Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 199 Sebuah Pesan


__ADS_3

"Minta alamat rumahnya, Lang?" titah Adrian. Lelaki itu banyak menahan diri di kantor Tony yang diambil alih Laura sekarang.


"Berikan alamat rumahnya!"


"Maaf Tuan, saya tidak bisa memberikan tanpa izin_"


"BERIKAN! " bentak Elang memaksa. Dua orang lelaki yang merupakan bagian keamanan dan berdiri di meja resepsionis itu gemetar dan nampak berkeringat. Jelas saja, dibawah meja, kedua anak buah Adrian yang lain mengacungkan senjata.


Adrian sengaja datang ke kantor itu meskipun sudah tahu tidak mungkin Laura berada disana malam ini. Wanita itu bukan sosok pekerja keras yang rela lembur meskipun untuk tanggung jawabnya.


Namun dari sana ia bisa mendapatkan alamat rumah wanita itu sekarang. k


Kabarnya, Tony membeli rumah baru setelah kejadian mengerikan itu. Agar sang istri membuka lembaran baru dalam kehidupannya.


"Tap-tapi Tuan. Nyonya melarang_"


Dorr!


Suara tembakan senjata membuat kedua orang itu merunduk. Napas mereka terengah dan sama sekali tidak berani menatap Elang.


"BERIKAN! Atau kau akan bernasib sama dengan pot itu!" tunjuk Elang pada pot bunga disamping meja resepsionis yang hancur tak berbentuk.


Sontak salah satu dari mereka dengan tubuh yang masih gemetar, langsung berdiri dan mencari alamat sang bos di komputer yang ada di depan mereka.


Setelah mendapatkannya, Adrian langsung meluncur. Tidak butuh waktu lama untuk Adrian dapat menemukan rumah itu. Ternyata posisinya berada di perumahan elit ditengah kota.


Adrian hanya turun dengan Elang, sedangkan yang lain disuruh menunggu dalam mobil.


"Aku ingin bertemu Laura," ucap Adrian tanpa basa basi.


"Maaf, Tuan. Nyonya belum pulang hari ini."


"Jam berapa biasanya dia pulang?"


"Tidak pasti, Tuan. Terkadang larut malam," ucap satpam rumah Laura sopan. Dia menebak jika Adrian adalah orang dekat atau mungkin saudara Laura, karena yang mencari sampai ke rumah hanya saudara dan teman terdekat sang nyonya saja. Rekan bisnis tidak sekalipun diizinkan oleh wanita itu.


"Tony?"


"Tuan Tony...." Lelaki berseragam keamanan itu nampak bingung. "Beliau sakit, Tuan. Dan sudah lama tidak menerima tamu."


"Tidak menerima tamu?"


"Iya, Tuan."


"Atau tidak boleh!?"


Kharisma seorang Adrian membuat gentar siapapun yang melihatnya saat ini. Lelaki itu tidak perlu membentak apalagi berteriak untuk menciutkan lawan bicaranya.


Lelaki yang ditanya Adrian itu hanya diam, tidak mengiyakan ataupun menyangkalnya. Namun dari matanya terlihat, jika ia bingung dan merasa terancam dengan tatapan Adrian.

__ADS_1


Terbaca sudah. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Laura. Mengapa wanita itu menggunakan alasan suaminya untuk berbicara dengannya saat itu? Dia pasti mempunyai rencana buruk.


"Boleh aku menunggu didalam? Karena aku ada perlu dengan nyonyamu itu."


"I-iya Tuan, silahkan."


Adrian dan Elang masuk diantar oleh satpam rumah Laura hingga kedalam. Kemudian lelaki itu memanggil mbok Darmi untuk menyiapkan minuman.


Di dapur, mbok Darmi sengaja memperlama tugasnya. Bolak-balik mengintip ke ruang tamu, melihat apakah satpam itu sudah meninggalkan kedua tamunya atau belum.


Limabelas menit kemudian, wanita paruh baya itu keluar membawa minuman.


"Silahkan, Tuan."


Baik Adrian ataupun Elang mengangguk menghormati tawaran wanita paruh baya yang kelihatan lebih sepuh daripada usianya itu. Namun keduanya tidak ada yang bergerak untuk mengambil minuman itu.


Mbok Darmi masih berdiri disana beberapa lama. Membuat kedua lelaki itu saling melirik dan bertanya-tanya.


"Bibi...."


"Tuan...."


Elang dan mbok Darmi bersamaan mengeluarkan suaranya. Kemudian mereka terdiam dan mbok Darmi nampak menunduk.


"Bibi bisa kebelakang, kami tidak apa-apa ditinggal," ucap Elang.


"Tidak penting saya menjawabnya bukan?" ucap Adrian menatap dalam mbok Darmi. Wanita paruh baya itu nampak menunduk kembali. Dia tahu telah lancang. Tapi dia harus memastikan dahulu siapa mereka sebelum bertindak lebih jauh.


"Maaf Tuan. Saya hanya bertanya saja. Nyonya biasanya pulang malam atau bahkan tidak pulang."


"Tidak pulang? Apa dia mempunyai tempat tinggal lain?"


"Setahu saya tidak, Tuan. Hanya rumah ini dan rumah orang tuanya yang sudah lama ditinggalkan."


"Bagaimana kabar Tony mbok?"


