
Lega rasanya ketika sudah sampai di kantor suaminya. Meski adrian melarang wanita itu untuk menyusul tapi ara bersikukuh, karena sungguh ia malu jika harus berada di rumah seharian menunggu sang suami pulang. Ini rekor tertinggi ia bangun kesiangan akibat ulah sang suami.
Wanita itu berjalan menuju ruang sekretaris Adrian alias ruangan mbak Vina. Dari jauh gadis seksi itu nampak sibuk sehingga tidak memperhatikan sekelilingnya. Apalagi melihat Ara yang datang tanpa menimbulkan suara.
"Mbak, Pak Adrian ada?"
"Pak Adrian sedang rapat bu," ucap Vina lancar. "Eh ya ampun, aku pikir siapa. Kamu lama sekalii tidak kesini, Ra," ucap Vina dengan nada suara setengah tinggi akibat kaget jika yang menanyakan Adrian ternyata adalah istri dari sang bos sekaligus temannya itu.
"Sudah lama Mbak rapatnya?"
"Baru saja masuk. Kemungkinan satu setengah jam kedepan selesainya."
"Yaahh ... lama. Kalau begitu aku keluar dulu ya Mbak. Nanti kalau suamiku bertanya katakan saja aku sedang belanja sebentar," pamit Ara.
"Kalian janjian? Jangan ke mana-mana dong, Ra," cegah Vina karena tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Yaitu mengomelnya Adrian yang membuatnya pusing tujuh keliling. Padahal ia sudah nyaman sekarang, karena bosnya itu jarang mengomel semenjak menikah. Ingat! jarang bukan tidak pernah. Itu saja sudah alhamdulillah.
"Sekalian ada urusan sebentar, Mbak. Satu jam, aku pasti sudah sampai disini lagi. Oke." Vina menggeleng tak bisa mengiyakan tapi juga tak bisa menolak keinginan Ara. Karena sudah pasti wanita itu akan memaksa.
Dan benar saja, setelah berkata demikian, Ara langsung kabur dan sekarang sudah berada di lift.
Kemudian dengan menggunakan fasilitas taxi online, Ara menuju suatu tempat yang sudah berada dalam rencananya kemarin. Ya, wanita itu tengah berada di depan apartemen Orion sekarang. Sebuah tempat yang menjadi saksi bisu hubungannya dengan Adrian berawal. Memori yang tidak akan pernah ia hapus seumur hidupnya.
Namun, ia kesini bukan untuk mengenang memori lebersamaannya dengan suami tampannya itu. Ia kesana karena ingin bertemu Dani, anak sambungnya yang sudah beberapa bulan tidak pulang ke rumah dan malah tinggal di apartemen mewah itu.
Sebenarnya ia ragu, apakah Dani akan menerimanya. Namun tentu ia tergolong orang yang pantang menyerah sebelum berjuang. Melirik sejenak, jarum jam di tangannya menunjukkan pukul setengah dua siang. Itu berarti Dani sudah pulang setengah jam yang lalu. Semoga saja anak itu segera pulang dan tidak sedang ada urusan dimanapun.
Dengan semangat 45 Ara melewati lantai demi lantai dengan benda kotak dari besi dimana ia berada didalamnya. Sangat cepat hingga tanpa terasa hanya dalam 15 menit ia mencapai puncak tertinggi dari bangunan apartemen milik sang suami itu.
Ting! Begitu suara lift berbunyi menandakan jika ia sudah sampai, mendadak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Semakin dekat malah timbul rasa ragu bercampur takut menggelayut dihatinya.
Namun apa daya, ia sudah sampai disana. k
Kembali tidak akan menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka. Setidaknya ia telah mencoba sekalipun nanti gagal.
Ara menekan bel pintu kamar yang ditempati Dani sekaligus tempat tinggalnya dulu. Ada rasa rindu berada di sana kembali setelah sekian lama. Dan lamunan itu buyar ketika didapatinya sosok yang ia cari tengah membuka pintu dan menampilkan wajah sang ayah yang cenderung tanpa ekspresi alias datar. Bahkan, lebih ke tidak senang atau tidak bersahabat. Memang buah selalu saja tidak ingin jatuh jauh dari pohonnya.
"Boleh tante berbicara sebentar denganmu?" tanpa ingin memohon atau berdrama, Ara meminta.
