Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 123 Jatuh


__ADS_3

Ambulance meluncur membawa Lina yang terbujur tak sadarkan diri setelah mendengar kabar pagi ini di TV. Bibi Yulia yang gemetar karena terkejut akan kondisi sang nyonya masih nampak shock dan terduduk dengan keringat yang bercucuran.


"Tuan Muda... "


"Bibi di rumah saja, biar aku yang mengantar oma," ucap Dani dengan wajah memerah akibat emosinya yang semakin memuncak. Apalagi mengetahui jika ternyata sang ayah dan wanita yang ia panggil tante itu tidak pulang ke rumah semalam.


Langkahnya memburu. Anak lelaki itu segera masuk ke dalam mobil bersama sopir dan meluncur mengikuti ambulance yang membawa Lina ke Rumah Sakit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ambulance melewati mobil Adrian yang memasuki kawasan perumahan, dibelakangnya ada mobil putih yang mengikuti dan tentu saja baik Adrian maupun Ara mengenalinya.


"Mas, itu mobil Dani?"


"Iya. Dekat sekali dengan ambulance di depannya, siapa yang sakit? Kenapa kita tidak dikabari?"


"Perasaanku tiba-tiba tidak enak, Mas,"


Adrian menyentuh telapak tangan sang istri kemudian menggenggamnya erat. "Kau pasti hanya kepikiran. kita tidak pulang baru kemarin sayang, dan semuanya dalam keadaan baik-baik saja saat kita tinggalkan," ucap Adrian menenangkan.


Mengangguk pelan, Ara mengamini ucapan sang suami meski hal itu tidak membuatnya tenang. Wanita itu hanya bisa berdoa semoga memang tidak ada kejadian buruk di rumah.


Ketika sampai dirumah, bahkan pintu gerbang belum ditutup kembali oleh satpam. Dan Adrian masuk begitu saja tanpa memperhatikan gurat khawatir sang satpam yang sepertinya menatap iba sang majikan.


"Mom, siapa yang sakit," teriak Adrian begitu masuk ke dalam rumah bersama Ara dibelakangnya.


Tidak ada jawaban dari dalam, dan malah terdengar suara tangis yang tadinya samar malah kian jelas. Nampaknya suara itu berasal dari dapur.


Adrian langsung berlari, dan kaget ketika semua pelayan di rumah berkumpul di dapur dan nampak terdiam. Ada yang menangis sesenggukan, ada yang saling peluk dan ada seseorang yang menatapnya dengan nanar. Siapa lagi kalau bukan bibi Yulia.


Melihat sekilas, nampaklah bahwa semua pelayannya ada disana. Jumlahnya lengkap, hanya tanpa kedua satpamnya yang sedang berjaga di depan. Mendadak Adrian merasa ada yang salah.

__ADS_1


"Bi, siapa yang sakit?"


Menahan isakannya yang kian kencang, bibi Yulia menghapus air yang terus menerus jatuh dari kedua matanya, "Nyo.. nyo nya Besar, Tuan?"


"Apa? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi dengan Mommy? Apa dia jatuh? Atau lupa minum obatnya, Bi? Dibawa kemana sekarang?" pertanyaan beruntun yang keluar dari bibir Adrian membuat para pelayan semakin terisak.


"Kenapa dengan Mommy, Bi,?" Ara ikut mendekat dan memeluk wanita paruh baya yang bahkan tidak sanggup menegakkan tulang kakinya hingga ia duduk jongkok di lantai dengan airmata yang berderai.


"Tuan.. Apa Tuan belum melihat berita pagi ini,?"


Adrian menggeleng pelan begitu juga Ara.


"Berita apa? Aku belum melihat ponselku sama sekali,"ucap Adrian menahan dirinya. Lelaki itu langsung mengambil ponsel di dalam sakunya. Dan nampaklah ada lima panggilan tidak terjawab dari sang asisten, Elang. Kemudian asistennya itu meninggalkan pesan untuk melihat berita pagi ini.


Dibukanya situs berita online pagi ini. Mata Adrian terbelalak, "PENGUSAHA MUDA ADRIAN ILYASA TERNYATA HANYA MENIKAH KONTRAK DENGAN SANG ISTRI." Darah Adrian mendidih membaca headline barita pagi ini. Apalagi disana ada gambarnya bersama dengan Ara ditambah gambar surat perjanjian online antara dirinya dengan sang istri.


"Ada apa, Mas?" Ara yang melihat berubahnya mimik wajah sang suami buru-buru mendekat. Dan kemudian wanita itu hampir jatuh, kalau saja Adrian tidak menangkap pinggang Ara dengan cepat.


Adrian membawa sang istri untuk duduk, kemudian bibi Yulia membawa segelas air minum untuk sang nyonya. Setelah meminumnya, wanita itu langsung memeluk pinggang sang suami yang tengah berdiri disampingnya.


"Sayang... jangan membuatku khawatir. Kau baik-baik saja kan?" tanya Adrian dengan sabar. Jemarinya membelai lembut surai hitam sang istri. Padahal dirinya sendiri tengah kalut, dan emosi.


