Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
bab 207 Romantisme Zurich


__ADS_3

"Kita kemana lagi, Mas?"


"Ke Zurich, ya. Kita lihat danau, kota tua, dan tempat tempat indah lainnya disana," ucap Adrian yang memantik imajinasi Ara.


"Sepertinya menarik. Aku ikut saja. Semua tempat di Swiss menurutku indah, Mas. Tidak akan pernah gagal membuat decak kagum siapapun yang berkunjung." Ara tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


Mereka dua hari di St. Moritz. Selain bermain ski, mereka juga mampir ke Lake of Staz, sebuah danau di St. Moritz yang sangat indah. Menyuguhkan pemandangan danau yang bersih dan bening di kaki gunung Alpen.


Perjalanan menuju Zurich dari St. Moritz menggunakan kereta dengan lama perjalanan 3 jam 20 menit. Kali ini, Adrian mau menuruti permintaan sang istri untuk menggunakan transportasi itu, karena jarak tempuh yang tidak lama.


Sepanjang perjalanan, Ara berdecak kagum pada setiap jalan yang dilewati. Swiss memang menampilkan keindahan pemandangan yang tidak diragukan lagi. Membuat setiap wisatawan yang kesana selalu merindukan untuk kembali.


Sampai di Zurich sudah malam. Mereka menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya oleh Adrian. Kemudian langsung beristirahat karena kelelahan, rupanya liburan tetap saja membuat raga lelah meski hati senang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi hari yang cerah. Meskipun musim dingin, namun suasana disini nampak seperti hari biasa. Banyak orang beraktifitas selayaknya kita yang ada di Indonesia. Mungkin mereka sudah terbiasa, berbeda dengan kita. Sedingin ini, kita pasti masih ada di dalam selimut.


Namun ini tidak berlaku bagi Ara. Wanita yang memang sangat antusias liburan di negara penghasil coklat terbaik ini, sudah bangun sejak jarum jam menunjuk di angka lima.


Setelah sejenak meregangkan tubuh agar tidak kaku akibat suhu yang menusuk hingga kedalam tulang, wanita itu bergegas membersihkan dirinya. Kemudian kembali bersial mengenakan jaket tebalnya.


"Mas, bangun." Wanita itu mengguncang tubuh sang suami yang masih terlelap di dalam selimut tebal.


"Emmm,"


"Ayo kita minum coklat, makan roti sambil menikmati indahnya danau. Kita kesini untuk itu kan? Ayo cepat bangun," Ara berucap lirih, sebenarnya bisa saja mengagetkan suaminya itu agar cepat membuka matanya. Namun wanita itu selalu tidak tega.


"Jam berapa sekarang, Sayang?" tanya Adrian malas. Bahkan lelaki itu bertanya tanpa membuka matanya.


"Enam. Ayo, nanti kita terlambat."


"Itu masih pagi, Sayang. Lihatlah di luar pasti masih gelap. Terlambat kemana? Danaunya tidak akan berpindah tempat," ucapan Adrian terdengar tidak jelas dan malah menarik kain tebal yang menutupi tubuhnya itu, hingga keatas kepala.


"Tentu saja gelap, ini kan musim dingin," ucap Ara memprotes jawaban sang suami. "Baiklah aku pergi sendiri saja. Nanti kalau aku lama tidak kembali, berarti aku tersesat," ucap Ara sambil mendekatkan bibirnya ke bagian menonjol tertutup selimut, yang Ara tebak pasti adalah telinga Adrian.


"Sayangg...?" Adrian sontak membuka selimutnya dan berlari ke kamar mandi, "Tunggu aku! Jangan ke mana-mana dahulu!" ancam Adrian sebelum menutup pintu toilet dengan buru-buru.


