
Brukkk!
"Ra!" pekik Mela dari kejauhan.
Gadis itu terburu berlari mengejar sahabatnya yang terlihat jatuh. Tepat saat Ara jatuh ke lantai, Mela telah siap dibawah untuk menangkapnya. Untung saja wanita itu masih sempat berpegangan pada rak hingga ia tidak langsung tersungkur di lantai keramik itu. Dan sang sahabat secepat kilat berlari untuk menolongnya.
"Eh, kamu jangan kabur ya!" teriak Mela lantang. " Kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu!"
"Tidak-tidak! Lola panik. Ia mencoba untuk keluar dari kekisruhan tempat itu dengan mengencangkan kerudung yang menutup wajahnya. Namun kondisi Mall yang ramai membuatnya kesulitan untuk meloloskan diri.
Banyak kamera dihadapkan padanya, mereka merekam semua yang ada disana. Bahkan beberapa ibu-ibu berinisiatif untuk mencekal gadis itu agar tidak kabur. Dan terjadilah tarik-menarik antara mereka hingga keriuhan membuat aksi kabur Lola menjadi runyam.
"Ra! Ara! Jangan membuatku takut. Kau mendengarku?" Mela membuka tangan sahabatnya itu yang penuh dengan darah. "Ya ampun, sampai seperti ini." Mela gegas melepas jaket yang ia pakai dan menutupkan pada bagian perut Ara yang berdarah.
Untung saja ia mendengar perdebatan Ara dengan wanita berkerudung itu tadi melalui ponselnya. Panggilannya pada sahabatnya itu yang ternyata belum diakhiri, membawa Mela yang sebenarnya sudah berada di lantai yang sama dengan Ara, segera menghampiri istri Adrian itu.
Ara yang tidak sadarkan diri bahkan masih memegang ponselnya dalam keadaan menyala.
"Hah! Untung saja. Kau harus bertahan Ra." Mela yang panik sudah berkaca-kaca karena rasa khawatirnya.
"Saya sudah melaporkannya pada polisi, Mbak. Dan juga menghubungi rumah sakit. Wanita yang melakukan ini juga sudah diamankan oleh satpam tadi," ucap manager store aksesoris yang baru saja tiba.
Kemudian lelaki itu bergegas mengumpulkan karyawannya untuk membantunya membubarkan kerumunan yang banyak didominasi oleh ibu-ibu dan wanita muda itu.
"Aduh ... Siapa nama suamimu disini, Ra?" Mela menggeser beberapa kali daftar kontak milik Ara, namun tak ditemuinya nama Adrian disana. My husband, my love atau apapun panggilan sayang lainnya sudah dicobanya, namun nihil. Tidak ada kontak dengan panggilan alay seperti itu di ponsel sang sahabat.
"Bodyguard suamimu siapa kemarin namanya, ya?" Mela berpikir keras untuk mengingat." Suamimu memanggilnya Lang. Lang siapa namanya?" Mela hanya mengetikkan nama Lang dan muncullah Elang. "Mungkin ini," jemarinya langsung menekan tombol hijau.
Cukup lama Mela menunggu. Namun ia tak patah semangat karena mungkin saja orang yang ia hubungi masih sibuk. Akhirnya karena tak sabar hampir saja ia memutuskan panggilannya.
"Iya, Nyonya." Terdengar suara dari seberang.
"Katakan pada Tuanmu, terjadi sesuatu dengan Ara. Cepat datang ke rumah sakit terdekat dari Mall!"
Klik!
Mela menutup panggilannya sepihak, karena tenaga medis sudah datang dan akan memberikan pertolongan pertama pada sahabatnya itu dengan membawanya ke rumah sakit terdekat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Drrt
Drrt
Drrt
Adrian yang sedang serius memeriksa berkas menatap sang asisten yang diam saja tidak bereaksi dengan suara ponselnya.
"Ponsel kamu bukan, Lang?"
__ADS_1
"Iya, Tuan."
"Angkat saja!"
