Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 147


__ADS_3

Hati Akio berbunga. Meski hanya dalam bentuk suapan, namun wanita yang ia cintai itu mau melakukannya, meski juga harus berebut dengan Hiro. Bukan Ara yang berebut dengan Hiro, tapi Akio. Karena sepupu Adrian itu menolak disuapi Hiro, dan Hiro tetap memaksa, sehingga terjadilah keributan kecil antara mereka.


"Mau nambah, Kak?" tanya Ara. Akio nampak lahap dengan makanan yang dimakannya.


"Boleh." Kenyangpun Akio akan tetap menambah lagi karena ia bahagia bisa berlama-lama bersama wanita pujaannya itu.


Ara segera mengambilkan makanan untuk Akio. Dimana tanpa Ara ketahui, Aimi berdiri di belakangnya mengawasi.


"Kau mau makan juga, Nak?"


"Tidak, Tante."


"Lalu ini? Sudah tidak usah sungkan, ambil piring baru saja itu kan bekas Akio," ucap Aimi merebut piring yang dibawa Ara.


"Tidak usah, Tante. Ini bukan buat saya tapi kakak, ia bilang mau tambah makanan lagi." Aimi menghentikan aksinya, anak lelakinya itu ingin menambah makanan lagi? Apa ia tidak salah dengar? Pasti karena pengaruh Ara yang ada disini.


"Baiklah, tapi sedikit saja. Ia tidak terbiasa makan banyak." Aimi memberi nasihat. Anaknya itu memang tidak pernah makan banyak, apalagi setelah sakit.


Sepeninggal Ara yang masuk kembali ke kamar, ibu dari Akio itu ternganga, beginikah efeknya jika jatuh cinta. Selalu melakukan sesuatu diluar kebiasaan. Namun tentu saja ia tidak bisa membiarkan hal ini berjalan terus-menerus. Ini harus cepat dihentikan. Aimi bergegas memanggil Hiro, agar dokter yang merawat Akio itu cepat menyusul mereka berdua.


"Nak, Adrian lama sekali. Kau dijemput kan?" Secara tidak langsung Aimi mengingatkan Ara untuk segera pulang.


"Iya, Tante. Mas Adrian janji menjemputku, tapi kuhubungi sejak tadi, belum juga tidak diangkat." Ara berulang kali menggeser layar ponselnya, menekan kontak suaminya yang hanya dijawab nada tunggu.


"Kuantarkan saja, Kak. Mungkin kak Adrian sibuk jadi ia tidak sempat memberi kabar Kakak," ucap Hiro menenangkan.


"Atau pulang nanti saja, Ra. Ini masih sore." ucap Akio yang langsung di tanggapi oleh sang ibu.


"Ini sudah malam, Ki. Ara harus pulang, mungkin Adrian lupa memberi kabar atau ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan,"


Namun Ara terlanjur kecewa. Sungguh Adrian sudah berjanji tadi. Kalaupun tidak bisa, asalkan memberi kabar ia akan mengerti namun jika tanpa kabar seperti ini membuatnya khawatir sekaligus curiga.


"Baiklah. Aku diantar Hiro saja, Tan. Kak, aku pulang dulu ya," kedua ibu dan anak itu mengangguk dan berakhir dengan Aimi yang mengantar istri keponakannya itu hingga depan pintu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mom ... Mommy kesini? Adrian bilang Mommy ... Kau pasti bukan Mommy ... Kau siapa ... Pergilah ... Pergi ... Pergi kau....!"


Suara tangis Andina meraung-raung dalam ruang kedap suara itu. Tentu saja tidak ada yang mendengar jika pintu itu masih tertutup rapat.


"Berarti Adrian bohong padaku. Mommy masih ada, Mommy tidak ke mana-mana ... Dia pasti bohong ... Dia hanya membohongiku ... Bagaimana bisa seorang anak mengatakan kalau ibunya telah meninggal padahal tidak sama sekali."


Ceklek!


Suara pintu terbuka bersamaan dengan masuknya dua orang laki-laki berseragam serba putih.


"Silahkan," ucap Adrian mempersilahkan dua orang yang masuk bersamanya itu masuk ke kamar tempat Andina berada.


"Addd kau bohong ... Mommy tidak meninggal ... Tadi ia mendatangiku ... Ia bilang kau hanya bercanda ... Aku tidak membunuhnya ... Aku juga bukan penyebab kematiannya Add...." Andina berbicara pada sang mantan suami.


"Bawa saja," titah Adrian yang segera dilaksanakan oleh laki-laki berseragam serba putih itu.


