Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
bab 137 Perseteruan


__ADS_3

Adrian berdiri mematung, menatap kepergian sang anak. Hari ini ia menyadari, sang anak yang sudah mulai tumbuh besar tidak semudah itu diatur dan dilarang ini itu. Dani yang besar dengan kasih sayang paling besar dari omanya, tentu saja mempunyai ikatan batin lebih kuat dengan wanita paruh baya itu daripada dirinya. Sehingga ia lebih menurut dengan Lina daripada ayahnya sendiri.


Dani kecilnya yang dulu sudah sangat berubah. Meski anak itu mewarisi hampir seratus persen gen sang ayah termasuk keras kepalanya, namun sungguh saat-saat ia bersitegang dimana tidak ada sang ibu yang selalu menjadi penengah seperti ini, membuatnya kembali menyesalkan kepergian wanita cinta pertamanya itu yang terlalu cepat.


Dengan langkah lesu dan beberapa kali nampak menghela napas panjangnya, lelaki itu menyeret kakinya untuk masuk kembali ke dalam rumah.


Disana nampak paman dan bibinya serta sang istri yang menunggunya. Mereka menatap iba Adrian yang datang dengan wajah tanpa semangat.


"Beri waktu anakmu, Add. Dia pasti sangat terpukul kehilangan omanya. Suatu saat dia pasti akan menyadari kesalahpahaman ini," nasihat Aimi. Meski ia belum mengetahui detail cerita kemelut di keluarga kakak iparnya itu, namun ia sudah bisa sedikit menebak jika itu pasti berhubungan dengan pernikahan keponakannya itu. Wanita Jepang itu kemudian menggandeng Adrian hingga sampai di depan Ara.


Ara tak mampu berkata-kata. Otaknya serasa kosong, dan tatapannya hampa. Rasa bersalahnya semakin memuncak melihat kejadian barusan. Semua kesalahan yang berawal dari kehadirannya di rumah ini, hingga menyebabkan anak -satunya sang suami memilih keluar rumah bahkan dalam waktu belum genap satu hari kepergian sang ibu mertua.


"Add, om pergi sekarang saja. Kasihan Akio sendirian di hotel," pamit Setiyo. Ia ingin memberi waktu pada pasangan suami istri itu untuk berbicara. Agar masalah mereka tidak berlarut-larut, Setiyo memilih cepat-cepat meninggalkan rumah sang kakak.


"Kenapa buru-buru Om? kalian bisa istirahat sebentar atau kutemani sambil kalian makan." ucap Ara yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kalianlah yang sebenarnya butuh istirahat. Tante tahu pasti dari kemarin kalian sibuk mengurusi pemakaman mommy kalian. Tante dan om pamit ya," ucap Aimi yang segera menngandeng suaminya keluar setelah mendapat anggukan dari mereka berdua.


"Mas mau makan?" Ara menawari sang suami yang belum memasukkan makanan sebiji jagung pun dari kemarin. Lelaki itu menggeleng.


"Aku belum lapar, Sayang. Kamu makanlah lebih dahulu, aku keatas ya," ucap Adrian yang segera membalikkan badannya menaiki tangga.


"Aku juga belum lapar," Ara mengikuti sang suami . Wanita itu berjalan dibelakang punggung tegap yang nampak rapuh itu.


Di dalam kamar, Adrian terduduk di tepi ranjang. Lelaki itu melamun, entah apa yang dipikirkannya. Sang istri tidak berani mengganggunya, ia hanya menyiapkan beberapa piyama sebagai ganti jika Adrian sudah bersedia untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Cukup lama wanita itu mondar -mandir di depan sang suami. Dan Adrian hanya diam tidak merespon ataupun terganggu dengan apa yang dilakukan istrinya itu.


Hingga entah langkah yang ketiga puluh berapa. Adrian menarik tubuh sang istri dan membawanya untuk dekat dengannya. wanita itu sampai melengkungkan pinggangnya karena kaget.


"Apa yang kau lakukan?" akhirnya suaminya itu bersuara juga.


"Menyiapkan pakaianmu, Mas," Ara seperti orang yang ketahuan. Wanita itu mengulas senyum samar yang dipaksakan


"Kau yakin?"


"Iya. Barangkali Mas mau... mandi,"


"Aku lihat kau berkali-kali melewatiku?" ucap Adrian yang membuat Ara terkesiap. Ia melihat lelaki itu melamun tadi namun ternyata ia salah, suaminya itu rupanya mengawasi tingkahnya yang absurd.