"Tidak apa-apa, Tuan. Jika penting pasti menghubungi kembali," jawab Elang. Padahal yang sebenarnya, hatinya juga tengah menebak-nebak, siapa yang berani menghubunginya di jam kantor seperti ini. Berulang-ulang lagi. Karena ponsel yang ia bawa hanya terakses dengan teman-teman sesama bodyguard serta sang majikan.
"Angkat saja!"
"Baik, Tuan." Elang mengeluarkan ponselnya. Dan matanya terbelalak ketika melihat nama yang tertera, siapa orang yang sedang melakukan panggilan padanya.
"Saudara kamu?"
"Bu-bukan, Tuan."
Sekali lagi Adrian menatap asistennya itu. Mengapa menjawab saja sampai tergagap.
"Lalu?"
"Nyonya, Tuan." Elang sudah sepucat kapas saat mengatakannya.
Adrian mengernyit dalam. Lirikan mata lelaki itu tidak bisa dibohongi. Jika ia heran mengapa istrinya malah menghubungi sang asisten dan bukan dirinya.
Digesernya ponsel yang berada tidak jauh darinya. Memeriksa panggilan masuk, dan kosong. Tatapan sangat mengerikan beralih pada Elang, yang sudah beberapa kali nampak menelan salivanya.
"Angkat!"
"Iya, Nyonya."
"Katakan pada Tuanmu, terjadi sesuatu dengan Ara. Cepat datang ke rumah sakit terdekat dari Mall!"
"Sudah kubilang untuk mengangkatnya dari tadi!" Suara Adrian menggema, meski ia tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya itu. Namun mendengar kata rumah sakit, pikirannya kacau dan sudah pasti bukan hal baik yang dikabarkan oleh wanita yang menghubungi Elang itu.
Lelaki itu mendadak seperti singa dihadapan Elang. Hinga asisten Adrian itu terburu keluar mendahului sang majikan.
"Vin, bereskan meja Tuan Adrian sekarang!" ucap Elang ketika baru keluar dari ruangan Adrian.
"Ya ampun, baru saja mau istirahat siang. Bukannya Tuan tadi_"
"Vina! Lakukan sekarang! Coba saja kalau kau tetap ingin istirahat saat ini, Tuan pasti akan mengistirahatkanmu selamanya!" Elang segera berlalu.
Vina tersentak. Istirahat selamanya? Tentu ia tidak mau, itu artinya dia akan dipecat. Bagaimana dengan daftar panjang kosmetik untuk perawatannya setiap bulan? Mendadak kepalanya pening memikirkannya.
Tumben sekali Elang berteriak seperti itu padanya. Biasanya, meskipun lelaki itu berbicara dengan nada lurus, ia akan sedikit ramah tidak membentak seperti tadi.
"Tu_" Gadis seksi itu mengurungkan niatnya untuk bertanya pada sang bos yang melewatinya dengan tergesa. Karena raut wajah Adrian saat ini benar-benar menakutkan.
Vina meraup wajahnya. Dan segera menuju meja Adrian. Semua berkas masih ada disana, dan ditinggalkan begitu saja oleh sang bos dan asistennya itu.
Tumpukan berkas penting diatas meja Adrian tentu harus segera diamankan tidak bisa nanti-nanti. Karena semua benda yang kelihatannya hanya berupa kertas-kertas itu bernilai ratusan juta rupiah.
__ADS_1
Itulah mengapa tadi Elang berteriak sedemikian rupa sampai membawa-bawa kata 'istirahat selamanya' untuk mengancam sekretaris Adrian itu. Karena sang bos selalu mengedepankan disiplin dan profesional untuk urusan pekerjaan. Kecuali untuk urusan keluarganya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adrian datang dengan Elang yang mengikuti dibelakangnya. Mereka langsung menuju UGD.
"Pasien atas nama Nyonya Ahiara Ilyasa," ucap Adrian ketika memasuki ruangan yang menampung segala kedaruratan disetiap garis depan gedung rumah sakit itu.
"Ahiara? Ahiara ... Ara adanya, Pak," jawab seorang perawat sambil mengingat setiap nama pasien yang masuk.
