
Pesawat yang membawa Akio dan keluarga mendarat pukul 9 pagi itu. Setiyo dan juga Aimi memilih untuk menginap di hotel atas permintaan sang anak. Selain karena Aimi membawa serta asisten Dokter Harada untuk menemani dan menjaga Akio, hal itu juga agar tidak banyak pertanyaan dari keluarganya yang di Indonesia itu tentang sakit Akio yang memang sedari awal disembunyikan.
Dua orang tua itu meninggalkan Akio bersama asisten dokter Harada di hotel. Kemudian mereka berdua langsung menuju pemakaman di alamat yang sudah diberitahukan oleh Adrian sebelumnya.
Sampai disana,
Hujan turun rintik-rintik, seakan melepas kepergian seseorang yang sangat berarti bagi Adrian dan Dani, terlebih Ara. Seorang menantu yang sudah dianggap anak kandung oleh Lina. Bahkan kesedihan wanita itu melebihi kehilangan orang tua angkatnya sendiri yang meninggalkannya.
Sedari tadi, Dani mengambil jarak dengan ayahnya apalagi dengan Ara. Remaja lelaki itu bahkan tidak merespon panggilan sang ayah. Ia membeku dalam dinginnya hati yang membenci ibu sambungnya sendiri.
Wajah-wajah sembab dibalik kacamata hitam menghiasi anggota keluarga maupun para tamu yang datang yang kebanyakan sahabat Lina ataupun kolega dari Adrian.
Tidak ada yang bercakap satupun diantara mereka. Masing-masing sibuk menata hati mengikhlaskan kepergian orang yang dicintai untuk selamanya. Termasuk Setiyo dan Aimi yang datang terlambat karena penundaan keberangkatan dari Jepang 1 jam lebih lama akibat cuaca buruk.
Dua orang itu menembus kerumunan. Kemudian setelah mendapati sosok sang keponakan yang nampak dari belakang, Setiyo langsung merangkul Adrian. Yang dibalas isakan lirih sang keponakan.
Sedangkan Aimi, ia memeluk Dani yang lebih dulu melihatnya, nampak lumayan jauh jaraknya dari anggota keluarga yang lain. Baru menghampiri Ara yang duduk bersimpuh di depan pusara sang ibu mertua.
"Nak. Maafkan keterlambatan kami, ya," Ara mengangguk. Dengan senyum yang ia paksakan, wanita itu memeluk Aimi dan meluapkan segala kesedihannya dalam dekapan hangat wanita keturunan Jepang itu.
"Maafkan kesalahan Mommy selama hidup, ya Tante," isaknya. Tangisnya membanjiri pakaian hitam yang membungkus tubuh ibu dari Akio itu.
"Iya. Kita doakan mommymu ya, Sayang," Aimi mengusap lembut puncak kepala Ara, kemudian mengajak Ara untuk duduk di kursi yang telah tersedia disana.
"Yang kuat ya, Add," ucap Setiyo pada keponakannya. "Maafkan om dan juga keluarga yang baru bisa pulang ke Indonesia sekarang. Bahkan sudah sangat terlambat karena ternyata Tuhan berkehendak lain pada mommymu,"
Adrian mengangguk, meski airmatanya tidak keluar namun hatinya sakit mendengarnya. Membuatnya mengingat kembali sang ibu yang bahkan disaat terakhirnya Adrian tidak ada bersamanya.
"Ayo.. Ajak istrimu pulang. Hujan semakin deras, Add," ucap Setiyo. Lelaki paruh baya itu memberikan payungnya pada Adrian. Kemudian mengajak sang istri serta Dani pulang terlebih dahulu.
Para pelayat satu persatu pamit kemudian pergi meninggalkan area pemakaman. Hanya tinggal mereka berdua disana. Adrian sendiri seperti masih enggan untuk pergi meski hujan kian deras. Ia hanya berjalan mendekati sang istri dengan membawa payung untuk melindungi mereka berdua.
Rasanya ia belum sanggup membayangkan ketika masuk ke dalam rumah tidak akan pernah lagi didapatinya sosok sang ibu. Ibu yang selalu cerewet dengan dirinya dalam hal apapun. Ibu yang selalu memaklumi segala kesalahannya. dan ibu yang selalu tidak henti-hentinya mendesak untuk menghadirkan anggota keluarga baru ditengah-tengah mereka.
__ADS_1
Bahkan disaat sang istri belum ada tanda-tanda mengandung, sang ibu meninggalkan dunia ini. Suatu kesalahan yang dilakukan olehnya tanpa berpikir akan akibat yang ternyata sangat luar biasa bagi kehidupannya.
"Sayang" Adrian menggenggam tangan sang istri yang terdiam dengan kepala menunduk. "Ayo kita pulang. Hari beranjak petang, dan hujan tidak ada tanda-tanda akan mereda,"
"Tapi Mommy sendirian, Mas,"
"Kita bisa kesini lagi besok. Mommy akan sedih jika melihatmu seperti ini, Sayang," Ara mendongak, saling menatap dengan sang suami yang juga sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Wanita itu baru tersadar jika sejak dari rumah sakit suaminya itu selalu menghiburnya meski hatinya sendiri butuh dihibur. Sontak Ara berdiri dan menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Adrian.