Ya, Ara sengaja melakukannya karena ia bingung bagaimana memulai percakapan dengan suaminya.


"Iya, terimakasih kau sudah mengurusnya Sayang," lelaki itu tertunduk kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang sang istri yang berdiri di depannya. "Kau tidak akan meninggalkanku seperti Mommy kan sayang?"


"Semua orang akan mengalaminya, Mas," wanita itu mengusap lembut surai sang suami yang nampak lebih panjang. "Bukankah hidup dan mati itu sebuah ketetapan? Kita tidak bisa mengubahnya apalagi menolaknya," lanjutnya berusaha bersikap bijak.


"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin kau meninggalkanku. Biarkan saja aku yang dulu," tuk! Ara memukul bahu suaminya dengan keras.


"Mas bicara apa? Tidak akan ada acara meminggalkan ataupun ditinggalkan. Sudah bicara yang lain saja." Membicarakan hal sensitif seperti ini sering membuat Ara tidak dapat membendung airmatanya. Meski sebenarnya ia tidak ingin menangis. Namun matanya selalu bereaksi sebaliknya.


"Berjanjilah, Sayang." tatap Adrian pada sang istri. Lelaki itu merasa lega melihat anggukan kepala Ara yang kemudian mengecup kening sang suami.

__ADS_1


"Dani..." Adrian tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Hatinya serasa sakit disaat ia kehilangan sang ibu ia ditinggalkan pula oleh sang anak meski sebenarnya tidak jauh.


Menghela napas panjang, Ara melerai rengkuhan sang suami di pinggangnya. Wanita itu lalu meletakkkan bokongnya tepat di sebelah sang suami duduk.


"Aku akan membuatnya kembali. Aku janji," menautkan kedua tangannya, Ara mencoba menghibur Adrian. Meski hatinya sendiri tidak yakin bisa, namun bukankah tidak ada yang sia-sia jika kita selalu berjuang dengan optimis.


"Tapi jangan melakukan apapun diluar batasmu," nada khawatir berselimut ancaman dilontarkan Adrian pada sang istri. Karena terkadang wanita yang ia cintai itu lebih banyak menabrak batas yang ia buat. Dan lebih sering mengikuti pemikirannya sendiri hanya demi orang yang disayanginya.


"Tidak akan. Kau meragukanku, Mas? Hemm... " Ara malah melempar pertanyaan itu pada sang suami.


"No. Istriku yang paling hebat, meski kadang....,"


"Apa?? Meski apa?" Berbalut penasaran Ara malah mendelik pada sang suami.


"Tidak. Sudah aku mau mandi," Adrian langsung bangkit dan kabur dari istrinya.


"Jawab dulu Mas," sergah Ara namun ia tidak bisa menangkap tubuh sang suami yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.


Tersenyum tipis dengan tingkah Adrian, wanita itu melangkahkan kakinya keluar kamar menuju rooftop. Tangan kecilnya terangkat, kemudian mengusap airmata yang tiba-tiba saja mengalir. Entah mengapa, ia selalu cengeng jika dihadapkan dengan orang yang ia sayang.


Dengan menumpukan kedua tangannya di pagar pembatas balkon, Ara nampak menggumam."Seperti janjiku pada Mommy, Mas. Aku akan menjaga kalian dan akan melakukan apapun untuk kalian. Meski harus melewati batasku,"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dani melempar ponselnya serampangan. pikirannya kacau saat ini. Ia memilih meninggalkan rumah karena tidak ingin lagi bertemu dengan wanita yang menjadi istri ayahnya itu. Hatinya sudah sangat sakit saat mengetahui bukti kesepakatan pra nikah antara ayahnya dan wanita itu yang viral menjadi penyebab sakitnya sang oma. Belum lagi ditambah saat sang oma kritis tidak ada yang memberitahunya.

__ADS_1


Ponselnya terus-menerus bergetar. Banyak sekali pesan dari teman-teman sekolahnya yang mengucap belasungkawa atas kepergian sang oma. Namun tidak sedikit juga yang bukannya ikut sedih tapi malah membumbui dengan berbagai hal sindiran. Tak satupun yang dibalasnya. Ia hanya membacanya kemudian meletakkan kembali ponsel itu diatas sofa.


"Kelak aku pasti akan bisa mengusirnya. Dia hanya datang sebagai pengganggu,"geram Dani.


__ADS_2