
"Mas, kita pulang sekarang," ucap Ara ketika melihat sang suami baru saja tiba membelikan pesanannya.
Bahkan pakaian yang Adrian kenakan masih basah, dengan napas yang terengah pula akibat ia berlari untuk cepat sampai di kamar istrinya.
"Sayang, kamu tidak makan dulu. Lagipula aku belum mengurus administrasinya." Adrian mendekat ke ranjang sang istri. Berharap wanita itu mengulur waktu sebentar saja untuk menikmati makanan yang dimintanya. Memuaskan bukan jika melihat seseorang makan dengan lahap makanan yang mencarinya saja penuh perjuangan.
"Nanti saja dirumah. Bantu aku turun, Mas. Biar aku masukkan pakaianku kedalam tas." Ara mengangkat tangannya bersiap memegang bahu Adrian untuk bertumpu.
"Sayang, cobalah dulu. Jauh-jauh aku membelikannya." Lelaki itu mengiba, bahkan ia masih memegang bungkusan yang di dapatnya dengan perjuangan itu.
"Nanti saja, Mas. Aku belum lapar." Adrian mengernyit. Kalau bukan istrinya, mungkin lelaki itu sudah mengeluarkan taringnya. Apalagi alasan belum lapar yang tidak masuk akal itu. Padahal tadi Ara memburu-buru Adrian untuk segera berangkat karena alasan sudah sangat lapar.
"Baiklah, tapi nanti dimakan, ya." Adrian melunakkan suaranya. Karena saat di rumah makan yang menjual soto tadi, ibu penjual yang mengajaknya berbincang hingga akhirnya tahu jika sang istri sedang hamil mengatakan jika wanita hamil itu sensitif dan suka berubah-ubah moodnya.
Sebentar mau A sebentar kemudian mau B. Sungguh seperti orang yang plin plan tapi memang begitu adanya, jadi sebagai suami Adrian harus sabar. Sepertinya sekarang lelaki itu tengah mempraktekan teori yang diajarkan ibu penjual soto tadi.
Bisa dilihat bukan, baru saja datang ia sudah mendapat cobaan. Sabar, sabar.
Adrian mengulurkan lengannya, menjadikannya tumpuan untuk sang istri yang akan turun dari ranjang. Kemudian membantu istrinya melipat baju dan memasukkannya dalam tas.
"Tuan." Elang yang baru saja masuk mendekati Adrian, kemudian menunjukkan pergelangan tangannya dimana arloji melingkar.
Adrian yang mengerti maksud sang asisten segera beranjak dari duduknya dan berjalan agak menjauh dari sang istri. Kemudian kedua lelaki itu nampak membicarakan sesuatu.
"Pergilah, Mas. Biar aku pulang naik taxi saja," ucap Ara sambil merapikan barang-barang lain dalam tasnya. Tatapan matanya tak sekalipun beralih ke sang suami.
"Tidak, Sayang. Aku hanya membicarakan masalah kantor sebentar. Kau hanya akan pulang denganku," sahut Adrian yang mengerti bahwa yang dikatakan sang istri bukanlah sebuah pemakluman tapi lebih kepada ancaman. "Kamu berangkat dulu, urus semuanya, dan tunda yang bisa ditunda. Nanti aku menyusul. Jangan lupa kabari terus," titah Adrian.
"Baik, Tuan." Elang segera melangkah keluar kamar meninggalkan majikannya berdua dengan sang istri.
"Tunggu disini sebentar, ya. Aku ke bagian administrasi dahulu," pamit Adrian pada sang istri.
Ara hanya mengangguk. Sepeninggal Adrian, wanita itu mengambil ponselnya ingin mengabari Mela jika ia jadi pulang hari ini. Saat sedang mengetik, terdengarlah suara ponsel bergetar.
Drrt
Drrt
Sudah pasti itu bukan miliknya. Ara mencari asal suara benda yang berbunyi berkali-kali tanpa jeda itu. Setelah beberapa lama akhirnya ia temukan ponsel sang suami terjepit diantara sofa. Mungkin lelaki itu tidak sadar jika ponselnya jatuh.
Diambilnya benda canggih persegi panjang itu dengan tangan kirinya. Kemudian terlihat nama Laura muncul sebagai pemanggil.
