Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 117 Gara-gara Sup (21+)


__ADS_3

Hari yang melelahkan. Tidak terasa jarum jam menunjuk di angka 1 malam. Saat ini Adrian masih berada di Rumah Sakit, memastikan salah satu anak buah Elang baik-baik saja. Setelah peluru panas seorang sniper suruhan Danang berhasil mengenai pinggangnya.


"Bagaimana keadaan Tony, Fad?"


"Baik, Tuan. Peluru yang bersarang dikakinya telah diambil," ucap Fadli yang baru saja keluar dari UGD kemudian duduk di sebelah Adrian. "Dan saya.. benar-benar mohon maaf atas kecerobohan saya, Tuan," lelaki berumur 40 an itu menunduk hormat kepada Adrian.


"Sudahlah," ucap Adrian seraya menepuk pelan bahu Fadli. "Lain kali kau harus lebih waspada dan hati-hati," ucap Adrian yang maklum atas pukulan Fadli padanya saat ia datang di gudang tua tadi hingga membuat bahunya sedikit memar.


"Terimakasih, Tuan." Adrian segera berdiri untuk pamit ketika salah satu anak buah Elang yang lain berlari-lari sambil membawa ponsel dan menghampiri sang majikan.


Dengan napas terengah, lelaki yang bernama Dito menyerahkan ponsel Elang kepada Adrian. "Apa?" tanya Adrian yang heran dengan tingkah Dito.


"Nyo-nya, Tuan," ucapnya gelagapan.


"Istriku?" Dito mengangguk. Adrian mengambil ponsel yang ternyata telah terhubung sedari tadi.


Sambil berjalan meninggalkan UGD, ia menjawab panggilan sang stri.


"Iya, sayang,"


"Mas kemana saja? Janji mau memberi kabar, malah menghilang," suara Ara terdengar kesal bercampur khawatir.


"Iya. Ini baru selesai, sayang. Aku sampai di rumah sebentar lagi."


"Mas membuatku khawatir,"


"I know, Dear. I love u. Kira-kira satu jam lagi aku sampai. Ok!"


Adrian mematikan ponsel, setelah sang istri mengiyakan ucapannya. Kemudian pulang mengendarai mobilnya sendiri tanpa anak buahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Rumah begitu sepi menjelang dini hari itu. Lelaki yang bahkan masih mengenakan jas lengkap itu melangkah pelan memasuki rumah. Gurat lelah menghiasi wajah tampannya. Namun ia masih bisa memperlihatkan senyum manisnya. Untuk siapa lagi kalau bukan istrinya tercinta yang bahkan sampai 55 kali melakukan panggilan padanya. Hanya karena satu alasan, khawatir.


Samar didengarnya ada seseorang yang tengah bermain dengan alat dapur. Sepagi ini? Bahkan pelayan di rumah pun belum waktunya bangun. Hingga rasa penasaran yang mendera, membuat lelaki itu melangkahkan kakinya menuju ruangan besar kedua setelah kamar tidur itu.


Adrian menarik sudut bibirnya ketika didapatinya bahu mungil nan rapuh milik sang istri nampak bergerak-gerak. Jemari tangan Ara dengan lincahnya memasak sesuatu. Mengendap-endap dan pelan lelaki itu berjalan mendekat. Dibukanya jas yang tengah dipakainya, kemudian ia letakkan di sandaran kursi. Gegas ia melipat ujung kemejanya hingga ke siku.


"Astaga.. Mass, kau mengagetkanku," pekik sang istri ketika kedua tangan Adrian tiba-tiba melingkar dipinggang dengan bibir yang mengecup rakus belakang telinga wanita itu. Hingga tengkuk sang istri merinding dibuatnya.

__ADS_1


Lelaki itu menyandarkan kepalanya di punggung Ara, meski ia harus membungkuk karena tinggi Ara hanya sampai di bawah telinganya. "Aku rindu sekali denganmu," ucap Adrian dengan mata terpejam.


"Mas pasti lapar, makanlah dahulu. Aku memasak sup ayam untukmu," Ara mengaduk-aduk sup yang dibuatnya agar aroma dari masakannya tercium oleh suaminya.


"Aku lelah sayang. Bolehkah aku langsung tidur saja setelah mandi?" lelaki itu memiringkan kepalanya memohon izin pada sang istri.


Ara yang tidak mampu menolak karena kasihan akhirnya mengangguk meskipun tidak rela. Sungguh, ia sengaja memasak untuk suaminya tadi sampai-sampai ia pun belum memejamkan matanya seharian ini. Namun ia malah dibuat kecewa.


