaban Abe, mantan istri Adrian itu segera berlari mencari taxi online dan menyuruh sang sopir untuk memacu cepat kemudinya.


Sementara di rumah utama,


"Selamat pagi semua," ucap Lina ketika memasuki meja makan. Disana sudah ada Adrian yang siap untuk berangkat ke kantor juga Dani yang tumben turun sendiri ke meja makan tanpa ada drama. Karena ia yang lebih banyak melewatkan makan paginya bersama keluarga barunya.


Sedangkan Ara, ia nampak wara wiri membantu Nibi Yulia menyiapkan sarapan pagi.


"Duduklah Sayang, aku tidak mengambilmu menjadi menantu untuk merepotkanmu," ucap Lina pada Ara yang tampak sibuk. Bahkan gadis itu hanya membalas sapaan sang mertua dengan senyumnya saja.


"Tidak Mom, bukankah tugas semua istri seperti ini. Aku tidak repot, Mommy tenang saja," Ara mengambilkan nasi goreng untuk suaminya, kemudian untuk Dani dan juga mertuanya. Semua orang disana hanya menatap ara, melihatnya yang lincah berpindah kesana kesini untuk melayani mereka.


Memang ini bukan pertama kali gadis itu melayani karena memang itulah yang dilakukannya setiap hari. Namun hari ini, ia tampak sangat bersemangat beda dengan hari-hari sebelumnya.


"Kenapa kau membiarkanku tidur sendiri semalam?" ucap Adrian yang memeluk penggang sang istri dari belakang. Suaranya sangat dekat karena ia meletakkan dagunya dibahu Ara yang saat itu hendak mengambilkan minum untuknya. Membuat tengkuk sang istri merinding tidak karuan.


Lelaki itu mengekori Ara tanpa sepengetahuan istrinya , dengan alasan mencuci tangan ia menyusul ke dapur diam-diam.


"Aku tidur bersamamu, Mas," gadis itu mengelak, dan memundurkan wajahnya.


"Kapan? Kau masuk ke kamar mandi dan aku tertidur setelah lama menunggumu. Lalu saat aku bangun, kau masih tidak ada," Adrian melihat istrinya dengan tatapan kesal.


"Aku keluar saat Mas sudah tertidur, dan aku sudah di dapur saat Mas bangun," Ara cengengesan menceritakan alasan hilangnya dia semalam.


"Baiklah," hanya itu yang keluar dari bibir Adrian. Lelaki itu kemudian malah melepaskan kunciannya di pinggang sang istri dan meninggalkan dapur begitu saja.

__ADS_1


"Apa dia marah?" ucap Ara. Gadis itu segera menyusul sang suami di meja makan namun ternyata lelaki itu tidak ada disana.


Aa kemudian bergerak naik ke lantai atas. membuka pintu kamar perlahan ingin menyapa sang suami, namun dikamar juga kosong. Sudah pasti di tempat terakhir tujuannya nanti ia akan menemukannya.


Ceklek


d


Dibukanya ruang kerja Adrian, dan lelaki itu tampak bersandar di salah satu sudut meja kerjanya.


"Mas," Ara mendekat. "Aku ingin memelukmu," gadis itu menggigit bibirnya. "Sungguh semalam aku tidur denganmu, apa kau tidak mencium bau tubuhmu yang tertinggal," gadis itu mengendus tubuhnya sendiri. "Tapi memang tubuhku lebih bau masakan sih," ucap Ara yang menyadari ia berada di dapur sejak pagi buta dan setelahnya menyajikan makanan tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.


"Apa benar bau tubuhku ada disitu?" tanya lelaki yang sontak memutar tubuhnya menghadap ke sang istri.


"Ten_" sang suami langsung berjalan menghampirinya. Menghentikan ucapannya dengan menciumi wajah hingga leher kemudian turun ke bahu. Dengan satu tangan dan gerakan cepat lelaki itu mampu membuka kancing atas piyama sang istri tanpa kesulitan.


Ciuman lembut yang diberikan Adrian membuat sang istri sampai menahan napas dengan perlakuannya itu. Tunggu! bulu kuduk nya juga meremang namun bukan karena makhluk kasat mata yang mungkin saja berkeliaran di sekitarnya. Ini karena Adrian. Karena hembusan napasnya yang hangat, meski ini bukan yang pertama kali untuknya.


