
"Mama...!"
Gadis kecil itu berteriak lantang setelah turun dari mobil Dani. Tangannya memeluk boneka besar dan beberapa paper bag, belum lagi yang dibawakan oleh Dani.
"Sayang? Ini apa ... Kamu? Kenapa banyak sekali?" Ara kaget melihat banyaknya paper bag di tangan Dani. Wanita itu sampai terbata-bata mengucapkannya.
"Kak Dani yang membelikannya. Dia mendapat uang yang banyak dari bos nya, Ma," jawab Merra polos sambil menciumi boneka Teddy Bear yang ada di pelukannya. Maksud gadis kecil itu adalah, Dani mendapat komisi dari hasil pekerjaannya.
Apa-apaan ini. Komisi apanya? Bukankah memang dia bosnya. Pemuda itu membuat cerita apa kepada adiknya hingga Merra kalap dan mau diajak belanja sebanyak itu.
Adiknya? Hemm ... Lidah Ara mendadak kelu. Benarkah Dani sudah mengakui Merra adiknya? Tapi sedari awal bertemu tadi, ia memang sudah menyebut adikku pada gadis kecil itu. Namun pada Ara? Entahlah.
"Emmm ... Seharusnya tidak sebanyak ini." Ara serba salah ingin mengingatkan. Tentu ia tidak pernah mengajarkan putri kecilnya itu berperilaku konsumtif dan hedon seperti ini. Dia selalu mengajarkan Merra untuk hemat dan berbelanja seperlunya.
Tapi hari ini?
"Biarkan saja ... Bukankah hal yang biasa, jika seorang kakak ingin memberi adiknya hadiah." Adrian yang menyusul Ara di belakangnya, menautkan jemarinya pada jemari milik istrinya itu.
"Ayo kak, masuk!" Merra bahkan melewati mereka berdua begitu saja dan hanya Dani yang diajak masuk.
"Merra!" panggil Ara yang sedikit menahan diri.
"Eh ... lupa." Gadis kecil itu menyunggingkan senyumnya. "Ayo Om masuk juga, Mama juga."
Ara menggeleng, melihat tingkah gadis kecilnya. Dia nampak sangat nyaman dengan kakaknya.
"Dia cantik sepertimu." Adrian mencuri kecupan kecil di dagu Ara. "Dan...."
"Semuanya mirip kamu, Mas."
"Hemmm...." Lelaki itu merangkul pinggang istrinya dan membawanya masuk menyusul kedua anaknya. "Sepertinya kau hanya mengingatku saat hamil. Aku tidak menyangka gadis kecil itu adalah putriku," bisik Adrian.
"Maksud, Mas?"
"Nanti kuceritakan. Setelah suasana agak santai, beritahukan segera siapa kami. Aku tidak sabar ingin memeluknya, Sayang."
"Apa tidak terlalu cepat, Mas?" Ara menoleh, nampak ragu menggelayut disorot matanya yang sedikit meredup.
"Apanya yang terlalu cepat. Kalau untuk adaptasi biarkan dia berproses sendiri. Aku akan sabar. Tapi untuk tahu siapa sebenarnya kami, aku tidak ingin menundanya, Sayang. Dia nampak bahagia sekali bersama Dani. Apa mereka sudah dekat sebelumnya?"
"Merra sering menceritakan tentang Dani yang datang ke sekolahnya, dia memberi banyak hadiah pada anak-anak. Namun aku tidak menyangka jika yang dimaksud adalah Dani. Dia hanya memanggilnya Kak Dan, kukira itu orang lain."
"Tuhan sangat sempurna menulis skenario hidup kita? Sayang."
"Mas ... Dani?"
"Nanti kita juga akan bicara padanya. Dia bukan remaja kecil yang kau kenal dulu. Sayang. Dia sudah dewasa kini." Adrian menenangkan sang istri yang masih terlalu takut jika peristiwa dulu akan terulang kembali.
Meski Adrian bahagia dengan kejutan yang diberikan anak laki-lakinya itu. Dia tetap masih waspada dan memilih mempersiapkan akan segala sesuatu yang mungkin saja terjadi diluar keinginannya.
