
Brukkk!!!
Suara sesuatu terjatuh terdengar sangat keras dari kamar Akio. Sang ibu yang baru saja akan menutup pintu akhirnya memutuskan masuk kembali.
"Ki... suara apa itu?" Aimi berjalan tergesa menuju tempat terakhir ia meninggalkan sang anak. "Kioooo.....," pekik Aimi begitu melihat tubuh Akio yang terbujur tidak sadarkan diri di dekat ranjang.
"Ahhh... Ya ampun Sayang, kamu kenapa?" dengan panik Aimi mengangkat kepala sang anak ke pangkuannya. Kemudian menggoyang-goyangkan bahunya agar lelaki itu sadar. "Ki... Kio.. sadar Nak,"
Karena Akio tak kunjung bangun, Aimi memutuskan untuk menelpon Hiro. Untung saja, dokter muda itu ternyata ada di kamarnya.
Hiro datang tidak lama setelah Aimi menelpon. Dokter itu bergegas datang begitu Aimi mengatakan jika pasiennya tidak sadarkan diri.
"Tante bantu saya mengangkat Kio ke atas," ucap Hiro yang sigap memposisikan pasiennya itu untuk diangkat.
Kemudian Hiro memeriksa Akio dan mengeluarkan stetoskopnya. "Untunglah Kio tidak apa-apa, Tante," kemudian lelaki itu melirik tensimeter yang ia pasang di lengan kiri Akio. "Pantas, tekanan darahnya terlalu rendah, Tan. Kondisinya sangat lemah, ia harus banyak istirahat," ucap Hiro.
Mata Aimi berkaca. Kondisi anak laki-laki nya itu memang sedang buruk, namun Akio bersikeras tidak mau istirahat di rumah sakit. Ia hanya mau di kamar hotel saja, dan menggunakan Hiro sebagai alasan penolakannya untuk pergi ke fasilitas kesehatan itu.
"Padahal tadi baru saja Akio tante tinggalkan untuk memanggilmu. Karena nanti sore ia akan ikut ke rumah bibinya. Tapi malah seperti ini." Aimi mengurai ceritanya.
"Emhhh.. Ma," Akio memegang kepalanya sebelum akhirnya membuka mata perlahan. "Rasanya pusing sekali, kok aku disini?" ucap Akio yang bingung dengan dirinya sendiri.
"Coba ingat-ingat lagi, kamu tadi terakhir lagi apa?" ucap Hiro yang berdiri di sebelah Aimi.
"Aku... Aku mau berdiri dan rasanya pusing sekali lalu gelap," mata Akio mengerjap mengingat kejadian tadi. "Ah, ya ampun jadi kalian berdua disini semua karena itu," lanjut Akio dengan entengnya.
"Lebih baik kita batalkan saja ke rumah bibimu Ki," ucap Aimi nyang masih khawatir dengan kondisi Akio.
Mata Akio membulat. "Tidak, kita tetap kesana, Ma. Aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja," ucap Akio membela diri.
"Besok juga masih bisa kesana,"
"Ya Tante benar. Maka dari itu kalau kelelahan ya istirahat. Bukannya malah pergi-pergi," sahut Hiro jengah dengan pasien sang ayah sekaligus kakak kelasnya dulu itu.
"Kamu kan dokter, mana? Beri aku vitamin yang manjur. Bukannya malah ikut-ikutan mama yang menyuruh istirahat. Aku capek istirahat terus," todong Akio pada adik kelasnya yang selalu ketus kalau menghadapi Akio yang kumat keras kepalanya.
__ADS_1
"Tante aku kembali ke kamarku, ya. Nanti kalau dia sudah jinak, minumkan obat ini," Hiro pamit sambil menyerahkan tablet dalam bungkus plastik pada Aimi.
"Hehhh... Mau kabur," cegah Akio.
"Jangan berdiri dulu, tekanan darahmu rendah sekali Kak. Nanti kau bisa pingsan lagi," Hiro memperingatkan Akio yang sudah bangkit dari berbaring dan akan mendekatkan kursi rodanya.
"Iya.. Iya sudah sana," usir Akio.
Sepeninggal Hiro, Aimi duduk terdiam dalam kegundahan. "Ki... besok saja, ya. Nanti mama hubungi Ara untuk mengabarinya,"
"Tidak Mam. Jangan terpengaruh ucapan Hiro. Aku baik-baik saja. Mana obatnya aku minum sekarang dan aku janji setelah ini istirahat. Biar kondisiku semakin fit nanti," Akio menerima segelas air putih bersama obat yang disodorkan oleh ibunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Selamat siang, Pak. Boleh saya masuk?"
