Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 209 Next..


__ADS_3

Sampai di bandara internasional Zurich, hanya perlu menunggu beberapa menit saja mereka langsung terbang ke Indonesia. Menempuh perjalanan panjang yang melelahkan.


Di dalam pesawat, Adrian yang mengingat jawaban sang istri jika Dani pamit pada wanita itu, tersenyum bahagia. Awal yang baik bukan untuk mereka.


Dibelainya surai hitam sang istri yang tertidur dan menyandarkan kepala dibahunya. Sebenarnya mereka berada dikubikel yang berbeda. Namun Ara memilih untuk berdekatan dengan suaminya itu karena ia belum terbiasa naik pesawat dengan fasilitas seperti itu. Harus terpisah satu sama lain. Beda dengan saat ke Jepang dulu, karena hubungan mereka belum sebaik sekarang.


Namun, tanpa Adrian tahu bahwa sebenarnya, tidak kata pamit dari sang anak untuk istrinya. Bahkan terang-terangan anak lelaki itu hanya pamit pada Carla bukan padanya. Carla sempat heran, dan mempertanyakan pada Ara tentang sikap sang anak. Akhirnya dengan terpaksa Ara menceritakan yang sebenarnya, jika dirinya bukanlah ibu kandung anak itu. Dan Ara memaklumi sikap Dani padanya. Diluar dugaan Carla menguatkannya, wanita berambut pirang itu memberinya banyak energi positif.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mereka sampai di Jakarta pada malam berikutnya. Hampir 24 jam perjalanan, waktu yang sangat panjang.


Hari-hari berikutnya mereka jalani seperti biasa. Hanya berdua, karena rupanya Tuhan masih belum berkenan memberi kepercayaan seorang malaikat kecil untuk keluarga itu.


Lima tahun berlalu,


Keluarga kecil Adrian masih sama. Hanya ada mereka berdua. Apalagi Dani yang sebenarnya sudah lulus dari pendidikannya yang setara SMA di luar negeri, masih betah bertahan di negara itu. Dia tidak mau pulang, dengan alasan pendidikan disana lebih baik daripada di negaranya sendiri. Jadi iapun memilih meneruskan kuliahnya di negara penghasil coklat terbaik itu.


Kebahagiaan mereka pun tidak berubah. Ara yang ceria dan Adrian yang sangat mencintai istrinya. Mereka pasangan yang klop. Hanya saja, baik Ardi maupun Zen telah keluar dan menikah.


Adrian tidak pernah mensyaratkan jika bodyguard nya haruslah seorang yang single. Namun terkadang tanggung jawab mereka yang besar kepada majikannya membuat mereka benar-benar harus bertaruh nyawa dalam menjalankan tugasnya. Mungkin sebagian wanita menganggap bahwa pekerjaan seperti itu beresiko dan merasa ngeri. Karena kenyataannya Ardi menikah dengan gadis desa yang dijodohkan oleh orang tuanya, dan Zen menikah dengan gadis pujaannya.


Elang sang asisten yang cool masih betah sendiri, dan Mela kabarnya sudah menyerah mendekati. Lalu, apa kabar mbak Vina? Masih seksi dan sayangnya juga masih jomblo.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Setelah kuliah S1 mu, pulang ya Boy," ucap Adrian di sela-sela ia mengganti pakaian selepas pulang kerja. Anak lelakinya itu melakukan panggilan video dengannya.


"Aku tidak janji Dad, karena aku punya usaha kecil-kecilan disini bersama dengan teman-teman. Kami harus mengelolanya bukan untuk menjadi sukses seperti perusahaan Daddy." Untuk kesekian kalinya, Dani memiliki alasan yang tepat saat sang ayah memintanya pulang.


"Ayolah, apa kau tidak rindu dengan Daddy?"


"Daddy bisa kesini jika rindu denganku." Dani membalikkan ucapan ayahnya. Apa dani tidak rindu? Tentu saja anak itu memiliki rasa yang sama dengan sang ayah. Namun egonya yang membuatnya malas bertemu Ara lah yang menjadi alasannya.


"Daddy bukan ingin berkunjung Dan, Daddy ingin kamu pulang. Daddy semakin tua dan semua ini milikmu? Siapa yang akan mengelolanya kalau bukan kamu? Makanya cepat pulang dan urus semua perusahaan disini, sebelum bangkrut karena kau tahu kan, seseorang yang semakin tua itu kinerjanya semakin menurun," gertak sang ayah seperti biasanya.


