
Beberapa hari berlalu,
"Mau kemana, Boy? Ini bahkan belum sore dan kau sudah bersiap pulang," tanya Adrian pada anak lelakinya.
"Hari ini hingga besok, Daddy yang bertanggung jawab disini. Semua tugasku sudah kuselesaikan." Dani bersiap pulang saat sang ayah masuk ke dalam ruangannya.
"Mau kemana? Ada acara?"
"Anak muda, Dad. Haruskah aku selalu melaporkan semua urusanku diluar pada Daddy?" Dani menoleh. Tatapannya serius tanpa senyuman, membuat Adrian merasa tidak nyaman.
"Bukan begitu, Boy. Ya sudahlah, kalau memang pekerjaanmu sudah beres." Adrian mengulurkan tangannya, mengusap lengan anak lelakinya itu, kemudian keluar tanpa pamit.
Setelah Adrian keluar, Dani terdiam. Entah apa yang pemuda itu pikirkan. Kedua tangannya menumpu pada meja di depannya. Dengan sedikit membungkuk, ia nampak berpikir atau mungkin malah melamun.
Leo yang sedari tadi melihat apa yang terjadi, tidak berani bertanya ataupun memulai lebih dulu berbicara dengan majikannya.
Karena saat dirinya meninggalkan Dani ke ruangan Adrian, pemuda itu baik-baik saja. Sangat jauh berbeda dengan apa yang nampak sekarang.
Dani berjalan melewati Leo tanpa menoleh sedikitpun. "Kita berangkat sekarang," ucap Dani yang diiringi anggukan asistennya yang segera mengekor dibelakangnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan,"
Leo menjeda ucapannya. Dia melihat sang majikan yang asyik dengan ponselnya dan masih dalam aksi diam.
"Hemm."
"Ada yang masih Tuan butuhkan? Sebelum kita berangkat dan meluncur ke Bandung?" Leo melirik spion diatasnya dan mengintip reaksi sang majikan.
"Apa kado yang bagus untuk anak-anak?"
"Apa saja mereka suka, Tuan. Jika jumlahnya banyak, bisa tas dan alat tulis. Tapi jika sedikit, cewek suka boneka dan cowok biasanya mainan seperti robot," jawab Leo membagi fokusnya pada jalanan dan Dani.
"Kita mampir ke toko boneka," titah Danu selanjutnya.
"Siap, Tuan."
Leo meluncur ke toko boneka terbaik di kota itu. Meski jalanan macet namun karena kelihaiannya, asisten Dani itu banyak menerobos jalan tikus yang tentunya aman untuk cepat sampai disana.
"Ayo, kamu ikut turun," ajak Dani pada asistennya itu. Leo hanya menurut di belakangnya.
Dani nampak berdiri di depan etalase berbagai macam boneka. Namun ia tidak segera memilih, ia hanya memutar matanya melihat sekilas deretan boneka yang berjajajr rapih itu kemudian nampak membuka ponselnya kembali.
Leo yang dibelakangnya penasaran.
Mengapa sang majikan tidak segera memilih, namun malah asyik bermain ponsel. Tanpa perlu usaha yang berlebihan, mata Leo menatap layar ponsel sang majikan yang nampak jelas dari tempatnya berdiri.
Ya ampun, rupanya Tuan bertanya pada google apa jenis boneka kesukaan anak-anak.
Tidak lama kemudian, Dani nampak melangkahkan kakinya mendekati boneka Mickey Mouse, kemudian Donald Duck, Winnie the pooh dan banyak tokoh kartun yang lain. Pemuda itu menjadi bingung. Meski ponselnya sudah mengatakan apa saja kesukaan anak-anak.
"Bayangkan kamu menjadi anak perempuan. Ambil satu boneka yang sangat kamu sukai, Le?" tanya Dani sambil memegangi boneka itu.
"Apa, Tuan?" jantungnya mendadak pelan. Saya tidak pernah menjadi anak perempuan, Tuan," ucap Leo datar.
"Maksudku seumpama."
"Tidak bisa, Tuan. Berandai-andaipun saya tidak sanggup," sahut Leo.
"Sudah jawab saja!"
"Kuda poni, Tuan," jawab Leo asal. Ia sering melihat anak kecil tergila gila dengan tokoh kartun itu.
"Memang ada? Yang mana yang namanya kuda poni?" Dani menatap satu persatu ratusan boneka di depannya namun tidak menemukan boneka berbentuk kuda.
"Sebelah sini, Tuan," panggil Leo yang berada dibalik etalase dibelakang Dani.
"Jadi ini yang namanya kuda poni. Bentuknya kuda?" Dani seperti heran menerima boneka kuda poni yang diulurkan Leo padanya.
