Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 127 Mantan Menantu


__ADS_3

"Masih jauh?"


"Sebentar lagi sepertinya Ar. Aku lama sekali tidak kesini hingga lupa-lupa ingat dimana tepatnya ruko itu,"


"Kenapa tidak memakai Google Map, Nyonya?" ucap Ardi kesal. Mantan tawanan yang sekarang jadi majikannya itu, malah sibuk membaca tulisan di setiap ruko yang ia lewati di sepanjang jalan.


"Benar juga. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi," mata Ara membulat menyadari kebodohannya yang berlarut-larut akibat terngiang ucapan sang mertua tentang suaminya tadi.


Segera ia keluarkan ponselnya. Kemudian, "Ah..ini dia," ucapnya sedikit kencang kemudian mata Ara mengawasi jalanan mencari sesuatu.


"Ar,"


"Ya,"


"Jangan marah ya?"


"Apa? Cepat katakan,"


"Kita kelewat, harus putar balik," Ara menjepit bibirnya menatap sang bodyguard meminta pemakluman.


Ardi hanya diam, dan segera memutar mobil yang ia kemudikan. Beberapa saat kemudian akhirnya kedua orang itu menemukan penjual bubur ayam kesukaan Lina. Karena takut kurang, Ara sampai membelikannya 2 mangkuk.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mommy pasti senang. Semoga nanti makannya banyak dan lekas pulang," gumam Ara disepanjang lorong rumah sakit menuju ruangan sang mertua. Sedangkan Ardi mengikuti dibelakangnya.


Saat gedung ruang VVIP mulai terlihat, Ara mempercepat langkahnya. Takut sang mertua terlalu lama menunggu, karena ia yang berputar-putar mencari penjualnya.


Ketika hampir dekat, samar ia melihat pintu kamar terbuka. Siapa yang berkunjung sepagi ini? Apa mungkin ada Dokter yang memeriksa kondisi sang mertua. Tapi dia hari sebelumnya, Dokter selaludatang menjelang jam makan siang.


Wanita itu melongok ke dalam sebelum akhirnya membawa tubuhnya untuk masuk. Tidak ada siapapun atau suara apapun di dalam. Hanya sang mertua yang nampak...


Brakk! Bubur yang Ara bawa terjatuh melihat sang mertua berada di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Mommy..... "


Astaga!


"Ar, Ardi.... " lelaki yang hampir saja meletakkan bokongnya pada kursi yang ada di depan setiap ruangan itu seketika berlari, mendengar lengkingan keras suara Ara yang memanggil sang nyonya besar.


Ketika masuk, Ardi kaget melihat Lina sudah berada di lantai dengan kepala dipangkuan Ara dan darah mengucur dari punggung tangannya.


"Panggil Dokter cepat!" Ara terisak menangis sejadi-jadinya memanggil berkali-kali sang mertua. "Emmm... bantu aku dulu mengangkat Mommy keatas"


Mereka berdua yang panik sampai perintah Ara untuk memanggil Dokter belum juga dilakukan, wanita itu sudah meminta Ardi membantunya mengangkat sang mertua.

__ADS_1


Dengan sigap lelaki itu mengangkat nyonya besarnya untuk dibaringkan kembali ke bed. Dan Ara berlari keluar hendak memanggil dokter.


"Nyonya, ada nurse call disini. Lewat ini saja," ucap Ardi menghentikan langkah Ara.


"Kamu pencet itu, aku panggil Dokter supaya cepat datang," teriak Ara yang segera berlari ke luar menuju ruang perawat. Dalam keadaan genting seperti ini, fasilitas yang sebenarnya bisa membantu malah terlupakan begitu saja.


"Suster.. Dokter tolong mama saya, cepat... "


wanita itu masih terengah dengan air mata yang membasahi pipinya.


Untung saja Dokter spesialis yang merawat Lina sudah berada di ruang perawat dan akan segera melakukan kunjungan rutin setiap harinya. Padahal, biasanya Dokter itu datang di siang hari.


Sontak mereka semua berlari menuju kamar Lina. Ara panik, dan merasa bersalah hingga wanita itu merosot ke lantai karena tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri.


Ia mencoba mencari kesadarannya sendiri, untuk menghubungi sang suami. Begitu tersambung dengan Adrian, Ara yang tidak kuasa menahan sedih langsung sesenggukan.


"Mas... Mommy... Mommy," suara Ara yang tersengal-sengal tidak begitu jelas terdengar.


"Ada apa, Sayang? Sayang?"


"Ke rumah sakit sekarang, Mas."


"Oke.. oke.. Kamu tenang ya. Aku kesana sekarang" ucap Adrian mengakhiri panggilan istrinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Siapa yang menemani nenek-nenek itu?" tanya Andina yang baru saja memarkirkan mobil sewaannya di parkiran rumah sakit. Seorang lelaki suruhannya langsung masuk ke mobil ketika tahu bahwa Andina datang.


"Seorang perempuan yang menginap beberapa hari ini. Dan seorang lelaki yang berjaga diluar. Ada juga beberapa orang yang berjaga di disekitar pintu masuk utama ke setiap ruangan " Andina tampak mengangguk, kemudian ia mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya.


"Apa aku masih dikenali jika seperti ini?" mantan istri Adrian itu mengambil rambut palsu dan kerudung untuk mendukung penyamarannya. Ia juga menyiapkan kain lebar yang akan ia gunakan sebagai penutup celana panjangnya.


