
Adrian langsung bangkit. "Dimana dokternya?" tanya Adrian mengurai kecanggungannya karena terpergok memeluk sang istri.
"Sebentar lagi menyusul, Pak. Tadi ada yang menghubungi dari ruang operasi," Kemudian lelaki berseragam perawat itu segera maju menghampiri Ara.
"Ada yang dikeluhkan, Bu?"
"Sakit sedikit. Sepertinya lukanya basah, karena terasa tidak nyaman," ucap Ara.
Perawat laki-laki itu mengeluarkan sebuah kotak berwarna silver abu berisi peralatan yang digunakan untuk membersihkan luka.
"Kamu, yang akan mengganti kasa pada istriku?" tanya Adrian yang langsung mendekat melihat perawat laki-laki itu bersiap.
"Iya, Pak."
"Apa tidak ada perawat wanita?" Adrian sedikit emosi karena kemarin saja yang mengganti kasa seorang wanita, mengapa hari ini berganti laki-laki.
"Maaf, Pak. Kebetulan hari ini perawat wanita dinas sore semuanya," lelaki yang sudah siap melakukan tugasnya itu akhirnya berhenti, tangannya menutup kembali tempat peralatan yang dibukanya tadi.
"Kok bisa? Saya tidak mau tahu, saya mau perawat wanita yang merawat istri saya bukan laki-laki," protes Adrian.
"Baik Pak. Mohon tunggu sebentar ya, saya akan menghubungi penanggung jawab dahulu." Lelaki yang mengenakan pakaian perawat itu mohon pamit dan pergi.
"Ya ampun, ribet amat suami Ara," gumam Mela.
Sedangkan Ara hanya diam menurut. Adrian memang selalu bersikap seperti itu pada semua lelaki yang ada disekeliling istrinya. Orang pasti akan mengatakan Adrian terlalu posesif. Ya, itu benar, namun Ara menerimanya sebagai cinta yang lelaki itu ingin tunjukkan padanya.
Sesempurna seseorang bukankah ia selalu memiliki kekurangan yang kadang orang lain tidak menduganya bukan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya saja.
Tidak berapa lama, terdengarlah kembali suara pintu di ketuk. Dan masuklah seorang dokter dengan seorang perawat wanita.
"Selamat pagi Pak, maaf atas ketidaknyamanannya." ucap Dokter yang berlanjut menyalami semua orang yang ada disana dan diikuti juga oleh perawat wanita dibelakangnya.
"Kita lihat dulu kondisi lukanya ya, Bu." Ara mengangguk. Perawat wanita itu langsung maju dan dengan telaten membuka satu persatu kain maupun kasa yang menutupinya.
"Sepertinya basah, Dok. Karena terasa sangat tidak nyaman." Ara mengucapkan kembali apa yang disampaikannya pada perawat yang sebelumnya.
"Oh, iya basah." Dokter menekankan pinsetnya keatas luka, "Tapi tidak apa-apa ini, sakit saya tekan seperti ini?" Ara menggeleng. "Nanti biar dibersihkan sama suster ya. Trus diberi obat supaya lukanya cepat kering."
"Ibu sudah bisa turun sendiri ke kamar mandi?"
"Belum, Dok. Belum saya coba maksudnya. Rasanya masih takut."
"Aman kok, Bu. Syukurlah, lukanya hanya dibagian kulit, jadi tidak mengenai organ dalam sedikitpun," ucap dokter meyakinkan.
"Oke. Harus berani ya. Kalau takut terus, nanti malah keterusan dan lama sembuhnya. Nanti belajar turun dari ranjang kemudian jalan sendiri ke kamar mandi. Nah, suami atau keluarga mengikuti di belakangnya. Jaga-jaga saja kalau masih belum kuat atau pusing. Kalau sudah bisa melakukan itu, besok pasti saya izinkan pulang. Jadi perawatan luka selanjutnya bisa di rumah saja."