"Tapi itu tidak berlaku untuk Daddy. Tua apanya? Nadan masih tegap, sehat dan setampan itu dibilang sudah turun kinerjanya." Dani berucap sengit pada sang ayah. Seribu cara digunakan Adrian sebagai alasan agar anak lelakinya itu mau pulang. Dan dibalas pula dengan berbagai alasan, yang selalu bisa membuat anak lelaki yang kini tumbuh menjadi pemuda setampan ayahnya itu, untuk berkelit.

__ADS_1


Adrian kini berada di balkon. Duduk santai sambil melanjutkan pangilan video dengan Dani serta memperhatikan sang istri yang sibuk merawat tanaman bunganya.


Lelaki itu berbagi cerita tentang banyak hal dengan sang anak. Efek dari rindunya yang menggebu pada sang anak sekian tahun lamanya. Dan hanya bisa menatap wajah anak lelakinya itu melalui layar ponsel seperti biasa. Sesekali Adrian tertawa terbahak, mendengar celotehan anaknya yang sekarang lebih sering memprotesnya dari pada menurut. Ya, Adrian seperti melihat dirinya kembali pada sosok anak lelaki kebanggaannya itu.


Setiap kali ayah dan anak itu melepas rindu, Ara selalu menyingkir. Wanita itu berusaha menyibukkan diri agar jangan sampai Adrian menyengol namanya di depan Dani. Karena sungguh, bertahun hidup mendampingi Adrian, hubungan mereka tidak juga membaik. Ditambah lagi mereka terpisah jauh, seakan-akan semakin tidak ada harapan. Namun bukan Ara namanya jika ia tidak bisa menyembunyikan semuanya. Wanita itu berpura baik-baik saja dan sangat baik setiap menanggapi ucapan Adrian, yang terkadang menyenggol dirinya saat berbicara di telepon dengan sang anak.


"Tantemu mengirim salam, Dan." Ara menoleh, ia kaget karena tiba-tiba saja Adrian kembali melakukan hal diluar dugaan.


"Hemm." kemudian Dani terdengar seperti berbicara dengan orang lain.


Ara mendengar itu. Bahkan sekedar jawaban iya atau terima kasih, sama sekali tidak wanita itu dapatkan. Sungguh, lebih baik tidak usah mendengar saja ucapan salam yang diucapkan Adrian.


Ara merasa salah tempat! Sangat salah ia berada disini. Harusnya tadi ia kabur ke dapur dan berpura sibuk disana saja.


Rasanya pedih, dia bukan anak kandung Ara, tapi dia anak Adrian, lelaki yang dicintainya. Bahkan waktu pun sudah berlalu cukup lama. Apa hati Dani masih sekeras batu seperti dulu?


Ara buru-buru menghapus air matanya yang tanpa permisi menetes. Menggunakan tangannya yang basah oleh air, yang ia gunakan begitu saja tanpa perduli apapun lagi. Wanita itu kembali menyibukkan diri mengurus berbagai tanaman hiasnya.


Adrian yang sudah selesai dengan Dani, mendekati sang istri yang nampak masih sibuk. Berjalan kesana kemari dan beberapa kali membungkuk di depan tanaman yang beraneka warna itu.


"Mass...." Tubuhnya mengejang karena kaget. Wanita itu sontak berbalik mencubit sang suami yang tiba-tiba saja memeluk dari belakang.


Deg!


Perasaan tadi wanita itu sudah menghapus air matanya, tapi mengapa Adrian masih melihatnya. "Hah!? Menangis apa, Mas?" Ara yang panik malah berlagak tidak mengerti apa maksud suaminya itu.


Wanita itu langsung mengusap pipinya dengan kedua tangannya. Dan tanpa sadar menggunakan tangannya yang sudah kotor terkena tanah.


"Tapi bohong! Ha ha ga. Kenapa kau panik seperti itu? Lihatlah kau cantik sekali sekarang, tidak ada yang menandingi," ucap Adrian yang tersenyum usil melihat wajah sang istri belepotan dengan tanah.


Adrian menarik tangan sang istri membawanya ke depan jendela kaca di dekat pintu masuk. "Coba lihat! Tidak ada yang secantik dirimu." Lelaki yang berdiri di sebelah Ara itu terbahak. Dan cup! Diciumnya pipi Ara pada bagian yang tidak kotor.


"Ya ampun. Mas kamu jahat," pekik Ara langsung mengangkat kedua tangannya untuk menghapus jejak kotor di kedua pipinya. Bukannya bersih, wajahnya malah semakin kotor.