Mbok Darmi terkesiap. Bahkan ia belum tahu apakah kedua lelaki didepannya itu orang baik ataukah teman sang nyonya yang tidak berbeda jauh dengan teman-temannya selama ini yang datang ke rumah ini.


Kelihatan baik, tapi ternyata tidak perduli dengan kehidupan pribadi sang nyonya yang menyembunyikan sang suami dan membuatnya tambah sakit tanpa memberikan perawatan medis yang layak. Mereka hanya suka uang Laura.


Namun sepertinya kedua lelaki di depannya ini berbeda dengan mereka. Dari caranya bersikap saja, mbok Darmi sudah dapat menebaknya. Entahlah.


"Tu-Tuan, syukurlah beliau baik, permisi Tuan," mbok Darmi langsung kabur ke belakang.


Wanita paruh baya itu mendengar percakapan kedua tamu lelaki sang nyonya itu dengan satpam. Samar ia mendengar salah satu dari mereka bertanya tentang Tony. Itulah yang membuatnya menggantungkan harapan pada mereka hari ini.


Mungkin saja? Siapa tahu? Selama ini tidak ada yang bertanya tentang Tuannya itu. Mungkin saja mereka benar-benar orang yang Tuhan kirimkan untuk membantu sang Tuan.


Mbok Darmi mengumpulkan keberanian untuk mengatakan fakta yang sebenarnya tentang sang majikan. Ia menyusun kepingan peristiwa yang selama ini terjadi, sebuah kenyataan pahit yang harus diterima Tony atas perlakuan istrinya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu bergegas ke depan. Namun salah satu dari keduanya nampak menghubungi seseorang dan bersiap untuk pergi.


Mbok Darmi takut kehilangan kesempatan. Wanita itu sudah tidak perduli lagi. Kalaupun kedua lelaki itu bukan orang yang bisa menolong mereka. Resiko jika ketahuan sang Nyonya, dia pasti akan mendapat hukuman seperti biasa. Itu lebih baik daripada tidak berusaha.


Dengan cepat ia mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu pada secarik kertas.


Saat ia mendatangi kedua lelaki itu, satpam yang merupakan anak buah sang nyonya sudah ada disana.


Mbok darmi mengendap-endap dan mencari alasan untuk mendekati kedua tamu lelaki yang akan pergi itu.


"Tuan tidak diminum dulu," ucap mbok Darmi berpura-pura menanyakannya. Dengan begitu ia akan leluasa mendekat.


"Terimakasih, Bi. Kami buru-buru," ucap Elang yang berada paling belakang.


Mbok Darmi mengulurkan tangannya menyalami. Elang yang kaget akhirnya menerima jabat tangan wanita paruh baya itu.


Saat Elang merasakan ada sesuatu dalam tangan mbok Darmi yang menempel di telapak tangannya, lelaki itu mengernyit heran namun tidak terlalu memperdulikannya. Mbok Darmi mengangguk, memberi kode Elang untuk menerimanya. Kemudian wanita paruh baya itu pergi tanpa menjabat tangan Adrian. Karena satpam yang berada paling dekat dengan pintu keluar, sudah memicingkan mata padanya sejak tadi.


"Katakan pada Nyonyamu aku mencarinya. Kesempatannya hanya 1x24 jam."


"I-iya, Tuan." Satpam itu tidak tahu kekacauan apa yang dibuat majikannya. Yang jelas dari cara Adrian menatap padanya saja sudah seperti ancaman.


Adrian dan Elang pergi meninggalkan rumah itu. Tanpa sadar telapak tangannya menggenggam sesuatu yang diberikan oleh mbok Darmi.


"Silahkan, Tuan."


"Apa itu, Lang?" Adrian melihat sesuatu jatuh dari tangan asistennya itu.


Elang mengambil secarik kertas yang ia sendiri tidak tahu apa maksud pelayan di rumah Laura itu memberikan padanya.


"Tolong kami, mereka semua jahat."


Elang menatap Adrian setelahnya. Dia terheran dengan pesan singkat yang sarat makna itu. Kami? Berarti lebih dari satu orang. Mengapa mereka meminta tolong?


"Ada apa?" Elang mengangsurkan kertas lusuh yang tadi sempat diremasnya itu pada Adrian. "Sudah kuduga, ada yang tidak beres disini Lang."


"Apa kita perlu kedalam lagi, Tuan?"


"Mereka akan curiga." Adrian menatap rumah megah milik Tony itu. Nampak sepi dan minim aktivitas. "Tapi tidak ada salahnya kita coba, sepertinya hanya ada satpam, dan mungkin beberapa pelayan yang merupakan anak buah Laura."


"Kita hanya berenam, Tuan." Elang melaporkan anak buah yang ia bawa, enam itu sudah termasuk Adrian.


"Itu sudah cukup. Dengan tidak adanya Laura disini, berarti bodyguard nya pun tidak ada." Adrian terdiam sejenak, memikirkan langkah dan strategi yang akan dia lakukan. "Kita masuk mobil dulu!"


Beberapa menit kemudian,


"Lang, kamu masuk bersamaku. Nanti di dalam kamu awasi semua pelayan dan keamanan depan. Laporkan pada Black. Kalian berempat harus siaga disini. Sewaktu-waktu kami memanggil kalian harus cepat bergerak! Paham?"


"Siap, Tuan!"

__ADS_1


__ADS_2