Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
BB 186 Apakah orang yang sama?


__ADS_3

Esther terdiam di ruang rawat inap suaminya. Damar belum siuman hingga kini. Sebenarnya ia merasa lapar, dan hendak membuka bungkusan yang diberikan Aldo tadi. Namun mengingat kembali dimana dia hampir saja bertemu dengan Adrian, membuatnya mengurungkan niat. Sepertinya, lapar yang ia rasakan telah menguap begitu saja. Berganti rasa cemas yang luar biasa.


Terus terang, Esther belum siap bertemu dengan lelaki itu. Dan mungkin tidak pernah akan siap. Hutang mereka sangat banyak. Dan sekarang ini, kondisinya justru sangat menyedihkan. Bagaimana jika lelaki itu mengetahui keberadaannya dan langsung membawa polisi untuk menangkapnya?


Tangan Esther mengulur, menggenggam jemari sang suami dengan erat. Ia mencoba mencari kekuatan dari lelaki yang sudah membersamainya puluhan tahun itu. Ingin sekali bercerita pada Damar tentang pertemuannya dengan Adrian. Namun Damar sedang sakit, jika ia mengetahuinya, pasti masalah ini akan mempengaruhi kesehatannya.


Ceklek!


Aldo datang setelah izin pergi beberapa saat untuk menemui bagian administrasi. Ketika masuk, yang ia tatap pertama kali adalah bungkusan diatas nakas, yang nampak sama sekali tidak tersentuh. Hanya dibuka plastik luarnya saja.


"Bu, belum dimakan? Nanti keburu tidak enak," sapa Aldo yang berjalan menghampiri wanita paruh baya yang nampak melamun itu.


"Iya, Nak."


Aldo mengambilkan satu kotak nasi dan membukanya. Kemudian menyodorkan pada Esther. Mau tidak mau, Esther menerimanya, kemudian menyendokkan sesuap demi sesuap nasi itu kedalam mulutnya.


"Ibu tidak usah khawatir. Kami menjamin seluruh biaya pengobatan bapak hingga sembuh seperti sediakala," ucap Aldo. Lelaki muda itu memegang bahu Esther untuk menguatkannya.


"Terima kasih, Nak. Kalian orang-orang yang sangat baik."


"Justru ibulah orang yang sangat baik itu. Kak Alfa sudah membuat kalian celaka, tapi kalian tidak menuntut sedikitpun. Sungguh kami yang beruntung, Bu."


Esther mengulas senyum tulusnya menggantung. Dalam hatinya ada risau yang tak mau hilang, meskipun ia mencoba mengganti topik pembicaraan ke lain hal.


"Nak, ibu lihat tadi kau berbicara dengan seseorang?"


"Siapa bu? Dokter tadi?"


"Bukan. Lelaki yang menghampirimu."

__ADS_1


"Oh, saat ibu ke toilet?" Esther mengangguk. "Dia teman SMP Kak Alfa. Lama sekali tidak bertemu, sejak berpisah dengan istri pertamanya yang kebetulan masih saudara jauh kami," terang Aldo.


"Keluarganya ada yang dirawat disini?" Tanya Esther menelisik. Ia mencoba sebisa mungkin bersikap biasa meskipun sangat ingin tahu tentang Adrian. Suapan ke dalam mulutnya pun masih terus berlangsung walaupun kegamangan membuat perutnya terasa kenyang.


"Istrinya, Bu. Kabarnya ia wanita yang hebat. Ia juga yang bisa merubah Kak Adrian menjadi sosok yang lebih ramah pada orang lain. Aku jadi penasaran," jawab Aldo dengan antusias.


"Dia menikah lagi, Nak?" Aldo mengangguk.


"Jadi, ceritanya istri kedua, Bu. Tapi bukan sosok wanita sosialita seperti istri pertamanya dulu. Yang sekarang ini adalah wanita ini lugu dan bukan dari kalangan berada. Bahkan pernah tersiar kabar kalau mereka nikah kontrak. Beritanya viral saat itu, sampai ada bukti-buktinya juga. Tapi melihat cara mereka saling menatap saja, aku tahu pernikahan mereka tidak pura-pura. kelihatan saling cinta." ucap Aldo menceritakan apa yang mereka lihat.


"Sekelas Tuan Adrian mengambil istri orang biasa?" Alis Esther menukik dalam. Ia pernah bertemu sekali dengan Adrian meski tidak mengenalnya ataupun saling sapa. Rasanya tidak mungkin lelaki itu menyukai wanita dari kalangan biasa, karena Adrian adalah seorang eksekutif muda yang berkelas. Ia pasti juga memikirkan karir bisnisnya dalam mencari pasangan hidup.