"Siapa yang jahat? Kamu sendiri yang membuat wajahmu seperti itu, Sayang." Cup! Lelaki itu berlari setelah mencuri kecupan lagi di dahi ara yang masih bersih.


"Bukannya membantu malah kabur! Awas ya!" Ara yang tidak terima ikut berlari mengejar Adrian.

__ADS_1


Saat ini, Adrian hendak masuk ke kamar mandi. Dan sang istri yang berhasil mengejarnya dengan sigap menghadang di depan pintu kamar mandi.


"Awas, minggir Nyonya!" Adrian berkacak pinggang mengusir istrinya. Wajahnya dibuat segarang mungkin untuk menciutkan nyali sang istri.


"Coba saja kalau berani!?" Bukannya takut wanita itu malah menantang. Menaikkan kedua alisnya sambil menunjukkan tangannya yang kotor oleh tanah untuk mengancam. Jika Adrian berani lewat sudah pasti tangan itu akan membuat kotor tubuh Adrian.


"Sayang, biarkan aku masuk ya?" mohon Adrian dengan nada manja. Dulu Ara lebih banyak mengalah bahkan untuk hal-hal kecil yang tidak penting. Namun seiring waktu keduanya sepakat untuk saling mengerti dan saling mengalah serta melengkapi dalam hal apapun.


"Oke tuan! Kalau begitu izinkan aku mengacak-acak dulu wajahmu yang tampan itu! Supaya tidak ada wanita yang mau denganmu kecuali aku."


"Hah!" ucapan sang istri membuatnya kaget dan kemudian malah terlihat melengkungkan bibirnya. Lelaki itu bangga begitu dicintai oleh istrinya. "Baiklah Nyonya, karena aku suami yang baik. Aku biarkan istriku melakukannya padaku. Sepuasnya."


Dengan lemas Adrian berjalan menghampiri Ara yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Lelaki itu seperti pasrah dengan nasibnya, harus menjadi obyek kemarahan sang istri akibat ejekannya tadi.


"Ini ... Disini ... Emm, ini juga lalu ini dan terakhir... Aaaaa!" Ara memekik kaget, saat tangan Adrian tiba-tiba memeluk dan mengangkat tubuhnya masuk kedalam kamar mandi. Dia belum selesai membuat kotor seluruh bagian wajah tampan itu. Namun malah terjebak didalam sana.


Ceklek!


Pintu dikunci dan lelaki itu memasukkan ke saku celananya. Wajah mereka berdua sama- sama berhias tanah saat ini. Apakah mereka sudah impas? Sepertinya drama masih akan bersambung.


"Mas, yang mau mandi kenapa aku dibawa kedalam. Aku sudah mandi," protes Ara menahan dada sang suami yang mendekapnya tanpa jarak.


"Kita sama-sama kotor, jadi kita harus mandi lagi, Sayang."


"Tidak! Tidak! Mas duluan saja, nanti aku setelahnya," ucap Ara berusaha melepaskan diri.


"Tidak bisa! Kita sudah saling membalas tadi. Dan ini balasan yang impas untuk kita berdua. Kita mandi bersama," tegas Adrian yang mulai melucuti pakaiannya sendiri.


"Emmm...." Adrian meletakkan jari telunjuknya di bibir sang istri. Kemudian mendekatkan bibirnya dengan bibir wanita yang dicintainya itu. Menikmati manisnya benda kenyal yang menjadi bagian bersih satu-satunya di wajah mereka, selain mata.


Ya, setelah tadi Ara sedih karena jawaban Dani yang tidak sesuai harapannya. Wanita itu selalu terlupa hingga akhirnya perasaannya kembali membaik akibat ulah suaminya. Selau seperti itu. Entah sampai kapan terus seperti itu.


Dan drama saling balas sekarang sudah impas. Karena mereka berdua menikmatinya sekarang. Berendam dalam bath tube berdua, menghabiskan waktu bersama menceritakan banyak hal hingga berjam- jam lamanya.


Terkadang banyak hal baik diantara keburukan. Pun banyak hal buruk diantara kebaikan. Jadikan semua pelajaran ya readers ter❤️.


Kita semua tidak sempurna. Jangan ngoyo harus menjadi ini itu sesuai standar hidup orang lain.

__ADS_1


CUKUP! Jadilah versi terbaik dari dirimu saja ya cin 🤪. Love u...


__ADS_2