
"Hai, Dad!"
"Hei, sejak kapan kau sampai? Mengapa tidak menghubungi Daddy?" Dani membungkuk, memeluk sang ayah yang tengah berbaring setengah duduk di tempat tidurnya. Dan tidak ada yang berubah, meski tidak berada di kantor atau ruang kerjanya, benda persegi canggih milik ayahnya itu selalu ada bersamanya.
"Ah ... Ayolah Dad. Daddy harus istirahat. Mengapa masih membawanya disini?" Dani berniat mengambil macbook yang ada di meja kecil di depan sang ayah. Namun Adrian malah menepis tangan anak lelakinya itu.
"Huss! Daddy sebentar lagi meeting. Jangan membuat Daddy malu. Nanti kau juga akan begini jika sudah menggantikan Daddy. Istirahat sana!Kamu pasti lelah," usir Adrian. Lelaki itu sampai merengkuh macbook nya karena sang anak sedikit nekat untuk mengambilnya.
"Daddy yang seharusnya istirahat bukan aku. Awas saja! Aku pecat Elang kalau ia sekalipun tidak membantu pekerjaan daddy," ancam Dani yang lebih seperti sebuah lelucon. Karena pemuda tampan itu tahu sang ayah tidak akan membiarkannya. Adrian tidak pernah membiarkan sekelilingnya diusik, termasuk asistennya yang setia itu.
"Elang mengerjakan yang lain. Jangan kau sentuh asisten Daddy. Nanti jika kau menjabat menggantikan daddy kau harus mencari asisten sendiri."
"Siapa yang mau menggantikan Daddy? Aku pulang hanya menjenguk saja, Daddy belum pantas digantikan. Masih gagah dan kuat serta kompeten. Tidak tergantikan!" ucap Dani yang mendapat decakan kesal dari sang ayah.
Tok.
Tok.
"Minumnya Tuan Muda. Saya kira Anda ada di kamar sedang istirahat." Bibi Yulia masuk membawa nampan yang diatasnya ada segelas jus Apel.
"Ya, seharusnya seperti itu, Bi. Anak ini menggangguku bekerja saja," kesal Adrian. Bayangkan saja, Dani bukan hanya mengajak sang ayah beradu argumen, namun tangannya juga sesekali tetap mencari kesempatan untuk mengambil macbook warna silver milik sang ayah.
"Daddy dan Bibi sama saja. Aku bukan anak-anak lagi. Aku sudah dewasa sebut saja aku pemuda bukan anak." geram Dani yang langsung berdiri mengambil gelas dari bibi Yulia dan menghabiskan isinya. Kemudian pemuda tampan itu hendak keluar dari kamar ayahnya.
"Kalau sudah istirahat tengoklah perusahaanmu Dan. Kau harus belajar mulai sekarang," titah Adrian yang akhirnya membuat anak lelakinya itu menghentikan langkahnya.
"Sudah kubilang, aku pulang untuk Daddy bukan perusahaan ini. Jadi biarkan aku bersenang-senang dengan Daddy. Perusahaan itu urusan Daddy," ucap Dani yang langsung keluar, kemudian menutup pintu tanpa mendengarkan jawaban dari Adrian.
Bibi Yulia dan Adrian hanya saling menatap melihat tingkah laku Dani. Kedua orang beda generasi itu menggeleng bersamaan kemudian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sudah bersih?"
"Sudah Tuan. Semua sudah saya tarik ke Jakarta," jawab Elang saat mengakhiri laporannya tentang aktifitasnya selama di Bandung.
Namun asisten Adrian itu tentu menutupi satu hal, yaitu pertemuannya dengan Ara. Karena ia sudah dipaksa berjanji oleh wanita yang menjadi istri majikannya itu.
Adrian menghela napas panjangnya. Matanya mengerjap gelisah, namun tidak ada orang yang tahu apa yang dipikirkannya.
