Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 251


__ADS_3

Akhirnya, Adrian mengizinkan Ara kembali ke Bandung untuk menyelesaikan semua urusannya disana. Sebelum menetap selamanya di Jakarta. Namun ia hanya sendiri. Merra harus tetap sekolah, jadi gadis kecil itu langsung didaftarkan di sekolah barunya di Jakarta.


Esther tidak jadi ikut ke Jakarta. Ia ingin tinggal di rumah Ara di bandung bersama pasangan suami istri yang mendapat limpahan tanggung jawab untuk mengelola toko bunga milik Ara.


Esther merasa dirinya adalah orang lain dalam kehidupan putri angkatnya. Tidak ada kewajiban Ara untuk merawatnya. Lagipula, ia merasa canggung jika harus serumah dengan Adrian. Meski Adrian berkali-kali mengatakan jika ia sudah melupakan masa lalu yang terjadi diantara mereka. Dan yang paling mengejutkan, wanita paruh baya itu memberikan seluruh hasil penjualan tanahnya yang ada di Jakarta pada Ara.


Sebagai orang tua yang mengangkat seorang anak, Esther berpikir bahwa ia harus memberikan warisan kepada anak angkatnya itu. Namun semuanya habis tak bersisa hanya sebidang tanah peninggalan sang suami yang memang sengaja dipertahankan untuk diberikan pada Ara. Meski Ara tidak pernah meminta ataupun mengharapkannya.


Satu tahun berlalu,


Merra sudah masuk SD. Dan setiap hari ia hanya mau ke sekolah jika diantar kakak atau daddynya. Tidak mau dengan mama apalagi dengan sopir. Namun begitu, Dani selalu mengambil tanggung jawab itu baik mengantar ataupun menjemput sang adik, karena meskipun dia seorang CEO di kantor ia tetaplah kakak bagi adik perempuan satu-satunya itu.


Ya, Dani sudah mengambil sepenuhnya tanggung jawab sang ayah di pundaknya. Dia menjadi CEO tunggal dari semua perusahaan raksasa keluarga Ilyasa. Sedangkan sang ayah, hanya sebagai komisaris yang hanya sesekali datang ke kantor.


Lelaki tampan yang percaya diri dengan rambutnya yang sudah dua warna itu, benar-benar telah pensiun dini. Dia hanya mengawasi saja, baik pada perusahaan keluarga ataupun perusahaan pribadinya yang kepemilikannya telah dirubah dari Ara menjadi Ara dan Merra.


Bu Fatimah sudah tutup usia beberapa bulan yang lalu. Wanita sepuh yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk panti asuhan itu sakit-sakitan di masa tuanya.


Dan sebagai penggantinya adalah bu Sri. Meski beliau tidak sehebat bu Fatimah dalam hal kepemimpinan sebuah yayasan, namun rasa tanggung jawab dan welas asihnya kepada anak-anak membuat bu Fatimah mempercayakan keberlangsungan panti asuhan kedepannya pada wanita paruh baya itu.


Fatima telah lama meninggalkan panti asuhan. Ia tinggal dengan keluarga kecilnya. Sahabat baiknya lah yang menikahinya.


Sedangkan Sinta, ia masih sibuk meneruskan pendidikanya di bangku kuliah sambil mendampingi bu Sri mengelola panti. Sinta mengambil studi keperawatan karena ia bercita-cita membangun klinik di dalam panti asuhan. Ia berpikir agar dirinya bisa membantu adik-adiknya yang sakit di dalam panti asuhan meskipun hanya dalam bentuk pertolongan pertama.


Bagaimanapun, Sinta adalah sosok cekatan yang bisa diandalkan dari dulu oleh bu Fatimah. Dan sampai saat ini pun Sinta enggan benar-benar pergi dari sana.


Kabar terakhir yang terdengar, ia kembali dekat dengan dokter Oryza yang merupakan idolanya. Dokter tampan yang sengaja mendekati Ara karena permintaan kakak sepupunya untuk menjaga wanita itu.