"Ada perlu apa?" Wajah anak lelakinya itu sudah menampakkan rasa tidak suka akan kedatangan Ara. Namun wanita itu tidak memperdulikan.
"Bolehkah aku masuk?" Dengan setengah hati Dani menarik tubuhnya menepi, untuk memberi akses masuk ke dalam apartemen milik sang ayah pada ibu sambungnya itu.
__ADS_1
Tanpa dipersilahkan, Ara menuju sofa dan duduk disana menunggu sang anak menyusulnya.
"Aku ada urusan lain. Sampaikan dengan cepat, Tante mau apa?" Dengan nada ketus kembali Dani menjawab. Menyiratkan ketidaksukaannya yang semakin dalam.
"Daddymu mengatakan, kamu ingin sekolah di luar negeri. Apa ... kamu yakin?"
"Iya."
"Apa keputusanmu sudah bulat, Dan? Emmm ... maksud tante ... kenapa tidak sekolah disini saja. Dimanapun yang kamu mau, asal tidak keluar negeri. Semua ini terlepas dari buruknya hubungan kita, tante minta maaf. Setelah menemuimu, daddymu menjadi tidak fokus melakukan apapun, karena memikirkanmu," ucap Ara menjelaskan.
"Bukankah daddy memiliki Tante? Bahkan Tante lebih penting untuk daddy daripada aku," ucapan Dani membuat Ara terperangah. Ia tidak pernah ingin merebut kasih sayang Adrian dari anak lelaki itu.
"Mana mungkin, Dan. Tante tidak bisa menggantikan posisi kamu dihati daddymu. Kamu adalah anak satu-satunya dan sangat dicintainya. Penerus keluargamu, juga dihati daddymu," ucap ara membujuk anak lelaki itu.
Senyum mengejek Dani tunjukkan pada wanita yang ia panggil tante itu. "Mungkin di depanku Tante mengatakan seperti itu. Siapa yang tahu apa yang Tante lakukan dibelakang, hingga Daddy dan Oma menaruh perhatian lebih pada Tante," ucapan Dani sangat menusuk dan menyakiti hati Ara namun wanita itu hanya diam. Ternyata selama ini, pikiran buruk inilah yang tumbuh di hati Dani.
Pada akhirnya, bukankah apapun yang Ara katakan tetap buruk di mata anak lelaki itu. Namun setidaknya ia sudah berusaha. Mengerjap pelan, Ara menahan butiran air mata yang mendesak ingin keluar.
"Apa kau ingin tante memohon? Tante akan lakukan jika itu bisa merubah keputusanmu,"
"Keputusanku sudah tidak bisa dirubah, Tante. Apapun yang Daddy dan Tante lakukan, aku tidak perduli. Satu hal. Jika Tante dengan kesadaran diri bersedia menjauh dari kehidupan kami, mungkin aku bersedia mempertimbangkannya. Dan jangan pernah memohon padaku, aku benci orang yang mengatasnamakan memohon untuk menutupi kelemahan mereka." Berdiri dengan wajah sama sekali tak mau menatap Ara, Dani memberi keyakinan akan bulatnya keputusannya. Dan juga syarat yang lebih seperti ancaman untuk wanita yang menjadi istri ayahnya itu.
Sekali lagi, ucapan Dani membuat Ara limbung. Ia seperti seorang yang tertuduh atas memburuknya hubungan Adrian dengan anaknya itu. Ia benar-benar buruk dimata anak sambungnya itu.
"Tante harap kamu bisa memikirkannya lagi. Maafkan tante mengganggu waktumu, ya. Tante pergi dulu." Ara pamit setelah mengucapkan kata terakhirnya.
Tanpa menanggapi ucapan pamit Ara, Dani segera menutup pintu setelah wanita itu keluar. Kemudian anak laki-laki itu mengepalkan tangannya dan menjatuhkannya di dinding dekat pintu. Saking kerasnya, buku-buku tangannya yang memutih menjadi biru karena memar.
"Enak saja mau mengaturku! Dia pikir dia itu siapa!"
\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam lift menuju lantai bawah, Ara menghapus butiran air mata yang memaksa keluar tanpa dapat ia tahan. Ya, ia menahannya sejak tadi. Namun tentu saja wanita itu tidak membiarkannya keluar di depan anak sambungnya itu.
Untung saja ia hanya sendiri didalam kotak besi hitam yang membawanya turun hingga lantai bawah itu.
