Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 110 Kedai Donat


__ADS_3

"Tan, jangan lupa jam 8," ucap Dani mengingatkan ibu sambungnya untuk tidak lupa menghadiri pertemuan wali murid pagi ini.


"Oke. Ini baru jam 6, Dan. Duduklah dahulu dan makanlah dengan tenang," jawab Ara sambil mengambilkan sandwich serta segelas susu coklat kesukaan Dani.


"Oma belum turun?"


"Oma ada pertemuan di Yayasan. Jam setengah 6 tadi sudah berangkat." Jawab Ara. Setelah menghidangkan nasi goreng buatan bibi Yulia, wanita itu segera menyiapkan bekal untuk Dani ke sekolah.


"No, aku hanya mau jus saja. Sandwichnya tidak usah, aku masih kenyang," ucap Dani menolak saat Ara memasukkan 2 potong sandwich ke dalam kotak bekalnya. "Dengan kue ini saja, sepertinya enak," tunjuk anak laki-laki itu pada potongan kue berwarna oranye yang ada di atas piring.


"Itu cake wortel namanya. Apa kamu yakin suka? Sedangkan jus wortel saja kamu menolaknya," ucap Ara, ia berdiri termangu menunggu instruksi sang anak.


"Masukkan saja. Dari penampakannya kuharap rasanya tidak mengecewakan," Ara menarik sudut bibirnya, cake wortel itu buatannya dan sepertinya anak laki-laki itu tahu. Wanita itu sangat bersyukur dengan perkembangan hubungan mereka dari hari ke hari.


"Daddy?"


"Sepertinya Daddymu kesiangan. Entahlah tante belum ke atas sejak tadi,"


"Siapa bilang? Aku sudah rapi begini. Aku tidak pernah kesiangan, sayang. Hanya sedikit terlambat untuk turun," ucap lelaki yang baru saja memasuki ruang makan itu beralasan.


"Dad, aku berangkat dulu," ucap Dani yang menghampiri sang ayah kemudian melakukan tos dengan tangan mengepal.


"Aku sarapan sendiri pagi ini?" tanya Adrian yang segera duduk disamping sang istri yang sedang berdiri dan siap melayaninya.


"Bagaimana lagi, Mas terlambat turun, Dani buru-buru dan Mommy sedang ada urusan. sandwich atau nasi goreng?" tanya sang istri menawarkan sarapan pagi.


"Aku mau nasi goreng sayang. Tapi sedikit saja. takut kekenyangan," Ara menyendokkan nasi goreng kedalam piring suaminya. Kemudian ia duduk di sebelahnya.


"Hari ini aku ke sekolah Dani. Mas ingat kan? Jam 8," Ara meminta izin pada sang suami.


"Berangkat bersama saja, kalau begitu. Biar nanti dijemput Ardi," ajak sang suami karena sekolah Dani searah dengan kantornya.


"Naik taxi online saja tidak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa seperti itu," wanita itu menolak karena tidak ingin merepotkan. Ia memang biasa mandiri sejak masih kecil.


"Big No! Berangkat denganku atau tidak sama sekali Nyonya Adrian. Kau hanya akan membuatku tidak konsentrasi di kantor kalau lebih memilih taxi online," mata Adrian membola mendengar ucapan sang istri. Dia tidak akan lengah lagi kali ini. Apalagi mendengar apa yang disampaikan Tony kemarin jika anak buah Danang tersebar di mana-mana.

__ADS_1


"Mas..."


"No!" jari Adrian bergerak memberi isyarat. Kemudian cup! Dicurinya kecupan dari bibir sang istri. "Mandilah sekarang, aku tunggu. Atau kau mau kumandikan, hemm," mata Adrian mengerling hingga membuat sang istri tidak lagi ingin mendebat dan lebih memilih untuk bergegas kabur.


"Senjata ampuh rupanya," gumam lelaki itu tersenyum menyeringai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sepulang dari rapat wali murid, Ara segera menelpon Ardi. Ia memberitahu pengawalnya itu untuk menjemputnya bersama sang anak saja. Hari ini ia ingin pulang bersama Dani. Karena wanita itu berencana mengajaknya untuk makan siang sebentar sambil mengobrol tentunya.


Satu jam lamanya Ara menunggu jam pulang Dani . Wanita itu duduk di kursi yang diberikan satpam kepadanya.


Saat para siswa berhamburan keluar, mata Ara mengawasi kelas tempat Dani berada. Wanita itu melambaikan tangannya saat tanpa sengaja mata mereka bertatapan. Dan anak laki-laki itu menghampiri sang ibu sambung yang ia panggil tante itu tanpa ragu sekarang.


"Kok belum pulang?" tanya Dani ketika jarak mereka terpangkas, karena anak laki-laki itu berjalan mendekat.


"Tante sengaja menunggumu. Ayo," tangan Ara memberi isyarat mengajak sang anak berjalan bersama.