"Kan namanya kuda poni, Tuan. Ya pasti hewannya kuda," sahut Leo pelan sambil menunggu reaksi sang majikan. semoga tidak berlebihan.
"Hemm, aku tahu itu. Coba ambil semua warna itu," tunjuk Dani.
Leo mengambil keenam macam warna boneka kuda poni itu dan menatanya di depan sang majikan.
"Aku mau warna ungu dan biru untuk yang besar. Kemudian yang kecil-kecil itu ambil keenamnya," titah Dani.
"Untuk anak-anak TK, tidak sekalian Tuan?"
__ADS_1
"Aku sudah pesan tas dan alat tulis lengkap untuk mereka. Begitu sampai disana nanti, kau bisa mengambilnya" jawab Dani.
Jadi semua ini untuk gadis kecil itu?
Saat sampai di kasir, sesuai dengan permintaan Dani jika seluruh boneka kuda poni yang berjumlah delapan itu dimasukkan dalam satu kotak besar berpita. Kemudian Leo membawanya ke bagasi mobil.
Dan mereka meluncur ke Bandung, sore itu juga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ma. Mama punya kakak?" tanya Merra tiba-tiba.
"Hemm?" Ara menoleh, mendengar pertanyaan gadis kecilnya yang asyik membantu menggunting nama-nama bunga yang akan ia tempel pada setiap bunga yang dipesan pelanggan besok." Mama ... Tidak memiliki adik ataupun kakak, Sayang. Kenapa mera bertanya seperti itu?"
"Sepertinya enak ya, Ma, kalau punya kakak. Ada yang antar jemput sekolah, ada yang menemani main dirumah, bahkan kalau ada PR bisa dibantu mengerjakan." Merra menjawab pertanyaan sang ibu sambil terus menggunting dengan imajinasi yang berjalan.
"Kata siapa? Setiap hari Mama juga bisa antar jemput Merra ke sekolah. Menemani Merra main, membantu Merra mengerjakan PR. Semua bisa mama lakukan."
"Itu karena Merra tidak punya kakak. Kalau Merra punya, pasti mama tidak sesibuk ini mengerjakan semuanya sendiri, pasti mama ada yang bantu-bantu, asyik ya ma." Gadis itu mendekat, bertingkah manja pada sang ibu dengan menciumi bahunya.
"Mama tidak sibuk, Sayang. Itu sudah kewajiban Mama bertanggung jawab pada gadis kecil Mama ini." Ara mencubit kecil hidung mancung Merra.
"Tapi kata nenek, Merra tidak bisa punya kakak. Merra bisanya punya adik, karena kalau kakak harus ada sebelum Merra. Sedangkan anak mama yang pertama adalah Merra, jadi tidak mungkin tiba-tiba ada lagi anak lain yang lebih besar dari dirinya. Merra jadi bingung penjelasan nenek." Gadis kecil itu menggaruk rambutnya karena bingung.
Merra punya kakak, Sayang. Tapi mama tidak tahu apa kakakmu mau mengakui kamu sebagai adiknya, sedangkan dia saja sangat membenci mama.
"Merra ingin sekali punya kakak, Ma. Ayolah Ma, jangan pelit. Beri Merra kakak ya, Ma," Merra mengiba pada sang ibu, kemudian menempelkan tubuhnya pada punggung Ara. Gadis kecil itu memeluk ibunya dari belakang dengan erat sambil sesekali menciumi rambut Ara.
"Teruskan dulu mengguntingnya. Bukan mama yang menentukan Merra bisa punya kakak atau tidak, tapi Tuhan. Merra harus rajin berdoa memohon pada tuhan, supaya Tuhan berbaik hati memberikan kakak untuk Merra," ucap Ara bijak. Membuat Tuhan sebagai alasan terakhir adalah cara paling jitu yang bisa dilakukannya untuk menenangkan gadis kecilnya itu.
"Merra ingin kakak seperti Kak Dan, Ma. Ia baik dan juga tampan, pintar dan apalagi ya...."
"Kak Dan?"
"Iya. Kakak pembina dari Jakarta yang datang ke sekolah Merra, Ma. Yang juga memberi hadiah hoodie ke Merra kemarin itu," jelas Merra yang membuat Ara mengingat jika seharian setelah kegiatan itu, gadis kecilnya tak berhenti menceritakan tentang Kak Dan padanya.
"Mana boleh memilih ingin kakak seperti apa. Semua terserah Tuhan sayang, merra berdoa yang baik-baik saja semoga Tuhan mengabulkan Merra untuk memiliki sosok kakak sepertii Kak dan."