__ADS_1
"Mau apa wanita ini?" gumam Ara. Ingin sekali wanita itu membiarkannya, tapi suaranya sangat mengganggu dan lagipula ia penasaran ada keperluan apa mantan kekasih Adrian itu menghubungi suaminya. Bukankah kemarin suaminya itu sudah memperjelas jika urusan pekerjaan akan diselesaikan di kantor.
Klik! Digeserlah tombol hijau yang ada.
"Halo Add. Ya ampun, lama sekali kamu mengangkatnya. Kamu dimana? Aku sudah menunggumu dari tadi. Profesional dong Add, ini jam kerja. Istrimu manja sekali padahal ia sudah baik-baik saja. Sampai-sanpai kamu telat ke_"
Klik!
Ara mematikan panggilan Laura sepihak. Mendengarkan ocehan wanita itu membuatnya sakit kepala saja. Sekalian ia matikan ponsel suaminya daripada wanita itu mengganggu lagi.
Padahal Adrian bercerita jika Laura sudah berubah setelah menikah dengan Tony. Mengapa sekarang wanita itu malah lebih parah dari sebelumnya.
"Sayang, apa ponselku ketinggalan?" tanya Adrian yang nampak berjalan masuk membawa sebuah tas kecil berisi berkas-berkas sang istri.
Ara mengangkat ponsel sang suami yang masih ada dalam genggamannya.
"Oh, syukurlah." Namun lelaki itu mengernyit saat tahu ponselnya mati, padahal seingatnya baterainya full tadi malam.
"Aku yang menonaktifkannya. Laura menghubungi Mas terus menerus, dan ketika ku angkat ia mengatakan kalau aku manja," ucap Ara dengan bibir mengerucut.
"Hah?" Meski heran dengan perbuatan sang istri yang biasanya tidak begitu menggubris hal-hal seperti ini Adrian akhirnya tersenyum karena gemas. Ini untuk pertama kalinya ia senang dengan kesensitifan sang istri akibat hormon kehamilan yang naik turun tidak jelas itu. "Aku justru senang kau mematikan ponselku, Sayang. Dia memang mengganggu saja, tapi Elang pasti susah menghubungiku," ucap Adrian yang duduk merapat kesebelah sang istri kemudian mengecup pipi wanita itu.
"Oke, Nyonya!" Sungguh Adrian tidak pernah memblokir nomor kontak seseorang. Ini untuk pertama kalinya ia menyetujui ide istrinya itu.
"Sudah beres. Kita pulang, Sayang," ajak Adrian pada sang istri yang sudah duduk di kursi roda. Dan seorang perawat yang siap mengantar mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa-apaan dia menutup telponnya begitu saja. Padahal ini kerjasama besar, hampir semua perusahaan menginginkannya. Kenapa Adrian bertingkah seperti ini?" Laura keluar dari mobilnya sesaat setelah mobil sport warna merah itu berhenti di depan lobi perusahaan Adrian.
Ia baru saja tiba, namun raut wajahnya tidak bersahabat sama sekali. Bagian marketing perusahaan Tony yang lebih dulu berangkat mengabarkan bahwa Adrian belum datang hingga jam 9 pagi. Hanya ada asistennya yang mewakili.
Wanita cantik dengan penampilan baru yang lebih berani itu melangkah menuju ruangan Adrian.
"Silahkan, Bu," ucap Vina sopan. Mempersilahkan Laura masuk ke ruangan Adrian sesuai pesan Elang.
"Dimana bosmu?" Laura hanya memastikan jika Adrian memang tidak bersembunyi darinya.
"Maaf Bu, Pak Adrian belum datang karena istrinya sakit dan sedang mem_"
"Istrinya hanya sakit sepele, kenapa seperti sakit parah saja. Padahal kemarin juga sudah tidak apa-apa." Laura memotong ucapan Vina dan malah menjelekkan sahabatnya itu.
__ADS_1
Sepele? Penusukan yang direncanakan dianggap sakit yang remeh oleh wanita yang berjalan di depannya ini. Keterlaluan, mungkin Laura juga harus merasakan ditusuk seperti Ara supaya ia tidak menganggap hal ini sepele.
"Suami harus bertanggung jawab kepada istrinya, Bu. Bukankah janji pernikahan itu saling memberi dan menerima, saling melengkapi, bersedia hidup susah maupun senang bersama, dan setia serta_"
"Kamu terlalu menjunjung tinggi teori! Memangnya ada orang seperti itu? Di bumi ini mungkin hanya ada seribu satu."
