Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 130 Menangis


__ADS_3

Diluar sebuah kaca tembus pandang, Dani menatap nanar sang oma yang terbaring tak berdaya, dengan banyaknya selang yang menopang hidup wanita paruh baya itu.


Sedih? Pasti. Kemarin semua baik-baik saja, dan hanya dalam hitungan jam semua terbalik. Remaja lelaki yang bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya itu, seakan enggan beranjak dari sana. Kakinya terasa berat dan hatinya tertinggal disana.


Oma pasti sendirian, pasti kesepian jika ia tinggal pulang, begitu kata hatinya yang paling dalam. Dari sudut matanya, remaja laki-laki itu melirik sang ayah yang duduk terpaku dengan tatapan kosong.


Ia jadi merasa bersalah, menumpuk segala kesalahan hanya pada sang ayah. Kesehatan oma, kesalahan wanita itu dan juga pastinya beban pekerjaan di kantor yang tentu saja membutuhkan fokus dan kondisi prima untuk menjalankannya.


"Dad," Dani berbalik kemudian mengarahkan matanya pada sang ayah. "Apa Oma akan pergi?"


"Apa yang kau bicarakan, Boy. Oma hanya butuh istirahat, dan akan segera sembuh."


"Daddy yakin?"


"Daddy sedang berusaha. Apapun pengobatan yang bisa ditempuh, akan Daddy setujui demi kembalinya kondisi Oma." Ucap Adrian yang sebenarnya menaruh ragu pada pemikirannya sendiri.


"Selamat siang," seorang lelaki berjas putih menghampiri anak dan ayah itu. "Kami mendapatkan hasil pemeriksaan lanjutan tentang Nyonya Lina, Pak."


"Ada apa, Dok?" raut wajah khawatir, Adrian tunjukkan saat mendengar ucapan dokter.


"Nyonya Lina berada pada kondisi seperti sekarang, murni karena kenaikan tekanan darahnya yang terlalu tinggi. Karena hasil pemeriksaan mengatakan, tidak ada luka memar serius akibat benturan hebat. Kepalanya aman, sedikit memar memang ada namun di kepala bagian samping. Kemungkinan hipertensi beliau kambuh, saat beliau hendak mencoba turun dari bed. Tapi...sungguh, jika tidak ada pemicu tidak mungkin terjadi lonjakan yang sedemikian tinggi, Pak," ungkap dokter yang merawat sang ibu selama ini.


"Jadi bukan karena jatuh ya, Dok?"


"Berdasarkan pemeriksaan, saya pastikan tidak, Pak. Atau mungkin beliau mendengar berita buruk mungkin dari sanak saudara Anda yang lain?" tanya sang dokter.


"Yang menjaga hanya istri saya, Dok. Itupun sedang tidak ada ditempat saat kejadian itu terjadi," ungkap Adrian.


"Ohh..,"


"Terima kasih telah memberitahu tentang hal ini, Dok," ucap Adrian.

__ADS_1


"Sama-sama, Pak.. saya mewakili rumah sakit meminta maaf atas kejadian ini," Adrian mengangguk. Kemudian di akhir percakapan mereka, dokter pamit meninggalkan mereka berdua disana.


Sejenak kemudian, ayah dan anak itu saling melihat, dengan tatapan penuh tanya yang tidak dapat diartikan.


"Aku pulang dulu, Dad. Nanti malam aku kembali kesini,"


"Tidak usah, Boy. Besok saja sepulang sekolah. Segala perkembangan Oma sekecil apapun, akan Daddy kabarkan padamu. Kalau kita di sini semua, dan sakit bersamaan, kita malah bingung membagi waktu menjaga Oma," Adrian menepuk bahu sang putra, membuat remaja laki-laki itu sedikit tenang.


"Oke..Daddy jaga kesehatan juga," senyum tipis Adrian menjawab ucapan Dani barusan. Kemudian remaja laki-laki itu pergi meninggalkan sang ayah yang terpekur menatap ruang ICU.


"Cepat sembuh, Mom. Kami merindukan masakanmu" gumam Adrian lirih.


Sementara itu di kamar yang lain. Ara yang baru saja tersadar, bingung mendapati dirinya terbaring di bed yang sebelumnya ditempati oleh sang mertua.


Apalagi, sosok lelaki yang dicarinya tak nampak disana, kamar itu sepi. Ah, ingatannya baru kembali, ia tadi sempat pusing dan merasakan dunianya gelap saat mendengar sang mertua koma.


Gegas wanita itu menurunkan kakinya, sudut matanya melirik jam dinding yang menunjuk di angka 3. Ternyata sudah sesore ini, mungkin saja Adrian sedang menemui dokter atau ada keperluan lain. Tapi tidak mungkin bukan suaminya itu meninggalkan dirinya sendiri di kamar ini.


