
Damar melamun. Lelaki paruh baya yang sudah siuman setengah jam yang lalu itu tidak tega membangunkan sang istri yang tertidur di sebelahnya.
Wajah cantik yang meski tidak muda lagi itu nampak sangat lelah. Perlahan damar mengingat kejadian nahas tadi pagi. Saat ia merasa di tabrak dari belakang kemudian terlempar dan terhempas dengan kencang. Kemudian setelahnya, ia tidak dapat mengingat apa-apa lagi.
Dan sekarang, ia terbangun di ruangan serba putih ini. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan kaku, susah untuk digerakkan. Dan nampak banyak perban yang membalut beberapa bagian tubuhnya.
Meski begitu, ia merasa lega melihat sang istri baik-baik saja. Bahkan wanita yang dengan setia menungguinya itu nampaknya tidak terluka parah. Hanya beberapa lecet dan goresan tipis.
"Emmm ..." Esther bangun dengan mata menyipit. " Papi? Syukurlah papi sudah bangun. kenapa tidak membangunkan mami?"
"Mami nyenyak sekali tidurnya. Pasti lelah karena menunggui papi," ucap Damar lirih.
"Tidak lelah, jika untuk papi. Namanya juga kewajiban."
"Mi? Kenapa papi dirawat di rumah sakit ini. Pasti sangat mahal biayanya. Besok mami temui bagian administrasi dan minta pindah ke rumah sakit umum saja. Sebelum tagihannya membengkak." Raut khawatir nampak diwajah Damar. Lelaki paruh baya itu tahu, kualitas dan harga dari rumah sakit tempat ia dirawat setelah membaca nama rumah sakit yang tertera di pakaian yang ia kenakan.
"Tenang, Pi. Yang menabrak kita bertanggung jawab penuh. Mami sudah mengatakan pada mereka, untuk memindah papi ke rumah sakit lain saat sudah siuman. Tapi mereka menolak dan malah mengatakan akan membiayai perawatan papi sampai sembuh."
"Hah? Papi tidak salah dengar?" tanya Adrian memastikan.
"Tidak, Pi. Mungkin satu atau dua jam lagi adik dari orang yang menabrak kita akan datang, tadi dia izin sebentar untuk pulang. Papi bisa bertanya padanya jika tidak percaya."
\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=
"Kenapa, Sayang?"
"Tidak."
Mulut bisa berkata tidak bukan. Tapi raut wajah Ara yang menegang tentu terlihat oleh sang suami.
__ADS_1
"Bertanyalah, aku ingin kau_"
"Kenapa ia ingin bertemu denganmu, Mas?" Ara memotong ucapan Adrian dengan segera. Dadanya bergemuruh melihat penampilan aneh wanita dari masa lalu suaminya itu. bukankah dulu wanita itu berpenampilan wajar, kenapa sekarang seperti seorang penggoda.
"Dia menawarkan kerjasama dengan perusahaannya. Dia_"
"Mas menerimannya?" Ara mengerjap, menatap tajam sang suami dan siap menerkam jika lelaki itu mengatakan iya.
.
"Kalau menurut ilmunya, tawaran itu layak diterima, Sayang. Tapi aku belum menyetujuinya, mungkin aku harus mempelajarinya lebih mendalam dulu untung ruginya," jawab Adrian profesional. Ya, ia menjawab berdasarkan logika, seorang pengambil keputusan tertinggi bukanlah harus memeriksa dan memperhitungkan segala sesuatu jika ingin memutuskan. Bukan menggunakan perasaan seperti yang dilakukan istrinya sekarang.
"Belum?" Ara memastikan ucapan suaminya. Padahal ia berharap lelaki itu langsung mengatakan tidak dengan keras dan tanpa ragu.
"Iya, belum. Bisa iya bisa tidak, tergantung nanti," Adrian masih menjawab santai sementara Ara sudah terpantik emosi.
"Kalau begitu aku tidak ingin merepotkan Mas. sewa perawat saja untuk merawatku,"
"Jika tidak ada yang perempuan yang laki-laki juga tidak apa-apa."
"Sayang? Kau menguji kesabaranku. Sudah kukatakan aku yang akan merawatmu bukan orang lain. Mau perawat perempuan apalagi laki-laki aku tidak akan pernah mengizinkan mereka menyentuhmu!" ucapan Adrian lirih namun menekan. Lelaki itu ikut terpantik emosinya mendengar ucapan Ara.