"Ya, dan mungkin Pak Adrian adalah satu dari seribu itu, Bu. Makanya banyak wanita menginginkannya meskipun statusnya sudah memiliki istri."
"Tentu saja, Adrian memang pantas diperebutkan. Tunggu ... Kau tidak sedang menyindirku kan?" ucap Laura yang menatap Vina dengan sinis.
"Saya hanya menyindir para wanita yang tidak tahu diri, Bu." Vina menyeringai, hatinya sudah kesal dan ingin sekali meneriakkan kata "iya" pada mantan kekasih bos nya yang terlalu percaya diri itu.
"Mungkin kamu termasuk salah satunya. Karena sedari tadi kamu menyerang saya terus," Laura mengingkari bahwa sebenarnya dia memang merasa disindir oleh sekretaris Adrian itu. Terlanjur basah, berenang saja sekalian.
Vina tersenyum masam. Sungguh wanita di depannya ini memang luar biasa. Luar biasa tidak tahu diri. Bagaimana dulu sang Bos bisa mempunyai kekasih semacam dia. Sedangkan Adrian adalah tipe lelaki yang sulit untuk dipahami.
"Oh iya, apa istrinya itu tidak tahu jika Adrian sangat dibutuhkan disini? Maaf, aku lupa kalau ia hanya wanita biasa. Meskipun pernah menjadi asisten pribadi Adrian, sepertinya pengalamannya sangat kurang tentang dunia bisnis. Harusnya wanita itu pengertian bukannya semaunya sendiri." Tanpa dipersilahkan Laura duduk disofa, mungkin ia merasa lelah setelah sekian lama berdiri.
Sedangkan Elang yang sudah berada di dalam, ia hanya melirik sekilas pada wanita mantan kekasih bosnya itu. Kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Bu, menjaga istri itu adalah kewajiban suami. Jadi Pak Adrian memang sudah bertindak sewajarnya. Lagipula si_"
"Kamu siapa berani berdebat dengan saya?" Laura berdiri tiba-tiba dan berkacak pinggang di depan Vina. Hampir saja Vina limbung, jika dia tidak bisa menguasai diri.
"Saya sekretaris Pak Adrian, dan ibu disini hanya tamu. Jadi jika anda sopan saya juga sopan. Jika tidak, maka saya akan lebih tidak sopan. Istri pak Adrian adalah sahabat saya, dan saya tidak suka mendengar orang berkata buruk tentang dia padahal tidak mengenalnya sama sekali!" ucap Vina ketus.
"Kamu berani?" Laura semakin mendekat dan menantang, bahkan wanita yang dulu berpenampilan dan berkarakter anggun itu terlihat sedikit bar-bar.
"Saya mau bekerja dengan tenang karena tugas saya banyak hari ini." Elang berdiri kemudian memutar tubuhnya. Matanya tajam menatap dua wanita yang tidak jauh dari tempatnya berdiri itu. "Vin, kembali ke mejamu! Dan Bu Laura, jika anda ingin menunggu Tuan silahkan duduk disitu dan jangan membuat keributan, atau lebih baik anda pulang karena saya juga tidak bisa memastikan apakah Tuan akan ke kantor atau tidak." Suara tegas dan lantang Elang membuat dua wanita itu sontak terdiam.
Vina langsung kabur dan kembali ke mejanya. Sedangkan Laura, dia masih berdiri disana.
"Aku tunggu saja sampai Adrian datang."
Elang berdecak kesal. Mana mungkin bosnya itu akan ke kantor hari ini. Tadi pagi saja terjadi huru hara di rumah sakit. Tapi Elang berdoa dalam hati semoga sang nyonya masih rewel hingga Tuannya itu tidak berangkat ke kantor. Dia saja yang bukan siapa-siapa risih melihat Laura ada disana, apalagi bosnya itu.
Untung saja, semua pekerjaan hari ini aman terkendali, kecuali mengendalikan satu orang yang duduk di sofa dengan mata yang terus saja menatap layar ponselnya itu.
Tunggu saja sampai bosan. Ucap Elang dalam hati.
🙏 terimakasih banyak untuk antusiasnya...
__ADS_1