"Iya, bau tubuhku masih tertinggal disini," ucapan Adrian terhenti dan ia mengikuti nalurinya. Mengendus, mencium dan begitu seterusnya hingga ia sampai di antara dua belahan benda kenyal yang menggantung indah dihadapannya.


"Mass...nanti kau terlambat," ucap Ara mencoba mengingatkan suaminya. Karena jika ini berlanjut pasti sang suami akan mengambil cuti dan mereka akan bulan madu lagi. Jika sampai ini terjadi, entahlah nasib perusahaan yang sangat membutuhkan lelaki itu saat ini.


"Apa kau sedang menolakku, hemm," suara lembut Adrian yang tak henti menyenggolkan bibirnya itu sekali lagi membuat sang istri seakan lupa bernapas.


"Tidak...Aku tidak menolakmu, Mas. Hanya me-ngingatkan saja," ditelannya saliva dengan sangat susah demi menentramkan hatinya yang mendadak meronta menginginkan lebih dari sang suami.


"Emmm ya, aku... " Adrian mengangkat kepalanya, menjatuhkan matanya tepat di manik mata sang istri.


"Kau benar, Sayang. Aku akan sangat terlambat jika tidak berangkat sekarang juga." Tarikan napas Adrian bahkan terdengar berat, sepertinya ia enggan beranjak dari tempat itu. Jakun lelaki itu terlihat turun naik, menatap sang istri dengan damba.


Lelaki itu mengecup singkat bibir sang istri. Sungguh jika lebih lama lagi ia berada disana ia pasti tidak akan sanggup menahannya. "Aku ingin ketika aku pulang kau ada di rumah,"


"Aku tidak boleh ikut kerja, Mas?" tanya ara mendongak. Karena suaminya itu belum melepaskan pelukannya sedari tadi.


"Tidak. Kau bole ke kantor tapi hanya sesekali saja. Sementara ini, di rumah saja." Wajah Ara nampak kecewa, namun tak membuat sang suami mengubah keputusannya.


"Tugasku?"


"Akan kembali pada pemiliknya," ucapan Adrian membuatnya kaget dan segera menarik lengan suaminya yang hendak berangkat.


"Maksud Mas apa? Pemilik siapa?" ia yang meminta jawaban masih mencengkeram lengan jas lelaki itu.


"Sudahlah kita bicarakan nanti. Mandi dan segera temani Mommy atau Dani ngobrol. Kulihat hubunganmu mulai membaik dengan anak keras kepala itu,"

__ADS_1


"Hei , dia anakmu Mas. Kenapa kau menyebutnya begitu. Oh iya, aku tidak melihat mbak Andina pagi ini, apa ia belum bangun?"


"Itu tugasmu. Kau harus memastikan ia angkat kaki pagi ini, karena kau Nyonya di rumah ini sekarang,"


"Tapi aku.. Mass," lelaki itu segera mengecup puncak kepala Ara, tidak perduli dengan cerewetnya sang istri yang mengatakan tidak tega ataupun tidak enak mengusir sang mantan istri.


Pada akhirnya Ara diam sendiri, setelah mengantar sang suami hingga pintu depan. Sepertinya Adrian benar-benar tidak perduli.


Baru saja gadis itu sampai di kamarnya, saat ia mendengar teriakan keras Dani kepada seseorang. Ara buru-buru turun menuju meja makan tempat terakhir kali ia meninggalkan sang Mommy bersama Dani pagi ini.


Disana sudah ada Andina yang tampak baru saja datng dengan mengenakan tas dibahunya. Mimik wajahnya tampak santai berbeda dengan Dani yang merah padam. Dan sang mommy, tak tampak berada disana.


"Kau, pergi dari sini. Siapa yang mengizinkanmu tinggal disini," suara Dani terdengar lantang, remaja laki-laki itu seperti tidak sedang berbicara dengan ibu kandungnya.


Rupanya Dani tidak mengetahui jika sang omalah yang memberikan izin sementara Andina untuk tinggal satu hari di rumah ini.