__ADS_1
"Harus menggunakan tenaga perawat Dok untuk perawatan lukanya?" tanya Adrian, lelaki itu terlihat memperhatikan dengan seksama penjelasan dokter dari awal.
"Tidak harus, Pak. Sebenarnya keluarga atau pasangan bisa melakukannya sendiri. Namun yang kita khawatirkan alatnya. Alat-alat ini harus dalam keadaan steril karena menyentuh lukanya, dan agar tidak terjadi infeksi lebih lanjut."
"Baiklah, saya saja yang merawatnya, Dok. Saya minta diajari sekarang dan untuk alatnya supaya tetap steril saya menyewa saja dari sini selama masa perawatan istri saya," ucap Adrian yang membuat istrinya kaget.
Mengapa lelaki itu harus merepotkan diri sendiri, sedangkan ia bisa membayar jasa perawat atau bahkan Ara bisa belajar merawat lukanya sendiri.
"Mas biar perawat atau aku sendiri saja tidak apa-apa. Mas pasti repot kalau harus melakukannya sebelum ke kantor."
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku yang akan mengurusmu bukan orang lain." Adrian memang keras kepala. Akhirnya Ara menurut saja kemauan laki-laki itu daripada mendebat dan malah membuat suaminya itu marah.
Mela saja sampai geleng-geleng kepala menyaksikan semuanya. Baru kali ini ia melihat seorang lelaki se protektif itu pada istrinya.
Limabelas menit lamanya, dokter mengajari Adrian mengganti kasa atau balutan pada luka Ara. Mulai dari membersihkannya dengan cairan antiseptik, melihat adakah peradangan atau nanah yang harus dibersihkan, sampai mengoleskan obat serta cara menutup luka menggunakan plester dengan benar.
Dokter yang menjelaskan, dan suster yang mempraktekan. Sehingga semuanya cepat ditangkap oleh otak encer Adrian yang memang pintar itu.
"Pak Adrian memang hebat. Sekelas CEO seperti Anda pantas saja menjadi idaman banyak wanita. Bagaimana tidak, orang sibuk seperti Anda malah menyempatkan ingin merawat istri Anda sendiri, padahal Anda bisa menyewanya dengan mudah," ucap dokter yang terkagum dengan karakter Adrian.
"Darimana Anda tahu saya seorang CEO, Dok?"
"Kebetulan keponakan saya bekerja di kantor Bapak. Pemilik Orion Apartemen kan?"
"Oh, iya." Adrian mengangguk paham. Ia pikir hanya orang administrasi saja yang mengenalnya.
"Tentu saja, Dok. Wanita ini anugerah terindah dalam hidup saya." Tatapan penuh cinta Ara dapatkan dari Adrian. Kemudian lelaki itu menggenggam tangan sang istri erat, dan Ara pun melakukan hal yang sama.
Ara yang bahkan sudah sering mendapat perlakuan mesra dari Adrian, meskipun tidak di depan banyak orang, menyembunyikan rona merah di pipinya. Rasanya tetap saja membuatnya berdebar, seakan baru pertama kali.
"Baiklah kami pamit, Pak. Jangan lupa pesan saya dilakukan, ya," ucap dokter sebelum pergi meninggalkan kamar Ara.
"Baik, Dok," sahut mereka berdua.
Selepas dokter pergi. Pasangan suami istri yang masih bergandengan itu saling melempar senyum. Saling mentransfer pesan cinta lewat tatapan mata dan bahasa hati. Mengingat masa-masa mereka jatuh cinta untuk pertama kali sampai akhirnya tidak bisa meninggalkan satu sama lain.
"Ehem!"
"Ehem!" Nada paling tinggi didehemkan Mela.
"Ya ampun, mereka membuatku iri sekaligus kesal." Mela menghentakkan kakinya berkali-kali. Dua kali dalam beberapa jam ini Mela harus menyadarkan pasangan suami istri yang sedang kasmaran ini.
