
"Gimana Sok apa benar istri saya hamil."ujar Kenzo.
"Benar Pak dan sekarang usia kandung Nyonya sudah menginjak 5 Minggu. Tuan harus lebih menjaga Nyonya karna di kondisi hamil muda sangat rentan keguguran. Apalagi sekarang kondisi Nyonya sangat lemah dan banyak fikiran itu akan sangat berpengaruh bagi janin yang ada dalam kandungan Tuan."ujar Dokter menjelaskan pada Kenzo.
"Baik Dok saya akan menjaga kesehatan istri saya."ujar Kenzo.
"Ini resep obat dan vitamin untuk memperkuat janin, nanti Tuan tinggal tebus di apotek."ujar Dokter.
"Baik Dok."jawab Kenzo.
"Sayang."ujar Kenzo setelah Lana sadar dari pingsannya.
"Mas kok aku ada di sini Mas."ujar Lana.
"Sayang mulai hari ini kamu nggak boleh banyak fikiran, nggak boleh kecapean, dan harus makan-makanan yang bergizi okey."ujar Kenzo.
"Memang nya aku kenapa Mas."tanya Lana yang belum paham kemana arah pembicaraan suaminya.
"Di sini ada malaikat kecil kita sayang."ujar Kenzo sambil mengelus-elus perut Lana.
Lana langsung menutup mulutnya dengan tangan karna tak percaya kalau saat ini dia tengah hamil.
"Mas serius."ujar Lana.
"Mas serius sayang, makanya kamu jangan banyak fikiran jaga kesehatan biar malaikat kecil kita juga kuat sayang."ujar Kenzo.
"Terimakasih Tuhan karna engkau masih mempercayai kami untuk memiliki anak lagi."ujar Lana berucap syukur.
"Sekarang kamu istirahat dulu Mas mau tebus resep obat dan vitamin dari Dokter buat kamu. Inget jangan kemana-mana kamu belum pulih dan jangan turun kalau Mas belum sampai."ucap Kenzo.
"Iya Mas."
***
"Nek kita mau kemana."tanya Fuji karna Nenek yang menolong nya kemarin mengajak nya pergi.
"Katanya Cucu mau cari jalan raya."ujar Nenek.
"Jadi Nenek bakalan nganterin aku sampai ke jalan raya."ujar Fuji senang karna sebentar lagi akan bertemu dengan orang tua nya.
"Iya Cu."ujar Nenek.
"Ayo Nek aku nggak sabar buat sampai jalan raya Nek."ujar Fuji kesenangan.
"Tunggu Kakek dulu ya Cu."ujar Nenek.
"Baik Nek."jawab Fuji.
"Woi bangun katanya mau cari gadis itu, ayo keburu dia makin jauh."ujar Bambang.
__ADS_1
"Aaelah gua masih ngantuk nih, entar aja nyari nya anak kecil kayak dia mana berani masuk hutan jauh-jauh."ujar Riki.
"Terserah Lo kalau nanti Bos datang tiba-tiba dan liat Lo masih tidur-tiduran kayak gini bisa di gorok abis tuh leher."ujar Bambang yang langsung bangkit dan melangkah keluar meninggalkan Riki sendiri.
Riki yang mendengar perkataan Bambang seketika bulu kuduk nya berdiri membayangkan kalau semua itu terjadi.
"Woi tungguin gue."ujar Riki yang langsung menyusul Bambang yang sudah lebih dulu berjalan mendekat ke hutan.
"Kenapa takut Lo."ujar Bambang pada Riki yang menyusulnya dengan wajah pucat pasi mendengar ucapannya tadi.
"Nggak kok."jawab Riki.
"Ya udah nggak Lo masuk duluan gih."tantang Bambang.
"Lah kok gua Lo aja gua di belakang Lo gampang kan."elak Riki.
"Katanya nggak takut."ejek Bambang.
"Udah nggak usah banyak omong lu, duluan gih."ujar Riki.
Karna tak ingin berdebat Bambang langsung berjalan masuk menelusuri hutan belantara yang entah makhluk apa saja yang ada di dalam nya.