"Mulai besok kau berangkat dengan Dani. Aku akan menyusul setelahnya," titah Adrian sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Tapi ...Tuan belum sehat benar. Berangkat bersama saja, Tuan." Elang memberi alternatif pada sang majikan. Besok adalah hari pertama Adrian masuk ke kantor kembali. Sesuai dengan nasihat dokter yang menanganinya.
"Kalau kita berangkat bersama, Dani pasti akan menolak pergi. Kau tahu anak itu pintar mencari alasan bukan?"
"Baik jika begitu, Tuan."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Pagi, Dad!"
"Darimana kau sepagi ini?" Saat ini jarum jam baru menunjuk di angka setengah enam pagi. Namun anak lelakinya itu datang dengan pakaian olahraga lengkap. Apa benar ia olahraga sepagi ini?
"Memang pakaianku tidak menjelaskan aku darimana?" Dani langsung menenggak segelas air putih hangat milik sang ayah yang ada di depannya.
"Siapa tahu kau mimpi dan tidur sambil berjalan," ucap Adrian sarkas. Membuat kesal Dani yang masih berdiri di sebelahnya.
"Memangnya aku Daddy yang malas olahraga. Aku sudah berubah sekarang," protesnya. Padahal tanpa Dani tahu, Adrian juga giat berolahraga, hanya saja ia langsung ke ruang gym di dalam rumahnya. Tidak pernah sekalipun keluar jika tidak dengan istrinya.
Adrian melengkungkan bibirnya sebelah. Memang banyak yang berubah dari anak lelakinya itu, sejak bertemu terakhir kali beberapa tahun yang lalu. Kecuali satu hal, traumanya pada makhluk yang disebut wanita.
"Daddy tidak percaya?" ucap Dani melotot.
"Percaya hanya saja belum seratus persen," sahut Adrian asal.
"Apa gadis-gadis disana tidak ada yang berminat pada pemuda tampan yang memiliki tubuh atletis sepertimu, Boy?"
__ADS_1
"Jangan tanyakan hal yang tidak penting, Dad. Oh, iya. Hari ini aku jadi ke kantor dengan Elang?" Sangat kentara Dani mengalihkan pembicaraan dengan sang ayah.
"Tentu saja. Daddy sudah mengatakannya berulang-ulang, kau harus belajar mulai dari sekarang. Jika tidak ingin bawahanmu lebih pintar darimu." Adrian memancing respon sang anak.
"Tidak bisa! Itu perusahaanku, tentu saja aku yang harus mengetahui seluk beluknya bukan orang lain. Tapi jangan senang dulu Dad, aku tidak akan membuatmu pensiun dini. Daddy harus tetap menjabat CEO disana." Senyum Dani menyeringai merasa menang
"Mana bisa begitu? Itu semua akan menjadi milikmu, jadi kau yang harus bertanggungjawab. CEO setua Daddy tidak akan menarik." Adrian mengambil gelas yang ada di depannya. "Kau meminumnya? Dasar tidak sopan!" umpatnya yang ditanggapi tawa oleh sang anak.
"Kukira Daddy melihat tadi saat aku mengambilnya," ucap Dani membela diri. Pemuda setampan ayahnya itu masih terkikik mengingat ayahnya yang seperti kena prank. "Ck, itu alasan Daddy saja mau melepas tanggung jawab."
"Tuan Muda, Anda harus izin dahulu kalau mengambil yang bukan milikmu." Bibi Yulia datang membawa air hangat baru untuk Adrian dari dapur.
"Ah, Bibi. Kau dulu sering membelaku. Kenapa sekarang membela Daddy. Apa karena aku lama tidak pulang ke rumah ini?" Tuduhan Dani malah membuat wanita paruh baya itu tidak bisa menahan tawanya. Sifat Dani masih sama sampai sekarang.