Ara bergegas memesan taxi online untuk kembali ke kantor sang suami. Ini sudah hampir satu jam, ia takut Adrian mencarinya. Sebelum masuk ke dalam, wanita itu berhenti di supermarket terdekat dengan kantor sang suami. Disana ia membeli banyak sekali camilan. Tak lupa ia membenahi riasan wajahnya, agar jejak airmata yang sempat ada tadi tidak terlihat oleh suaminya itu.
Di lantai atas kantor Adrian,
"Ehem ...."
__ADS_1
"Ya ... ampun, kamu kemana saja?!" Vina mendelik melihat Ara yang tersenyum ceria di depannya. Sekretaris Adrian itu langsung berdiri menghampiri. Kemudian setengah memaksa gadis seksi itu menarik tangan Ara hendak dibawanya masuk ke ruangan Adrian.
Tidakkah wanita itu tahu jika suaminya yang segalak singa itu mencarinya, begitu Vina menyampaikan jika sang istri menyusulnya, tetapi malah izin keluar sebentar karena ada keperluan.
"Aku beli ini, Mbak Vina mau? Ada coklatnya loh," ucap Ara yang sengaja cuek bebek menghadapi Vina yang panik. Dan juga Adrian yang sudah pasti kesal karena kehilangannya.
"Itu nanti saja! Cepat masuk, suami galakmu itu mencarimu," ucap Vina dengan wajah sedikit sumringah karena Ara telah kembali.
"Bukannya belum keluar. Ini baru satu ...." Ucapannya terhenti seiring matanya yang membola, rupanya ia salah membaca angka dalam jam tangannya.
"Satu apa? Bos sudah keluar setengah jam yang lalu. Lagi pula dimana ponselmu? Dihubungi berkali-kali tapi tidak diangkat!" gadis seksi sekretaris Adrian itu mengomel dari A-Z pada mantan temannya yang menjadi istri bosnya sendiri itu dengan gemas.
Ara malah cengengesan dan membuat Vina semakin geram. Dengan cepat gadis itu mendorong Ara kembali untuk masuk ke ruangan bosnya .
Tok ... tok....
"Jangan masuk kecuali kau bawa istriku, Vin!" teriak Adrian dengan keras dan malah terdengar seperti membentak.
"Mas ...."
Lelaki itu mendongak, "Kau kemana saja, Sayang? Apa ponselmu raib, hingga kau sama sekali tak mengangkat teleponku?" tanya lelaki itu dengan sarkas seraya membubuhkan tanda tangannya diatas berkas terakhir yang akan dibawa Elang keluar ruangan.
"Maaf ...."
"Hanya itu? Kalian berdua keluar dulu, nanti kalau saya butuh, kalian akan saya panggil," titah Adrian pada Elang dan Vina.
Sepeninggal dua orang yang dibuat pusing atas hilangnya sang istri, lelaki itu berdiri kemudian menghampiri sang istri dengan memasang wajah kesalnya.
"Aku beli ini, Mas." Diangkatnya dua kantong kresek penuh makanan ringan dengan dua tangannya.
"Buat siapa? Bukankah kau tidak suka ngemil?" Masih dengan wajahnya yang ditekuk, Adrian bertanya.
"Buat karyawan Mas disini. Lumayan mereka pasti suka." Ara menaruhnya di atas meja dekat sofa kemudian kembali ke dekat sang suami.
"Jadi kau sibuk memikirkan mereka tanpa memikirkanku? Aku yang tidak suka!"
Ara tahu suaminya marah karena ia menyusul ke kantor padahal sudah dilarang, dan setelah itu malah menghilang. "Maaf." Ara berjinjit hanya untuk membisikkan kata itu didekat telinga sang suami. Karena hari ini, ia mengenakan sneakersnya buka high heel yang biasanya bisa menopang tinggi badannya yang hanya sebatas bahu sang suami.
Cup! Dicurinya kecupan dari pipi sang suami kemudian wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang milik lelaki itu, dan memeluknya dengan erat.
'"Kau kemana saja?" Pertanyaan Adrian terdengar lebih lunak saat ini. Lelaki itu mengalungkan kedua tangannya di pundak sang istri.
__ADS_1
"Hanya membeli ini, Mas. Aku bosan kalau harus diam saja menunggumu." Ara beralasan untuk memperkuat jawabannya.
"Jangan ulangi lagi!"