Tony masih setia dengan sang istri, Laura. Meski perkembangannya lambat, namun wanita yang pernah dekat dengan Adrian itu tidak pernah lagi berteriak-teriak setiap kali Tony menjenguk. Hingga lelaki itu akhirnya memutuskan untuk membawa sang istri pulang dan merawatnya di rumah.

__ADS_1


Elang, masih setia menjadi bodyguard Adrian. Tidak sekalipun tanda-tanda lelaki itu ada hubungan dengan wanita. Entahlah, mungkin Elang sudah lelah dengan makhluk Tuhan yang berjuluk paling seksi itu.


Mela keluar dari pekerjaannya yang lama. Ia mendapat tawaran pekerjaan baru di Kalimantan, namun di kantor cabang Jakarta. Tentu hal itu sudah menjadi pilihannya dari awal. Ia mengatakan pada Ara, ingin berjuang kembali untuk mendapatkan hati Elang. Sampai kapanpun tidak akan berhenti meskipun beberapa kali ia mendapatkan penolakan serta kata-kata menyakitkan dari lelaki itu. Mela memang pantas mendapat julukan pejuang sejati.


Lola bersama ibunya sudah keluar dari penjara. Mereka berdua menghilang entah kemana. Sepertinya mereka sudah jera untuk mengusik kehidupan Adrian kembali. Sedangkan Pandu sang paman, ia memilih menikah lagi dengan wanita dari desa yang menghargainya dan mau merawatnya. Karena terakhir kali, Laila pergi dengan Lola meninggalkan banyak sekali hutang. Akibat gaya hidup mereka yang hedon.


Apa kabar Rheina? Dia tumbuh menjadi pengusaha wanita yang tidak bisa dipandang sebelah mata di luar negeri sana. Gadis itu memang cerdas. Fokusnya hanya mengembangkan perusahaan ayahnya yang ada disana.


Ia masih sendiri. Tentu saja, karena ia meletakkan hatinya hanya pada satu orang yang bahkan tidak menganggapnya sama sekali. Meski begitu, Rheina tidak pernah melewatkan berita tentang lelaki pujaannya yang karirnya juga semakin berkilau di tanah kelahirannya, Indonesia. Dan gadis itu sering tertawa kecil jika melihat beberapa hasil foto Dani dari orang suruhannya. Ahhh ... Dia semakin rindu saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Rumah megah milik keluarga Ilyasa nampak terang benderang malam ini. Lampu-lampu kristal yang mahal menghiasi langit-langit ruangan yang memanjang. Bunga tulip, daisy yang masih segar menghiasi setiap sudut ruangan juga di meja panjang dekat dengan peralatan makan yang ditata begitu artistik oleh para profesional yang biasa melakukannya di hotel- hotel berbintang.


Tidak banyak orang hilir mudik. Karena tamu yang diundang oleh pemilik rumah, hanya dari kalangan terbatas. Saudara, sahabat, beserta orang terdekat saja. Tidak lebih dari 150 orang. Setiap tamu yang masuk pun menjalani pemeriksaan ketat oleh orang-orang orang Dani. Dan dijaga sedemikian rupa hingga tidak ada celah sedikitpun bagi pihak luar yang tidak berkepentingan untuk tahu. Pemuda itu lebih posesif terhadap keluarganya dibanding sang ayah.


"Kak, ini sebenarnya acara apa?" cicit Merra yang melingkarkan lengannya di lengan sang kakak. Dani terlalu posesif terhadap adik kecilnya itu. Sementara kedua orang tua mereka tengah menikmati liburan, Merra menjadi tanggung jawabnya penuh. Sehingga saat ini, kemanapun Dani melangkah menyalami satu persatu tamunya, sang adik menempel di sampingnya.