"Bisa jadi, Tuan Muda. Bibi ini sudah tua, apalagi Anda berada sangat jauh disana. Mungkin saja suatu saat nanti Bibi akan lupa dengan Anda," ucap bibi Yulia yang membentuk opininya sendiri.
Dani langsung berdiri kemudian menghampiri wanita yang seumuran omanya itu kemudian memeluknya. "Tidak boleh. Bibi tidak boleh lupa denganku. Maafkan aku, ya. Sekarang Bibi masih mau membelaku, kan?" Dani berbisik kemudian menaikturunkan alisnya menggoda bibi Yulia.
"Hah, sama saja ada maunya." Kepala pelayan yang bekerja puluhan tahun itu memukul pelan lengan kekar pemuda tampan yang lebih tinggi dari ayahnya itu.
Kemudian dua orang yang mirip cucu dan neneknya itu tertawa bersama sambil menceritakan masa lalu mereka dulu. Saat Dani kecil hingga remaja, anak itu lebih sering tinggal dengan omanya daripada sang ayah. Otomatis kenangan mereka sangat membekas.
Adrian menyunggingkan senyumnya. Sang ibu pasti bahagia melihat mereka bersendau gurau seperti ini. Itulah amanahnya, menjaga mereka tetap bahagia dan selalu bersama, meskipun belum lengkap.
Mendadak sorot mata Adrian meredup. Ya, kebahagiaannya belum lengkap. Mereka belum bisa bersama. Dan... Senyum yang mengulas itu akhirnya terlihat seperti terpaksa. Masih kurang. Masih belum ada Ara. Dadanya memompa cepat hanya dengan memikirkan istrinya itu.
\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=
"Wow, sekretaris Daddy masih mbak Vina? Setelah sekian tahun?" ucap Dani berbisik. Pemuda tampan itu berjalan beriringan dengan Elang, ketika para lelaki itu hampir melewati ruang sekretaris untuk masuk ke dalam ruangan Adrian. Asisten sang ayah hanya tersenyum tipis menangapinya.
"Vina yang paling kuat bertahan Tuan Muda." Sekarang giliran Dani yang berdecak mengejek.
Vina kaget melihat yang datang bukan sang majikan melainkan anaknya. Gadis seksi itu mengerjap takjub. Anak lelaki itu telah menjadi pemuda tampan yang melebihi ayahnya. Misterius dan menawan.
Untung saja dia berusia diatasnya. Kalau tidak, mungkin dia akan tebar pesona. Tapi ada fakta lain yang harus ia telan pahit lebih dulu. Karena menurut Elang, Dani adalah pribadi yang lebih sulit daripada sang ayah. Dengan Adrian saja Vina sudah kuwalahan apalagi yang ini.
"Selamat pagi, Sir." Vina mengangguk hormat, dan sangat menyedihkan ia tidak mendapat respon yang cukup baik dari sang kandidat CEO baru di perusahaan tempat ia bekerja itu.
Di dalam ruangan, Dani melemparkan tatapannya ke sekeliling. Ia begitu takjub dengan ruangan sang ayah yang nampak luas karena pilihan perabot dan penataan yang menarik.
"Bagus juga ruangan Daddy, tidak banyak berubah," ucap Dani menyukai dekorasi dan pilihan ayahnya yang tidak pernah gagal. Minimalis dan di dominasi warna biru tua, warna kesukaan Adrian.
Dani menuju meja sang ayah, dan mencoba kursi berputar yang nanti akan ia tempati itu.
"Hari ini, hanya ada beberapa berkas yang harus diperiksa Tuan. b
Besok kita baru mulai meeting lagi. Sejak Tuan sakit, Tuan lebih sering meeting dengan zoom, namun jika bisa diwakilkan baru saya yang menggantikan."
