
Agenda Ara hari ini adalah ke sekolah Dani, baru kemudian menyusul sang suami ke kantor. Dia mendapat mandat dari sang suami untuk mengurus segala administrasi dan surat-surat yang diperlukan. Sekalian menyampaikan permintaan maaf kepada orang tua dari anak yang dipukul oleh Dani. Meskipun anak itu bersalah tapi Dani yang memukulnya.
Keluar dari sekolah Dani, Ara yang diantar sopir sedikit was-was. Ia merasa diikuti sejak keluar dari mobil dan masuk ke halaman sekolah tadi.
Seperti sekarang, ketika urusannya di sekolah Dani telah selesai, wanita yang berjalan sendiri menuju mobil itu berpura-pura berhenti di depan gerbang sekolah dan membuka ponselnya. Padahal Ara sebenarnya tengah mengawasi sekitar.
Benar saja, ada dua orang yaang memakai helm di seberang. Mereka berboncengan dan berhenti disana, dengan tidak melepas helm sama sekali. Sesekali orang itu menatap. ke arah Ara sambil berbicara dengan temannya.
Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, Ara langsung berjalan dan memasuki mobil. Jika ia bersama Ardi, pasti ia lebih berani. Namun sekarang yang bersamanya adalah sopir yang sebelumnya selalu mengantar mommy. Bapak bapak yang umurnya 50-an dan sepertinya bukan orang yang jago beladiri.
"Ada apa, Nyonya?"
"Sepertinya kita diikuti. Pak. Langsung menuju kantor Tuan saja, ya. Saya takut." Meskipun sudah di dalam mobil, Ara masih memasang matanya untuk mengawasi gerak-gerik dua orang yang mencurigakan itu.
"Sjap, Nyonya. Saya mohon Nyonya jangan takut. Tua-tua begini, saya jago pencak silat. Saya bisa melindungi Nyonya," ucapan sopir mommy membuat Ara tercengang. Tidak nampak sama sekali bahwa lelaki paruh baya itu adalah orang yang jago pencak silat. Badannya tidak terlihat berotot, malah cenderung kurus dengan penampilan khas pak sopir yang sudah berumur.
"Jangan dipaksakan, Pak. Saya tidak apa-apa. Saya takut Bapak kenapa-kenapa. Kita langsung ke kantor tuan saja biar saya hubungi Ardi," ucap Ara yang memasang senyum ragunya. Ya, ia ragu dengan pak sopir yang mengaku bisa pencak silat tapi sungguh selama dia menjadi istri Adrian wanita itu tidak pernah melihat sang sopir memperlihatkan atraksinya.
"Tenang Nyonya." Segera fokus dengan kemudi nya, sopir dari mommy itu melajukan mobil menuju kantor sang suami.
Hingga sampai basement, Ara sudah ditunggu oleh Ardi. Sepertinya kedua orang yang mengikuti itu kalah cepat dengan Pak Ahmad, nama sopir sang mommy. Dia begitu lihai mencari jalan tikus hingga mereka tidak berhenti sama sekali karena tidak melewati rambu lalu lintas.
"Untung saja sudah sampai," ucap Ara menarik napas lega. Wanita itu langsung keluar dari mobil.
"Seperti apa orang yang mengikuti kalian Pak Ahmad?" tanya Ardi melongokkan kepalanya di kaca depan, karena pak Ahmad tidak turun.
"Saya tidak tahu, Mas. Sepertinya mereka tidak terlalu ahli dalam menguntit, tapi memang saya lihat mereka mengikuti nyonya dari nyonya masuk ke gedung sekolah tuan muda. Saya pikir hanya orang yang kebetulan lewat dan berhenti. Tenyata nyonya merasa janggal dengan gerak-gerik mereka,"
"Ar, memang Pak Ahmad bisa pencak silat?"
"Ohhh ... jago dia. Pak Ahmad diambil nyonya besar karena beliau seperti Si Pitung dari Betawi. Jago silat meski badannya kecil. Beliau ini teman kecil nyonya besa.," Ardi menjelaskan pada Ara siapa sebenarnya sopir yang dianggap Ara ora yang sudah tua itu. Pak Ahmad hanya senyum-senyum mendengar penjelasan Ardi pada sang nyonya.
