Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 124 Maaf


__ADS_3

"Sudah, Mas. Itu tidak penting sekarang. Apapun statusku dihati Dani itu haknya. Aku menghargai keinginannya." Ara mengusap lembut punggung sang suami. "Kita masuk melihat mommy dulu ya,"


Adrian mengangguk. Kemudian lelaki itu mengikuti sang istri yang menggandengnya masuk ke dalam UGD.


Sungguh, apa yang dilakukan Dani membuat sang ayah meradang. Meski hanya ibu sambung, selama ini Ara menyayangi Dani selayaknya anaknya sendiri. Namun hanya karena kesalahan yang bahkan tidak diperbuat oleh Ara, Dani yang sudah mulai membuka hatinya kembali membekukan hubungan antara mereka.


Adrian tahu, jika sang istri hanya pasrah. Wanita itu lebih banyak menahan diri untuk tidak berbicara banyak, dan hanya menerima saja semua perlakuan Dani padanya. Namun, ia tidak bisa membohongi sang suami yang sudah mengenal karakternya.


Melewati banyak ruangan bersekat gorden di UGD akhirnya mereka menemukan Lina. Wanita paruh baya itu nampak lemah dan tangannya melambai melihat sang putra dan menantunya datang.


"Mom, maafkan aku" dengan berurai air mata, Ara langsung menghambur memeluk sang mertua. Sesak yang dirasakannya sejak mendengar jatuhnya Lina akibat kesalahannya dengan Adrian sedikit reda. Sedangkan Adrian, ia menuju ke tempat kosong diseberang sang istri. Lelaki itu membungkukkan tubuhnya dan meraih telapak tangan sang ibu. Diciumnya punggung tangan yang entah mengapa, saat sakit begini terlihat jelas gurat usia senja mulai menghiasi tangannya.


Hati Adrian semakin perih, melihat sang ibu masih bisa tersenyum setelah kesakitan yang ia berikan pada wanita yang melahirkannya itu.


"Jangan sa...sa-kiti menantuku," ucap Lina terbata. Airmata tak berhenti mengalir dari mata redup yang memerah dan nampak sekali gurat lelah pada kelopak yang dipaksa membuka oleh pemiliknya itu.


"Mom,, maafkan aku. Aku mencintainya. Sungguh," ucap Adrian parau, lelaki yang nampak kuatpun akan lemah ketika berhadapan dengan cinta pertama dalam hidupnya, ibu. Apalagi Adrian menyadari jika semua ini akibat perbuatannya.


"Kami saling mencintai Mom. sekali lagi maafkan kami. . Namun aku benar-benar mencintai anak mommy sekarang," ucap Ara yang menggenggam erat tangan sang mertua yang juga membalasnya. "Lekas sembuh dan kembali bersama kami, ya." lanjut Ara yang memberi semangat pada wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu.


Lina nampak mengangguk, ada binar kelegaan dalam matanya. "Ap-pa surat perjanjian itu, ben-nar ada?" tanya wanita paruh baya itu kemudian.


Ara dan Adrian saling melihat satu sama lain. Dalam keadaan seperti ini, dengan kondisi hati yang buruk, keduanya malah nampak ragu untuk menjawab.


Bagaikan buah simalakama bukan? Menjawab iya tentu akan membuat kecewa sang ibu dan berpengaruh pada kesehatannya. Namun jika menjawab tidak, sepertinya tidak mungkin. Sudah tidak ada yang bisa ditutupi.


Adrian hanya bergerak mencari sang pembuat berita, yang telah mengunggah hal pribadi yang seharusnya tidak menjadi konsumsi bebas khalayak. Untung saja perusahaannya tidak terpengaruh oleh berita viral itu. Karena mereka lebih mengutamakan kepercayaan dan kinerja seorang Adrian yang selalu profesional selama ini, daripada kehidupan pribadinya.


Lelaki itu meraih tangan sang istri, mencari kekuatan dan keyakinan akan apa yang akan disampaikan pada sang ibu. Ara yang menatap sendu sang suami, hanya mengangguk. Semoga dengan kepasrahan ini, Tuhan akan membantu menyelesaikan semuanya.

__ADS_1


"Mom, ini murni kesalahanku. Memang kami mengawali hubungan ini dengan cara yang salah, namun akhirnya kami sadar jika kami saling mencintai. Surat itu memang kami buat dengan sadar, dan sebenarnya aku sudah akan memusnahkannya." mendengar penjelasan sang anak, Lina hanya mendesah. Bagaimanapun ia sudah terlanjur sayang dengan wanita yang menjadi menantunya itu. Dan ia yakin hanya Ara yang mampu mendampingi Adrian.


"Ini salahku juga Mom. Maafkan aku yang membohongi Mommy," ucap Ara yang menenggelamkan kepalanya pada lengan sang mertua.


"Syu-kurlah. Mommy tahu kau terbaik untuk putra mommy sayang. Mommy titip Adrian dan cucu kesayangan mommy ya. Rawatlah mereka dengan cinta,"


"Kita bersama Mom. Kita berdua yang akan merawat mereka. Mommy harus semangat untuk sembuh," baru saja tangis Ara mereda, mendadak ucapan sang mertua membuat hatinya seperti ditusuk. Sebuah permintaan?Ataukah pesan terakhir. Tentu ia memilih yang pertama.