"Iya kita pulang, Mas. Maafkan aku ya," tanpa melawan Ara mengikuti langkah sang suami menembus hujan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rumah nampak sepi. Hlang sudah keceriaan disana. Para pelayan pun lebih banyak diam. Apalagi bibi Yulia yang hampir separuh usianya mengabdi dirumah itu. Bahkan Lina sudah menganggapnya sebagai sahabat bukan lagi seorang pelayan.
Dani yang tiba lebih dulu bersama Setiyo dan sang istri langsung memasuki kamarnya tanpa berucap apapun. Meninggalkan sendiri dua orang tua itu.
Tidak lama kemudian, Adrian tiba. Mereka menuju ruang keluarga, menemui saudara satu-satunya dari pihak sang ibu.
"Silahkan diminum Tuan, Nyonya" ucap Yulia yang datang membawa teh hangat di atas nampannya. Diikuti oleh gerakan keempatnya menyesap teh hangat buatan Yulia. Sedikit mengurai dinginnya tubuh mereka yang terkena air hujan tadi.
Dengan masih dengan membawa nampan, kepala pelayan itu menghampiri Ara kemudian memeluknya. "Nyonya harus kuat."
"Terimakasih, Bi. Sampaikan kepada semua pelayan. Kami mohon maaf untuk semua kesalahan Mommy. Dan kami minta doa terbaik untuk Mommy," ucap Ara pada Yulia.
"Iya, Nyonya. Semua pelayan disini menyayangi Nyonya Besar. Kami akan selalu mendoakannya," ucap Yulia. Kepala pelayan itu mohon diri setelah mengucap demikian.
"Om menginap di hotel. Tidak apa-apa Add. Oh..ya Shaikha menitip maaf karena tidak bisa menghadiri pemakaman bibinya. Ia masih ujian akhir di Swiss. Mungkin akhir bulan depan ia libur dan akan kesini menengok kalian,"
"Akio? Dia tidak ikut kesini?" pertanyaan Adrian membuat Setiyo dan Aimi saling menatap. Keduanya bingung bagaimana menjelaskannya. Karena sebelum berangkat tadi Akio berpesan untuk tidak memberitahu sepupunya itu tentang keikutsertaannya ke Indonesia.
Kemudian dengan tenang Setiyo menjawab, "Akio.. ada," alAimi sontak dibuat tidak tenang mendengar ucapan sang suami. Matanya membola berharap sang suami melihat kode matanya, namun ayah Akio itu justru tak menoleh kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa tidak ikut ke sini, Om? Apa Kak Akio akan kesini sendiri?" tanya Ara menyambung ucapan suaminya.
"Akio di hotel.. Ia sed_" tidak kehabisan cara, high heels lancip 5 cm milik Aimi mendarat sempurna kemudian menggerus ujung sepatu sang suami hingga lelaki itu hampir memekik.
"Auw..." kaget namun langsung bisa mengambil sikap, Setiyo menyesap kembali teh hangatnya seakan tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa om?"
"Kaki om tiba tiba kram," ucap setiyo beralasan. "Nanti...Akio akan kesini sendiri Add," dan setiyo langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Baiklah.. Kukira ia melupakan bibinya. Istirahatlah dahulu sebelum kembali ke hotel, Om. Aku tinggal keatas ya," ucap Adrian yang menyentuh bahu sang istri mengajaknya ke kamar untuk istirahat. Kedua orang itu belum istirahat sama sekali dari kemarin.
"Emmm... Bolehkah om tahu, sebenarnya apa yang terjadi Add? Bukankah selama ini hipertensi mbak Lina terkendali?" dengan hati-hati Setiyo bertanya pada keponakannya. Mengurungkan niat Adrian yang hendak beranjak.
"Nanti akan kuceritakan semuanya, Om. Setelah semuanya tenang," janji Adrian. Karena saat ini ia hanya ingin mengambil waktu sendiri, menenangkan diri.
"Maafkan om, ya."
"Tidak apa-apa," senyum tipis Adrian berikan. Kemudian ia segera menggandeng sang istri meninggakan ruangan itu.
Saat Adrian bersama Ara hendak naik ke tangga, dari atas terlihat Dani mengangkat koper yang cukup besar.
"Kamu mau kemana, Dan?"
"Apartemen daddy," jawab Dani singkat. Bahkan ia sama sekali tidak menampakkan wajahnya pada sang ayah dan pura-pura sibuk dengan koper baju yang ia tenteng.
"Kenapa kesana?" tanya Adrian.
"Sekarang aku akan tinggal disana. Disini sudah mulai tidak nyaman," jawab Dani sinis dan begitu sampai bawah ia langsung pergi begitu saja tanpa pamit.
"Dan... Dani! Berhenti! Daddy tidak mengizinkanmu tinggal disana," Adrian berlari mengejar sang anak meninggalkan Ara yang terpana mendengar ucapan Dani.
"Dengan atau tanpa izin Daddy aku akan tetap kesana. Bukankah aku pewaris keluarga ini. Apapun yang dimiliki Daddy adalah milikku," Dani berteriak keras menjawab ucapan Adrian. Remaja lelaki itu langsung masuk ke dalam mobil dan memerintahkan sang sopir untuk segera berangkat.
__ADS_1
"Daniiiii!!!!"