"Baiklah, bawa berkas yang harus kuperiksa. Aku tidak ingin membuang waktu percuma." Elang segera izin keluar menuju ruang berkas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ssssshh...." Ara merasakan sakit pada perutnya. Kontraksi ini membuatnya berulang kali menarik napas panjang untuk mengurangi sakitnya. Ini sudah terjadi sejak satu jam yang lalu.
Sebenarnya, Ara ingin ke dapur untuk membantu yang lain, namun baru berjalan beberapa langkah sakit pada perutnya datang kembali.
Dengan tertatih ia menuju kamar mandi. Rasanya ia ingin buang air kecil dan sudah tidak dapat ia tahan. Hingga baru saja masuk air seni berwarna putih itu langsung membasahi pakaiannya. Bahkan wanita itu belum sempat menutup pintunya.
"Kak ... Kak Ara," teriak Fatma dari luar. Ini sudah jam sembilan dan wanita hamil itu belum menampakkan batang hidungnya. Membuat mereka yang di dapur khawatir. Hari perkiraan lahir masih dua minggu lagi, namun hal itu tidak bisa dijadikan patokan. Seringnya kelahiran terjadi lebih cepat dari waktu perkiraan.
"Ssshh .. Aku disini, Fat. Kemarilah, tolong aku, " sahut Ara yang menumpukan kedua tangannya pada wastafel. Perutnya kembali berkontrasi hingga hampir membuatnya lemas. Bahkan kedua kalinya bergetar tidak kuat menahan beban tubuhnya.
"Kakak kenapa?" Fatma yang mendengar suara dari kamar mandi bergegas menuju kesana. Setelah tiba, ia malah kaget melihat pakaian bawah Ara basah kuyup. "Kakak mau melahirkan?"
"Sepertinya iya, perutku sakit sekali Fat, tolong panggil bu Sri," pinta Ara pada Fatma.
"Sebentar aku bantu Kakak berbaring. Kita ganti dulu yang basah ini, nanti kakak masuk angin." Fatma segera mengambil pakaian ganti untuk Ara dan membantu mengenakannya.
__ADS_1
"Sudah keluar darah, Kak. Sepertinya memang sudah waktunya," ucap Fatma yang membantu melepas ****** ***** Ara. Gadis itu sangat telaten karena ia sudah terbiasa mengurus anak-anak yang masih belum bisa mandiri di panti asuhan itu.
"Kakak tunggu disini, jangan turun ke mana-mana dulu. Aku panggil bu Sri," ucap Fatma, dan setelahnya ia langsung berlari mencari bu Sri.
\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=
"Sejak kapan terasa sakitnya, Bu," tanya Dokter yang memeriksa. Beberapa bidan nampak sedang mempersiapkan perlengkapan untuk persalinan, sementara Ara ditemani oleh bu Sri.
"Beberapa jam yang lalu, Dok." Ara terus meringis menahan kontraksi yang semakin lama semakin sering. Sementara bu Sri mengusap rambutnya dan memegang erat tangan wanita itu untuk memberikan kekuatan.
"Saya periksa dulu, ya?" Hanya dijawab anggukan oleh Ara. Karena jika kontraksi itu datang, Ara tidak dapat berbuat apapun kecuali mendesis dan mengambil napas panjangnya.
"Wah, rupanya ketubannya sudah pecah, dan jalan lahir sudah terbuka sempurna Ibu ikuti instruksi saya, ya. Hanya saya. Perhatikan dengan benar agar tidak salah mengedan," jelas Dokter yang sudah mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap.
Semua peralatan yang diperlukan sudah tertata ditempatnya. Dokter sudah berposisi didepan Ara bersama beberapa bidan yang berdiri disamping Ara selain bu Sri.
"Boleh ditemani suami, Bu. Barangkali mau bertukar tempat dengan Ibu ini," ucap dokter memberitahu.
Ara terdiam sejenak. Jemarinya masih bertaut erat dengan jemari bu Sri. "Biar Ibu saya saja, Dok. Suami saya sedang bekerja di tempat yang jauh dan tidak bisa pulang," ucapnya sembari menunduk. Remasan tangan bu Sri menguat, wanita paruh baya itu mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan Ara.