"Hemmm...." tanpa melihat dan mencermati suara siapa yang menyapanya, Adrian hanya menjawab sekenanya karena lelaki itu sedang fokus memeriksa berkas terakhir yang harus segera ia tanda tangani hari ini.
Ara tercenung, suaminya masih tetap berkutat dengan kertas-kertas yang ada diatas mejanya sekalipun mendengar kedatangannya.Dan padahal saat ini, sudah lewat jam makan siang.
Dan berhasil! Kedua lelaki yang tengah asyik itu akhirnya bersamaan menoleh kearah Ara. Yang satu memasang tampang bingung, sedangkan satunya kaget bercampur sedikit kecemburuan. Karena merasa bahwa wanita yang telah menjadi istrinya itu salah memanggil.
Kemudian setelahnya mereka berdua saling menatap, dengan mata Adrian yang melirik mengancam sang asisten yang berdiri disampingnya. "Bukan saya Tuan," Elang membela diri. "Saya tidak seperti itu, pasti yang Nyonya maksud bukan saya," Elang merasa menjadi korban salah sasaran disini.
"Sayang? Mengapa kau mengajaknya bukannya suamimu?" protes Adrian pada sang istri.
"Aku tak tahu suamiku yang mana. Padahal ia meminta untuk diantarkan dan ditemani makan siang. Namun kedatanganku saja tak ia perdulikan," dengan tangan bersilang di atas dada, Ara yang merajuk sampai membuang tatapannya ke arah lain.
"Kamu keluar Lang, sana istirahat makan siang sendiri," titah Adrian pada sang asisten. Dijawab anggukan oleh lelaki yang segera meninggalkan pasangan suami istri itu sambil menyembunyikan senyumnya. Ia yang sebenarnya sudah menahan diri akibat cacing-cacing dalam perutnya yang sudah berdemo sejak setengah jam yang lalu itu, merasa bersyukur Ara datang. Karena sang bos yang sering lupa waktu kalau sudah bekerja. Bahkan waktu istirahat pun di libasnya.
"Sayang... .Maaf aku sedang fokus tadi. Aku selesaikan satu ini ya. Janji ini yang terakhir. Hanya tinggal sedikit," lelaki itu duduk kembali setelah sang istri mengangguk.
Lima menit berlalu, Adrian menepati janjinya, lelaki itu berdiri lemudian melepas jasnya dan menggulung kecil kemeja lengan panjangnya hingga ke siku. Lelaki itu menuju wastafel untuk mencuci tangannya. "Aku siap Sayang, kau masak apa?"
"Ayam teriyaki dan cah brokoli, Mas," Ara menyiapkan dua piring dan mengambilkan nasi untuk suaminya dan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Satu saja,"
"Hemm?"
"Piringnya satu saja. Aku mau makan dari tanganmu," ucap Adrian yang bergegas duduk di sebelah sang istri.
"Baiklah, Tuan," ucap Ara yang mengiyakan permintaan sang suami. Membuat Adrian gemas mendengarnya.
Cup!
"Mass.. Kau ini. Bagaimana kalau ada yang masuk," mata Ara membola mendapat kecupan singkat dari sang suami di pipinya.
"Tidak ada yang berani masuk tanpa izinku," Adrian berbicara sembari mengunyah suapan pertama dari istrinya.
Drrt... Drrt.... ponsel Adrian bergetar. Sebuah pesan masuk dari sekolah sang anak. Lelaki itu mengernyit melirik barisan kata yang terlihat disana, meski tidak utuh karena ia belum membuka pesan di aplikasinya.
"Kenapa, Mas?"
"Sepertinya Dani mulai lagi," senyum Adrian memudar saat mengatakannya. Ara yang menyadarinya lekas mengulurkan tangannya, mengusap lembut punggung sang suami.
"Sabar. Jangan terbawa emosi, ya. Habiskan makanannya dulu, nanti kita ke sana berdua," ucap Ara menenangkan.
"Kau ikut?"
"Jika boleh? Iya," jawab Ara penuh kepastian.
"Terimakasih, Sayang. Kau... Maafkan Dani ya," lelaki itu merangkul istrinya.
"Dani tidak salah, Mas. Memang aku yang_"
"Aku yang salah. jangan menerima beban yang bukan milikmu. Dari awal aku yang salah," Adrian memotong ucapan sang istri.
"Masss...kita yang salah. Oke! Jangan di debat lagi. Kita berdua yang salah. Biarkan aku ikut menanggungnya," ucap Ara.
Adrian nampak menghela napasnya. "Aku janji, demi apapun aku tidak ingin membiarkan diriku kehilanganmu," lelaki itu mendekap erat Ara dari samping sambil meneruskan makan dari suapan tangan istrinya.
__ADS_1
Demi apapun? Janji yang berat bukan? ♥