Lelaki itu melotot. "Total sekali nyonya ini," gumamnya lirih. Lelaki suruhan itu kemudian menggeleng, tanda menyetujui ucapan Andina.


"Baiklah," Andina mengedikkan dagunya, menyuruh lelaki itu keluar dari mobilnya.


"Mommy.. kau pasti akan kaget melihatku. setelah damai yang kau rasakan kemarin-kemarin," gumam Andina sambil mengenakan aksesoris yang akan mendukung penyamarannya kali ini.


Drrt.... Drrrt... Drrrt..


Nama Abe tertera di layar ponsel sebagai pemanggil di benda kotak persegi yang sengaja Andina jatuhkan di jok sebelahnya itu.


"Mengganggu saja," gumam wanita itu. Namun, dering ponsel itu tidak berhenti juga, masih dari pemanggil yang sama.


"Apa, Be?"

__ADS_1


"Silo meminta sisa pembayarannya sekarang juga, Din."


"Apa? Bukannya pekerjaan dia belum selesai. Dia masih harus meretas keamanan perusahaan Adrian yang disini,"


"Iya, tapi dia meminta sisa uangnya sekarang. Jika tidak, dia tidak akan meneruskan tugas ini dan akan mencatut nama kita kalau ketahuan,"


Fuhhh... hembusan napas kasar Andina terasa mengelilingi sosok yang sedang kesal itu. Wanita itu mengeraskan rahangnya. Ia merasa tertipu dengan hacker amatir macam susilo yang bahkan baru bekerja setengah jalan sudah meminta bayaran penuh.


"Oke! Kirimi aku nomor rekeningnya,"


Klik! Wanita itu menutup sepihak panggilan telepon sang sahabat karena saking kesalnya.


Untung saja Andina bisa memperdaya teman lamanya tadi, hingga wanita itu mendapat pinjaman yang cukup besar untuk menutup bayaran Susilo yang baru ia beri sebagian.


Ponselnya bersuara kembali, saat pesan dari Abe masuk mengirimkan nomer rekening yang ia minta. Dan tanpa berpikir lagi, wanita itu segera melakukan transfer melalui aplikasi online ke nomor rekening Susilo.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari beranjak siang, saat terlihat seorang wanita berpakaian layaknya gamis dengan kerudung yang menutup sebagian wajahnya serta tak lupa kacamata hitam sebagai aksesoris wajibnya.


Wanita itu berjalan gontai memasuki rumah sakit setelah beberapa saat berada diparkiran. Sedikit menyelesaikan masalah yang ia buat sendiri tadi.


Mendadak senyumnya mengembang setelah sebelumnya ia kesal karena uangnya habis untuk membayar orang-orang suruhannya. Di benaknya tiba-tiba terlintas sang mantan suami yang bisa ia peras dengan mengambil kesempatan saat sang mertua sakit begini.


Padahal sebelumnya, ia hanya ingin membuat resah sang mantan suami dengan bukti yang didapatkannya mengenai pernikahan kontraknya. Meski itu diluar rencana awalnya. Namun sekarang, ia bisa juga menggunakan sakitnya mantan ibu mertua sebagai alatnya, untuk mendapatkan uang tentunya, karena kembali merengkuh Adrian adalah sesuatu hal yang tidak mungkin. Sekeras pun ia berusaha.


Beruntung sekali wanita itu. Gerak geriknya tak membuat curiga sama sekali kedua orang suruhan Adrian yang berada di pintu masuk. Mereka orang baru yang sama sekali tidak mengenal mantan istri bosnya itu. Padahal mereka hampir memperhatikan setiap orang yang masuk.


merasa lolos dengan mudah di tahap awal, membuat wanita itu langsung bersemangat menuju gedung dimana tempat Lina dirawat.


Gayung bersambut. Saat sampai tepat didepan kamar sang mantan mertua yang diyakininya, karena nomor yang tertempel di pintu yang ada didepannya kini sama persis seperti yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Tidak ia dapati seorangpun berada disana.


Andina memasang mode waspada. Celingukan mengamati suasana sekitar, bahkan sampai sejauh mata memandang. Dan untungnya, sepi.


Perlahan, wanita itu memutar knop pintu hingga selirih mungkin menimbulkan suara. Ia masuk dengan mengendap-endap.


"Sayang, kau sudah kembali. Mommy menunggumu dari tadi," terdengar ucapan Lina menyapa sang menantu dengan sayang.


Andina yang kaget karena Lina menyadari kehadirannya. Langsung menghentikan langkahnya kemudian malah tersenyum sinis mendengar mantan mertuanya itu menyebut sayang pada istri Adrian yang baru.


"Sayang, kaukah itu?" Lina mulai curiga karena ia tak mendengar lagi suara lainnya .Padahal ia sudah menyapa seseorang yang ia dengar kehadirannya dan ia yakini sebagai menantunya.


Khemudian muncullah sosok tinggi mengenakan pakaian serba hitam dan lebar. Lina tidak dapat mengenalinya karena semuanya tertutup rapat termasuk wajahnya yang hanya terlihat sebagian, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


"Kamu siapa? Keluar! Kamu... "

__ADS_1


"Mommy.... "


__ADS_2