"Kalau begitu biar aku sendiri yang merawatnya. aku tidak ingin dibantu." Ara melemah, suaranya melirih, namun matanya yang berkaca-kaca tak dapat lagi ia sembunyikan.
"Sayang?" Adrian menggenggam kedua lengan Ara. "Menapa kau menangis?" Lelaki itu tidak peka jika sang istri cemburu akan kedatangan Laura.arena Adrian merasa bahwa ia sudah izin, lagipula mereka tidak bertemu berdua saja.
"Kalau aku sudah sembuh, aku juga ingin ke Swiss sendiri. Aku ingin bertemu Kak Akio" ucap Ara asal, dengan berderai air mata dan hati yang tengah kalut, yang terpikirkan hanya pergi sejenak dari Adrian.
"Apa? jadi semua ini hanya alasanmu ingin kesana? Kau ingin pergi sendiri?" Pikiran Adrian mendadak kembali ke masa dimana ada Akio diantara dirinya dan Ara. Lelaki itu selalu mendapat pembelaan istrinya itu dahulu.
__ADS_1
"Iya!" ucapan Ara sedikit meninggi. Setelahnya wanita itu berbaring dan membelakangi sang suami.
"Kalian kenapa?" tanya Mela yang datang tanpa diketahui keduanya.
Bukannya menjawab, tapi Mela malah mendapat tatapan tajam pasangan suami istri itu.
"Pintunya lupa kalian tutup." lanjut Mela yang menjawab asal.
Adrian nampak menahan emosinya. Lelaki itu tertunduk disamping ranjang dengan bahu yang nampak bergerak-gerak seiring napasnya yang menderu. Tidak ada hal lain yang membuatnya sangat cemburu kecuali jika sang istri membawa nama sepupunya. Bagaimanapun, Akio pernah berada diantara mereka dulunya.
"Aku titip istriku, Mel. Jangan tinggalkan dia sendirian," ucap Adrian lirih, dan kemudian melangkah keluar kamar Ara.
Mela terpaku, menatap kepergian Adrian yang tanpa pamit pada sahabatnya. Ya, Mela tahu mereka sedang sama-sama dikuasai emosi, tapi sungguh Adrian terlihat lebih sabar sebagai laki-laki dalam menghadapi sahabatnya. Bahkan ia menitipkan Ara padanya.
Padahal, ia mengira laki-laki seperti Adrian pasti memiliki egoisme tinggi. Sahabatnya itu pasti banyak mengalah di dalam kehidupan rumahtangganya. Namun yang ia lihat kini berbeda.
"Ra, kamu baik-baik saja kan?" Mela membelai punggung sang sahabat yang masih terlihat menangis tanpa suara meski wanita itu membelakangi nya. "Kasihan suamimu."
"Kau kan sahabatku, kenapa kasihan padanya?" Dengan masih suara yang serak, Ara menjawab ucapan Mela.
"Ra, sebenatnya kalian ini kenapa? Setahuku Adrian tidak pernah semarah itu selama ini."
"Entahlah, aku ingin sendiri, Mel,"
"Baiklah, aku tunggu di luar. Semoga saat aku lelah diluar nanti, kau sudah mau kutemani," ucap Mela yang kemudian bangkit dari duduknya untuk keluar ruangan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adrian tidak benar-benar pergi meninggalkan sang istri. Dia masih berada di dalam mobilnya yang terparkir di basement rumah sakit. Mana tega lelaki itu pada Ara. Bahkan disaat mereka marahan seperti ini, sebenarnya Adrian tetap ingin berada disana. namun ia tentu harus memberi ruang wanita itu untuk berpikir logis.
__ADS_1
"Padahal aku sudah izin, dan juga baru pertama kali ini bertemu Laura. Kenapa dia semarah itu?Kenapa tidak dari awal saja melarangku menemui Laura. Ini malah mengizinkan setelah itu malah berbicara yang tidak jelas." Adrian menggumam sendiri.
Fuhhh, lelaki itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Hatinya terasa tidak nyaman dengan kejadian ini. Harusnya tadi ia peluk saja istrinya tanpa perduli wanita itu marah. Ini malah sok-sok an pergi dengan alasan memberi ruang Ara untuk menenangkan diri namun malah tumbuh rasa khawatir berlebihan dalam hatinya.