"Benarkah? Maafkan saya Pak. Saya telah meragukan anda," ucap Ara menahan malu.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Bagi saya yang terpenting saya bisa menjaga Tuan dan Nyonya itu sudah cukup. Aksi saya tidak perlu diketahui. Itu pesan nyonya besar yang terakhir, Nyonya," Pak Ahmad mengangguk kemudian menerawang.
"Mommy?" Aak Ahmad mengangguk. Ara tidak menyangka sang ibu sampai berpesan pada orang-orang terdekat mereka untuk menjaga keluarga yang ditinggalkan. Sebegitu perhatiannya, mata Ara mendadak basah mengingatnya lagi.
"Pak Ahmad pulang duluan ya, nanti saya bareng Tuan saja," lelaki paruh baya itu pamit setelah mengiyakan perintah sang nyonya.
Sesampainya di atas, Ara yang berpisah di lift dengan Ardi, kaget melihat seseorang yang tidak asing dimatanya sedang dikursi tunggu didepan Vina duduk.
Bahkan orang itu sama sekali tidak menyapa saat tahu Ara datang. Tatapannya masih sama, sinis dan tidak suka.
"Eh, kamu mencari Pak Bos?" tanya Vina begitu mengetahui jika Ara datang.
"Iya Mbak, siapa lagi," jawab Ara dengan mata yang tidak lepas dari Lola. Ya, sepupu jauh Adrian yang lama tidak muncul, tiba-tiba ada disini. Entah apa yang dilakukannya.
Kemudian Ara memberi kode pada Vina dengan mengedikkan dagunya ke arah Lola. Gadis seksi itu memelototkam matanya.
"Oh ... dia menunggu pak bos juga. Katanya sepupunya." jawab Vina. "Mamu tidak kenal?" lanjut Vina.
"Kenal,"
__ADS_1
"Hah? Lalu kenapa dia tidak menyapamu? Sepertinya tatapannya padamu tidak suka, Ra. " Berbisik sambil membenahi berkas di mejanya, Vina mengatakan apa yang dia lihat.
"Ya, begitulah yang terjadi Mbak." Ara tentu tidak lupa, jika Lola pernah mencari perhatian Adrian dulu. Untungnya sang suami sama sekali tidak menanggapinya.
"Aku ... aneh saja dengannya, Ra. Dia angkuh sekali, padahal pak bos dan keluarganya saja tidak pernah bersikap seperti itu. Ini malah cuma status saudara sombongnya minta ampun." Vina yang orang lain saja bisa menilai bagaimana sikap seorang Lola. Padahal mereka baru pertama kali bertemu apalagi Ara yang benar-benar sudah mengetahui seluk beluknya.
"Biarkan saja, Mas Adrian meetingnya sudah lama?" tanya Ara pada sekretaris suaminya itu.
"Sebentar lagi seharusnya selesai. Tunggu di dalam saja," ucap Vina sambil mendorong tubuh Ara ke dalam ruangan Adrian.
Kemudian tidak beberapa lama, meeting selesai. Adrian dan Elang berjalan menuju ruangannya melewati Vina. Karena lelaki itu melihat keberadaan Lola di ruang tunggu mau tidak mau ia berhenti.
"Add, bisakah aku bicara denganmu sebentar?" pinta Lola yang langsung berdiri, ketika dilihatnya dari jauh, Adrian sedang berjalan menuju ruangannya.
"Tentang apa?" tanya Adrian yang nampak tidak nyaman dengan kehadiran Lola yang sama sekali tidak ia sangka.
"Bisa kita bicara diluar saja, sambil makan siang misalnya." Lola memberikan ide, kebetulan saat ini tepat jam makan siang.
"Maaf Pak. Nyonya menunggu di dalam." Vina tiba-tiba menyela dan memberitahukan keberadaan sang istri yang menunggu lelaki itu di ruangannya.
"Kenapa dia tidak mengabariku jika sudah datang," gumam Adrian lirih. Bahkan lelaki itu sampai mengeluarkan ponselnya, memastikan jika sang istri benar tidak menghubungi, atau mengirim pesan padanya.
"Sebentar saja Add, ini penting." Lola memohon namun tetap dengan gaya angkuhnya yang tidak dapat disembunyikan. Vina sampai menatap kesal karena sikap tidak menyenangkan yang di tunjukkan wanita itu.
"Kita bicara di dalam." Lelaki itu merujuk pada ruangannya tentunya. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Lola.