Beberapa saat kemudian, lelaki itu keluar dengan handuk di lehernya, dan rambutnya yang basah. Tidak mandi saja, Adrian nampak tampan apalagi kalau mandi, ketampanannya pasti berlipat-lipat. Terkadang Ara minder berada disebelah Adrian. Lelaki yang tidak pernah melepaskan genggaman tangannya jika mereka berjalan berdua itu, nampak sangat berkharisma, sedangkan dirinya?


"Hei, ayo berangkat! Malah melamun." Adrian mengibaskan tangannya di depan sang istri.


Ara hanya tersenyum merona tanpa menjawab. Rasanya malu masih membandingkan dirinya dengan sang suami. Dari segi apapun mereka memang berbeda, mereka hanya dua insan yang diikat oleh tali cinta. Dan kenyataannya, baik Adrian maupun Mommy tidak pernah mempermasalahkan perbedaan itu.


Danau Zurich terletak di sebelah tenggara kota Zurich. Untuk sampai kesana, kita harus ke stasiun utama kota Zurich. Setelah itu naik tram menuju tempat pemberhentian yang dekat dengan danau Zurich.


Tram yang membawa Adrian dan Ara telah sampai. Hanya beberapa menit perjalanan saja. Kemudian setelah mereka turun, mereka memilih berjalan kaki sambil menikmati keindahan sekitar. Meski ditutupi salju, namun pesona danau itu tetap saja menakjubkan apalagi dari seberang kita bisa melihat deretan pegunungan Alpen yang juga diselimuti salju, sungguh memikat mata.

__ADS_1


"Kita berhenti disini?" Ara mengangguk. Kemudian Adrian segera masuk ke kedai kecil yang berada di pinggir danau itu untuk memesan sesuatu. Sementara sang istri mencari tempat duduk, dengan view terbaik hingga dapat membidik keseluruhan tempat dalam satu kali lihat, tanpa perlu berjalan lebih jauh lagi.


"Hemm, istriku memang pintar," puji Adrian begitu tahu jika mereka berada di kursi yang mungkin paling disukai dari semua kursi yang berjajar rapi didepan kedai itu.


"Itulah mengapa aku tadi mengajakmu berangkat pagi, Mas. Kalau sudah agak siang, pasti tempat ini akan penuh. Karena kalau kita perhatikan, disini paling cocok untuk menikmati semua bagian dari danau ini."


"Jawabanmu seperti kita berada di Indonesia saja, Sayang. Apa orang Swiss juga seperti itu?" Adrian terkekeh mendengar ucapan sang istri.


"Sepertinya tidak." Ara yang berargumen, dia sendiri juga yang meragukannya. "Masih sepi di jam segini?" Wanita itu menoleh kesana kemari melihat sekitar. Dan memang hanya satu dua orang yang nampak berlalu lalang disini.


"Itu karena musim dingin, Sayang. Mau keluar jam berapapun tetap saja cuacanya seperti ini," opini Adrian ada benarnya.


Seorang pelayan datang dan membawa pesanan Adrian. Lelaki berambut putih dan mengenakan pakaian putih layaknya cheff. Dia sangat ramah, selain menyapa, lelaki itu juga memperkenalkan dirinya dan juga mengatakan untuk memanggilnya jika ada yang mereka butuhkan lagi.


"Coklat panas? Roti? Mas pesan seperti kataku tadi?" Mata Ara berbinar. Bukankah kudapan ini cocok dengan cuaca saat ini. Tapi kalau di luar negeri, sepertinya meminum coklat dan juga makan roti adalah termasuk sarapan pagi. Beda dengan di Indonesia yang mengatakan jika belum makan nasi dianggap belum makan. Mungkin itu juga yang mempengaruhi lingkar pinggang bule lebih kecil daripada kita. Meskipun ada beberapa yang juga yang over. Prosentase konsumsi karbohidrat kita lebih tinggi daripada para bule itu.


"Itu yang kau inginkan bukan?" ucap Adrian mencelupkan sebagian rotinya kedalam coklat kemudian menyuapkannya pada sang istri.