"Mama, ayo kita siapkan makanan." Merra sudah meletakkan boneka di kamarnya. Sepertinya juga paper bag, yang dibawanya tadi.
"Apa Merra tidak diajak makan oleh Kak Dani di Mall?"
"Kata Kakak kasihan Mama dan Merra yang sudah memasak banyak untuk kalian. Jadi tadi cuma beli minum saja."
"Baiklah, Om juga sudah lapar," ucap Adrian sambil mengelus perutnya. "Sepertinya masakan Mama dan Merra, enak."
Adrian mendekati putri kecilnya yang benar-benar mirip dirinya itu. Kemudian duduk di sebelahnya dan menatapnya.
"Pastilah Om. Mama jagonya masak." Merra bersemangat sekali memuji sang ibu.
"Ayo, Ma." Gadis kecil itu mendahului ibunya ke dapur.
"Sebentar ya, Mas." Tangan Ara menepuk tangan Adrian yang ada di pangkuannya. Namun Adrian malah menariknya.
"Dia cerewet sepertimu," bisiknya yang membuat Ara menoleh dan tersenyum kecil. Wanita itu masih takut putri kecilnya memergokinya sebelum mereka mengatakan yang sebenarnya.
Adrian mencari keberadaan Dani yang tidak terlihat dimanapun. Lelaki itu berjalan ke samping rumah. Rupanya pemuda itu ada disana.
"Terima kasih untuk hadiah daddy yang istimewa, Boy," ucap Adrian yang menyandarkan punggungnya ke salah satu tiang pintu yang ada disana.
"Daddy jangan bahagia dulu. Hadiah ini tidak gratis," ketus Dani yang nampak tertarik pada pot kecil yang berisi dua bunga tulip beda warna yang masih kuncup.
"Apapun. Asal mereka berdua bahagia, daddy akan melakukannya."
"Syarat dengan syarat?" Pemuda itu mengernyit mendengar ucapan sang ayah. Bahkan dia belum mengatakan permintaannya pada ayahnya itu, namun lelaki itu malah mengajukan hal lain lagi.
__ADS_1
Adrian mengangguk. "Sekian tahun daddy tidak mengurus adikmu dengan baik, bahkan daddy tidak mengetahui jika dia hadir diantara kita. Apalagi yang daddy inginkan, Boy? Hanya kebahagiaan mereka."
"Baiklah kita bicarakan ini bertiga nanti," ucap Dani seraya bangkit dari tempat ia berjongkok tadi. "Juga bantu aku untuk mendapatkan bunga ini, Dad! Aku yakin tante tidak akan merelakannya begitu saja."
"A...."
"Anggap saja itu ucapan terima kasih Daddy padaku." Dani memotong ucapan ayahnya yang hampir saja menolak.
Adrian hanya meringis masam mendengarnya. Anaknya itu selalu pandai menggunakan kesempatan.
"Kak, Om, ayo makan! Semua sudah siap," teriak Merra. Teriakan khas anak-anak yang heboh saat memanggil teman-temannya untuk berkumpul.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Masakan mama enak ya," ucap Adrian yang melirik sejenak sang istri yang menatapnya dengan cinta.
Pujian itu tulus. Sekian tahun tidak merasakan masakan sang istri membuat lelaki itu sangat lahap saat ini.
"Iya dong Om. Masakan Mama memang juara." Gadis kecil itu mengacungkan jempolnya di depan sang ibu. "Tambah lagi ya, Kak." Tanpa menunggu jawaban Dani, Merra mengambilkan lagi nasi untuk pemuda itu.
"Jangan banyak-banyak Merra, nanti kakak gendut. Kamu mau jika kakak gendut dan tidak tampan lagi," tanya Dani pada adiknya itu.
"Biarkan saja. Meskipun gendut Kakak tetap tampan bagiku," puji Merra sambil memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. "Kenyang...."
Entah bercanda atau serius. Ucapan Merra membuat Dani tercekat. Bahkan gadis kecil yang tidak tahu jika dirinya adalah kakaknya ini sangat mengaguminya hingga tidak memandang fisik. Namun lebih karena Merra nyaman.