Dani memang sengaja tidak memberitahu adiknya acara kejutan malam ini, yang ia buat untuk ayah dan ibunya. Karena gadis kecil itu sering kali membocorkannya sehingga tidak menjadi kejutan lagi. Kalau bukan Merra yang melakukannya, Dani pasti sudah marah besar setiap kali itu terjadi.


Selain itu, Dani ingin mengukuhkan pada kolega-koleganya akan keberadaan sang adik yang sama kuatnya dengannya. Meskipun mereka berbeda ibu.


Hanya Adrian yang tahu, jika Dani meminta menorehkan nama mereka berdua yaitu Dani dan Merra menjadi pewaris seluruh kekayaan Ilyasa dari tangan ayahnya. Meski Adrian tidak menuntut namun bagi Dani, mereka harus sama-sama mendapatkan bagian yang adil. Itu juga yang menjadi syarat Dani mau menerima tampuk kepemimpinan tertinggi pengelola perusahaan Ilyasa. Dan Merra akan bergabung dengannya, jika usia gadis kecil itu telah cukup, dan pendidikannya telah selesai nanti.


"Acara biasa. Kenapa kau cerewet sekali, Sayang. Sudah ikuti saja kemana kakak memperkenalkanmu," ucap Dani membelai lembut pucuk kepala Merra.


"Kakiku sakit, Kak," keluh gadis kecil itu. Wajahnya cemberut meski Dani menarik kedua pipinya agar tersenyum.


"Jangan alasan lagi! Kakak sudah memberikanmu sneakers dua. Bukankah sekarang kau sedang memakainya?" Dani bukannya kesal tapi dia malah sengaja iseng pada adiknya itu. Dengan menggandeng Merra kesana kemari.

__ADS_1


"Kan aku masih kecil. Kenapa aku diperkenalkan dengan orang dewasa? Harusnya kakak mengundang anak-anak mereka untuk dikenalkan padaku." Merra menghentakkan kakinya karena kesal dengan sang kakak.


"Kakak kan orang dewasa, tentu saja yang diundang orang dewasa, cantik." Dani mencubit dagu adiknya yang memaksa duduk di sebuah kursi kecil di dekat tangga.


Tanpa pamit, pemuda itu pergi mengambil minuman, dan meyerahkannya pada sang adik.


"Kakak peka juga kalau aku haus. He he." Merra berbinar mendapat segelas minuman dingin dari sang kakak. Gadis kecil itu langsung menghabiskannya, hingga cairan merah dari sirup itu tertinggal di sudut bibirnya.


"Ihhhh, anak-anak ya." Dani yang gemas langsung mengambil tisu untuk menghapusnya. "Ayo ikut kakak lagi."


Dani hendak menggandeng lengan adiknya, namun gadis kecil itu malah membuat drama baru.


"Merra lapar, Kak. Sejak tadi cuma mengangguk dan memberikan senyuman karena dikenalkan tapi tidak diberi makan." Wajah memelas yang dibuat Merra sungguh menguji kesabaran.


"Ya ampun Merra." Dani mendelik tajam, padahal dua jam yang lalu saat rambutnya dirapikan oleh hair stylist, gadis kecil itu telah meminta pizza sebagai syarat padanya. "Sudah lapar lagi?"


Merra mengangguk dengan memasang senyum manisnya. Jangan lupakan tangan kecilnya yang mengusap perut memberi kode sang kakak.


"Daddy dan Mama akan segera tiba," bisik Dani yang merangkul Merra. "Makannya nanti saja, kakak ambilkan buah ya?"


"Merra tidak sedang diet, Kak." Gadis kecil itu mendongak untuk memprotes sang kakak.


Dani bukannya menjawab. Pemuda tampan itu malah menarik tangan sang adik untuk menyambut kedatangan seseorang.


"Oma? Kukira tidak bisa kesini?" ucap Dani tersenyum bahagia menyambut sepasang suami istri yang nampak menarik di mata Merra.


"Oma?"


😍Terima kasih masih mengikuti, beberapa bab lagi dah tamat😁 akhirnya.... 🙏

__ADS_1


__ADS_2