"Iya. Ini enak sekali. Swiss benar-benar memiliki coklat terbaik." Ara mengunyah gigitan roti bercampur coklat panas itu pelan-pelan. Menikmati sensasi coklat kental yang tidak terasa panas karena dinginnya cuaca.


"Mas, sebentar lagi Dani lulus bukan?" Adrian berhenti melahap rotinya. Merasa heran mengapa tiba-tiba sang istri membahas tentang anak lelakinya itu, di sela-sela liburan mereka. Adrian tentu tahu hubungan Ara dan anak lelakinya itu kurang baik.


"Iya, Sayang. memang kenapa?"


"Apa ia akan melanjutkan kuliah disini?"


Dia memang tidak pernah memaksakan anaknya untuk sekolah dimanapun. Perdebatan yang terjadi kemarin pun murni karena Adrian tidak ingin Dani mengambil keputusan saat anak lelakinya itu dilanda emosi. Namun apa daya, kerasnya Dani yang melebihi dirinya membuat lelaki itu akhirnya mengalah.


"Kenapa, Sayang?"


"Tidak, Mas. Aku juga lebih senang Dani kuliah di Indonesia saja," ucap Ara menyetujui pemikiran sang suami.


Ara tahu. Meski Adrian mengatakan membebaskan sang anak untuk memilih, tetap saja hatinya tidak bisa dibohongi. Dalam setiap ucapannya, lelaki itu tetap menginginkan sang anak dekat dengannya.


"Membahas yang lain saja. Emm ... Bukan maksudku begitu, Sayang. Hal itu nanti kita bahas di rumah saja. Kita sedang liburan, kan? Kita nikmati saja yang ada sekarang. Ok!" ucap Adrian seraya menyeruput habis coklatnya. "Segera habiskan dan kita lanjutkan petualangan kita!"


Lelaki itu berdiri kemudian masuk ke dalam kedai untuk membayar bill mereka.


"Selanjutnya kita ke kota tua," Adrian melengkungkan lengannya untuk digandeng oleh sang istri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mengelilingi kota tua di Zurich, rupanya lebih mudah menggunakan tram. Namun banyak juga para wisatawan yang berjalan kaki disana. Memang lebih puas daripada harus menggunakan transportasi itu.


Termasuk kedua orang yang sejak tadi tidak melepaskan tautan tangan mereka satu sama lain itu. Mereka bagaikan pasangan kekasih yang dimabuk cinta. Tidak bisa dipungkiri, suasana kota tua memang membawa aroma romantis tersendiri bagi setiap pasangan yang berkunjung kesana.


Mengakhiri jalan-jalan hari ini, keduanya sempat mengeluh sakit pada kaki. Seharian mereka berjalan, tanpa terasa jika jarak yang mereka tempuh cukup jauh. Namun karena hati yang bahagia semuanya itu terlupakan. Dan ternyata, tetap saja mengganggu pada akhirnya.

__ADS_1


"Hahhh ... Capek sekali, mas." Ara yang baru saja menjejakkan kakinya turun dari tram melemparkan tatapannya untuk mencari tempat duduk terdekat. Ia ingin menyelonjorkan kakinya yang sempat kram tadi.


"Ayo kugendong!" titah Adrian yang kasihan melihat wanitanya merona karena kedinginan dan juga nampak sayu kelelahan.


"Tidak. Mas juga lelah," tolak Ara pada sang suami yang bahkan sudah membungkuk kemudian memberikan punggung di depannya. "Gandeng saja aku sampai kursi itu. Istirahat sebentar, kemudian baru kita kembali ke hotel."


"Siap Nyonya!"


Namun, bukannya menggandeng, Adrian malah mundur beberapa langkah. Tanpa disadari sang istri lelaki itu kemudian menggendong ala bridal style wanita yang dicintainya itu.


"Aaaaaaaaa ... Mass turunkan! Aku jalan sendiri saja," pekik Ara yang sontak mengalungkan tangannya dileher Adrian. Bukan, Ara bukan malu ataupun tidak mau diperlakukan seperti itu oleh Adrian. Ia bahagia, sang suami sangat perhatian dengannya. Namun mereka sama-sama lelah saat ini. Ia tidak tega melihatnya.