"Aku mendapat izin untuk tinggal disini dari Oma, Dan. Oh ayolah, kau sangat tidak sopan kepada mamamu sendiri. Bahkan kau teriak-teriak seperti ini,"


"Mama? Kau tidak pantas mendapat sebutan itu. Kau telah meninggalkan keluargamu, tidak perduli dengan mereka. Dan kau.. kau bahkan telah menyakiti Daddy, " mata Dani memerah, kekecewaan atas kejadian masa lalu sungguh memporak-porandakan hatinya. Tubuhnya yang belum sehat sempurna ditambah kedatangan Andina membuatnya semakin lemah.


Remaja laki-laki itu menopang tubuhnya di atas meja makan dengan napas menderu. Ara langsung maju, tidak diperdulikannya hubungan dengan anak sambungnya itu yang belum begitu baik. gadis itu langsung memeluk anak sambungnya itu dari belakang dengan sebelah lengannya.


"Dan, kita ke atas jika kamu sudah tidak sanggup. Kesehatanmu lebih penting, ayo tante bantu," ucap Ara, tangannya sudah siap merengkuh membawa anak laki-laki Adrian itu ke kamar. .


"Itu dulu, Sayang. Sekarang aku sudah berbeda. Aku sudah menyadari semuanya. Dan maukah kau menerima mama kembali?" Andina mencoba membujuk meski tahu anaknya dalam keadaan tidak baik-baik saja. "Kau wanita baru Adrian, tidak usah mempengaruhi anakku," ucap Andina sengit kepada Ara yang mendahuluinya mendekati Dani.


"Tidak.. pergi.. pergi, aku tidak ingin ia ada disini," teriakan Dani semakin keras dan emosi. Sampai akhirnya Bibi Yulia datang bersama satpam dari arah luar.


"Mommy dimana, Bi?"


Nyonya Besar keluar sebentar, Nyonya. Ada sedikit masalah di yayasan," ucap Bibi Yulia. "Nyonya?" lanjut wanita paruh baya itu meminta jawaban kepada Ara.


"Kemasi barangnya Bi, dia sudah janji dengan Mommy akan pergi pagi ini bukan?" Ara yang mengerti arah ucapan Bibi Yulia langsung memberikan perintah.


"Tidak bisa begitu! Kau bukan Nyonya rumah ini jadi kau tidak berhak mengusirku," tolak Andina geram. Ia tidak sudi mendapat perlakuan seperti ini.


"Aku nyonya rumah ini, Mbak. Aku istri Adrian sekarang." Ara menegaskan posisinya di rumah ini. "Ayo kita keatas Dan, biar tante yang mengurus disini"


Gadis itu langsung memapah Dani ke atas. Sangat terlihat lemahnya psikis remaja laki-laki itu saat ini. Mungkin ini trauma yang pernah disebutkan oleh Dokter Realli. Trauma akibat ulah mama kandungnya sendiri. Ah ia jadi ingat jika Dokter Realli pernah memberikannya kontak untuk dihubungi. mungkin ini saat yang tepat untuk melakukannya.


"Jangan mentang-mentang kau istri Adrian lalu kau berbuat seperti ini. Bagaimanapun dulu aku pernah menjadi Nyonya disini. Jadi kau jangan sembarangan memperlakukanku," Andina masih berteriak teriak dengan ucapannya padahal Ara sudah naik keatas bersama Dani.


Wanita itu terus mengumpat karena Bibi Yulia rupanya sudah selesai memasukkan pakaiannya kedalam koper. Dan dengan segera satpam bertindak untuk mengusir wanita yang pernah menjadi Nyonya di rumah besar itu.

__ADS_1


Bibi Yulia langsung mengunci pintu kamar tamu yang membuat Andina tidak bisa lagi bertahan disana. Wanita itu pergi dengan membawa kesal dihatinya hingga ia menendang perabotan bahkan pintu yang ia lewati.


Sungguh tidak ada yang menyangka jika wanita sedikit bar-bar itu adalah mantan nyonya di rumah itu. Karena pelayan lama disana hanya tinggal Bibi Yulia. Satpam dan yang lain adalah pegawai baru.


__ADS_2