"Ibu mengenal Kak Adrian?"


"Ahh ... Tidak Nak. Ibu pernah melihatnya di TV jika dia adalah eksekutif muda yang hebat," ucap Esther beralasan. Ia tidak mungkin menceritakan tentang perseteruannya dengan lelaki taipan itu bukan?


"Iya itu benar. Kak Adrian memang hebat. Kalau tidak salah istrinya itu mantan asistennya di kantor. Aku pernah bertemu sekali waktu mereka menghadiri pernikahan rekan bisnis kami. Yang kulihat, istri Kak Adrian memang sosok yang sederhana, sangat jauh dari dandanan menor dan glamour. Namun justru itu yang berkelas. Tidak begitu tinggi namun cantik dan ramah. Dan sepanjang acara, Kak Adrian nampak sangat posesif. kalau tidak salah namanya Ara."


Sontak Aldo mengambil botol air mineral dari atas nakas kemudian memberikannya pada esther. "Pelan- pelan Bu, ayo diminum dulu."


Esther mengangguk. Dadanya terasa sesak akibat tersedak. Dia kaget mendengar Aldo menyebut nama Ara. "Siapa tadi namanya, Nak?" tanya Esther memastikan apa yang didengar oleh telinganya.


"Ara, Bu."


"Uhuk!" Esther mengambil airnya kembali, dan segera meneguknya.


"Hati-hati, Bu. Minumnya jangan banyak dulu." Aldo mengusap punggung Esther untuk membuat wanita paruh baya itu sedikit nyaman.


Esther pun hanya menurut saat tangan Aldo juga dengan telaten memijit tengkuknya. Ia memang lelah hari ini. Bukan hanya raganya tapi juga hatinya.

__ADS_1


Bangun sedari subuh, bersiap hingga berangkat ke pasar. Namun malah mendapat musibah dan harus berada disini hingga sekarang. Jadi, ia belum sama sekali istirahat hari ini. Ditambah kekhawatirannya akan bertemu kembali dengan Adrian menambah berat beban pikirannya.


Dan sekarang malah memikirkan ucapan Aldo tentang nama dan ciri-ciri istri Adrian yang entah kebetulan atau apa mirip dengan anak angkatnya. Bahkan namanya pun juga sama. Berapa persen suatu kemiripan di dunia ini hanya sebuah kebetulan.


"Apa kau menyimpan fotonya, Nak?"


"Tidak, Bu. Memang untuk apa? Ibu mengenalnya?" tanya Aldo heran.


"Ah tidak. Ibu hanya ingin melihat wanita hebat yang bisa menaklukan Tuan Adrian." Untung saja otaknya cepat memikirkan alasan dari permintaannya. Jika tidak, pasti Aldo sudah curiga.


"Ibu sudah lebih baik?"


"Iya, Nak. Terima kasih banyak. Pijitanmu mengingatkan ibu pada anak ibu yang hilang." Esther menarik tangan Aldo dan membawa lelaki muda itu duduk. Kemudian Esther menyelesaikan sisa makanannya.


\=\=\=\=\=\=\=≠\=≠\=


"Dimana Tony? Ada sesuatu yang terjadi dengan Tony? Ia baik-baik saja, kan?" Laura diberondong pertanyaan aktif oleh sang mantan kekasih.


Wanita yang kini berpenampilan seksi itu kebingungan menjawab. Padahal ia tadi menyebut nama Tony hanya untuk menarik perhatian Adrian alias sebuah jebakan pembukaan obrolan saja. Tapi sekarang malah ia yang terjebak dengan semua pertanyaan tentang keingintahuan lelaki itu.


"Kalau kamu tak bisa menjawab, lebih baik kamu pulang sekarang! Aku tak ingin membuang waktuku begitu saja!" ucap Adrian ketus. Lelaki itu segera bangkit, dan akan meninggalkan Laura begitu saja.


"Sebentar Add!" Laura menghalangi langkah Adrian. "Dengarkan aku dulu "


"Apalagi? Aku sudah memberimu kesempatan dan kau tidak mempergunakamnya dengan baik."


"Aku tahu Add. Aku bingung mengatakannya. waktunya tidak tepat. Aku ingin kita berbicara di kantor saja."


"Disini sama saja. Aku tidak pernah main kucing-kucingan dengan istriku. Jadi katakan saja. Lau,"

__ADS_1


"Di kantor saja, besok aku akan kembali lagi kesana. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang," ucap Laura, tangannya mengambil tas dan malah hendak pamit.


"Aku pergi," ucap Laura yang bahkan tidak pamit dengan Ara yang sedari awal melihat padanya.


__ADS_2