"Mau ... Mau, Ma ... Merra mau?" mata Merra berbinar mendengarnya dan itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi Ara. Meski ia tidak mungkin bisa .
sedangkan Tuhan? Itu terserah padaNya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Maaf saya tidak tahu, Tuan. Tapi jika Tuan menginginkan, saya bisa menghubungi Leo untuk menanyakannya," jawab Elang menggeser tubuhnya kebelakang memberi jalan pada sang majikan yang sudah berdiri di depan kursinya.
"Apa kau sering berkomunikasi dengan Leo?"
"Tidak juga, Tuan. Jika perlu saja. Tapi saya yakin Leo bukan orang yang mencampuri urusan orang lain. Jika keperluan Tuan Muda di kota itu bukan hal yang penting, Leo pasti mengatakannya. Namun jika sudah menyangkut pribadi biasanya dari awal dia sudah menolak memberitahu, Tuan."
"Cobalah, tapi kirim pesan saja. Jangan membuat Leo berada pada posisi sulit dengan menghubunginya langsung," titah Adrian.
Entah mengapa hari ini ia merasa jika Dani mulai ketus lagi padanya. Padahal seingatnya, dia tidak melakukan apapun yang menyinggung anak lelakinya itu. Pagi tadi pun masih biasa saja saat mereka berada di meja makan bersama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sabtu pagi,
Dani sudah berada di sekolah Tunas bangsa sejak para murid belum tiba Sehari sebelumnya, ia telah menghubungi pihak sekolah bahwa ia akan memberikan kejutan pada anak-anak TK disana.
Seperti biasa ketika semua murid sudah masuk ke dalam kelas, Dani mengejutkan mereka, dengan tiba-tiba masuk kesana.
Suara riuh anak-anak terdengar hingga ke ruang guru. Dan khusus hari itu guru yang mengampu mereka menyerahkan waktu mengajar pada Dani.
"Dia seperti Nyonya Besar. Meski pembawaannya seperti sang ayah," gumam ibu kepala sekolah yang mengintip kelas sambil tersenyum melihat tingkah anak-anak yang hampir semuanya ingin memeluk pemuda itu.
Hari itu setelah sesi membagi hadiah yang ia bawa, dan berbagi cerita tentang kegiatan seminggu ini dengan menceritakannya satu persatu, pertemuan mereka diakhiri.
Para murid yang biasa pulang pukul sebelas siang, hari ini lebih awal satu setengah jam.
Satu persatu, mereka dijemput oleh orang tua masing-masing. Dani, memperhatikan gadis kecil yang mirip dirinya itu masih sibuk mewarnai dikelas. Bahkan ia tidak terpengaruh dengan sepinya ruangan yang ia tempati, karena beberapa temannya sudah dijemput.
"Hei, Merra. Kamu tidak pulang?" panggil Dani pada gadis kecil yang menatapnya dengan tersenyum.
"Kak Dan juga masih disini," jawabnya tanpa melihat pada Dani sekalipun. Hingga membuat pemuda itu melangkahkan kaki untuk mendekat padanya.
Sebelumnya, Dani sudah menghubungi Leo untuk mengeluarkan kotak berpita dari dalam bagasi mobilnya dan mengantarkannya ke kelas.
"Kau sedang apa?"
__ADS_1
"Mewarnai, buku yang tadi Kakak berikan," jawab Merra polos.
"Mamamu belum datang?" Gadis kecil itu menggeleng. "Mau Kakak antar pulang?"
"Tidak usah, Kak. Biasanya mama menjemput sekalian membeli bibit bunga, nanti mama tidak jadi membeli jika Kak Dan antar Merra pulang."
Alasan yang masuk akal. Tapi tidak untuk orang dewasa, karena sebenarnya tidak ada masalah kalaupun Merra diantar.
"Baiklah, kakak ada sesuatu untukmu."
"Kakak sudah memberikan banyak," Merra mengangkat tas berisi alat tulis dan beberapa buku cerita serta mewarnai.
"Bukan itu. Ada lagi untuk Merra." Dani memberi kode pada Leo untuk membawa kotak berpita itu mendekat.
"Besar sekali." Mata bulat Merra mengerjap. "Isinya apa, Kak?"
"Buka saja," titah Dani yang membantu mengangkatnya ke atas meja di depan Merra. Gadis kecil itu sampai harus naik ke bangku untuk mencapai bagian atasnya.
"Wahhh kuda poni." Mata Merra berbinar. Dan yang membuatnya lebih bahagia adalah bukan hanya ada satu, tapi juga 6 warna lengkap.
"Merra suka?"
"Suka sekali Kak! Bagaimana kakak tahu Merra suka kuda poni?"
Dani menatap Leo, seakan mengucapkan terima kasih lewat tatapan matanya. Dan lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.
"Tentu saja Kakak tahu, bawa pulang ya. Sampaikan salam kakak pada Mamamu," ucap Dani kemudian.