"Baiklah tidak mengapa. Ikuti instruksi saya, ya. Jika nanti perutnya terasa kontraksi atau sakit, Ibu langsung mengedan, ya. Mengedan sekuat-kuatnya."
"Kamu pasti bisa. Kamu harus kuat untuk anak kamu, Ra," bisik bu Sri yang dibalas senyuman oleh Ara.
Beberapa menit kemudian. " Sssshhh ... Sakit, Dok," ucap Ara terbata. Rasa sakit beserta rasa sesuatu dibawah sana yang mendesak ingin keluar tidak dapat ditahannya lagi.
"Ayo, Bu. Mengedan yang kuat," teriak dokter itu memberi semangat.
"Aaaaaaaa...."
Beberapa kali berulang, dengan teriakan yang sama. Kemudian dipuncak rasa sakitnya, Ara hanya mengingat suaminya, ia membayangkan Adrian berada disana dan menemaninya.
"Aaaaaaahhhhhh, Mas...." Dan terdengarlah suara tangis bayi yang membuat semua orang yang ada disana lega. Akhirnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adrian nampak gelisah, lelaki itu mondar mandir tidak jelas di dalam ruangannya. Padahal baru beberapa saat yang lalu, lelaki itu mengajari anaknya beberapa hal yang penting. Yaitu mengenai tugas apa saja yang menjadi tanggung jawab anaknya nanti, setelah menggantikannya.
"Daddy kenapa?" tanya Dani yang heran dengan tingkah sang ayah.
"Entahlah Dan. Jantung Daddy berdetak cepat dan rasanya tidak tenang," ungkap Adrian tidak bisa mendefinisikan apa yang dirasakannya sekarang.
"Ada yang sakit, Dad?" Adrian menggeleng. Memang tidak ada yang terasa sakit dengan tubuhnya. Namun entah mengapa ia gelisah.
"Duduklah, Dad. Minum dulu." Dani berdiri meninggalkan kursinya, mengambil segelas air minum, memapah sang ayah ke sofa kemudian menyoodrkan gelas yang ia bawa.
"Apa perlu saya panggil Dokter, Tuan?" Elang mendekat pada sang majikan yang masih nampak bingung dengan kondisinya sendiri saat ini.
"Tidak usah, Lang. Aku tidak apa-apa." Gelas masih berada dalam genggamannya. Adrian tertunduk lesu mengatur deru napasnya yang ikut menggila bersama jantungnya yang memompa lebih cepat.
"Hubungi Dokter Kim saja, Lang. Aku tidak ingin Daddy kenapa-kenapa," titah Dani.
"Tidak usah, Dan. Daddy tidak apa-apa." Tangan Adrian melarang Elang keluar dari ruangannya. "Aku istirahat saja sebentar didalam, nanti juga baikan."
"Jangan ditutup pintunya, Dad," pinta Dani. Ia khawatir dengan kondisi sang ayah.
"Iya."
Rupanya jiwa mereka terikat satu sama lain. Saat Ara tengah berjuang kesakitan melahirkan malaikat kecil mereka, meski Adrian tidak tahu namun hati mereka yang sudah menyatu membuat Adrian ikut merasa gelisah. Rasa itu baru mereda bersamaan dengan tangis makhluk kecil yang baru melihat dunia itu lahir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Siapa yang akan mengadzankan bayinya bu?" tanya seorang bidan yang masuk ke ruangan rawat Ara, ketika semua proses sudah selesai.
Ara, bu Sri dan yang lain hanya saling menatap bingung. Kemudian ada seorang lelaki yang tiba- tiba masuk dan menawarkan diri.
"Saya saja, jika diperbolehkan."
__ADS_1
✌Ahhh.. siapa dia?
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya... gomawo❤️