Wanita itu mendekati Lina, membisikkan sesuatu. Beberapa saat kemudian sang mertua nampak melakukan hal yang sama. Hingga kemudian membuat kedua wanita yang paling berarti dalam hidup Adrian saling tersenyum.


"Add, cepat musnahkan surat-surat itu. Mommy tidak ingin orang memandang rendah istrimu hanya karena kesalahan ini." Keadaan Lina semakin stabil. Alat medis yang menunjukkan angka tekanan darahnya bergerak turun.


"Iya mom. Aku juga sudah menyuruh orang untuk melacak siapa orang yang telah mengunggahnya," ucap Adrian yang bangkit dari ranjang sang ibu ketika melihat beberapa perawat datang.


Salah satu dari mereka nampak mengecek alat kotak yang memonitor denyut jantung, pernapasan serta tekanan darah Lina.


"Silahkan,"


Dengan sigap para perawat lelaki itu mendorong bed Lina menuju ruangan rawat inap, tempatnya pemulihan beberapa hari kedepan. Sedangkan Ara dan Adrian, kedua orang itu mengikuti iring-iringan para perawat dari belakang.


"Mas," tangannya meraih lengan sang suami yang berjalan di depannya.


"Iya, " Adrian menoleh, melambatkan langkahnya membersamai sang istri.


"Biar aku yang merawat Mommy. Mas pulang saja, istirahat. Besok sudah harus bekerja lagi," Ara memperhatikan gerak-gerik sang suami yang nampak dipaksakan untuk tetap kuat.


Setelah fisiknya di tempa karena membantu sahabat lamanya Tony, sekarang berganti mentalnya yang diserang. Berita mengenai perjanjian pranikah mereka yang mencuat serta akibat yang harus ditanggungnya dari itu semua. Apalagi sakitnya sang ibu yang menjadi hal paling mengoyak hatinya, karena ialah penyebab dari semua kejadian ini.


"I'm fine dear," lelaki itu berhenti, kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. "Terimakasih untuk perhatianmu pada mommy, dan juga aku,"

__ADS_1


"Dia mommyku juga, Mas," ucap Ara yang mencoba keluar dari kungkungan sang suami. "Apa yang kau ucapkan? Apakah perhatian istri pada suami itu hal yang luar biasa? Itu sudah kewajiban, Mas," wanita itu mencubit lengan suaminya gemas. Jika setiap perhatian istri mendapat ucapan terimakasih semacam ini, maka tidak akan ada perang dunia rumah tangga yang terjadi.


"Hemm.. Baiklah, aku pulang setelah mengantar kalian sampai di ruangan. Nanti malam aku kesini lagi. Aku....." Adrian menarik sebelah sudut bibirnya, dan nampak bingung karena ingin menyampaikan sesuatu.


"Besok saja kesini lagi setelah dari kantor. Aku bisa sendiri merawat mommy," ucap Ara meyakinkan Adrian.


"Bukan itu," lelaki itu menggaruk pelan tengkuknya. "Aku tidak bisa tidur sendirian," ucapnya lirih.


Ara menarik tubuhnya sedikit menjauh dari sang suami. "Bukankah sebelum menikah denganku Mas tidur sendiri?" mata indah itu mendelik sinis pada sang suami.


"Itu dulu sayang. Sekarang berbeda. Ingat kan saat kau marah dan tidak ingin tidur denganku hingga aku tidur di ruang kerja?" sang istri mengangguk mendengarkan. "Aku belum tidur saat kau menyusulku, seandainya malam itu kau tak datang, pasti aku akan terjaga semalaman,"


"Baiklah,"


"Hanya itu?" Adrian mendelik, mengapa wanita di depannya itu menyepelekan ketergantungannya pada sang istri.


"Sebenarnya, aku ingin Mas di rumah saja. Di sana lebih nyaman untuk istirahat daripada disini," ucap Ara mengurai alasan mengapa ia kekeh agar ia saja yang menjaga sang mertua.


"Tapi obat tidurku disini. Gulingku disini dan selimutku ada disini juga. Mau tidak senyaman apapun, aku memilih bersamamu," dan Ara tak lagi bisa membantah alasan sang suami. Lelaki yang selalu menatapnya penuh cinta itu selalu saja mempunyai seribu alasan untuk tetap dekat dengannya, di waktu, tempat dan kondisi yang tidak mungkin sekalipun.


Setelah memasuki ruang perawatan dan memastikan Lina nyaman, para perawat itu pamit untuk kembali ke ruangannya.


"Nak, ini tidak nyaman bisakah tidak dipakai? Bukankah aku sudah baikan," ucap Lina seraya memegang selang oksigen yang menggantung dibawah cuping hidungnya.


"Maaf Bu, pernapasan anda belum stabil meskipun anda merasa sudah baikan. Dokter masih menyarankan untuk menggunakannya. Dipatuhi ya, demi pemulihan yang lebih cepat." ucap seorang perawat yang kemudian segera pergi menyusul yang lain.


Ara segera mendekat. "Mommy menurut saja, kalau cepat pemulihannya, dokter pasti mengizinkan untuk pulang lebih cepat. Sekarang Mommy istirahat, ya," jemari Ara bergerak menarik selimut sampai ke dada Lina, kemudian mengusap lembut surai dua warna yang menambah cantik wanita paruh baya itu.


"Aku pergi dulu. Ardi ada di luar jika kau butuh sesuatu," ucap Adrian yang segera pamit. Lelaki itu mengecup singkat bibir sang istri sebelum meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2