
"Maaf Tuan, saya terpaksa membawa nyonya Andina kesini," ucap Elang ketika Adrian sampai di sebuah tempat rahasia miliknya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Kata dokter tidak apa-apa. Tapi untuk memastikan, beliau menyarankan untuk pemeriksaan MRI. Yang nampak dari luar hanya memar, Tuan. Sepertinya belum lama, untungnya Black dan yang lain
segera mengetahuinya," tarang Elang.
"Dimana dia?"
"Di kamar atas, Tuan. Sebelah kiri." Elang yang berada didepan sedang menunjukkan jalan bagi tuannya. "Dari kemarin, dia berteriak teriak memanggil nama Tuan."
Adrian hanya menanggapi dengan datar. Tak ada sama sekali rasa kasihan dihatinya. Dimasa lalu ataupun sekarang, mengapa mantan istrinya itu selalu membuat masalah dengannya. Dan yang terparah, akibat perbuatannya, hipertensi sang ibu kambuh hingga harus dirawat di rumah sakit dan akhirnya meninggal.
"Silahkan, Tuan." Begitu pintu terbuka, teriakan Andina terdengar begitu keras. Umpatan, cercaan diucapkan wanita itu pada mantan suaminya.
"Adrian keluar kau! Pengecut! Kau mau membunuhku pelan-pelan? Jangan harap bisa ha ha ha ... Adriannnnnnnn keluarrrrrrrrr!" Suara Andina terdengar sangat keras dan memekakkan telinga. Adrian sampai memegang knop pintu untuk menutupnya sejenak saat wanita itu berteriak.
"Dari kemarin dia berteriak-teriak memanggil nama Tuan. Dan itu hanya berhenti, jika ia tidur dan kehabisan tenaga," jelas Elang.
"Kalian tunggu diluar," titah Adrian pada para anak buahnya. Lelaki itu membuka kembali pintu kamar tempat Andina berada.
Teng ... teng ... teng suara gesekan borgol yang terpasang di tangan Andina dengan ranjang besi model lama terdengar sangat berisik. Apalagi suara reotnya ranjang akibat ia gerakannya yang ingin melepaskan diri, sangat menyedihkan.
Tuk ... tuk ... tuk suara sepatu Adrian yang menapak di lantai terdengar cukup keras, membuat Andina yang memukul-mukulkan tangannya ke sandaran ranjang untuk menciptakan suara berisik, lambat laun menghilang, hingga berhenti sama sekali.
Mata wanita itu melotot, mengawasi arah darimana biasanya anak buah Adrian mendatanginya.
Begitu yang muncul adalah orang yang selama ini diharapkannya, Andina berteriak kegirangan.
"Ya ampun, Add. Akhirnya kau datang juga. Aku sudah lama menantimu. Mereka sama sekali tidak mendengarkan ucapanku. Aku bilang aku mau keluar dari sini, aku tidak bersalah sungguh ini hanya salah paham saja, Add." Setelah panjang kali lebar Andina berbicara dengan harapan penuh Adrian akan menanggapinya, tiba-tiba saja bibir wanita itu diam dengan sendirinya. Karena lelaki yang ada di depannya ini hanya menatapnya sinis dan tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya.
__ADS_1
"Add ... Katakan sesuatu. Aku tahu aku salah. Aku ... Aku ... Kesalahanku banyak padamu Add, kau jangan diam saja. Bebaskan aku Add ... Aku tahu kau pemaaf ... Aku ...." Sekali lagi wanita itu berhenti. Sungguh ia tak pernah dibuat salah tingkah sendiri seperti ini. Padahal sekali lagi Adrian hanya menatapnya, namun tatapan itu memang sangat berbeda. Ia tidak seperti Adrian yang dulu. Andina sampai bingung untuk membela dirinya sendiri.
"Bagaimana kabar mommy Add? Ia sudah sembuh kan? Sebenarnya aku ingin menjenguknya, tapi kau malah menculikku. Mommy tidak apa-apa kan?" tanya Andina hati-hati. Karena terakhir kali, ia meninggalkan sang mantan mertua tidak dalam keadaan baik.
"Kau berharap mommy kenapa-kenapa?" tanya Adrian datar.
"Tidak begitu Add. Aku hanya khawatir padanya, aku ... aku ... aku mengkhawatirkan keadaannya, karena saat aku menjenguknya ... ia jatuh dan...."
"Apa?" teriakan Adrian membuat Andina tersentak kaget. Mantan istri Adrian itu bingung mengatur napasnya sambil menenangkan dirinya sendiri. Ia sudah keceplosan berbicara. "Ulangi apa yang kau katakan!"
"Tidak ... tidak ... sebenarnya aku hanya menduganya, Add. Aku sungguh ... aku tak tahu apa-apa. Aku hanya salah bicara tadi." Tubuh Andina berkeringat. Susah payah ia menelan salivanya, dengan napas yang terasa berat matanya mulai memerah dan berair. Ia sudah salah langkah, dan kemudian malah memperjelas perbuatannya.