"Saat semua orang menjauh karena kakak menjadi jelek. Apa Merra masih mau menjadi teman kakak?" tanya Dani yang juga sudah selesai dengan aktifitas makannya.
"Tentu saja. Kakak kan baik, Merra dan Teddy Bear selalu mau menjadi teman Kakak," ucap gadis kecil polos itu, mengingatkan Dani akan awal kedatangan Ara dulu di rumah besar milik keluarganya.
Ara tersenyum melihat cerianya Merra hari ini. Apa putri kecilnya itu benar-benar berharap memiliki kakak seperti Dani? Semoga saja, Dani menerima kehadirannya.
Selesai dengan makan malam, Dani dan Merra berada di ruang keluarga. Dua kakak beradik itu nampak klop satu sama lain. Menonton TV, bercanda hingga hampir jam sembilan malam.
Bahkan sampai Merra tertidur di pangkuan Dani, dan pemuda itu menggendongnya masuk ke dalam kamar penuh nuansa ungu muda kesukaan Merra.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ehem...."
Suami istri itu menoleh mendengar deheman yang tidak lain adalah Dani. Mereka tengah duduk berbincang di halaman depan rumah milik Ara.
Dani duduk di sebelah sang ayah. Sedangkan Ara, ia hanya diam mendengarkan dan menunggu ditanya.
"Maukah kau bercerita pada daddy tentang apapun yang berhubungan dengan kejutan hari ini?" tanya Adrian pada sang anak.
Adrian berpikir, tidak mungkin Dani menyiapkannya dalam waktu singkat. Ia tahu bagaimana Dani terhadap Ara dulunya. Dan tentu saja untuk mewujudkan hari ini, bukan merupakan hal yang mudah untuk pemuda itu.
"Daddy bahagia?"
"Daddy bahagia kita bersama seperti ini," jawab Adrian bijak. Karena memang fakta, jika dia tidak bisa memilih salah satu diantara mereka.
Dani menunduk sejenak. Kemudian mengangkat kepalanya kembali melihat sang ayah. "Aku bahagia jika Daddy bahagia."
Itulah yang keluar dari bibir Dani. Entah kapan ia mulai memahami hakikat sebuah keluarga dan kata bahagia. Apakah ia sudah bisa mengerti apa yang disampaikan Carla? Atau itu semua adalah hasil pemikirannya sendiri selama ini.
Tidak ada yang tahu.
"Awalnya, aku tidak pernah tahu siapa Merra. Kupikir dia hanya gadis kecil biasa yang menarik. Sampai setelah aku pulang dari sekolah itu, dan Leo mengatakan padaku jika Merra mirip denganku, dan juga Daddy. Leo lah yang kusuruh mengabadikan gambar-gambar kami disana. Dan dia juga yang memperlihatkan fotoku berdua dengan Merra untuk meyakinkanku. Hingga akhirnya aku benar-benar mengakui jika dia sangat mirip denganku dan juga Daddy."
"Aku terus memikirkannya, Dad. Meski saat itu aku menjawab jika memang di dunia ini ada banyak orang yang mirip walaupun tidak berikatan darah. Namun tentu kemiripan kita bertiga bukan suatu kebetulan. Hingga aku kembali ke Bandung untuk kedua kalinya. Dan aku merasakan, ada ikatan batin dengan Merra. Entah seperti apa itu, aku tidak bisa menjelaskannya."
Flashback
Di suatu malam saat mata Dani sama sekali tidak bisa terpejam. Pemuda itu hanya terpekur sendiri di sudut balkon di sebelah kamarnya. Hatinya bergejolak saat ia menerima hasil test DNA dari Leo. Dia takut tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi.
Dia sendiri yang berinisiatif melakukannya. Mengambil sampel berupa rambut dari sang ayah dan juga gadis kecil yang sudah ditemuinya beberapa kali itu.
Ermerra Safior, gadis kecil berumur 6 tahun yang mencuri perhatiannya karena memiliki wajah dan garis rahang yang sangat mirip dengannya. Apalagi dengan sang ayah. Dan hasilnya, sembilan puluh sembilan persen cocok.
Dani sampai memukuli dadanya sendiri hingga ia terbatuk-batuk dan akhirnya melorot lemas jatuh ke lantai.