"Kita. . Kita. .ke Rumah Sakit ya, Mas. Aku khawatir dengan, Mommy," ucap Ara terbata diantara isak tangisnya. Lelaki itu mengangguk kemudian menyuruh bibib


Yulia menyiapkan baju ganti sang ibu yang akan ia bawa serta.


Ara sedikit tenang setelah Adrian mengiyakan ajakannya. Wanita itu tahu, bahwa sang ibu mertua menderita hipertensi. Jatuhnya kali ini sudah pasti karena mengetahui isi surat perjanjian antara dia dengan sang suami yang langsung di unggah ke media oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab.


Adrian nampak sibuk menghubungi seseorang. Terdengar lelaki itu beberapa kali membentak, dan nampak mencoba menekan amarahnya. Tangannya terkepal dan meninju ke dinding berkali-kali.


"Mas," Ara mendekat, meski hatinya benar-benar rapuh kali ini, ia pun mencoba memberi kekuatan pada Adrian. Dipeluknya lelaki itu yang langsung dibalas kecupan singkat dikeningnya.

__ADS_1


"Mommy pasti baik-baik saja. Aku yakin sayang," Adrian memberikan pelukan erat, berusaha meyakinkan sang istri dan juga dirinya sendiri. Karena lelaki itu sadar, kesalahannya kali ini sangat fatal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tiba di UGD bersama sang istri, Adrian mencari sosok sang putra yang tidak tampak di ruang tunggu. Rupanya, remaja lelaki itu terlihat sedang berbicara serius dengan seorang Dokter.


Adrian mempercepat langkahnya, dia tidak sabar mengetahui kondisi sang ibu. Sampai-sampai ia meninggalkan sang istri dan menghampiri kedua orang yang tengah berdiri di depan pintu masuk UGD itu.


"Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?"


"Nyonya Lina saat ini belum sadarkan diri, Pak. Kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Untuk sekarang kondisinya sudah lumayan stabil daripada saat tiba tadi. Namun untuk tekanan darahnya masih diatas ambang normal. Terlambat sedikit saja, anda bisa kehilangan beliau, Pak. Jadi saya sarankan, nanti jika beliau sudah sadar, saya mohon untuk menjaga beliau dari apapun yang bisa menambah beban pikirannya," ucapan Dokter sangat jelas. Dan tidak diragukan lagi, jika hebohnya berita pagi tadi yang menyangkut anak dan menantunyalah yang membuat kondisinya seperti sekarang ini.


Tanpa sengaja tatapan Adrian jatuh pada sang putra. Anak lelaki satu-satunya itu menatapnya nyalang dan tanpa berkata apapun langsung masuk ke dalam UGD meninggalkan Adrian yang terpana dan terdiam.


"Bagaimana kondisi Mommy, Mas?"


"Tidak baik," Adrian menunduk, meremas rambutnya kalut.


"Mommy pasti kecewa denganku," ucap Ara lemas. Persendiannya seakan melunak, wanita itu kehilangan tenaga hingga ia merosot bersimpuh di depan Adrian.


"Sayang, aku yang paling bertanggung jawab disini," lelaki itu ikut berjongkok meraih bahu sang istri, membawa wanita itu dalam dekapan. "Elang sudah kutugaskan untuk mencari tahu siapa yang membobol keamanan perusahaan. Padahal aku sudah akan memusnahkannya, namun terlupa karena banyaknya masalah yang datang,"


"Kita berdua, Mas. Ini salah kita. Berjanjilah akan menghadapinya bersama," ucap Ara yang tergugu dalam pelukan sang suami.


Pintu UGD nampak terbuka, dan keluarlah Dani dari sana. Remaja laki-laki itu nampak menghampiri sang ayah namun tak bisa dibohongi jika wajah tuan muda keluarga Ilyasa itu tidak bersahabat sama sekali.


"Oma ingin berbicara pada kalian berdua," Dani melirik sinis kedua orang tuanya yang sudah berdiri saat melihatnya dari jauh. "Aku tidak lagi perduli apa yang akan kalian lakukan. Tapi ingat! Kalau sampai Oma seperti ini lagi, aku tidak akan segan! Apalagi denganmu!" tatapan mata Dani jatuh pada Ara, wanita itu langsung menunduk menyembunyikan wajahnya dipunggung sang suami. Menyesal, khawatir dan ketakutan akan kehilangan sang mertua itu yang Ara rasakan kini.


"Dan!! Jaga sopan santunmu. Daddy tidak pernah mengajarkanmu seperti itu. Bagaimanapun dia adalah ibu sambungmu," ucap Adrian saat anak lelakinya langsung beranjak ketika telah selesai menyampaikan uneg-unegnya.


Namun ucapan Adrian yang baru saja terdengar membuat anak lelaki duplikat lelaki tampan itu berhenti, kemudian memutar tubuhnya dan berkata, "Dia istri ayah. Dan bukan ibuku, selamanya akan seperti itu!"

__ADS_1


"DANI!!!"


__ADS_2