Beberapa menit kemudian ketika Adrian selesai mandi, ia tidak mendapati sang istri di kamar. Namun malah ada semangkuk sup yang bahkan masih panas, terlihat dari kepulan asap diatasnya.


Ceklek!


Pintu menuju balkon dibuka dari luar. Tatapan Adrian langsung menuju kesana, dan ia terpekur ketika sang istri nampak masuk dengan langkah gontai tanpa melihatnya apalagi menyapanya.


Lelaki itu sampai memperhatikan gerak-gerik sang istri yang langsung menuju meja rias melakukan kebiasaan ritual malamnya. Mengoleskan lotion pada tubuhnya. Namun bukan itu yang membuat Adrian tak melepas tatapan matanya dari sang istri semenjak tadi.


Bagaimana mungkin, sepagi dan sedingin ini wanita itu hanya mengenakan lingerie yang bahkan pada bagian dadanya tidak menutup sempurna. Dan lelaki itu melihat penampakan mungil yang membuat otaknya berkelana kemana-mana. Bahkan lelaki itu sudah menelan salivanya berkali-kali untuk mendinginkan tubuhnya. Tubuhnya memang lelah, tapi sepertinya tidak untuk yang satu ini.


"Sayang, apa kau tidak kedinginan?" tanya lelaki yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos dalam ini, absurd.


Tanpa berniat menjawab, Ara hanya diam melanjutkan aktivitasnya, mengoles lotion ke kakinya yang bahkan ia singkap bagian bawah lingerinya hingga ke pangkal paha. Dan suaminya itu semakin frustasi melihatnya. Ibarat bermain boneka cantik dari India, boleh dilirik tak boleh dibawa.


Oh.. God!


Adrian meraup wajahnya berkali-kali. Kalau seperti ini, nampaknya ia tidak jadi mengantuk.


Ara berdiri setelah selesai dengan meja rias nya. Wanita ini semakin kesal, karena suaminya tidak juga mengerti kalau ia tengah merajuk akibat sup ayamnya tidak dimakan sang suami.


Ia mengangkat sup diatas nampan, yang akan ia bawa kembali ke dapur saja. Lama-lama di kamar dengan perasaan yang tengah marah membuat perasaannya semakin tidak nyaman.


Tatapan Adrian yang begitu menginginkannya sangat nampak di wajah lelaki tampan itu. Juga tubuhnya yang merindukan suaminya itu tidak dapat ia kendalikan. Bisa-bisa ia tidak jadi kesal dan malah menjadi singa betina buas yang menyerang pejantannya. Hallo, padahal belum ada 24 jam mereka tidak bertemu.


"Mau dibawa kemana,?" Adrian yang melihat pergerakan sang istri ke nakas dan mengangkat makanan yang ada disana melesat cepat menghampiri. Dicekalnya lengan sang istri yang terasa sedingin es, hingga membuatnya terhenyak.


"Biar aku makan, sayang," mengambil mangkuk beserta sendok dari nampan sang istri lelaki ini sempat melihat Ara yang memalingkan wajahnya. Matanya berkaca, dan tentu saja wanita itu sengaja menyembunyikannya.


"Itu sudah tidak enak," Ara langsung merebut sendok yang hampir saja masuk ke mulut Adrian. Kemudian mengambil juga mangkuk yang ada disebelah tangan lelaki itu."Istirahatlah. Maafkan aku, Mas," ucap Ara yang entah mengapa malah membuat hati Adrian sakit.


Bahkan disaat istrinya itu kecewa, wanita itu masih memikirkan dirinya yang tidak pernah suka makan sup yang dingin.

__ADS_1


Dengan segera Adrian memeluk sang istri dari belakang saat dilihatnya wanita itu akan meninggalkannya keluar kamar. "Aku suka sup yang dingin, asal itu buatanmu dan harus kau yang menyuapi," bisik lelaki itu pada istrinya.


Ara menelan salivanya, tengkuknya meremang merasakan hembusan napas hangat Adrian yang menusuk pori-pori kulitnya yang dingin. Tentu saja itu hanya alasan Adrian. Dan sang istri hanya menurut saja.


Namun bukankah ada seribu cara receh untuk membuat cinta tetap menyala. Dan itulah yang dilakukan Adrian saat ini.


Wanita itu berbalik, mengerjap memastikan keinginan sang suami lewat tatapan matanya. Dadanya kembang kempis menahan isakan yang hampir saja membuat tumpah airmatanya jika sang suami tidak menahannya tadi. Cup! Adrian mencuri kecupan sang istri, ia sudah tidak bisa sabar lagi ketika bibir ranum yang biasanya selalu cerewet itu tampak membuka dan menutup seperti ikan yang meraup oksigen.