"Ehem, ehem, ehem, Hallooo," teriak Mela dengan asal dan berulang-ulang hingga membuat keduanya sadar.
Adrian berdecak kesal. "Temanmu itu, menyebalkan sekali, Sayang."
__ADS_1
Ara mengusap lengan sang suami. "Sabar ... Jomblo memang begitu." Ara terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Dulu mereka selalu bercanda bersama menyebut-nyebut soal jomblo. Tapi kini ia malah menyindir sahabatnya itu. Ternyata menjadi jomblo itu memang mengenaskan, ya. Meski tidak banyak orang mengakuinya.
"Buruan makan Mel, Biar_"
"Kuat menghadapi kenyataan. Kamu mau mengingatkan itu padaku kan, Ra," sambung Mela sengit.
"Padahal aku mau mengatakan, biar kamu tidak kurus lagi, Mel. Tapi ya sudah kalau kamu sadar." Ara sampai menutup mulutnya untuk menyamarkan tawa yang sedari tadi ditahannya.
"Kalian berdua memang jodoh," ucap Mela. "Sama-sama suka meledekku," lanjut Mela sambil menyendokkan makanan kedalam mulutnya yang masih mengunyah.
"Uhuk ... Uhuk,"
"Ya ampun anak gadis, makannya seperti singa kelaparan. Pelan-pelan saja, masih ada satu kotak lagi itu,"
"Bukan itu, mulutku penuh ini," tunjuk Mela pada mulutnya. Salah sendiri makanan yang di dalam mulut belum habis malah disuap lagi.
"Sudah, bersiap sana. Nanti Mas kesiangan. Biarpun begitu, hiburan tersendiri buat kita lo, Mas." ucap ara pada sang suami.
"Oke," jawab Adrian yang langsung masuk kembali ke toilet untuk mengganti pakaiannya.
Hanya sebentar, lelaki itu sudah keluar lagi dan sudah rapi pula. Memang asalnya sudah tampan, dalam keadaan darurat seperti saat ini pun yang hanya memanfaatkan toilet rumah sakit, lelaki itu tetap terlihat menawan.
Adrian menghampiri sang istri yang menatapnya lekat. "Ada apa, Sayang? Adakah yang aneh denganku?" Lelaki itu salah tingkah karena diperhatikan.
"Mas tampan." Senyum Ara mengurai.
"Ya ampun, kukira ada yang salah denganku. Hei! Apa kau baru menyadarinya sekarang, Sayang?" Adrian mengacak puncak kepala Ara dan merapikannya kembali.
"Aku berangkat, ya!"
Cup! kecupan ringan di bibir, Ara terima dari sang suami. Kemudian setelahnya sebuah pelukan hangat mengakhiri.
"Mel, jangan lupa bantu Ara belajar ke kamar mandi. O ... iya ada sedikit dana beasiswa dari perusahaanku. Ara bercerita katanya kau ingin kuliah," ucap Adrian mengambil tasnya. Kemudian lelaki itu mengeluarkan beberapa brosur dari dalam sana.
"Ini beberapa Universitas yang bisa kau pilih, katakan pada Ara kalau kau sudah mantap memilih yang mana." lanjut Adrian.
"Mas serius, memberikan beasiswa pada Mela? " tanya Ara yang masih tidak percaya dengan ucapan Adrian. Padahal dirinya baru sekali saja menyampaikan ide itu pada suaminya, namun Adrian langsung meresponnya.
"Serius, Sayang."
Mela sampai ternganga mendengarnya. Entah terlampau senang atau kaget dan masih tidak percaya.
Tuan galak suami sahabatnya itu rupanya baik juga. Mereka sungguh sama-sama beruntung mendapatkan satu sama lain. Ara dan juga Adrian.
'Berbahagialah terus, Ra. Kamu memang pantas mendapatkannya'. Ucap Mela dalam hati
__ADS_1
😍pembaca tercinta maafkan saya yang sangat mager hingga update-an telat terus... makasih untuk kesetiannya ya😘🙏