Ceklek!


"Terimakasih, Ar," ucap Ara lirih. Kepalanya masih sedikit pusing saat menjejakkan kakinya ke lantai dan mencoba berdiri, sehingga ia sedikit terhuyung hingga akhirnya duduk kembali di tepi bed.


"Mau kuantar kesana?"


"Nanti saja," mendapat penolakan dari Ara, tanpa berbicara lebih lanjut Ardi segera keluar dari kamar itu.


"Aku hubungi saja ponsel Mas Adrian," gumam Ara. Suara nada sambung terdengar agak lama, namun tidak diangkat.


"Mungkin ia sibuk mengurus Mommy,," gumamnya kemudian.


Ceklek!

__ADS_1


Ternyata Adrian yang masuk, membuat senyum sang istri mengembang. Kekhawatirannya sedikit terobati, mungkin lelaki yang dicintainya itu terlalu kalut hingga ia hanya fokus menyusuri sepanjang jalan kembali ke kamar, bahkan suara ponsel pun tak bisa mengusiknya.


"Sayang, kau sudah sadar?" nampak jelas gurat lelah di wajah tampan suaminya itu. Namun seperti biasa, lelaki itu selalu pintar mengemasnya dengan perhatian.


"Aku mencarimu, Mas. Baru saja aku menghubungimu," ucap Ara menatap sang suami yang nampak merasa bersalah, kemudian lelaki itu merogoh dalam saku jasnya yang sudah terlipat di lengannya.


"Maaf aku tidak mendengarnya, Sayang," lelaki itu nampak menyalakan ponselnya. "Oh rupanya berada di mode diam. Pantas saja," bahkan Adrian lupa telah melakukannya. Ia lantas meletakkan jas di sofa kemudian menghampiri sang istri yang masih terduduk di bed.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya khawatir," jemari dari lengan kekar itu terasa dingin menangkup wajah sang istri. "Are you okay?" tanya Ara pelan, menatap lelaki yang berhasil memiliki seluruh hatinya itu dengan cinta.


"I love you," ucap Adrian tiba-tiba. Lelaki itu mengecup bibir ranum menggoda yang ada dihadapannya itu. Sedikit menyesapnya, kemudian membawa sang istri dalam pelukannya. "Aku baik, berkat kau aku selalu baik


k. Terima kasih selalu mengkhawatirkanku," dekapnya erat.


"Maaf ya, Mas. Semua gara-gara aku," ucap Ara mengiba, meski tidak menangis namun wanita itu sangat merasa bersalah karena semua ini berawal karena kehadirannya.


"Sssttt... Tidak ada ada yang harus disalahkan. Jika memang harus, semua itu berawal dari aku. Tapi sudahlah, aku hanya ingin kita tetap berjuang bersama, untuk hubungan kita dan keluarga kecil kita," ucap Adrian pelan, namun penuh makna.


Menghirup dalam aroma tubuh bercampur parfum milik Adrian, rasanya Ara tak ingin lepas dari dada bidang yang memberinya ruang untuk sedikit bernapas lega itu.


"Bagaimana kondisi Mommy, Mas?"


"Mommy stabil, tadi aku sempat masuk sebentar. Kugenggam jemarinya dan ku bisikkan kalau kita semua menunggunya kembali. Dan dalam matanya yang masih terpejam, keluar air mata. Ini hal paling buruk untukku, Sayang. Aku tak bisa menjaga Mommy dengan baik," Adrian memeluk erat sang istri.


"Menangislah kalau itu sedikit bisa melegakan hatimu, Mas. Lepaskan, aku yakin banyak gumpalan kesedihan yang bersarang dihatimu. Mas lelaki kuat, tapi bukan berarti tak boleh menangis."


Ucapan Ara berhenti ketika didengarnya isakan lirih sang suami. Lelaki itu berganti menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.


Ya, hal terberat untuk seorang anak lelaki adalah penderitaan yang terjadi pada ibunya. Jika bisa mungkin lelaki ini berharap bisa menggantikan kesakitan sang ibu. Bukankah itu juga yang dipikirkan seorang ibu jika anaknya sakit? Sungguh hubungan yang luar biasa.


Namun apa daya, garis takdir tidak pernah menunjuk pada orang yang salah bukan? Semoga ini adalah cara Tuhan untuk semakin mempererat hubungan kekeluargaan antara mereka, ataupun cara Tuhan untuk memberi sesuatu yang lebih indah setelah segala kesakitan mendera.

__ADS_1


__ADS_2