"Kakak tunggu, mau kemana? Tunggu Mama Merra datang dulu, biar Merra kenalkan Mama Merra yang cantik," mohon Merra dengan wajah mengiba.
"Kakak ada perlu dengan bu guru. Mungkin sehabis dari ruangan bu guru Kakak langsung pulang,"
"Yahhh ... padahal Merra ingin mengenalkan Kakak pada Mama." Gadis kecil itu menunduk sedih.
"Kapan-kapan kalau kakak kesini lagi, ya." Gadis itu masih diam dan menunduk. "Kakak janji, Merra." Dani mengusap lembut surai panjang Merra.
"Sungguh?" Senyumnya tiba-tiba mengembang. "Emmm ... Bolehkah Merra memeluk Kakak?" pinta Merra memberanilan diri.
"Tentu saja." Dani merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh gadis kecil itu.
Merra merangsek dan memeluk Dani yang sengaja melipat kedua lututnya, hingga ia setinggi Merra.
"Terima kasih ya, Kak Dan. Kuda poninya cantik-cantik. Semoga Tuhan mengabulkan doa Merra memiliki kakak seperti Kak Dan," ucap Merra lirih.
"Hemm?" Dani mendengar dengan jelas ucapan gadis kecil itu yang tepat disebelah telinganya meskipun seperti berbisik. Bibir pemuda itu sontak melengkung ke atas, masih tidak percaya ada yang mengidolakannya sampai seperti itu.
"Kamu serius?" Dani melepas pelukannya dan memegang bahu gadis kecil itu sedikit menjauh, agar ia bisa melihat wajah Merra.
Dan yang ia dapatkan di luar dugaan. Merra mengangguk berkali-kali dengan senyum polos yang tulus.
"Amin...." Pemuda itu mengusap lembut puncak kepala Merra dengan sayang. "Lanjutkan mewarnai nya, Kakak tinggal ya."
Dani berpamitan pada gadis kecil yang mirip dirinya itu. Setelah melakukan salam tos dengan tangan, ia keluar dan membiarkan Merra kembali mewarnai sambil menunggu sang ibu.
Tepat di depan pintu kelas, Dani berhenti. Ia kembali memutar tubuhnya dan menatap Merra yang sudah asyik kembali dengan pensil warnanya.
Ada suatu rasa rindu yang menyusup, jika tidak bertemu setelah mengenalnya. Apalagi di hari-hari sibuk Dani yang hanya monoton kegiatannya.
Hari ini, setelah melihatnya, melihat kepolosannya, rasanya ia seperti lahir kembali, bersemangat kembali.
Apa mungkin ia merindukan kehadiran seorang adik perempuan dalam hidupnya? Tapi mana mungkin itu terjadi, bahkan sang ayah seperti mati rasa sepeninggal wanita yang dibencinya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa sudah disiapkan file yang saya minta, Bu?"
Dani sudah duduk di ruang guru kini. Ia menghadap kepala sekolah beserta. beberapa guru yang ada disana.
"Sebenarnya, kami tidak boleh memberitahukannya kepada orang lain. Pak," ucap Ibu kepala sekolah lirih. Ia mengemban beban tanggung jawab yang berat dari yayasan.
"Orang lain? Apa Oma saya sudah tidak menjadi penyokong terbesar di Yayasan tempat sekolah ini bernaung?" Dani menekankan beberapa kata yang diucapkannya, untuk mempertegas posisi sang oma yang belum tergeser meski beliau sudah tidak ada.
"Maaf Pak dani, bukan begitu maksud saya. Tolong pahami posisi saya, Pak. Hanya yayasan dan untuk keperluan pengadilan kami baru bisa memberikannya." Ibu kepala sekolah sudah gemetar mendengarnya. Ia hanya pengabdi disini, kalau sudah berhubungan dengan keluarga Ilyasa, ia angkat tangan.
"Tersimpan dalam bentuk apa saja? Saya hanya meminta untuk kelas itu," ucapan Dani yang kembali lagi sama sekali tidak ramah membuat ibu kepala sekolah semakin sungkan.
"Dalam bentuk file dan fisik yang tersimpan di ruang data, Pak."
"Ok. Saya menyalinnya saja. Saya yang akan bertanggung jawab jika ada apa-apa. Semua yang disini mendengarnya, kan? Kalian bisa jadi saksi jika saya sampai menyalahgunakannya." Dani menatap sekilas semua guru yang ada di ruangan itu. Kemudian segera memerintahkan leo untuk melakukan tugasnya.
__ADS_1
💗Terima kasih sayang masih mengikuti, maafkan saya yang belum sempat edit ulang tapi sudah saya posting,, sekarang sudah siap dibaca ya🙏