"Ya. Itu."
"Disebelah sana, Pak. Sedang dikonsulkan untuk persiapan operasi guna membersihkan lukanya." ucap perawat itu menjelaskan.
Adrian berlari menuju tempat yang ditunjuk oleh perawat itu.
"Sayang?"
"Dia belum sadar, Tuan," ucap Mela yang segera melepas tautan jemarinya pada sahabatnya itu. Nampak jejak airmata yang mengering tak beraturan pada pipi gadis itu yang segera bergerak sedikit menjauh. Memberi tempat untuk suami sang sahabat. "Tapi kata dokter, lukanya tidak apa-apa. Hanya perlu operasi kecil untuk membersihkannya biar tidak infeksi," terang Mela.
"Lebih tidak apa-apa lagi kalau tidak terluka, Mel." Mela terkejut mendengar ucapan Adrian. bagaimana ara bisa mencintai lelaki seperti ini.
Sudah terluka masih dikatakan tidak apa-apa. Adrian kesal dengan ucapan Mela.
"Kenapa kamu bisa disini?" tanya Adrian. Namun Mela nampak diam tidak menjawab.
"Mel?" ulang Adrian.
"Oh, iya Tuan. Tadi kami janjian untuk bertemu di Mall . Lalu saat ia menelpon saya, tiba-tiba ada seseorang menyapanya. Berbicara apa saya tidak begitu paham. Tapi wanita itu terus menyerang Ara dengan kata-kata yang buruk." Mela menjeda ceritanya.
"Perasaan saya sudah tidak enak. Kebetulan kami berada di lantai yang sama dan di awal kami sempat video call sebentar, jadi saya tahu dimana posisinya. Saya langsung berlari dan begitu sampai, saya melihat Ara hampir jatuh sambil memegang perut kanannya. Untung saja saya cepat hingga Ara tidak sampai terbentur di lantai. Kejadiannya sangat cepat, Tuan. Maaf saya tidak sempat mencegahnya." Mela terengah, dan emosi nampak menguasai dirinya saat bercerita.
"Saya juga meminta maaf jika tidak sopan saat menghubungi anda tadi. Saya tidak menemukan nomor kontak anda diponsel Ara. Yang saya ingat hanya anda pernah memanggil nama bodyguard anda, Elang."
"Terima kasih kalau begitu," ucap Adrian yang nampak menahan emosi, dadanya sampai kembang kempis mendengar cerita Mela. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat perhitungan dengan orang yang melukai istrinya itu. "Sekarang biar aku yang mengurusi istriku. Pulanglah, keluargamu pasti mencarimu."
"Saya tidak punya keluarga, Tuan. Kami bersahabat dari sejak kami tinggal di panti asuhan," ucap Mela dengan menunduk. "Kalau boleh, biarkan saya ikut mengurus Ara?"
"Apa kamu tidak bekerja?" Suara Adrian melunak. Sedikit banyak ia merasa tidak enak dengan ucapannya tentang keluarga. Ia lupa jika gadis didepannya yang menjadi sahabat istrinya itu bernasib sama seperti Ara. Itulah sebabnya hubungan mereka sangat dekat meski tidak setiap hari mereka bersua.
"Kebetulan besok saya libur, Tuan. Lusa baru masuk kerja lagi."
"Baiklah. Tapi ikutlah Elang lebih dahulu dan gantilah pakaianmu."
"Tidak usah, Tuan. Biar saya sendiri saja. Tidak apa-apa, saya bisa membersihkannya nanti." Mela menatap ngeri pada bodyguard sekaligus asisten Adrian itu. Mengapa harus lelaki yang mengantarnya mengganti baju.
"Mela! Biarkan Elang mengantarmu pulang membersihkan diri, dan membawa pakaian ganti. Mampirlah juga ke rumahku, untuk membawa serta pakaian ganti istriku."
"Oh, iya Tuan. Saya kira ...." Mela tidak melanjutkan kata-katanya. Ia malu sendiri dengan prasangkanya.
__ADS_1