Dia sempat berpikir jika wanita itu menikah lagi setelah meninggalkan ayahnya. Perasaan bencinya semakin menjadi, apalagi melihat sang ayah yang terpuruk disini.
Namun semuanya sirna ketika dia mengingat kembali sosok Merra. Gadis kecil polos yang tidak tahu sama sekali prahara yang menerpa keluarganya. Gadis kecil yang ketika ditanya apa keinginan terbesarnya malah menjawab dengan lugu, "Aku ingin bertemu ayah" padahal teman-temannya berbicara tentang cita-cita.
Hati Dani nyeri. Apakah ia akan membiarkan nasib yang pernah ia alami terulang pada adiknya? Tidak bisa bertemu sang ayah karena dirinya, kakaknya sendiri.
__ADS_1
Dia pasti akan merasa sangat bodoh dan jahat nanti, jika semua itu terjadi.
Mengapa istri ayahnya itu dan sang mama sangat berbeda. Jika mama Andina bahkan menggunakan segala cara untuk kepentingan pribadi, Ara malah mengorbankan diri agar dirinya dan sang ayah bisa bersama.
Pada akhirnya, pemuda itu mengambil keputusan tegas. Ia akan menciptakan kebahagiaan di hari yang sama Ara meninggalkan sang ayah. Untuk ayahnya, adiknya Mereka dan wanita yang tanpa alasan jelas telah dibencinya, Ara.
Hingga semua kesedihan yang sempat terkenang setiap tahun oleh ayahnya itu akan terhapus, terkikis sedikit demi sedikit oleh waktu.
Flashback off
"Hei!"
Adrian menepuk pundak Dani saat menyadari anaknya itu sedang melamun.
"Aku sengaja melakukan tes DNA. Untuk meyakinkan diriku sendiri jika Merra benar-benar adikku dan tentunya anak Daddy. Karena aku juga takut jika mendapati kenyataan, Tante sudah menikah lagi, dan memiliki keluarga baru. Aku pasti tidak akan dapat menghibur Daddy, apapun yang kulakukan." Sorot mata penuh penyesalan nampak jelas di manik hitam yang bergoyang milik pemuda itu.
"Kau ini bicara apa, Boy. Apa daddy terlihat begitu menyedihkan di matamu?" Adrian menatap anak lelakinya yang nampak tak biasa.
"Sangat. Daddy seperti orang yang kehilangan jati diri. Itu membuatku merasa bersalah, Dad. Andai aku menyadari semuanya lebih cepat, kita akan bertemu Merra saat putri kecil ayah itu masih bayi dan belum mengerti keadaan membingungkan ini."
"Maafkan daddy. Kau dan tantemu adalah nyawa dalam tubuh daddy. Dan sekarang ditambah adikmu. Kalian adalah segalanya. Jika disuruh memilih salah satu, daddy tidak akan pernah bisa. Lebih baik daddy mengorbankan diri sendiri."
Adrian tersenyum tipis. Kejadian hari ini adalah hadiah teristimewa dari semua hadiah di sepanjang ulang tahunnya.
Genggaman jemari Ara pada Adrian menguat. Seperti halnya Adrian. Dirinya pun akan bersikap sama, dan itu sudah dia buktikan.
"Disini hanya aku yang egois, Dad. Aku yang tidak bisa memahami kalian." Dani memberanikan diri menatap Ara. Dan selalu seperti itu dari dulu, sorot mata teduh tanpa kebencian tetap ada pada wanita itu.
"Tidak ada yang salah, Dan." Ara mengusap airmatanya yang hampir menetes. "Kita hanya menjalani takdirNya. Sementara tante juga hanya melakukan apa yang memang harus dilakukan."
"Tapi Tante pergi karena aku!"
"Mungkin itu hanya satu-satunya cara yang terpikirkan oleh tante. Karena tidak mungkin tante membiarkan daddymu pusing menentukan harus memilih siapa. Tante tidak tega, hampir setiap hari daddymu tidak berhenti memikirkanmu."
Adrian menarik napas panjang mendengar pengakuan istrinya. Lelaki itu membayangkan betapa beratnya mengambil keputusan yang sama sekali tidak diinginkan namun harus dilakukan. Apalagi selama ini hubungan mereka tanpa masalah sama sekali.