"Ada kedai donat baru di jalan Adiarsa. Kamu melewatinya setiap hari kan, kita mampir sebentar ya?" ajak Ara kepada anak laki-laki Adrian itu.


"Oma sudah pulang Om?" tanya Dani ketika sudah berada di dalam.


"Sudah, Tuan Muda,"


"Nanti kita belikan Oma dan Daddymu donat juga. bagaimana?" Ara membujuk kembali karena ia belum menerima jawaban pasti dari Dani.


"Daddy tidak suka donat," jawab Dani datar.


"Tidak suka bukan berarti tidak doyan, Dan. Daddy akan tetap memakannya jika tahu yang membelikan adalah kamu. Karena daddy lebih sayang kamu daripada hanya memikirkan kesukaannya, " ucap Ara meyakinkan.


"Benarkah?" raut wajah Dani nampak berbeda. Yang tadinya tidak terlalu antusias, kini sedikit cerah. Meski dia sebelas duabelas dengan sang ayah. Para lelaki minim ekspresi.


"Hemm.. kita mampir ya, oke?" dijawab anggukan pasti oleh anak laki-laki itu. Hingga membuat Ara berbinar. Semoga rencananya kali ini berhasil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Setelah memesan beberapa donat serta minuman Ara mengajak Dani berhenti sejenak di kedai itu. Dengan alasan kalau besok libur, wanita itu mengajak makan donat sambil menikmati suasana indah di rooftop kedai yang dihiasi berbagai tananaman hingga membuat sejuk dan rileks setiap mata yang memandang.


"Enak?"


"Lumayan Tan," jawab Dani yang baru menggigit sedikit donat di tangannya.


"Bagi tante ini enak sekali. Tante besar di panti asuhan sampai umur 10 tahun. Makanan enak atau tidak enak, tante tidak pernah membedakannya. Karena ibu panti mengajarkan, untuk tidak membedakan makanan. Asal kita bisa makan dan kenyang kita harus sudah bersyukur," mata Ara berkaca menceritakan masa lalunya. Kemudian wanita itu menyunggingkan senyumnya dan melahap donat original yang hanya bertabur gula kedalam mulutnya.


"Maaf," anak laki-laki itu menunduk, meletakkan donat pada piring di depannya.


"Untuk apa? Tante hanya bercerita, Dan. Tidak untuk membuatmu merasa bersalah. Tante hanya ingin mengatakan bahwa masa lalu sesedih apapun itu, ketika kita bisa melewatinya berarti kita hebat, hemm" Ara memegang punggung tangan anak laki-laki itu.


"Tante yang hebat,"


"Dani juga bisa menjadi anak hebat. Apakah ada yang ingin kau ceritakan pada tante? Seperti tante yang sudah menganggapmu teman dengan menceritakan masa lalu tante," wanita itu berusaha meyakinkan sang anak yang nampak mengerjap ragu padanya.


"Mungkin tante orang lain, Dan. Tapi sekarang tante sudah menjadi bagian dari keluargamu. Mama Dani tetap mama Andina sampai kapanpun. Tapi tante bisa menjadi temanmu kan?" Ara menggenggam penuh harap pada anak laki-laki di depannya itu.


Dani mengangkat kepalanya. "Hanya teman?"


"Terserah kamu. Dani mau anggap apa saja boleh, asalkan jangan musuh" wanita itu mengurai senyumnya sejenak. "Seumur hidup, tante tidak pernah ingin mencari musuh,"


"Oke! teman". Anak laki-laki itu menggenggam tangannya dan meninju pelan telapak tangan Ara. Bukti jika itu janji mereka sebagai teman. Ara terbahak melihat tingkah anak sambungnya itu.


"Aku...aku ingin bercerita sesuatu. Selama ini, aku menyimpannya sendiri. Dan ini sangat menyakitiku, Tan. Tapi tante harus menyimpannya sendiri." wanita itu mengernyit, apa ceritanya sesensitif itu.


"Tidak boleh cerita kepada siapapun?" anak itu menggeleng. "Oma? Daddy,"


"No! tidak seorangpun," bahu Ara melorot. Hatinya penasaran dan menebak-nebak sendiri. Kemudian anak itu malah mengulurkan jari kelingkingnya untuk mengikat janji akan hal yang akan diceritakannya. Mau tidak mau Ara mengikutinya.


Dani nampak terdiam sejenak. Mengatur napasnya, kemudian matanya terpejam seperti berusaha mengingat sesuatu. Dan sesaat kemudian mata itu mengerjap terbuka dengan senyum tipis yang dipaksakan.


"Dimalam mama pergi meninggalkan rumah. Sebenarnya, mama mendorongku hingga kepalaku terbentur lemari." anak laki-laki itu mengawali ceritanya. Matanya tampak berkaca menyalurkan kepedihan yang dipendamnya selama ini.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2