"ULANGI APA YANG KAU KATAKAN!!!!" Dengan menumpukan tubuhnya pada kedua lengannya yang menyentuh tepi ranjang, Adrian yang begitu emosi mendengar setiap ucapan Andina sampai berteriak tidak terkendali.
"Addd ... Aku ... Aku minta maaf." Dengan berderai air mata, Andina yang ketakutan dengan mantan suaminya yang bahkan tidak pernah membentaknya sekalipun dulu, beringsut makin mundur. Namun tentu saja tidak bisa, karena satu tangannya terborgol dan kakinya dirantai. Sehingga wanita yang menahan isak tangisnya itu, menjadi ciut nyali.
"Ha ... Hari itu sebenarnya aku hanya ingin menjenguknya. Tapi ucapan mommy menyakitiku, hingga aku berpura-pura menelpon seseorang yang aku suruh untuk ... untuk_" Andina menjeda ucapannya untuk mengambil napas.
"Bicara yang benar!!"
Pundak Adrian nampak melorot. Hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya akan penyebab kematian sang ibu adalah mantan istrinya sendiri. Orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Dug ... dug ... Adrian memukul dinding di belakang Andina dengan tangannya yang menggenggam hingga berdarah.
"Mo ... Mommy histeris, berteriak padaku hingga akhirnya, ia jatuh dari ranjangnya ...."
"Dan dimana kau setelah itu!?"
"Aku ketakutan ... Kau pasti akan menyalahkanku ... Aku meninggalkannya Add... Tapi mommy tidak apa apa kan, Add.? Mommy sudah sehat kan sekarang?" Andina memberondong mantan suaminya itu dengan pertanyaan, hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa perbuatannya tidak salah.
Brakkk ... Adrian menendang nakas yang ada disamping ranjang. Emosinya membumbung tinggi mendengar pengakuan mantan istrinya yang tidak punya hati. Sungguh, Andina memang benar-benar tidak punya hati. Bahkan Lina masih tetap baik saat wanita itu dengan sombongnya datang ke rumah dan ingin tinggal disana. Namun balasan yang Lina dapatkan sebaliknya. Hingga hampir meregang nyawa, sang mantan menantu malah meninggalkannya.
__ADS_1
"Kau jahat, Din. Kau yang membuat kami kehilangan mommy!!" Tangan Adrian bergerak maju hendak mencekik leher Andina.
"Akkkk ... Addd ... Akkkkk ...." Dengan leher yang ditahan kedua jari Adrian, airmata Andina mulai membasahi wajahnya. Ia tak mengira perbuatannya membuat mantan ibu mertuanya itu pergi untuk selama-lamanya. Wanita itu tidak melawan sama sekali, bahkan ia hanya menggunakan sebelah tangannya yang terbebas untuk melerai tangan Adrian tanpa tenaga.
"Tuan ... Tuan ... Kendalikan diri Anda ...
Tuan ... Tuan." Elang dan Ardi menarik paksa tubuh kekar Adrian kebelakang. Sulit untuk dikendalikan karena Adrian melawan mereka berdua.
"Barkan aku membunuhnya. Kalian tidak usah ikut campur," teriak Adrian pada dua pengawalnya. Tangan Adrian masih memegang leher Andina yang hampir kehabisan napas.
"Tuan ... Ingatlah Nyonya dan anak
Anda. Jangan mengotori tangan Anda," ucap Elang dengan suara lantang supaya sang majikan mendengarnya. Dengan kekuatan penuh, kembali didorongnya sang majikan untuk menjauh.
"Tahan Tuan, Ar," teriak Elang. Andina terbatuk-batuk begitu tangan Adrian berhasil terlepas dari lehernya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya.
Ardi dan Elang membawa Adrian keluar dari ruangan itu. Adrian akan tetap tersulut emosinya jika masih melihat wajah mantan istrinya itu.
\=\=\=\=\=\=\=
Di sebuah ruangan kecil, Adrian yang sudah bisa menata emosinya kembali memanggil anak buahnya.
"Setelah aku mengirimkan catatan medis Andina pada kalian nanti, pastikan ia benar-benar berada di tempat itu selamanya. Jika perlu hingga habis usianya. Karena aku tidak ingin lagi melihatnya berkeliaran di sini ataupun di tempat lain."
"Baik tuan."
"Lang," panggil Adrian hingga pengawalnya itu berhenti.
"Iya, Tuan."
"Terimakasih mengingatkanku tadi. Aku pasti akan sangat menyesal sekarang jika mengikuti emosiku dan menghabisinya," ucap Adrian mengingat kembali kejadian tadi.
__ADS_1
"Mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama jika berada pada posisi Tuan. Permisi." Elang mohon diri setelah mengucap demikian.
"Kau memang pantas disana, Din. Selamat menikmati," Dalam seringai senyumnya, hati Adrian tetap saja sakit. Karena apapun yang ia lakukan kini, tidak akan pernah bisa membuat orang yang dicintainya kembali.