"Lo yakin dia masuk ke hutan ini, liat aja gua baru masuk aja udah merinding."ujar Riki.
"Ya yakin nggak yakin sih."ujar Bambang.
"Terus kalau nanti Bos nanya gimana Lo mau jawab."
"Ya bilang aja nggak ketemu."
"Berarti Lo nyerahin kepala Lo sama bos dengan cuma-cuma."
"Ya-ya nggak juga lah, mana mau gue."
"Ya udah kita cari anak itu sampe dapet."
"Tapi gue takut kalau terus masuk kayak gini, liat aja di sini banyak pohon gede-gede Lo nggak takut apa."
"Udah nggak usah mikirin itu yang penting anak itu ketemu."
"Udah gue nyerah."ujar Riki yang akhirnya menyerah untuk mencari keberadaan Fuji.
"Badan Lo aja yang gede tapi hati Lo hello Kitty, nggak malu Lo sama badan."ejek Bambang.
"Lo nantangin gue."
"Nggak tuh gue cuma bilang nggak malu sama badan, itu aja Lo aja yang sensi kayak cewek pms tau."
"Sialan Lo."
__ADS_1
"Udah tujuan kita ke sini buat cari anak itu bukan buat debat."ujar Bambang.
"Hello apa ada orang di sekitar sini."teriak Bambang.
"WOI lu ngapa teriak sih nanti penjaga di bangun gimana haa gila lu ya."kaget Riki karna Bambang berteriak.
"Terus kalau nggak teriak gimana anak itu bisa dengar bego, makanya otak di pake jangan di pajang aja."
"Ya nggak usah teriak juga."Riki semakin ketakutan dan itu adalah hiburan tersendiri untuk Bambang.
"Kenapa Lo takut."ujar Bambang.
"Tau ah males gue ama lu."
"Iya iya deh nggak teriak lagi."ujar Bambang yang akhirnya menyerah.
Mereka terus melanjutkan untuk mencari keberadaan Fuji sedangkan Fuji dan kedua lansia yang menolongnya sudah hampir tiba di jalan raya.
"Nek Fuji denger suara mobil Nek."ujar Fuji yang mendengar suara mobil tak jauh dari tempatnya berada.
"Iya Cu karna di depan sana udah jalan raya."ujar Nenek.
"Nenek serius."ujar Fuji.
"Iya Cu."jawab Nenek.
*Mah, Pah sebentar lagi aku kan berkumpul dengan kalian lagi pokoknya kalau udah sampe jalan raya aku harus cari kantor polisi. Aku udah nggak sabar ketemu Mama, Papa, Bang Langit, Bang Lintang dan Kak Lexa aku rindu kalian semua.*batin Fuji yang sangat berharap bisa berkumpul dengan keluarga nya lagi.
"Nenek, Kakek apa sebaik nya kalian ikut sama aku ke rumah Mama dan Papa.Papa sama Mama pasti mau nerima kalian menjadi bagian keluarga kami."ujar Fuji tulus.
"Enggak usah Nak sebaiknya kami tetap tinggal di sini."ujar Kakek.
"Loh kenapa Kek, apa kalian nggak mau ikut tinggal sama aku."ujar Fuji sedih.
"Kami sudah cukup nyaman tinggal di sini Nak."ujar Kakek yang tetap kekeh ingin tetap tinggal di gubuk mereka di tengah hutan.
"Tapi aku udah terlanjur sayang sama kalian, aku berharap Kakek dan Nenek mau tinggal bersama aku."ujar Fuji yang masih berusaha membujuk mereka agar mau tinggal bersamanya.
"Tidak usah Cu, Nenek sama Kakek udah terbiasa tinggal di sini."ujar Nenek.
"Hmmm baiklah kalau itu mau Kakek dan Nenek, kapan-kapan aku bakalan aja keluarga ku main ke rumah Nenek."ujar Fuji.
"Dengan senang hati kami menunggu kehadiran nya."ujar Nenek.
"Ayo Nak sebentar lagi kita sampai di jalan raya."ujar Kakek.
"Baik Kek."jawab Fuji.
Dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka hingga ke jalan raya.
__ADS_1