"Sayang...." Dirangkulnya pundak Ara dan membawanya lebih dekat padanya. Adrian tidak dapat berkata apa-apa lagi. Hanya helaan napas panjangnya yang beberapa kali terdengar.
Selanjutnya, Adrian meninggalkan mereka berdua. Lelaki itu memberi alasan ingin ke kamar putri kecilnya yang sudah tidur sedari sore. Padahal yang sebenarnya, ia ingin memberikan waktu pada anak lelakinya untuk meminta maaf ataupun sekedar berbicara dari hati ke hati dengan ibu sambungnya itu.
"Apa Tante membenciku?" tanya Dani pada wanita di depannya ini.
"Andai tante bisa, Dan. Tapi kenyataannya, cinta daddymu dan oma Lina membuat tante bahkan tak bisa mengucap benci padamu," ucap Ara jujur. Selama ini, ia memang sedih karena hubungan yang buruk antara mereka. Dan sebisa mungkin tidak membuat anak sambungnya itu tidak nyaman.
"Sekuat itukah cinta, Tan?"
"Hem ... Kau akan mengerti jika sudah menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus," ucap Ara bijak.
Pemuda itu berdecak. Cinta yang tulus? Dirinya? Sepertinya tidak akan pernah.
"Boleh aku tanya sesuatu pada Tante?"
Ara mengangguk. "Tanyakan saja, apapun yang ingin kau ketahui."
"Oma sangat menyayangi Tante. Bahkan aku sangat iri dibuatnya. Tante hanya orang lain tapi oma menganggap tante seperti anaknya sendiri. Apa benar oma meninggal karena..." Dani ragu mengucapkannya. Namun ia harus mengakhiri kesalahpahaman ini sekarang. Karena dia benar-benar ingin menyayangi Merra dengan tulus tanpa ganjalan apapun.
"Kau percaya aku penyebab kepergian oma, Dan?"
Dani diam, kemudian menggeleng. Dia memang tidak percaya sedari awal. Namun dia sudah terlanjur kecewa. Oma Lina sakit karena kaget dengan berita menggemparkan saat itu. Bagaimana mungkin pernikahan yang sakral ternyata hanya sebuah janji di atas kertas bagi ayahnya dan wanita itu.
"Aku mendengar mama Andina lah yang membuat kesehatan oma yang sudah dirawat di rumah sakit memburuk. Jika memang benar seperti itu, mengapa kalian menyembunyikanya?"
Kebenaran yang ditutupi selama bertahun-tahun akhirnya harus diluruskan juga.
"Seberapa bersalahnya mama Andina, dia tetaplah mama kandungmu, Dan. Orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk menghadirkanmu di dunia ini. Tante tidak tega kau membencinya jika mengetahui semuanya. Dia memang bersalah, tapi biarkan dia pergi dengan damai tanpa rasa benci yang berlebihan dari putranya."
Akhirnya semuanya terbuka. Kesalahpahaman yang berlarut-larut yang membuat hubungan mereka memburuk.
Dani bangkit dari duduknya. Menghampiri Ara yang duduk tidak jauh darinya.
"Pulanglah, Tan. Ayah sangat mencintaimu, dan aku ... Aku menyukai adikku sejak pertama kali kami bertemu. Rasanya bahagia memilikinya. Gadis kecil yang ceria itu." Dani kini berdiri di sebelah Ara, pemuda itu menyentuh bahu wanita itu untuk mengatakan permintaannya. "Maafkan semua kesalahanku selama ini, Tan."
Ara meletakkan tangannya di punggung tangan pemuda itu. "Tante juga minta maaf. Selama ini belum bisa menjadi ibu yang baik untukmu, Dan."
Dani mengusap pelan bahu kecil itu, menggenggan sebentar tangan kecil yang pernah memasakkan makanan untuknya dulu. Kemudian melangkah pergi menyusul ayahnya.
"Maaf, aku memaksa. Tulip tante aku bawa ya."
__ADS_1
"Hah??"
❤😘 tinggal detik-detik tamat ya... Terima kasih untuk komen like dan vote nya🙏