"Aku hanya ... Kita bicara empat mata saja, Add," ucap Lola yang membuat langkah kaki Adrian terhenti.
Memutar tubuhnya, lelaki yang yang menelusup kan kedua tangannya kedalam saku celana itu mengernyit. "Di dalam atau tidak sama sekali."
"Keluarga? Keluarga yang mana? Dia yang kau sebut itu adalah istriku. Dan istriku adalah keluargaku. Apapun tidak akan kusembunyikan darinya. Jika kamu ingin membicarakan tentang keluarga, masuk kedalam karena aku tidak akan pernah menemuimu di tempat yang kau mau itu. Apalagi cuma berdua," ucapan Adrian tegas. Lelaki itu segera berlalu tanpa menoleh ataupun perduli sepupunya itu akan mengikutinya atau tidak. Ia tidak suka dibantah.
Dengan terpaksa akhirnya Lola mengikuti Adrian dari belakang. Wajah culasnya tidak dapat disembunyikan. Hingga Vina sengaja merekamnya karena sungguh sepeninggal Adrian yang masuk ke ruangan lebih dulu, reaksi Lola sangat berbeda dengan yang ia tampilkan.
"Sayang, mengapa tidak mengabariku jika kau sudah datang?" Lelaki itu berjalan menuju sang istri yang berdiri di dekat jendela.
Cup! Adrian mencium bibir Ara tanpa canggung padahal Lola tengah ada dibelakangnya. Ia sengaja menunjukkan betapa sayangnya ia pada sang istri.
"Mas sedang meeting. Aku tidak ingin mengganggu," ucap Ara yang membalas pelukan sang suami setelah kecupan singkat dibibir mereka tadi.
"Aku lapar, kita makan diluar ya," pinta Adrian tanpa memperdulikan keberadaan sang sepupu yang menunggunya. Lola masih saja berdiri di belakang Adrian.
"Mas ...." dagu Ara mengedik mengarah pada Lola yang berdiri di belakang Adrian. Lola terlihat melirik kesal pada Ara.
"Bicaralah. Kau bebas bicarakan apapun meski ada istriku. Tidak ada rahasia diantara kami," Adrian mempertegas posisi istrinya disana.
"Tapi, kita bicara berdua saja Add." Lola masih saja meminta, padahal Adrian sudah berbicara tegas bahwa ia tidak akan menuruti permintaan sepupunya itu.
"Bicara disini atau keluarlah! Aku sudah lapar jadi jangan memancingku," ucap Adrian yang sama sekali tidak menganggap penting apa yang akan disampaikan oleh Lola.
"Emmm ... mama sakit, dan aku butuh biaya banyak. Kupikir, hanya kau keluarga yang kami punya dan dapat kami andalkan, Add," Uang, selalu saja itu dari dulu yang menjadi permasalahan keluarga Lola.
Sebenarnya bukan kekurangan, tapi karena ibu dan anak itu membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu. Sehingga keborosan kedua orang itu pernah membuat pekerjaan Ayah Lola dipertaruhkan, hingga bangkrut. Dan Adrian lah yang membantunya bangkit.
__ADS_1
Itu juga yang membuat Adrian sejenak berpikir, bukankah penghasilan ayah lola termasuk tinggi. Bagaimana mungkin hanya untuk berobat ibunya, wanita itu menemui Adrian.
"Sakit apa?"
"Entahlah, Add. Kata mama, ia menderita penyakit yang parah hingga akhirnya menyuruhku kesini untuk meminta bantuan padamu," ucap Lola memberi kejelasan.
"Bawa ke rumah sakit yang kau mau, dan katakan kalau kau keluargaku. Aku akan membayar seluruh biaya pengobatan ibumu yang kau bilang sakit parah itu." ucap Adrian, ia masih berbaik hati setelah apa yang dilakukan oleh Lola dan ibunya.
"Tapi kata mama dia tidak ingin merepotkanmu. Kami meminta uang saja, biarkan kami yang mencari rumah sakit sendiri," Lola masih beralasan, wanita itu kukuh menginginkan uang daripada langsung fasilitas yang diberikan Adrian.
"Kau butuh uang atau butuh berobat!?" Melipat tangan didepan dada, Adrian yang kini sudah memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Lola mengencangkan rahangnya.