Dengan lembut ia menggandeng sang istri menuju ranjang. "Setelah makan, kau harus membuatku tidur nyenyak," ucap Adrian dengan tatapan mesum yang ambigu.


"Bukankah tadi aku sudah bilang seperti itu, Mas. Setelah ini istirahatlah," ucap Ara yang seketika melihat jam dinding yang menunjuk di angka 3. Kemudian wanita itu segera mengangsurkan sendok demi sendok sup ke mulut suaminya.


"Ini yang terakhir. Kalau perut kenyang tidurpun pasti nyenyak, Mas," ucap Ara yang kemudian memberikan segelas air putih pada suaminya sebagai penutup. Dengan ibu jarinya, wanita ini mengusap jejak dari sisa makanan di bibir sang suami.


Adrian yang sejak tadi mendengarkan celotehan sang istri, hanya tersenyum samar, sambil menatap lekat wanita separuh jiwanya itu. "Aku bilang, kau harus membuatku tidur nyenyak, Sayang. Bukan makanan ini," Adrian mengambil mangkuk dan gelas dari tangan sang istri kemudian meletakkannya di atas nakas.


"Bukankah ini untukku?" lelaki yang gairahnya sudah memuncak di ubun-ubun itu menatap dalam lingerie yang dikenakan sang istri. Pakaian tidur kurang bahan yang hanya menutup area sensitif favorit Adrian itu bahkan terlihat transparan dimatanya.


Hingga tanpa sadar, lelaki itu menggerakkan ujung jemarinya menggambar abstrak mengikuti lekuk tubuh wanita yang mematung di depannya. Ia yang tentu saja hapal berapa kelokan, jurang dan tanjakan yang dimiliki sang istri, membuat wanita itu merasa ditelanjangi tanpa harus membuka penutup tubuhnya saat ini.


Ara bergetar dengan napas tertahan, lidahnya kelu bahkan hanya untuk memanggil sang suami. Padahal, mereka sudah melakukannya beberapa kali. Namun cara Adrian memantik gairahnya selalu membuatnya merasa istimewa hingga seakan-akan mereka akan melakukannya untuk pertama kali.


Adrian selalu lembut dan menggoda meski nanti ia akan menjadi buas hingga Ara tidak bisa untuk menolaknya saat lelaki itu memintanya lagi.


Tali spagheti yang berada di pundak Ara tiba-giba sudah berpindah tempat jatuh di lengan. Hingga dengan sentakan sedikit saja, sudah pasti benda kenyal mirip gunung kembar yang tingginya tidak seberapa itu akan terlihat jelas tepat di depan sang suami.


"Mas,, kau tidak ingin itu kan?" Ara meringis setelah mendadak ingat jika sekarang sudah hampir pagi. Kalau mereka melakukannya sekarang, tidak mungkin lelaki itu akan membiarkannya berlangsung singkat. Hingga akibatnya mereka akan bangun kesiangan dan menjadi bulan-bulanan sang mertua.


"Menurutmu?" lelaki itu menggerakkan jemarinya. Menyibak lingerie Ara bagian bawah hingga mencapai pangkal pahanya. Ia yang berada tepat di depan kedua lutut sang istri yang tengah membuka, seakan siap menerkam tubuh dingin yang sebenarnya juga menginginkan kehangatan itu.


Tanpa menunggu jawaban sang istri, bibir hangat Adrian menyusuri kaki kecil yang memiliki paha ramping nan putih yang terasa seperti es itu. Semakin dekat ke pangkal, semakin napas lelaki itu memburu. Kemudian dengan tatapan memuja, lelaki itu mengirimkan sinyal ke mata sang istri yang sudah bergairah akibat perbuatannya.


Menahan gejolak dari intinya yang berkedut. Ara mendesah lirih dengan tangan mencengkeram erat apa saja yang berada di sekitarnya. Dan kemudian secara naluriah, tangan itu berpindah membelai lembut rambut Adrian. Mencari kekuatan disana meski dengan cara mengacak-acaknya.


Tangan kekar yang mulai panas itu hampir saja menarik turun satu satunya pelindung terakhir yang dimiliki sang istri, ketika samar didengarnya seseorang mengetuk pintu kamar dengan pelan.


Tok.. tok


Tok.. tok

__ADS_1


#maap pembaca setia, otor sedikit oleng sehingga ada kesalahan sedikit. Mohon dibaca ulang, Terima kasih😘


__ADS_2