"Dilarang protes! Eratkan peganganmu biar kita cepat sampai!" Tanpa menunggu sang istri mengomel lagi, Adrian berlari sekuat tenaga dengan menggendong sang istri.


Ara memeluk erat sang suami tanpa berani membuka matanya. Ia merasa ngeri membayangkan bagaimana jika ia jatuh dari gendongan Adrian.


Namun tentu saja itu tidak mungkin. Adrian mencekalnya dengan kuat menyeberangi jalan hingga sampai di sebuah kursi yang wanita itu maksud.


"Duduk sebentar, lalu kita pulang. Udara semakin dingin, Sayang. Aku takut kamu sakit." Rupanya Adrian tidak menurunkan sang istri untuk duduk sendiri. Wanita itu tetap di pangkuannya sampai napas mereka normal dan kaki mereka sedikit membaik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mas ... Lebih baik kita segera membersihkan diri," usul Ara ketika melihat gairah kembali menguasai mata Adrian.


"Katamu ingin berkeringat? Makanya ayo kita buat keringat lagi." Suara Adrian lirih merayu, apalagi tatapan matanya itu. Ara selalu tak kuasa kalau sudah melihatnya. Tatapan memohon namun juga setengah memaksa.


"Sudah dua kali, Mas. Ini sudah malam. Kita harus beristirahat untuk besok kembali ke Lausanne sebentar, sebelum terbang ke indonesia," protes Ara sambil menarik lebih tinggi selimut yang menutup tubuhnya hingga ke dada.


Namun selimut yang hanya berjumlah satu itu ditarik juga oleh Adrian untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Maka terjadilah negosiasi dengan aksi saling tarik selimut antara suami istri itu.


"Hanya sebentar," mohon Adrian.


"Tidak! Mas juga mengatakan sebentar saat kita datang tadi. Tapi apa yang terjadi? Bahkan dua jam sesudahnya belum selesai juga." Ara mengerucutkan bibirnya karena kesal dan sebagai bentuk protes.


Suaminya itu memang pintar memanipulasi kata-kata jika berhubungan dengan aktifitas ranjang. Sebentar jadi lama. Lama pasti akan menjadi lebih lama lagi. Tidak diberi dengan alasan lelah katanya dizolimi tapi kalau diberi pasti Ara yang akan dizolimi.


"Baiklah aku janji, satu kali lagi dan tidak lama." Wajah berbinar penuh gairah bahagia itu sangat menggoda Ara. Siapa yang tidak ingin menyenangkan suami? Semua istri pasti ingin bukan? Tapi entahlah ada apa dengan suaminya itu. Biasanya sekali atau paling banyak dua kali lelaki itu sudah berhenti. Namun mengapa kali ini lelaki itu meminta lebih, dan seperti tidak ada puasnya.


"Ayolah, Sayang. Apa kau tega denganku? Aku janji hanya sebentar dan ini yang terakhir." Wajah sendu dengan suara seksi yang memohon dengan sangat, meminta untuk dipercayai.


Dan akhirnya membuat runtuh pertahanan sang istri. Wanita itu berpikir untuk membiarkannya karena Adrian telah berjanji hanya satu kali lagi.


Ara menyerah dalam dekapan hangat sang suami di cuaca Zurich yang dingin dan bertambah dingin saat malam hari itu.


Hingga akhirnya sang suami mengingkari janji untuk melepaskannya setelah yang ketiga kalinya ini. Adrian terus mengganggunya dan tidak mau berhenti hingga pagi hampir tiba. Menyisakan rasa lelah yang sangat, hingga keduanya terlelap dalam pelukan satu sama lain dan melupakan waktu.


😍 Terima kasih masih mengikuti, ditunggu like dan komennya ya. gomawo😘

__ADS_1


__ADS_2