"U ... Bukankah sama saja Add, uang itu juga akan kami gunakan untuk mengobati mama di rumah sakit," Lola mulai bingung bertahan dengan alasan yang sama sekali tidak logis itu.
"Bagiku berbeda. Ayolah kau tidak bodoh, aku tidak percaya kau tidak mengerti arah pembicaraanku,"
"E ... Aku mohon Add? " Lola mengiba, entah sandiwara ataupun nyata, wajahnya mengundang rasa kasihan.
"Jika sakit berobatlah. Berapapun biayanya akan ku bayar. Tapi jika kau butuh uang untuk hidupmu dan ibumu yang boros itu, aku tidak akan pernah memberikannya." Dengan tegas Adrian memutuskan pembicaraan diantara mereka.
Sakit hati, itu yang dirasakan Lola saat ini. Dulu Adrian tidak pernah menanyakan untuk apa uang yang keluarganya minta itu. Namun sekarang, Lola menganggap sepupunya itu perhitungan. Padahal yang terjadi sebenarnya, Adrian tidak akan pernah bisa melupakan kejadian menyakitkan yang pernah Lola lakukan dulu.
Tanpa berkata atau membantah lagi, Lola pergi. Bahkan ia keluar begitu saja tanpa pamit. Membuat Adrian tersenyum miring, karena tentu saja tidak mungkin tantenya atau ibu dari Lola itu sakit, yang ada pasti boros.
"Ayo kita makan, Sayang. Aku sudah lapar." Adrian menjepit bibirnya sambil meringis seakan-akan perutnya sakit. Padahal tangannya tengah menggenggam erat jemari sang istri dan bersiap memaksanya keluar.
"Mas, kalau ibu dari Lola sakit beneran bagaimana?" Adrian menggeleng. Ia sudah tahu trik yang dilakukan ibu dan anak itu.
"Mereka butuh uang, bukannya sakit. Dan aku tidak akan pernah memberikannya lagi," tegas Adrian.
"Baiklah. Kalu begitu ayo kita makan di luar," ajak Ara menggandeng lengan sang suami.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di rooftop, bangunan tinggi nan megah milik perusahan Ilyasa itu ada dua orang yang tengah asyik bercanda.
Adrian terlihat melepas jas dan dasinya. Lelaki itu hanya mengenakan kemeja biru langitnya kemudian menggulung bagian lengan hingga ke siku.
Makan di luar yang dimaksud Ara ternyata hanya diluar ruangan, bukan di restoran. Setelah memesan makanan yang disukai Adrian lewat aplikasi pengantar makanan, Ara mengajak sang suami untuk naik hingga ke bangunan paling atas dari gedung perusahaannya itu.
Tersenyum geli, Adrian menghampiri sang istri yang tengah menyiapkan makanan. Disana ada taman kecil yang didalamnya ada sebuah saung kecil untuk tempat duduk. Jadi angin tidak terlalu terasa kencang saat mereka berada disana.
"Jadi ini makan diluar kita, Sayang?"
"Iya. Kita sedang makan diluar kan Mas, sekarang?" Ara menahan senyumnya. Ia tahu ini diluar ekspektasi sang suami yang membayangkan makan di restoran dengan privasi penuh hingga terasa eksklusif.
"Lumayan. Tapi jujur sangat jauh dari ... bayanganku." Senyum kecil Adrian menandakan jika lelaki itu cukup menyukai tempat dimana mereka berada sekarang. "Bagaimana kau tahu tempat ini, sedangkan aku tidak pernah sekalipun mengajakmu kesini?"
"Aku mengetahuinya dari OB Mas yang bertugas membersihkan tempat ini. Tidak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka, jadi aku penasaran,"
"Oh, iya Mas. Sepertinya tadi ada yang mengikutiku saat aku ke sekolah Dani," sembari mengambilkan makanan ke piring untuk Adrian, Ara menceritakan kejadian siang sebelum ia sampai di kantor suaminya itu.
"Mengikuti? Baiklah besok-besok kalau kau keluar kau harus ditemani Ardi. Jika aku tidak repot, aku yang akan mengantar." Lelaki itu langsung berdiri untuk menghubungi anak buahnya dan menyelidiki siapa penguntit istrinya.
__ADS_1
"Apa? Siapa yang menghubungimu? Biar aku kesana sendiri. Aku yang akan menyelesaikannya nanti,"
"Siapa Mas?"