"Add apa-apa an ini? Aku tidak gila." Andina memberontak dan berteriak sejadi-jadinya. "Aku tidak mau pergi ... Lepaskan aku!" Kedua orang perawat rumah sakit jiwa yang ditunjuk Adrian itu menjadi korban tendangan Andina. Namun karena mereka sudah berpengalaman memangani pasien mengamuk seperti itu, maka dengan mudah mereka membawa Andina pergi dari rumah itu.


"Sepertinya nyonya Andina mulai berhalusinasi, Tuan." Adrian menoleh mendengar ucapan Elang yang berdiri tidak jauh darinya.


"Bagaimana kau tahu?"


"Setelah Tuan sempat bersitegang dengannya tadi, saya mengantarkan makanannya. Dan dia menyebut jika nyonya besar masih ada. Bahkan nyonya Andina menujukkan tempat nyonya besar berdiri," jelas Elang.


"Berarti tindakan tepat memasukkannya ke rumah sakit jiwa, Lang. Mungkin ia terpukul dengan perbuatan jahatnya sendiri, yang menyebabkan kematian ibuku."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kau tak mau mampir?" tawar Ara pada lelaki yang mengantarnya itu.


"Tidak usah, Kak. Kasihan pasienku sendirian." Hiro berkelakar. "Karena ia sering banyak mau sekarang ini. Kasihan pula tante kalau aku tinggal lama-lama." Hiro menolak tawaran Ara untuk singgah sejenak.

__ADS_1


Setelah mengantarkan Hiro hingga lelaki itu masuk mobil dan melambaikan tangannya sebelum pulang, Ara memasuki rumah.


Pikirannya berkecamuk, bahkan dihari mulai petang dan gelap suaminya itu sama sekali tidak mengirim kabar. Wanita itu sampai menanyai satu persatu pelayan, apakah sudah ada yang menerima kabar dari Adrian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Oh ... Ya ampun ... Aku melupakan sesuatu," pekik Adrian ketika ia baru sadar hari sudah gelap.


Dirogohnya ponsel dalam sakunya. Ia ingat tadi mengganti ponselnya menjadi mode hening karena kondisi baterainya lemah.


Pasti istrinya sudah ngambek saat ini karena ia terlambat menjemput. Lelaki itu akhirnya meminjam ponsel sang asisten untuk menghubungi tantenya.


Aimi mengatakan jika Ara sudah pulang dan diantar oleh Hiro. Karena istrinya itu telah lama menunggunya menjemput, hingga akhirnya mau diantar oleh Hiro.


Adrian memacu mobilnya menuju rumah. Perjalanan yang lumayan lama, karena memang Elang menyekap Andina di tempat terpencil yang jauh dari kota.


Begitu sampai dirumah utama, yang pertama ia cari adalah sang istri. Namun ia tidak menemukan sosok wanita yang dicintainya itu dimanapun, bahkan di kamarnya.


"Bi, nyonya dimana?" tanya Adrian ketika hanya menjumpai bibi Yulia dan pelayan yang lain di dapur.


"Di kamar, Tuan. Baru lima belas menit yang lalu naik keatas," jawab bibi Yulia.


"Tidak ada. Aku sudah dari sana," ucap Adrian khawatir. Kemana sebenarnya sang istri.


"Tapi tadi nyonya pamit mau ke atas, Tuan. Beliau lama sekali berada di dapur untuk menunggu Tuan," jelas bibi Yulia.


Adrian mendengkus, kemudian ia berlari menuju gazebo belakang, dan nihil. Ara tidak ada disana.


Lelaki itu terduduk disana. Seharian ini, emosi dan tenaganya benar-benar diuji. Ia tidak pernah menyangka bahwa sang mantan istri begitu tega terhadap sang ibu. Dan apakah Dani akan percaya jika ia mengatakan yang sebenarnya pada sang anak. Bukan hanya untuk membela Ara, tapi memang kejadian sebenarnya seperti itu. Anak laki-lakinya itu harus tahu.


"Mas." Sentungan tangan Ara di bahu Adrian mengagetkan sang suami yang sedang termenung.


"Sayang, kau kemana saja? Aku mencarimu sejak tadi." Membalikkan badan ke arah sang istri, lelaki itu hampir mencium ketika Ara malah melenggang lewat di depannya.

__ADS_1


"Mas yang kemana? Sampai lupa memberi kabar, apakah mas sedemikian sibuk hingga lupa mengabari." Ara mengerucutkan bibirnya setelah mengambil duduk di depan Adrian.


Fuhhh ... Adrian mengambil napas panjang, ia yang khawatir dengan sang istri melupakan jika wanita didepannya ini juga mengkhawatirkannya. Cinta memang selalu seperti itu. Terkadang tidak pernah tahu bahwa memikirkan hal yang sama.💕


__ADS_2